
Kat langsung memeluk Daisy yang sudah menyambutnya. Kat begitu senang bisa pulang dan bertemu dengan keluarganya. Sudah lama Kat tak datang kemari dan berbicara langsung dengan mereka.
"Aku senang banget kita ketemu Kat. Abang ini nih ya ga ngebolehin istrinya buat datang ke sini sendirian harus terus sama dia. Padahal dia kan sibuk sama pekerjaannya, nyebelin banget Abang itu "
"Biarin, yang terpenting saat ada acara-acara besar seperti ini aku datang kan ke sini. Kenapa ga bilang dari awal kalau kamu dilamar sama Nabil mungkin Abang akan bicara dulu sama dia, awas saja anak itu ya "
Daisy melepaskan pelukannya bersama Kat, Daisy langsung menatap kakaknya itu "Sudahlah pasti Abang akan terus bertanya-tanya padanya dan malah menakutinya saja. Aku sudah menerimanya dan aku mau menikah dengan Nabil "
"Sekarang sudah takut kehilangan ya "
Daisy yang binggung harus menjawab apa dan malu mengungkapkannya dihadapan kakaknya, membawa mereka untuk masuk kedalam rumah saja" Masuk pasti mami papi sudah menunggu, ayo cepat masuk jangan terus disini "
Daisy mengambil alih Daniel untuk dia pangku. Lalu membawanya masuk ke dalam rumah, sedangkan Lucas menggandeng istrinya. Lucas tidak mau melepaskan tangan istrinya sama sekali, apalagi istrinya ini sedang mengandung besar sebentar lagi akan melahirkan dan Lucas harus selalu menjaganya.
"Ya ampun kalian datang Mami ga nyangka kalian akan datang sekarang. Kirain kalian akan datang saat nanti hari pernikahan saja ternyata udah datang ke sini seneng deh. Akhirnya bisa ketemu sama Kat dan juga Daniel"
"Terus sama akunya gimana ga kangen gitu, aku kan anak mamih disini masa mamih ga kangen sama aku sih "
"Ga Mami ga kangen sama kamu. Kamu itu nyebelin banget tahu nggak sih. Seharusnya kamu tuh setiap bulan main mami mau ke sana sama papi malah kamu bilang nanti kamu yang datang ke sini, tapi nggak ada terus. Mami itu pengen ketemu sama cucu. Tapi kamu selalu saja larang mamih "
"Iya iya maaf bukannya Lucas melarang kalian untuk datang ke sana, tapi Lucas nggak mau kalian kecapean. Kalian ini kan udah tua jadi harus banyak-banyak istirahat, kalian harus menghabiskan masa tua kalian dengan diam dirumah dan juga berduaan saja "
"Ist ya kamu ini " Zeline yang tidak terima dibilang tua memukul tangan anaknya.
Lucas malah tertawa saja "Maaf Nyonya tuan ini tehnya"
"Adiba "
"Iya nyonya Kat" jawab Kat.
Kat tidak menyangka Adiba malah menjadi pelayan di sini. Bukannya Adiba kuliah kan kenapa tiba-tiba Adiba menjadi pelayan. Adiba seharusnya dia bisa bekerja di perusahaan atau mungkin di toko kenapa harus jadi pelayan, kenapa nasib Adiba seperti ini.
"Kamu_"
"Nyonya ingin minum apa "Adiba langsung menyela kata-kata Kat, Adiba sangat malu dengan keadaannya yang sekarang. Adiba sekarang mengerti kenapa dia tidak bisa bekerja di tempat yang dia mau, apapun yang dia mau sulit sekarang. Adiba sudah tahu ini mungkin hukuman untuknya.
"Kita boleh bicara Adiba, aku ingin bicara dengan mu"
"Aku masih banyak pekerjaan Nyonya, nyonya ingin minum apa dan Tuan Lucas juga ingin minum apa biar aku ambilkan "
Akhirnya Kat mengalah juga "Aku ingin jus strawberry saja dan suamiku kopi saja ya dan untuk Daniel tolong dibuatkan susu. Sudah itu saja Adiba"
"Baik nyonya sebentar lagi akan aku antar, aku permisi dulu"
Adiba menunduk dengan sopan. Kat masih bingung dengan semua ini kenapa tiba-tiba Adiba menjadi pelayan di sini apa maksudnya dari semua ini. Kenapa Daisy juga tak bercerita. Padahal bisanya Daisy menceritakan segalanya tapi sekarang tentang Adiba tidak.
Kat menatap suaminya, tapi suaminya malah mengalihkan pandangannya ke arah lain. Bahkan suaminya malah pergi meninggalkannya di sini bersama Mamih dan juga papihnya.
"Sudah duduk nanti juga kamu tahu kenapa tiba-tiba dia bekerja di sini "ucap Ibu mertuanya.
"Tapi kenapa harus Adiba kerja di sini mih, emangnya ada masalah apa sih. Kenapa bisa Adiba jadi pelayan"
"Nanti juga kamu tahu Kat. Ya udah Mami pengen main sama Daniel dulu ya kamu istirahat nanti biar Mami minta Adiba buat anterin minuman ke kamar kamu ya. Untuk susu nanti biar Mami bawa buat Daniel ya, kamu tenang aja istirahat yang tenang ya jangan banyak fikiran"
Kat yang memang juga lelah akhirnya menuruti kemauan Ibu mertuanya. Kat masuk ke dalam kamar dan menunggu Adiba untuk datang ke sini. Rasanya mulut Kat gatal sekali ingin berbicara padanya.
Tak butuh waktu lama jus yang di mau oleh Kat sudah datang dan masih Adiba yang mengantarkannya. Kat langsung menggenggam tangan Adiba supaya dia tidak pergi.
__ADS_1
"Bisa jelaskan sesuatu padaku Adiba. Kenapa tiba-tiba kamu menjadi seorang pelayan. Maksudku kamu kan kuliah kenapa tidak bekerja di sebuah perusahaan besar. Atau mungkin di toko atau di mana kenapa kamu mengambil jalan hidup seperti ini, ada apa Adiba apa ada masalah "
"Mungkin ini sudah takdirku Nyonya, aku memang terlahir untuk menjadi pelayan. Aku tidak mungkin bekerja di sebuah perusahaan atau apapun itu mungkin aku memang kuliah. Iya benar seperti apa yang kamu bilang tapi takdirku tidak seberuntung dirimu"
"Apakah Lucas sudah melakukan sesuatu padamu, sampai-sampai kamu harus jadi pelayan di sini. Dulu saat kita terakhir bertemu kamu masih kuliah kan sedang membereskan skripsi kan Adiba "
"Iya memang waktu itu aku sedang membereskan skripsi. Ini tidak ada urusannya dengan semua orang yang ada di sini, ini memang sudah keputusanku. Aku sudah lelah hidup di luaran dan mungkin memang aku seharusnya seperti ini dari dulu tidak usah ambil kuliah mengikuti anak majikan. Seharusnya dari awal aku itu sadar diri kalau aku di sini bukanlah anak majikan tapi anak pelayan "Adiba berbicara itu sambil tersenyum seperti semua yang dikatakan olehnya itu tidak membuatnya sedih.
"Apakah ada yang ingin nyonya tanyakan lagi atau mungkin aku ambilkan, nanti akan aku antarkan lagi kemari nyonya "
"Sudah, ini sudah cukup terima kasih Adiba "
"Baik nyonya. Sama-sama aku permisi dulu untuk mengerjakan tugasku yang lain"
"Baik"
Kat menyeruput jus itu rasanya segar sekali, tapi Kat masih bingung dengan semua keadaan di rumah ini. Apakah selama ini Adiba memang bekerja di sini karena keinginannya sendiri atau memang ada sebuah paksaan.
Kat tidak mau Lucas merenggut masa depan seseorang dengan menjadikannya seorang pelayan. Adiba itu kuliah seharusnya dia mendapatkan sesuatu yang lebih dari apa yang pernah dia capai kan. Nanti Kat akan bicara dengan suaminya. Takutnya ini adalah rencana suaminya.
...----------------...
Adiba yang baru saja selesai mengantarkan jus untuk Kat melihat Sela anaknya sedang bermain dengan Daniel. Adiba begitu senang melihatnya dan bahagia anaknya begitu ceria sekali.
Sepertinya sangat menyenangkan kalau main bersama anaknya seperti itu. Berlari-lari lalu bercanda dan yang lainnya. Adiba sangat mendambakan hal itu sudah lama malahan.
Selama ini Adiba mencoba untuk mendekati anaknya, tapi anaknya tidak mau didekatinya. Sela cenderung malah takut dan anaknya itu malah dekat dengan pelayan lain.
Rasanya hati Adiba sakit sekali, bahkan berbicara dengan Toni saja percuma karena Toni tidak memberikan sedikitpun kesempatan untuk Adiba berbicara dengan anaknya itu.
"Mama sangat ingin memelukmu Sela. Maafkan Mama selama ini sudah menelantarkan kamu seperti itu. Mama memang salah seharusnya Mama tidak seperti itu dulu dengan membiarkanmu pergi bersama ayah kamu dan sekarang mama tidak bisa mendekatimu sama sekali, mamah memang perempuan bodoh "
Malah kesedihan yang selalu Adiba rasakan hukumannya begitu berat, berat sekali sampai-sampai Adiba sudah tidak sanggup.
Adiba yang melihat ada orang segera pergi dari sana. Adiba tak mau kepergok oleh orang lain kalau Adiba sedang menangis dan meratapi semuanya. Adiba tahu mereka tak akan peduli pada Adiba tapi tetap saja Adiba tak mau terlihat menangis dihadapan mereka.
Pelayan-pelan di sini juga banyak yang tidak menerima Adiba, mereka membenci Adiba karena sikap Adiba dulu. Mereka tidak memaafkan sikap Adiba saat itu sampai sekarang bahkan.
Banyak pelayan yang sering mencaci makinya, mengatakan kalau dia bukan ibu yang becus. Bahkan bukan istri yang baik Adiba terima semua itu. Karena memang kenyataannya kalau Adiba seperti itu. Sikapnya sangat jelek sekali.
Tapi Adiba ingin sekali memeluk anaknya, menciumnya, memandikannya, memanjakannya pokoknya mengurus anaknya tapi sepertinya itu sangat mustahil sekali.
Adiba menyimpan nampan dan diam cukup lama di dapur tiba-tiba saja ada yang menegurnya "Jangan diam saja kerjakan yang lain, itu kamar atas bereskan nanti pasti akan banyak datang tamu-tamu dari nyonya dan Tuan pasti keluarga besar juga akan datang kamu jangan terus seperti ini. Enak banget cuman anter-anter minuman terus diam disini. Kamu mau makan gajih buta "
"Iya akan aku kerjakan sekarang, aku hanya sedang beristirahat. Memangnya tak boleh beristirahat sebentar, aku juga lelah dari pagi sampai sekarang bekerja ke sana kemari. Mungkin kamu tidak tahu saat aku tadi bekerja membereskan lantai bawah atau mungkin kamu pura-pura buta"
"Jawab saja ah kerjakan saja cepat. Sekalian dengan kamar mandinya digosok jangan sampai licin apalagi nanti kamar tuan Lucas harus selalu bersih. Nyonya Kat sedang mengandung jangan sampai dia tergelincir karena kamar mandi yang tidak bersih. Kamu kerjakan dan aku beri waktu sampai sore hari. Kalau sore hari tak beres lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu besok pekerjaanmu akan lebih banyak dari yang sekarang "
"Iya aku akan mengerjakan semuanya, tenang saja selama ini pekerjaanku baik kan tidak ada yang mengecewakanmu. Aku tak pernah telat sesuai jam yang selalu kamu tentukan "
"Iya siapa tahu nanti kamu ada apesnya juga kan. Jangan terlalu sombong kamu ini, kamu hanyalah seorang pelayan. Masih untung tuan masih mau menampung kamu dan juga ibu kamu kalau tidak kalian sudah menjadi gembel "
"Aku kerjakan sekarang, aku pusing mendengar suara mu itu "
Adiba mengambil alat-alat kebersihan dan naik ke lantai 2 untuk membersihkan satu persatu kamar yang ada di sana. Menganti sprei, mengepel lantainya pokoknya semuanya Adiba bersihkan. Tak ada yang terlewat.
Karena kalau sampai Adiba melakukan sedikit kesalahan pasti mereka akan marah-marah, seperti tadi lihatlah kalian juga dengarkan bagaimana dia memarahi Adiba dengan sangat keras, bahkan sampai mengancam-ngancam.
__ADS_1
...----------------...
Lucas ternyata tadi pergi langsung untuk mencari Nabil, ingin berbicara dengannya. Bukannya Lucas tak percaya pada Nabil, tapi Lucas ingin mengatakan sesuatu dan tidak mau nanti Nabil malah melukai adiknya.
Hati adiknya harus selalu dijaga. Adiknya sudah berjuang dengan sangat keras untuk bisa pulih kembali, menjadi yang sekarang.
"Abang udah kesini "Nabil langsung memeluk Lucas dengan kuat, tapi Lucas yang tidak suka dipeluk oleh laki-laki langsung melepaskannya. Enak saja main peluk-peluk saja. Lucas hanya suka dipeluk oleh istrinya saja.
"Kamu ini, main peluk-peluk aja aku ga suka ya dipeluk oleh mu. Kamu bau kambing "
"Gegabah bau kambing wangi gini abis mandi" Nabil mencium keteknya sendiri dan kembali berbicara" Seharusnya tak apa-apa sebentar lagi juga jadi kakak ipar ga masalah kan peluk-peluk juga. Ga akan ada yang marah juga Kat nggak akan marah, dia pasti akan senang aku peluk Abang "
"Kamu bener-bener mau nikahin Daisy, bukan karena obsesi semata aja kan. Aku ga mau kamu malah main-main saja Daisy, aku takut kamu cuman mau ngejar Daisy dan setelah memilikinya kamu akan acuh"
"Kayak ga pernah ngerasain aja dulu sama Kat ngebet banget kan, kalau cuma obsesi buat apa aku juga udah mau berumah tangga. Emangnya Abang aja yang bisa rumah tangga aku juga mau kali, aku pengen punya anak dan bahagia selalu "
"Ya kan aku cuman mau tanya kamu bener-bener ga sama adik aku. Aku nggak mau sampai dia nanti nangis-nangis pulang ke rumah karena dimarahin kamu, disakitin kamu apalagi sampai diselingkuhin. Aku ga akan terima itu "
Nabil memegang kedua bahu Lucas, tapi lagi-lagi Lucas melepaskannya. Seperti tidak mau dipegang oleh Nabil saja"Tenang aja Abang buat apa aku selingkuh kalau aku udah punya istri. Aku itu menikah mau ada orang yang temenin aku, mau urus aku, terus mau jadi temen hidup aku, jadi sahabat aku. Ya pokoknya intinya kita bareng-bareng deh ya kayak abang sama Kat"
"Dan aku juga minta satu hal, jangan pernah ungkit-ungkit tentang masa lalunya. Aku tidak mau Daisy akan kembali seperti dulu tak percaya lagi. Kasian dia "
"Aku kan udah bilang sama Abang aku ga akan pernah mengungkit-ungkit tentang masalah itu, mau sampai kapanpun aku ga akan pernah ingetin tentang itu. Aku nggak peduli tentang masa lalu itu mau Daisy dulu seperti apapun aku tidak akan pernah peduli. Aku hanya melihat Daisy yang sekarang aku ingin melihat ke depan bukan ke belakang"
"Ya kalau kamu melihat ke belakang yang ada kamu akan nabrak lah "
"Kita sedang tidak main-main Bang. Kita sedang serius, Abang malah gitu ga asik ah "
"Ya memang kita sedang serius, memangnya siapa yang bilang kalau kata-kata ku itu main-main. Jadi kapan kalian akan menikah dan kenapa juga kamu tidak bilang padaku dari awal, saat mau pacaran saja minta saranku, minta bagaimana meluluhkan hatinya tapi setelah mau menikah kamu sama sekali tidak memberitahu aku "
"Kalau bilang dari awal aku akan menikah dengan Daisy yang ada abang akan mempersulit segalanya. Jadi lebih baik Abang tahu belakangan aja dan sekarang langsung datang ke sini kan. Kalau aku kasih tahu langsung kemarin-kemarin yang ada Abang ke sini nya hari dimana aku menikah saja "
"Ya nggaklah yang nikah itu adikku. Mana mungkin aku datang saat hari pernikahannya saja. Kamu jangan aneh-aneh ya aku memegang semua kata-kata kamu ya, awas saja sampai kamu berkhianat habis kamu "
"Ya Abang pegang saja kata-kataku, aku akan setia pada Daisy dan aku tidak akan pernah membahas tentang masa-masa lalu itu, bagaimana keadaannya aku tidak akan membahasnya. Abang hanya perlu percaya jika suatu saat aku mengingkari janji itu sama abang silakan Abang mau melakukan apapun aku tidak peduli. Mau abang bunuh aku pun aku tidak peduli asal jangan pernah sakitin Daisy saja. Aku tidak akan pernah rela "
Lucas langsung menoyor kepala Nabil "Ya nggak mungkin lah aku lukai Daisy yang ada kamu yang aku lukai. Aneh-aneh saja kamu ini, mau aku pukul sekarang juga. Otakmu sepertinya sedang sakit Nabil apa perlu aku bedah dan ganti dengan otak yang lain "
"Iya takut aja gitu. Biar kau ceritakan ya 2 minggu lagi aku akan menikah dengan adikmu. Aku udah siapin semuanya sendirian, maksudnya bukan aku gegabah jadi aku pengen cepet aja biar nanti Daisy tinggal fitting pakaian aja, aku udah pesan catering, gedung dan juga dekor kalau masalah dekor baru kemarin-kemarin sih ditentuin mau yang kayak gimana, karena aku perlu keputusan Daisy juga"
"Oh jadi gara-gara ini kamu kerja jadi malas-malasan dan banyak sekali izin, gara-gara ini sekarang aku tahu alasannya. Kamu selalu kabur kalau aku tanya"
"Ya udah maafin kali Bang, ini juga aku nikahi Adik Abang aku juga nggak lakuin yang aneh-aneh kan, ga korupsi di kantor atau apapun itu. Aku punya niat yang baik buat cepat-cepat nikah dan berumah tangga"
"Hemm, untuk yang ini aku maafkannya, tapi yang lainnya tidak"
"Abang mau jadi pagar bagusnya, sepertinya akan bagus deh "
"Kamu saja sana"
"Kan aku yang menikahnya bang, gimana sih Abang ini "
"Terserah, pokoknya itu yang aku ingin bicarakan denganmu. Sudah aku juga tidak mau bicara banyak-banyak denganmu, aku harus menemui istriku. Lebih baik aku berdua dengan istriku daripada harus berlama-lama denganmu tak ada gunanya juga "
Lucas pergi begitu saja, Nabil yang melihat itu hanya bisa melongo, mendatanginya hanya ingin menanyakan hal itu. Apa tak ada kata selamat darinya.
Benar-benar ya dia itu kakak ipar yang kurang ajar. Awas saja, nanti Nabil akan lebih leluasa saat sudah menjadi suaminya Daisy.
__ADS_1
Tapi kekesalan Nabil hilang begitu saja, saat mengigat sebentar lagi akan menikah dengan Daisy. dengan pujaan hatinya. Apa yang selama ini Nabil ingin-inginkan tercapai juga.
Akhirnya kan, untung saja Daisy tak menggantungkannya lagi. Kalau sampai digantung habislah.