
Daniel mengangkat telfonnya diluar kamar. Dia mendapatkan telfon dari anak buahnya yang sedang mencari tahu siapa yang selama ini ingin menyakiti istrinya.
Daniel tidak mungkin tinggal diam seperti itu, meskipun pekerjaannya sangat banyak Daniel akan menyelidiki semuanya. Daniel tidak mau sampai istrinya menjadi korban nantinya.
"Kami sudah menyelidiki semuanya, semua yang melakukan ini adalah perempuan bernama Tamara, dia bukan orang yang harus kita takuti Pak, dia hanya perempuan bisa saja "
"Tamara kamu yakin" Daniel saat mendengar nama Tamara cukup kaget, nama itu muncul lagi setelah sekian lama menghilang.
"Tentu Pak, saya yakin saya sudah menyelidiki semuanya dan perempuan itu bernama Tamara, dia yang sudah sengaja membakar butik Nona Vio dan juga akan menabrak Nona Vio waktu itu, dia yang melakukan itu semua tentu saja dibantu oleh teman-temannya. Banyak sekali orang yang sudah dia pekerjakan hanya untuk memata-matai nona Vio saja"
"Sudah cari tahu motifnya apa, sampai-sampai Tamara melakukan itu kirimkan fotonya dan juga foto masa kecilnya. Aku ingin memastikan sesuatu"
"Sudah Pak, sudah aku kirimkan semuanya, foto semuanya sudah lengkap. Untuk motifnya kami juga sudah menemukannya dia ingin membalaskan dendamnya pada anda dan sasarannya adalah Nona Vio "
"Balas dendam, aku punya salah apa "gumam Daniel dengan bingung. Daniel selama ini tak punya masalah apa-apa dengan Tamara, lalu kenapa Tamara melakukan ini.
"Ya sudah selalu awasi dia jangan sampai dia mendekati istriku lagi, kalau sampai dia melakukan pergerakan tangkap saja. Aku ingin tahu alasan kuatnya apa"
"Tentu Pak, tapi sangat jarang sekali dia keluar rumah hanya orang-orangnya saja yang dia suruh untuk melukai Nona Vio. Sedangkan dia hanya bergerak di belakang saja, dia yang memerintahkan dan orang-orangnya yang bekerja Pak jadi agak sulit untuk menangkapnya"
"Iya dia tidak mungkin akan terus diam di dalam rumah, akan ada saatnya dia juga keluar. Jadi kamu harus pintar-pintar untuk mengelabuinya dan membawanya ke hadapanku"
"Baik Pak, akan aku kerjakan "
Setelah sambungan itu terputus Daniel memikirkan apa kesalahannya. Daniel juga sudah melihat foto masa kecil Tamara, ini kan temannya Tamara yang dulu pernah dia bantu yang tinggal bersama neneknya.
Yang tiba-tiba pergi begitu saja, memangnya apa kesalahan Daniel sampai-sampai Tamara ingin balas dendam padanya. Daniel tidak pernah punya masalah dengannya malahan Daniel sangat baik padanya kan.
Daniel selalu membantunya tapi kenapa tiba-tiba Tamara ingin mencelakai Vio untuk menghancurkannya. Apakah selama ini bantuan Daniel tak berarti untuknya. Seharusnya Tamara tak akan melakukan ini kan.
"Tamara kamu datang tapi ingin menjadi musuh. Baiklah aku akan terima tantanganmu ini kita lihat siapa yang menang aku atau kamu. Aku tidak akan pernah melepaskanmu sampai kapanpun jadi kamu akan habis di tanganku. Aku akan menghabisi mu jika kamu sampai berani melukai istrimu"
"Aku tidak peduli siapa dulu dirimu, mungkin dulu kita berteman tapi sekarang kita akan menjadi musuh itu adalah ulahmu sendiri apa yang kamu inginkan dariku sebenarnya Tamara"
Daniel menghapus foto Tamara tidak mau sampai Vio melihat ini, menghapus semua tentang laporan-laporan dari orang-orang yang disuruh. Daniel tidak mau Vio berpikiran yang tidak-tidak, nanti Vio berpikir kalau dia sedang mencari keberadaan Tamara teman mereka.
"Sepertinya aku harus bertindak lebih cepat lagi, Tamara pasti akan terus mengikuti istriku dia tidak akan mungkin mundur begitu saja, dia pasti akan terus melakukan apa yang sudah dia rencanakannya. Sebenarnya masalahnya apa, aku harus bertanya pada ayah mungkin saja Ayah tahu tentang semua ini kan"
Daniel masuk kembali kedalam kamarnya, tak mau membuat istrinya curiga. Istrinya juga ternyata masih tertidur dengan lelap sekali. Daniel tak habis fikir orang yang selama ini dirinya bantu malah menusuknya dari belakang seperti ini tak menyangka saja.
Padahal Daniel dulu benar-benar ingin menolong Tamara, Daniel sangat kasihan dengan keadaan Tamara tapi ini balasannya. Kenapa bisa seperti ini.
Daniel mengusap rambut sang istri "Maafkan aku karena masalah ini kamu malah jadi sasaran. Aku juga tidak tahu apa maksud dari Tamara, aku benar-benar tak tahu apa kesalahanku padanya. Aku akan menyelidiki semuanya aku akan terus melindungi kamu sayang, aku tak akan pernah melepaskan kamu sampai kapan pun itu. Aku janji itu Tamara tak akan pernah bisa mencelakai kamu lagi "
Daniel ikut membaringkan tubuhnya disamping istrinya. Daniel akan menyelidiki bertanya pada ayahnya besok. Daniel akan mengupas tuntas semuanya Daniel tidak mau sampai istrinya nanti yang menjadi sasaran.
Kalau pada dirinya Daniel tak masalah, Daniel bisa menghadapinya tapi istrinya pasti tak akan bisa. Istrinya tak akan bisa melawan. Tamara memang ingin menghancurkannya dari dalam.
...----------------...
__ADS_1
Pagi-pagi sekali benar Daniel mendatangi ayahnya. Mereka ada di ruangan ayahnya sekarang Daniel ingin berbicara empat mata dan tak mau Mamanya tahu dulu. Mamanya nanti malah akan kefikiran kasian dia.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan Daniel, sampai-sampai pagi ini kamu menyuruh Ayah untuk masuk ke ruangan ayah, Ayah tidak akan bisa lama-lama nanti ibumu mencari"
"Ayah masih ingat tidak dengan Tamara yang dulu pernah aku bantu. Bahkan aku belikan seragamnya dan segalanya yang pernah kemari itu. Ayah ingat dengan dia kan tak lupa dengan dia anak perempuan yang cukup lusuh "
"Tentu teman kamu yang tiba-tiba saja menghilang, memangnya ada apa dengan dia, apa dia muncul lagi dan minta kamu menikahinya"
"Bukan begitu Ayah, kemarin aku menyelidiki siapa orang yang telah bermain-main denganku lewat Vio ternyata Tamara dia orangnya Ayah, aku tak tahu apa salahku. Kami berdua berteman dengan baik bahkan aku tidak punya masalah apa-apa, tapi dia ingin balas dendam padaku mungkin Ayah punya sesuatu masalah dengannya atau mungkin dengan orang tuanya dulu"
"Aku benar-benar tidak punya masalah dengannya. Bahkan aku selalu baik padanya aku selalu membantunya, di sekolah pun aku tidak pernah memusuhinya atau menyakitinya tapi dia kenapa bisa melakukan ini padaku. Tiba-tiba balas dendam tanpa tujuan yang pasti"
Lucas mencoba mengingat-ingat siapa yang pernah berurusan dengannya, orang tua Tamara siapa. Lucas pikir tidak ada yang bermasalah dengannya, orang tua mana yang pernah berurusan dengannya ya.
"Entahlah Ayah tidak tahu, memangnya siapa orang tuanya. Ayah saja tidak tahu kan siapa orang tuanya. Ayah juga sudah lupa dengan korban-korban ayah itu. Ayah tidak mungkin mengingat satu persatu karena banyak sekali yang menjadi korban ayah, pusing lah kalau harus panggilan satu persatu. Ayah juga tidak mencatatnya"
"Aku pernah lihat kartu identitas keluarganya, ibunya bernama Tamara juga. Apakah Ayah ingat sesuatu mungkin itu adalah korban Ayah sebelumnya. Tamara juga tak mungkin kan tanpa alasan ingin balas dendam padaku "
Wajah Lucas masih saja tenang, Tamara, apakah Tamara temannya itu. Berarti anaknya Tamara yang diambil oleh Bibi Mery itu adalah teman anaknya.
Seharusnya dari awal dirinya memang harus menghabisi anaknya. Kenapa waktu itu malah diberikan ke bibi Meri mungkin semua ini tak akan pernah terjadi kan. Bagaimana bibi Merry ini mendidiknya.
"Jadi apakah Ayah tahu tentang itu. Mungkin ada orang yang bernama Tamara yang pernah ayah habisi dulu"
"Iya Ayah tahu, dia adalah anak Tamara orang yang pernah ayah bunuh, tapi ayah juga melakukan itu ada sebabnya karena dia ingin membunuh ibumu. Bahkan dia memberikan sebuah racun ke makanan ibumu tentu saja ayah marah, apalagi ibumu sedang mengandung Alex"
"Tapi sekarang Tamara malah mau balas dendam padaku ayah, dia ingin mengincar istriku Vio bahkan beberapa kali dia mau mencelakainya. Butik saja sudah dibakar untung saja tidak sampai masuk ke dalam baru sampai parkiran saja. Dia benar-benar ingin main-main dengan aku Ayah "
"Dia itu hanya seorang perempuan mudah untuk menghancurkannya. Kenapa kamu sampai takut seperti itu, ingin Ayah yang melakukannya. Ayah akan menghabisinya di depan matamu langsung, tidak usah takut dengan anak ingusan seperti Tamara. Dia akan sama seperti ibunya tidak punya kekuatan dan dia hanya mengandalkan orang-orang nya saja, tidak usah takut dengan orang seperti itu karena itu bukan tandingan kita Daniel"
"Aku ingin bicara dulu dengannya, aku tidak mau gegabah seperti ayah langsung menghabisinya. Aku harus berpikir dua kali kalau aku sampai menghabisi Tamara nanti akan ada Tamara berikutnya yang malah balas dendam pada anakku. Yang terpenting sekarang Vio harus dalam pengawasan ku terus kan, dia tidak boleh keluar rumah. Sebelum aku menemukan Tamara sebelum aku berbicara dengannya"
"Kalau menurut ayah tidak usah banyak bicara langsung saja eksekusi, karena kalau kamu tidak mengambil akarnya semuanya akan sia-sia saja. Ayah waktu itu terlalu percaya dengan bibi Merry sampai-sampai membiarkan dia tumbuh dewasa dan tahu semuanya kan, dan pada akhirnya sekarang menjadi sebuah masalah sebuah petaka memang seharusnya anaknya itu pun di tiadakan"
"Hati-hati mungkin Tamara akan sama dengan ibunya yang licik, dan tak akan pernah mau mengalah jangan sampai terkecoh dengannya saat nanti bertemu "
"Takdir sudah menentukan Tamara untuk hidup ayah. Aku sebenarnya tidak mau berurusan dengan darah lagi, apalagi Vio sekarang sudah tahu aku tidak mau membuatnya kecewa. Aku tidak mau membuat dia tidak percaya lagi padaku"
"Aku sedang mencoba untuk sembuh Ayah. Aku tidak mau masuk ke lubang yang sama lagi "
"Ya sudah biar ayah saja yang menghabisinya, kamu tidak usah ikut campur Ayah yang akan mengurus semua ini. Awalnya ayah kan yang punya masalah dengan ibunya. Maka Ayah yang akan menyelesaikan semuanya, ayah tak akan membiarkan anak itu hidup. Dia akan mati ditangan Ayah, kamu hanya terima beresnya saja "
Daniel langsung menggelengkan kepalanya ayahnya itu sudah tua, ayahnya ini harusnya istirahat bukan malah menghabisi orang Daniel tidak mau. Daniel juga tak mau Mamanya nanti khawatir "Sudahlah Ayah tidak usah kamu yang melakukannya, Ayan sudah tua lebih baik ayah itu diam nanti yang ada Mama akan mencari Ayah kemana-mana. Nanti aku juga kan yang harus mencari ayah, sudah biar aku yang menyelesaikan semuanya "
"Jangan remehkan Ayah, meskipun Ayah sudah tua seperti ini Ayah masih mampu untuk membunuh belasan orang, Ayah masih sama Ayah tak pernah berubah hanya saja Ayah sedang beristirahat. Nanti kalau sudah saatnya ayah akan kembali menjadi seperti dulu itupun kalau nyawa Ayah masih ada"
"Ayah ini tak pernah takut dengan Mama, selalu saja melakukan apa yang diinginkan ayah tapi disaat mama marah Ayah akan pusing"
"Iya karena mamamu menerima Ayah apa adanya, lalu apa yang harus Ayah takutkan ini demi melindungi keluarga Ayah juga kan bukan untuk orang lain. Ayah akan melakukan berbagai hal agar bisa melindungi keluarga Ayah "
__ADS_1
"Hemm, benar juga aku akan memikirkan semuanya. Aku harus membuat rencana dulu Ayah "
"Tentu fikirkan semuanya, pergilah ke kantor jangan membuat istrimu malah curiga, sana pergi mumpung Mamamu belum sadar Ayah tak ada disampingnya"
"Baiklah, aku akan pergi sekarang dasar suami takut istri " ledek Daniel
"Sama saja kamu juga "
Daniel keluar dari dalam ruangan ayahnya itu. Sedangkan Lucas masih diam mengamati foto masa lalunya saat dia lulus dan ada Tamara di sana. Semuanya malah jadi rumit.
Anaknya Tamara bisa balas dendam, pasti Bibi Merry sudah menceritakan semuanya, dia tidak bisa memegang rahasia itu seharusnya dari awal Lucas tidak percaya dengan Bibi Merry dia itu kan pengasuhnya Tamara, pasti dia akan menyayangi Tamara.
Lucas memang salah telah membuat perjanjian dengan Bibi Merry pada akhirnya malah Bibi Merry mengkhianatinya.
...----------------...
Alex yang baru saja datang ke kantor bingung melihat di lobby ada orang yang berteriak-teriak. Alex langsung pergi ke arah mereka "Ada apa ini kenapa ribut-ribut di kantor seperti ini"
"Mana anakku dia bekerja di sini, tapi kenapa sudah beberapa bulan ini dia tidak ada. Dia tak pulang-pulang kemana anakku jangan kalian sembunyikan anakku "
"Siapa anakmu, di sini banyak pekerja bukan anakmu saja yang kerja di sini. Atau mungkin yang bekerja disini adalah anakmu semuanya "
"Rena, anakku Rena dia bekerja di sini dan dia juga berkata kalau dia sedang mempunyai hubungan dengan atasannya. Dia bilang dia punya hubungan dengan Pak Alex lalu tiba-tiba saja dia menghilang. Rena juga bilang kalau Pak Alex akan menikahinya, mana orang yang bernama Pak Alex itu aku ingin menemuinya"
"Aku "sambil menunjuk ke arah dadanya "Mana mungkin aku, aku ini sudah punya istri anakmu saja yang mengada-ngada, mana mungkin juga aku mau menikahi perempuan seperti anakmu itu. Rena juga sudah tidak bekerja di sini lama anakmu itu hanya mengada-ngada saja lebih baik pulang dan jangan berisik di sini. Ini bukan tempat demo pulanglah"
Kerah kemeja langsung dicengkeram oleh seorang bapak-bapak yang juga ada di sana "Jadi ini yang bernama Alex, mana Rena aku tahu pasti kamu menyembunyikannya kan kamu mengancam anakku kan di mana anakku kembalikan dia "
Alex dengan kasar mendorong bapak itu, tapi untungnya ada satpam yang menangkapnya. Alex menatap karyawan-karyawannya yang berkumpul di sana. Lalu Alex menyuruh mereka untuk masuk ke ruangan mereka masing-masing dan biar Alex yang ada di sini saja menghadapi orang tua Rena.
Alex tidak berpikir sampai ke sana waktu itu saat membunuh Rena. Apakah orang tuanya akan mencari apakah akan ada yang curiga, Alex benar-benar tidak berpikir ke sana yang Alex tahu Rena harus mati dulu itu sudah cukup. Dia kira keluarganya tidak akan mencari.
"Aku u tidak punya hubungan apa-apa dengan Rena. Bahkan aku sudah punya istri, untuk apa aku punya hubungan dengannya Rena. Sekarang pulang jangan buat aku marah Rena sudah keluar lama dari sini, jika kamu tidak percaya tanya saja pada orang-orang yang ada di sini bahkan Rena sudah beberapa bulan tidak di sini. Mungkin dia pergi dengan suami orang lain atau dengan laki-laki lain"
"Hei jangan menghina anakku, anakku tidak mungkin pergi dengan laki-laki pasti kamu telah menyembunyikannya kan, di mana anakku kalau tidak aku akan melapor ke kantor polisi"
Alex dengan tenang mendekati orang tua Rena dengan suara yang rendah Alex segera bicara "Silakan kamu laporkan semua yang kamu ketahui tanpa bukti aku bisa melaporkan kalian dengan pencemaran nama baik aku bisa melakukan apa saja untuk menjebloskan kalian ke penjara. Jangan main-main denganku sekali nama baikku rusak maka kalian akan membusuk di penjara dengar itu lebih baik pulang sekarang atau aku benar-benar melaporkan kalian nantinya. Jangan pernah mengancamku aku tidak akan takut dengan ancamanmu itu"
Orang tua Rena sedikit mundur mereka juga takut kalau misalnya sampai dilaporkan, mamanya Rena menarik-narik tangan suaminya lalu membisikkan sesuatu. Dia entah memberi ide apa pada suaminya itu.
"Lihat saja suatu saat aku akan membongkar semuanya, pasti anakku dibawa kabur olehmu kalau sampai itu terjadi terbukti aku akan benar-benar memenjarakan mu, jangan mentang-mentang kamu orang kaya jadi semena-mena pada kami. Lihat saja aku akan buktikan semuanya"
"Silakan buktikan saja dulu semuanya, baru bicara seperti ini aku akan menunggu bukti dari kalian semua aku akan menunggu dengan tenang dan tidak akan banyak bicara. Aku ingin tahu bukti apa yang akan kalian bawa"
Alex langsung meninggalkan kedua orang tua Rena, sebenarnya Alex masih bingung harus melakukan apa nanti kalau tiba-tiba orang tua Rena melaporkannya ke kantor polisi, pasti ayahnya akan marah besar sekali padanya apalagi Kakaknya juga.
Tapi tidak mungkin kan ada orang yang tahu tentang makam Rena apalagi di tempat sepi seperti itu, semoga saja semuanya baik-baik saja. Alex ingin semuanya tertutup dengan rapat.
Alex juga tidak mau sampai istrinya tahu, kalau sampai Ayu tahu pasti nanti Ayu malah berpikir yang tidak-tidak kan Ayu pasti akan meninggalkannya Alex, tidak mau itu sampai terjadi. Alex sangat sulit untuk mendapatkan Ayu tidak mau sampai terlepas begitu saja.
__ADS_1