
"Baiklah Tamara, nenek ceritakan yang sebenarnya padamu. Kamu jangan kaget ya. Ga akan ada yang nenek sembunyikan semuanya akan nenek beritahu padamu "
Tamara hanya menganggukan kepalanya saja Tamara sangat ingin tahu tentang apa yang akan neneknya katakan, memang sepenasaran itu Tamara pada sikap neneknya terhadap Daniel. Sangat aneh sekali.
"Jadi Ibu kamu yang bernama Tamara seperti namamu sendiri itu meninggal karena Ayahnya Daniel. Kalau saja dulu Nenek tak egois mungkin semua ini tak akan pernah terjadi. Kamu juga akan masih bersama Ibu kamu "
Hati Tamara langsung sakit mendengar itu. Ibunya meninggal gara-gara Ayahnya Daniel apakah benar ini semua"Kenapa nenek begitu yakin sedangkan nenek belum melihat Ayahnya Daniel kan, kalian belum bertemu. Kenapa nenek tiba-tiba berbicara seperti itu" Tamara tidak mau percaya begitu saja. Kenapa neneknya baru bicara sekarang coba.
"Tanpa nenek melihat dan bertemu dengannya, nenek sudah tahu dari wajah Daniel wajah mereka sama tidak ada bedanya. Dia adalah anaknya Lucas, dia adalah anak dari orang yang membunuh Ibu kamu"
Tamara mengelengkan kepalanya "Pasti nenek salah, seharusnya nenek bertemu dulu dengan Ayahnya bisa saja kalau wajah mereka memang sama saja. Jangan tiba-tiba menuduh seperti itu nek tidak baik "
"Memang pada kenyataannya dulu ibumu Tamara dan juga Lucas bersahabat mereka teman baik, tapi suatu saat ibumu Tamara ingin memiliki Lucas, ibumu melakukan berbagai macam hal untuk mendapatkannya bahkan istrinya dari Lucas sampai-sampai akan diracuni oleh ibumu, tapi semua itu tidak terjadi"
"Lucas yang tidak terima akhirnya memutuskan untuk membalas semuanya. Nenek tahu ceritanya makanya nenek tidak mau kamu berteman dengan Daniel. Memangnya kamu mau menjadi korban selanjutnya. Nenek tidak mau kamu sampai diambil olehnya jadi tolong jauhi Daniel. Dia bukan teman yang baik, bisa saja dia akan sama seperti Ayahnya dulu, mereka adalah satu darah dan pasti akan sama tak akan ada bedanya "
Tamara yang tidak mau lagi mendengarkan kata-kata Neneknya langsung saja pergi masuk ke dalam kamar. Tamara sungguh tidak percaya masa Ayahnya Daniel setega itu tidak, Tamara tidak akan pernah percaya begitu saja. Tamara sudah terlanjur nyaman berteman dengan Daniel dia baik Daniel adalah teman pertamanya.
Ternyata Nenek yang disebut oleh Tamara itu adalah Bibi Mary. Orang yang pernah Lucas suruh. Sekarang Bibi Merry menjadi sakit-sakitan uang yang Lucas berikan waktu itu habis semuanya, sudah habis hartanya pun habis karena berobat sana-sini mungkin ini karma untuknya.
"Bagaimana Tamara, aku harus membuat anakmu percaya aku tidak mau sampai kehilangan lagi. Bahkan rasa menyesal aku masih ada sampai sekarang. Aku menyesal telah membantu Lucas dan membuatmu harus seperti itu, harus meninggalkan anakmu "
Bibi Merry tak bisa menahan tangisnya setelah kejadian itu. Bibi Merry benar-benar terpuruk memikirkan semuanya. Kejadian itu begitu cepat dan penyesalan datang di Akhir. Bibi Merry sangat-sangat menyesal, seharusnya membuat mereka akur bukannya malah menjadi perang seperti itu.
Lebih baik Bibi Merry tidak menahan nahan lagi kan cerita itu. Lebih baik Tamara tahu semuanya agar Tamara bisa menjaga dirinya. Siapa tahu Lucas masih merasa dendam. Siapa tahu Lucas mencari anaknya Tamara kan bisa gawat semuanya.
...----------------...
"Ini sekolahmu Daniel "
"Iya bagaimana Sela apakah kamu suka dengan sekolah ku ini, pasti suka lah masa tidak "
"Suka sekolahnya sangat bagus sekali" sambil tersenyum manis pada Daniel.
__ADS_1
Daniel mengantarkan Sela ke ruangan kepala sekolah, setelah berbincang beberapa saat mereka keluar dan akan menemui wali kelas dari Sela. Ternyata mereka berdua malah tidak satu kelas.
"Yah kenapa kita beda kelas, aku kira kita akan sama "ucap Daniel dengan lesu.
"Yang sabar mungkin nanti kita akan satu kelas, saat kenaikan kelas kan pasti akan di acak lagi "
"Hemm benar juga, semoga saja di tahun berikutnya kita bisa sama-sama "
Setelah mengantarkan Sela ke wali kelasnya, Daniel berpamitan untuk ke kelasnya sendiri. Daniel yang baru saja masuk sudah melihat Tamara yang murung, sebenarnya ingin bicara dengannya tapi Daniel mengurungkan niatnya dia lebih baik duduk di samping Hans.
"Sela ga satu kelas sama kita ya "ucap Hans.
"Ga Sela ada di kelas yang lain, ya udahlah ga masalah kan nanti juga jam istirahat kita bisa bareng-bareng lagi"
"Iya bener juga. Oh ya kamu lihat perubahan ga sih dari diri Tamara"
"Ga biasa-biasa aja"
"Tapi kamu lihat deh biasanya dia suka deketin kamu, ya samperin kamu tapi sekarang dia ga cuman lihat kamu aja"
Daniel mengeluarkan buku-bukunya dan guru juga sudah masuk. Pelajaran pun segera dimulai, Daniel begitu fokus melihat ke arah gurunya mencatat semuanya tidak ada yang terlewat sedikitpun.
...----------------...
Jam istirahat tiba, Hans lalu mengajak Tamara untuk pergi ke kantin "Tamara ayo kita ke kantin sama-sama"
Tamara cukup lama diam, tapi dia segera menganggukan kepalanya dan pergi bersama Daniel dan juga Hans untuk pergi ke kantin makan di sana.
Daniel yang melihat Sela sedang duduk dengan seorang perempuan segera menghampirinya. Daniel menatap perempuan itu dengan lekat tapi dengan cepat dia duduk di samping Sela.
"Kenalan dulu dong Daniel ini teman baru aku, teman sebangku juga namanya Violetta" ucap Sela dengan sangat riang sekali.
Daniel hanya mengganggukan kepalanya saja. "Gimana kamu nyaman di kelas itu, ada masalah ga di sana. Kalau ada apa-apa kamu bisa kasih tahu aku "
__ADS_1
"Ga ada sih aku nyaman-nyaman aja Daniel apalagi temen-temennya baik-baik juga jadi aku nyaman banget "
"Bagus deh "
Mereka segera makan sama-sama. Dari tadi pandangan Daniel terus tertuju pada Violetta. Sela yang melihat itu hanya tersenyum saja.
...----------------...
"Daniel kamu suka ya sama Vio" tanya Sela yang baru ingat, tadinya mau ditanya pas dikantin tapi lupa dan sekarang saatnya mumpung ingatkan.
Pandangan Daniel langsung terarah ke Sela. Mereka sekarang sedang berjalan untuk pulang ke rumah. Memang Daniel meminta untuk tidak dijemput ingin pulang berdua saja.
"Kamu ini ada-ada aja mana mungkin, aku ga mungkin suka sama dia "
"Tapi dari pandangan kamu "
"Ga kok, aku ga suka sama dia cuman ya suka aja lihat matanya cantik, tapi kok wajahnya kayak Valeria ya sedikit mirip sih mereka"
"Siapa Valeria"
"Teman sekelas ku yang aku pernah cerita sama kamu, kalau dia suka bully anak-anak. Wajahnya seperti ga asing buat aku saat tadi lihat wajahnya Violetta temen kamu itu. Makanya aku dari tadi terus lihat wajahnya, cuman dari matanya aja sih yang beda matanya cantik banget"
"Awas lo nanti naksir"
Daniel hanya tersenyum kecil saja. Mana mungkin Daniel suka, tidak Daniel tidak mungkin suka dengan temannya Sela itu.
"Aku lihat-lihat kok Tamara kayaknya sekarang lebih pendiam ya ga kayak pertama. Dia biasanya pengen duduk sama kamu terus, ngobrol terus sama kamu, tapi sekarang dia agak pendiam ya. Aku merasa aneh aja gitu "
"Ga tahu mungkin lagi ada masalah. Aku juga ga mau terlalu ikut campur urusan dia. Yang terpenting kan awalnya aku cuman mau nolong dia aja dan ga mau dia ga punya temen gitu aja sih, agar dia ga dibully terus "
"Iya deh, tapi kamu juga harus hati-hati ingat kita ini baru kenal teman-teman kita. Belum tahu gimana wataknya atau sikapnya itu"
"Hemm bener juga sih "
__ADS_1
"Selalu hati hati saja "
Daniel menganggukan kepalanya dan menarik tangan Sela untuk menyebrang dan membeli camilan dulu. Mereka akan menonton film dirumah setelah ini makannya membeli makanan dulu.