
"Sayang pagi-pagi sekali kamu mau ke mana udah rapi kayak gini, jangan tinggalin aku dong. Kenapa kamu ga bilang akan pergi aku mau ikut sayang "
Kat mencubit pipi suaminya dengan gemas "Aku mau pergi buat antar Daisy ke butik, sambi sekalian aku cobaan punya aku, lalu ambil punya kamu Daniel. Udah kok aku ga akan kemana-mana lagi hanya ke butik saja. Setelah itu aku pulang aku janji saja kamu"
"Aku mau ikut aja ah, aku ikut ya "
"Kamu kan kerja terus kerjaan kamu gimana, aku ga mau nanti kamu lembur-lembur lagi "
"Ga masalah aku mau ikut kamu aja. Jangan kemana-mana pokoknya tungguin aku ya. Aku sekarang siap-siap. Aku juga akan lembur-lembur lagi sayang aku janji sama kamu ya "
"Ya udah aku tunggu di bawah ya sama Daniel, aku sudah siapkan pakaian untuk kamu. Aku simpan disini ya "
"Iya tapi jangan tinggalin aku, aku ga akan kama kok beneran deh "
"Iya ga akan aku tinggal, aku tunggu kamu ya"
Lucas dengan cepat berlari ke arah kamar mandi. Kat yang melihat suaminya seperti itu hanya bisa mengelengkan kepalanya saja. Ada-ada saja suaminya ini makin kemari suaminya ini makin lengket, tak mau jauh-jauh darinya.
Padahal kan bersama Daisy adiknya sendiri pergi ke butik, dan tidak akan melakukan apa-apa lagi, tapi suaminya itu malah ingin ikut. Malahan kalau malam Kat bangun dan akan ke kamar mandi suaminya pasti ikut.
Ga pernah mau nunggu diluar harus didalam, kadang Kat juga malu kan. Meskipun sudah suami istri tapi Kat kadang malu.
"Mama Mama ayo aunty sudah menunggu, kasian aunty mamah ayo "
"Iya tunggu ayah mau ikut. Kita tunggu di bawah ya, nanti setelah ayah selesai kita langsung pergi "
Daniel hanya menganggukan kepalanya dan menggandeng tangan mamanya, mereka turun bersama-sama dengan pelan-pelan. Daniel melihat sekilas perut mamanya dan mengusapnya "Mama kapan adik keluar dan Daniel bisa main bersamanya, Daniel udah ga sabar mamah "
"Nanti ya tunggu sebentar lagi, nanti kamu bisa main sama adik kamu"
"Oke deh nanti Daniel mau ajak main bola, terus main sepeda dan banyak lagi "
"Iya tapi tunggu nanti dia udah bisa jalan ya, kan nanti kalau masih bayi ga akan bisa jalan masih harus mamah gendong "
"Kenapa seperti itu padahal kan Daniel mau langsung ajak main bola adiknya nanti, Daniel udah ga sabar banget mamah "
"Tidak bisa sayang harus tunggu adiknya sedikit besar, baru bisa bermain dengan Daniel ya bisa main bola dengan Daniel sepuasnya. Daniel dulu juga begitu kan sayang bertahap dan akhirnya sekarang sudah bisa berjalan sayang "
"Baiklah sepertinya aku harus menunggu lagi, tapi tak masalah mamah aku akan tetap senang saat nanti adik sudah keluar dari dalam perut mamah yang besar ini "
Kat yang gemes dengan kata-kata anaknya itu sedikit mencubit pipinya, tapi tidak terlalu keras. Mana mungkin Kat melakukan itu tadi hanya karena anak ini menggemaskan sekali, kalau berbicara sudah pintar bahkan sekarang sudah lancar bicaranya.
"Nah ini yang di tunggu-tunggu, ayo kita pergi sekarang mobil udah disiapin kok. Biar nanti kita pulangnya jalan-jalan dulu ya "
"Tunggu ya Daisy kakak kamu pengen ikut, kalau misalnya kita langsung pergi malah marah nanti "
"Apa Abang pengen ikut, ga salah Kat, aku ga salah denger kan bukannya Abang itu anti banget ya pergi-pergi ke butik kayak gitu "
"Gak tahu katanya pengen ikut, ya udah nanti tunggu dulu abang kamu ya. Nanti kalau ditinggalin malah merajuk malah panjang urusannya Daisy "
"Yaudah Kat kita tunggu dia, benar juga nanti urusannya bakal panjang banget "
Daisy kembali duduk dan mengambil makanan yang tadi dia simpan, sepertinya akan cukup lama menunggu Abangnya karena Abangnya ini kadang sedikit lelet.
__ADS_1
Menyebalkan sekali kenapa harus ikut coba. Padahal para laki-laki itu kerja saja. Abangnya ini sepertinya sudah berubah menjadi suami yang mengikuti istrinya. Seperti papih yang selalu mengikuti mamih kemanapun pergi.
...----------------...
Adiba terbangun menatap wajah anaknya yang ada di sampingnya. Kalau setiap hari seperti ini Adiba pasti akan senang sekali, selalu menatap wajah sang anak yang mengemaskan sekali.
Adiba mengusap rambut yang menghalangi wajah anaknya, mencium pipinya dengan perlahan "Ibu bahagia sekali sayang terima kasih karena mau ada di samping ibu, karena bisa dengan baik menerima ibu kamu tak marah dengan ibu juga. Ibu memang harus banyak-banyak bersyukur sayang "
Adiba bangkit perlahan dan segera menyiapkan makanan untuk anaknya. Meskipun Adiba belum tahu kesukaan anaknya apa, tapi sebisa mungkin Adiba memasak berbagai macam makanan untuk anaknya nanti tinggal dipilih kan.
Adiba lupa semalam belum bertanya makanan kesukaannya apa, karena saking senangnya dan terus memeluk anaknya sampai-sampai lupa menanyakan hal dan kesukaan anaknya ini.
"Masak apa Diba, kayaknya kamu bakal masak banyak ini "
"Aku masak semuanya aja dulu Bu, karena aku ga tahu makanan kesukaannya Sela semoga saja Sela suka salah satu makanan yang aku masak ya Bu"
"Ibu bahagia banget bisa peluk Sela kayak kemarin malam. Toni ga akan pernah bawa dia lagi kan, ibu semalam ga bisa tidur takut-takut tiba-tiba Toni berubah fikiran dan minta Sela lagi"
Adiba menatap Ibunya dan menggenggam kedua tangannya "Kita berdoa saja semoga Toni tidak melakukan itu,tidak menjauhkan kita meskipun kita masih bisa melihatnya. Tapi tetap saja kan lebih bahagia saat seperti ini Ibu. Aku tidak menyangka kalau Toni akan melakukan ini dia akan dengan baiknya memberikan Sela padaku dan membiarkan dia menginap di sini aku bahagia sekali"
"Ibu juga senang, akhirnya Sela bisa ada di sini. Apalagi Ibu sangat senang karena kamu bisa berubah menjadi lebih baik tidak seperti dulu, sekarang kamu sudah tahu kan bagaimana hidup itu jadi jangan pernah mengulangi apa yang pernah kamu lakukan dulu"
"Iya Bu aku sadar apa yang aku lakuin itu emang bener-bener salah. Aku memang dulu sangat egois mau menang sendiri dan pada akhirnya aku malah menghancurkan hidupku sendiri kan. Tapi sekarang aku bersyukur orang-orang masih mau menerimaku meski kadang-kadang mereka tidak suka dengan keberadaan ku"
Airin mengusap rambut anaknya dan membuat teh dan juga susu sekalian untuk cucunya nanti kalau bangun bisa langsung minum susu kan.
"Tak masalah mereka mau tidak suka sama kamu, yang terpenting kamu sudah menjadi orang baik dan tidak mengulangi apa yang pernah kamu lakukan itu "
----------------
"Ya terserah Abang dong kalau istri Abang ikut maka Abang juga harus ikut ga boleh diam di rumah. Ga boleh kerja juga, Abang harus selalu temani istri Abang ini ga mungkin Abang lepasin gitu aja. Ya makannya bilang sama calon suami kamu jangan cuti jadi tak akan banyak kerjaan "
"Akhh mau cuti atau engga juga kerjaannya tetep numpuk. Padahal perginya sama aku bang buka sama orang lain, Abang ini ya kadang-kadang "
"Tetap aja ayo sayang. Daniel kamu dituntun sama aunty ya, kamu harus ikuti aunty kamu terus ya"
Lucas langsung merangkul pinggang istrinya dan berjalan berdua. Daisy yang melihat itu hanya bisa mendumal kesal dengan tingkah Abangnya yang memang kadang-kadang seperti ini "Aunty ayo
apakah kita akan diam di sini terus mama dan ayah sudah berjalan, kita akan ditinggal nanti aunty "
"Ah iya Aunty lupa ayo sini pegang tangan aunty jangan dilepaskan ya, kita akan jalan sama-sama "
"Iya aunty iya"
Saat ada di dalam mobil pun Lucas tak henti-hentinya menciumi tangan istrinya "Bang kalau nyetir yang fokus dong, nanti juga bisa kan di sini ada anak kecil juga. Abang ini gimana sih "
"Protes aja, nanti juga kamu bakal ngalamin kok. Udah diem aja yang penting kita sampaikan ke butik, aku juga bawa mobil ga ugal-ugalan kan "
"Iya iya deh protes sama Abang tuh salah ini salah itu salah, pokoknya semuanya serba salah "
Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di butik itu. Daisy langsung membawa Daniel terlebih dahulu. Kalau menunggu kakaknya pasti akan sangat lama dan banyak sekali dramanya akan panjang nantinya.
"Daisy akhirnya kamu sudah datang ayo Tante sudah mengecilkan gaun yang kamu mau, tinggal kamu pakai aja ya ini anak siapa lucu banget. Ganteng banget deh "
__ADS_1
"Oke deh Tan. Ini anak kakakku. Orang tuanya juga ikut tuh yang dibelakang"
Kat dan juga Lucas langsung berkenalan, lalu Kat membicarakan tentang pakaiannya anaknya dan juga suaminya, ternyata sudah disiapkan hanya tinggal di coba saja. Mama mertuanya ini memang the best sekali sudah menyiapkan semuanya dan tinggal dicoba saja.
Satu persatu mereka mencoba pakaian mereka,Kat sudah tidak ada masalah anaknya juga tidak dan suaminya apalagi ya sudah asal coba saja sudah.
Mereka bertiga menunggu kedatangan Daisy yang belum selesai. Gorden dibuka dan terlihatlah Daisy yang cantik memakai gaun putih dengan potongan yang mewah sekali.
"Cantik sekali Daisy ini sudah cocok tidak perlu ada yang dirubah lagi, kamu memang cantik sekali "
Daisy tersenyum mendengar pujian dari kakak iparnya dan menganggukkan kepalanya. Daisy bahagia bisa menikah yang awalnya dia berpikir kalau tidak akan pernah menikah sampai kapanpun, tapi semua itu dipatahkan dengan kasih sayang kenyamanan yang diberikan oleh Nabil.
Kenapa Nabil tidak ikut, memang Nabil sedang sibuk membereskan pekerjaannya terlebih dahulu agar nanti cuti tidak ditelepon oleh Abangnya. Abangnya ini selalu saja mengganggu dan memang begitu kesukaannya mengganggu adiknya.
"Benar kata Kakak iparmu tidak usah dirubah lagi ini sudah sangat cocok. Kamu benar-benar cantik Daisy"
"Iya Tante aku juga suka. Tidak perlu ada yang dikecilkan lagi sudah pas Tante, jadi kapan bisa aku ambil gaun ini. Apakah sekarang sudah bisa Tante "
"Tentu sekarang juga bisa langsung diambil kamu tunggu dulu ya biar tante panggil staf untuk membungkus pakaian kalian semua yang sudah cocok. tante juga sudah membuatkan kebaya untuk kamu seperti yang di mau Nabil mau dicoba sekarang"
"Boleh Tante biar sekalian"
"Tante ambil dulu"
Daisy masuk ke ruangan ganti lagi untuk mencopot gaunnya ini dibantu oleh staf. Tentu saja tidak mungkin Daisy membukanya sendiri karena memang sulit sih cara pemasangannya saja sulit apalagi membukanya.
Tak lama kemudian setelah memberikan baju yang kedua Daisy mencobanya dan ternyata cocok semuanya sudah cocok dan pas itu pakainya. Jadi tidak ada lagi yang perlu dirubah-rubah lagi.
Mereka sudah selesai dan keluar dari butik membawa semua pakaian itu, tadinya mau dihantarkan tapi Daisy lebih baik membawanya saja. Sama saja kan diantarkan dan dibawa olehnya tidak ada bedanya.
"Kita makan dulu ya "ucap Lucas sambil membelokkan mobilnya ke arah restoran.
"Kayaknya Abang ga usah bilang deh kalau emang langsung dibelokkan ke restoran ini tanpa harus memilih dulu"
"Ya kan kasih tahu doang apa salahnya"
"Iya iya "
Mereka berempat masuk ke dalam restoran itu dan memasang beberapa makanan. Sebelum makanan itu tiba mereka juga banyak mengobrol tentang pernikahan Daisy tentang nanti akan tinggal di mana dan bulan madu kemana, semuanya dibicarakan di meja itu.
Makanan sudah datang, Lucas dengan semangat langsung menyuapi istrinya. Bukannya makan tapi Lucas malah sibuk dengan makanan istrinya dan menyuapinya.
"Ini anaknya gimana siapa yang suapi, Abang yah ini suapi juga jangan didiemin dong"
"Ya kamu Daisy, kamu harus belajar nanti juga kalau kamu punya anak kamu harus gesit. Ayo cepat suapi ponakan kamu ini, kali-kali "
"Bener-bener ya datang sama Abang tuh malah jadi nyamuk tau nggak sih. Lebih baik tadi aku cepet-cepet aja pergi sama Kat berdua. Males deh kalau sama Abang "
Lucas mengibas-gibaskan tangannya tak peduli dengan perkataan adiknya. Lucas hanya fokus menyuapi istri tersayangnya itu.
"Makan yang banyak ya"
"Nanti aku gendut, aku ga mau terlalu gemuk "
__ADS_1
"Ga masalah, emangnya kalau kamu gendut kenapa, kamu akan cantik " Kembali Lucas menyuapi istrinya.