
Daniel hanya diam menatap istrinya yang masih tertidur, semalam saat sampai ke Belanda ya mereka bulan madu ke Belanda, istrinya malah langsung tertidur Daniel juga tidak mau mengganggu istirahat istrinya. Kasian juga kan dia kelelahan, tapi pagi ini Daniel tak akan membiarkannya Daniel akan menyentuh istrinya, Daniel sudah menahannya sejak lama.
Bahkan Daniel mati-matian untuk tak menyentuh istrinya saat sebelum menikah dan sekarang ini adalah saatnya Daniel sudah tak sabar sekali. Daniel ingin segera Vio benar-benar menjadi miliknya.
Daniel mengecup bibir Vio beberapa kali, lalu beralih keleher Vio memberinya tanda, banyak jejak yang Daniel tinggalkan tidak cuman satu.
Vio yang tertidur langsung menggeliat, Vio membuka matanya yang berat sekali suaminya sedang mencium lehernya. Bahkan sekarang tangannya sudah masuk ke dalam pakaiannya Vio.
"Daniel aku baru bangun tidur, aku akan pergi kekamar mandi dulu ya "
"Tidak masalah sayang, aku sudah tak bisa menahannya lagi, jangan suruh aku berhenti. Aku tak akan mau, aku sudah menunggunya lama sayang. Tak usah ke kamar mandi dulu seperti ini saja kamu sudah cantik "
Daniel membuka seluruh pakaian istrinya, Vio mencoba untuk menutupinya tapi Daniel mengalihkan kedua tangan istrinya "Tidak perlu takut dan tidak perlu malu aku ini adalah suamimu sayang, maka kamu hanya perlu diam dan menikmatinya saja "
"Setelah kita selesai, maka kita akan jalan-jalan seperti apa yang kamu mau sayang, tapi sekarang kita harus menuntaskan ini aku ingin segera membuat bayi. Aku ingin segera menghamili kamu "
Vio yang mendengarnya mengalungkan tangannya ke leher suaminya, mencoba untuk tidak malu demi sedikit demi sedikit Vio membalas apa yang suaminya lakukan.
Vio tak mau mengecewakan suaminya dihari pertanya menjadi istri. Vio akan semampunya membuat suaminya senang dan mengimbangi apa yang suaminya lakukan.
...----------------...
Vio membenamkan wajahnya ke dada bidang suaminya, sungguh setelah mereka tadi melakukan penyatuan Vio menjadi malu sendiri. Sekarang Vio seutuhnya sudah menjadi milik Daniel.
"Aku begitu menyayangi mu sayang "ucap Daniel sambil mencium kening sang istri.
"Aku pun Daniel. Apakah ada sesuatu yang belum kamu ceritakan padaku, ya mungkin ada rahasia yang kamu simpan dari aku. Aku ga mau ada yang disembunyikan, aku ingin pernikahan kita ini tanpa ada yang disembunyikan "
"Semuanya sudah kamu ketahui, kita sudah berteman lama apa yang aku sembunyikan darimu tidak ada. Kamu sudah mengetahui semuanya sayang. Tak ada yang aku sembunyikan sama sekali "
Vio yang tidak mau merusak bulan madunya akhirnya menganggukkan kepalanya saja. Vio tidak mau malah nanti pada akhirnya mereka bertengkar cuman gara-gara masalah ini, nanti akan ada saatnya Vio bertanya dan tahu semuanya.
Daniel yang melihat istrinya malah diam saja langsung menggodanya, dengan meremas salah satu payudara sang istri. Untuk mengalihkan pembicaraan ini juga.
Daniel belum siap untuk mengungkapkan semuanya, Daniel takutnya nanti Vio akan pergi dari sampingnya, Daniel tidak mau sampai itu terjadi suatu saat Daniel akan menceritakan semuanya tapi setelah dia benar-benar siap.
"Daniel"
"Apa sayang, ada yang salah tidak kan aku sudah melihatnya. Bahkan aku sudah merasakannya jadi kapanpun aku boleh memegangnya. Kamu tahu aku begitu bahagia kita akhirnya bisa bersatu seperti ini, apa yang pernah aku impikan sekarang terkabul. Aku kira akan sulit mendapatkan kamu sayang tapi ternyata kamu juga sudah suka sama aku"
"Ya kamu pikir aja sekarang mana ada sih perempuan yang nggak suka sama kamu udah mapan, udah punya segalanya tampang juga mendukung"
Daniel mengacak rambut sang istri "Kamu mau makan apa, kamu pasti lapar kan mau makan di sini atau kita keluar saja sayang, kalau kamu lelah biar makan disini saja ya aku akan memesankan nya sekarang sayang "
"Aku mau makan di luar saja Daniel kalau di hotel percuma saja aku kan ingin jalan-jalan dan menikmati kota ini "
"Baiklah kamu bersihkan dulu dirimu ya, nanti kita akan jalan-jalan sayang sesuai dengan apa yang kamu mau "
Vio segera bangkit sambil menarik selimutnya, Daniel malah mengikuti Vio masuk ke dalam kamar mandi. Vio yang kaget langsung menutup matanya karena Daniel tidak memakai apapun. Ya maksudnya tidak menghalanginya dengan apapun dia telanjang bulat dan tidak malu dengan Vio.
Malah Vio yang malu kan, suaminya ini kenapa begitu berani seperti itu. Apakah tak takut ada yang mengintip dari gedung sebrang, masalahnya gorden mereka terbuka semuanya tak ada yang tertutup sama sekali.
"Kenapa kamu mengikuti ku, aku akan mandi nanti kamu giliran. Jangan sama-sama ya. Kamu tunggu saja sana duduk lagi "
"Kenapa tidak sama-sama saja. Kita kan sudah suami istri. Ya siapa tahu kita bisa melanjutkan yang tadi, aku masih belum puas sayang, aku masih mau sayang"
"Jangan sekarang, yang tadi saja masih sakit. Besok saja kita harus istirahat dulu Daniel kita kan mau jalan-jalam dulu "
"Emm, bagaimana ya baiklah sayang untuk sekarang aku akan mengalah, silahkan tuan putri aku tak akan mengikuti kamu "
Vio dengan perlahan membalikan badannya, lalu menutup pintu dengan kencang. Vio mengusap dadanya yang sudah berdegup kencang dari tadi, kenapa masih malu ya tentu saja ini baru pertama kalinya Vio menatap laki-laki telanjang seperti itu. Iya meskipun itu suaminya tetap saja malu.
Vio benar-benar makan dengan lahap. Bahkan dia memesan banyak makanan, tapi Daniel tidak mempermasalahkan itu yang terpenting istrinya senang dan bahagia. Vio juga menghabiskan makanannya tidak ada yang tersisa satupun, sepertinya istrinya ini memang sangat lapar Daniel sampai lupa memikirkan hal itu karena asiknya mereka bermesraan.
"Ada yang ingin kamu makan lagi sayang, biar sekalian saja. Atau mungkin ada makanan yang ingin kamu bungkus untuk nanti di hotel"
Vio mengusap bibirnya dengan tisu "Sepertinya untuk sekarang aku sudah kenyang kita jalan-jalan atau beli oleh-oleh untuk orang-orang rumah saja. Biar sekalian saja. Pasti kita akan banyak menghabiskan waktu didalam kamar hotel "
__ADS_1
"Boleh sayang kamu tahu saja keinginan ku ini, mau ke mana mau belanja apa sayang"
"Ke mana saja, aku akan ikut denganmu"
Daniel langsung menggandeng tangan istrinya, pembayaran sudah selesai tadi. Mereka berjalan sambil tertawa banyak yang mereka ceritakan Daniel bersama istrinya sangat berbeda sekali, tidak seperti saat di kantor. Daniel akan lebih ceria banyak tersenyum bahkan bisa melakukan hal konyol di depan istrinya.
Tapi saat sedang bekerja daniel sangat serius sekali bahkan menyeramkan tak ada karyawan yang berani mengangkat kepalanya saat Daniel lewat, karena tatapan matanya itu sangat menusuk sekali mungkin kalau diibaratkan pisau, akan langsung menusuk dalam.
Vio menatap ke arah belakangnya, Vio merasa dari tadi dua laki-laki di belakangnya mengikutinya terus "Daniel apakah kamu merasakan kalau dua orang di belakang kita dari tadi mengikuti terus. Apakah tidak akan apa-apa dari pertama kita keluar dari restoran mereka mengikuti terus, aku sangat takut sekali. Takut mereka akan melukai kita "
"Kamu sudah selesai belanjanya. Apakah ada yang ingin kamu beli lagi setelah ini sayang. Tak usah hiraukan mereka ya. Kita fokus saja berjalan. Aku jamin kita akan baik-baik saja "
"Tidak aku ingin kembali saja ke hotel. Aku tidak tenang kalau berbelanja seperti ini, kita bisa menyambungnya besok kan sepertinya mereka akan melakukan hal jahat pada kita. Aku tak mau celaka di negara orang "
Daniel membawa istrinya ke jalan yang ramai, Daniel tidak mau kalau istrinya tahu kalau sebenarnya dirinya ini orang yang tidak punya hati, selama ini Daniel selalu memperlihatkan pada Vio kalau dia itu orang yang ramah, rajin bersedekah selalu menolong orang.
Padahal nyatanya Daniel itu orang yang berhati dingin dan juga tidak segan untuk menghabisi orang itu siapapun dia, apapun kesalahannya mau kecil mau besar maka Daniel akan menghabisinya. Sebenarnya Daniel ini lebih parah dari Alexander, kalau Alex sih masih bisa dianggap biasa saja tapi kalau Daniel tak akan pernah memandang dia siapa, keluarga mana, jabatannya apa yang terpenting jika dirinya ingin membunuhnya maka Daniel akan menghabisinya.
Mereka sudah sampai kamar, Daniel menyimpan barang-barang yang istrinya bawa tadi "Memangnya kamu ga ngerasain gitu ada orang yang ngikutin kita dari tadi" kembali Vio membahas yang tadi. Karena Vio belum mendapatkan jawaban yang pasti dari suaminya ini.
Daniel membelai pipi sang istri "Aku tidak mau membuatmu khawatir, makanya aku pura-pura tidak tahu. Sudah dia tidak akan mengikuti kita sampai ke hotel kamu akan baik-baik saja, memang pasti akan banyak yang mengikuti kita, apalagi dengan melihat penampilan kita. Mereka itu kan orang jahat, tapi tenang kita sudah aman disini "
"Lalu kalau mereka besok ada lagi bagaimana. Aku takut kalau mereka bakal ngikutin kita lagi dan nunggu kita di luar hotel, lalu saat ada kesempatan mereka akan melukai kita. Aku benar-benar tidak mau itu sampai terjadi. Kita datang kemari kan untuk bulan madu "
"Udah sayang kamu nggak usah takut kayak gitu, kan aku ada sama kamu. Mereka nggak akan berani lukain kamu selagi aku ada di samping kamu. Aku nggak akan pernah biarin liburan kita, bulan madu kita ini hancur cuman gara-gara mereka. Mereka bukan apa-apa untuk aku, mereka itu cuman berandalan aja"
Vio diam mendengar kata-kata suaminya, mendengar bukan apa-apa "Kenapa kamu malah diam sekarang kamu curiga sama aku, apa yang membuat kamu curiga sama aku sayang "
Vio dengan cepat langsung menggelengkan kepalanya "Ga, cuman aku takut aja kalau mereka itu nekat, seperti yang kamu bilang kalau mereka adalah berandalan"
"Udah lebih baik kamu istirahat, kamu pasti kecapean deh dari tadi jalan-jalan terus. Apalagi sekarang perut kamu sudah penuh "
Daniel membuka jaket istrinya dan juga membantu istrinya untuk berbaring. Daniel mengusap rambut sang istri agar istrinya cepat tertidur agar Daniel bisa mengecek kedepan. Apakah orang-orang itu masih ada di depan, siapa tahu apa yang dipikirkan istrinya benar kalau mereka ada dan menunggu Daniel serta Vio keluar.
Setelah yakin sang istri benar-benar tertidur Daniel keluar, tidak lupa untuk mengunci pintunya dulu. Daniel tidak mungkin membiarkan Istrinya tidur tanpa pintu dikunci. Bagaimana kalau ada orang jahat, atau mungkin orang itu yang menyelinap masuk.
Daniel juga membelikan sebuah makanan untuk sang istri, supaya dia tidak curiga takutnya istrinya malah bangun.
Saat Daniel membuka pintu untungnya istrinya masih tertidur dengan lelap. Untung saja masih tidur, kalau tidak banyak tanya nanti, tapi Daniel sudah membelikan makanan jadi punya alasan. Daniel menyimpan semuanya membersihkan dirinya terlebih dahulu dan ikut berbaring di samping sang istri, sepertinya memang istrinya ini benar-benar kelelahan sampai-sampai tak sadar kalau tadi Daniel keluar dulu dari dalam kamarnya.
Kalau sampai terbangun istrinya pasti akan bertanya yang aneh-aneh mungkin akan terus mencurigai Daniel. Sekarang yang Daniel harus lakukan adalah membuat istrinya percaya dan tidak curiga padannya.
...----------------...
Tidak terasa mereka sudah menghabiskan satu minggu lamanya di Belanda. Ya cukup lama satu minggu untuk mereka. Vio juga tidak mau terlalu lama kan masih banyak yang harus mereka kerjakan. Mereka sekarang sedang di perjalanan ke rumah Daniel. Tidak langsung pulang ke rumah.
Rumah mereka masih dibereskan apalagi rumah mereka kan dicat ulang semuanya. Vio yang sudah menentukan cat apa saja yang harus digunakan, tidak ada warna hitam dan coklat hanya sedikit saja sih, tidak seperti saat dulu Vio datang semuanya hitam dan coklat benar-benar gelap rumahnya itu.
Mobil berhenti di depan rumah Ibu mertuanya. Vio menetap Ibu mertuanya yang menunggu di luar, Vio segera menghampirinya "Mamah kenapa Mama tunggu di luar. Ini udah malam banget, udara nya juga dingin banget Ma "
Kat langsung memeluk menantunya itu dari dulu Kat ingin sekali mempunyai anak perempuan, tapi gak masalah sekarang kan Kat sudah mempunyai menantu sama saja kan "Sengaja Mama pengen tunggu kalian udah nggak sabar pengen ketemu sama kalian berdua, satu Minggu itu rasanya panjang banget buat Mama "
Setelah melepaskan pelukan nya Kat pembawa menantunya dan juga anaknya masuk ke dalam rumah, di sana juga keluarganya sudah berkumpul Daniel yang menyuruhnya untuk membagikan hadiah yang dibawa oleh Vio agar besok tidak usah bagi-bagi lagi kan sudah semuanya.
Setelah membagikan oleh-olehnya pada Mama mertuanya, ayahnya, Alex dan juga pelayan yang ada di sini Vio celingak-celinguk mencari satu orang yang tidak ada di sini "Ma kok Ayu nggak ada di sini ya, apa Ayu baik-baik aja "
"Ayu ada di kamarnya, dia mual terus dia lagi hamil. Ya udah kamu temuin aja di kamarnya pasti dia senang banget ketemu sama kamu Vio "
"Ya udah deh Mah Vio akan temuin Ayu dulu ya "
"Iya sayang"
Vio dengan semangat langsung naik ke lantai atas, Vio juga mengetuk pintu kamar Ayu terlebih dahulu "Ayu bolehkah aku masuk, aku Vio "
Pintu langsung dibuka dan terlihatlah Ayu yang wajahnya pucat, Ayu mempersilahkan Vio untuk masuk kedalam kamarnya "Padahal kamu tinggal teriak aja, kalau kamu ga kuat buat jalan "
"Ga apa-apa Kak Vio aku baik-baik aja kok, hanya sedikit pusing saja "
__ADS_1
"Oh ya ini aku bawa oleh-oleh buat kamu. Ini aku beliin tas, pakaian dan juga ini camilan semoga kamu suka ya dengan yang aku berikan "
Ayu menatap semua barang-barang mahal itu, apakah berhak dirinya mendapatkan itu "Tapi Kak Vio barang-barang ini mahal sekali, aku nggak bisa menerimanya" kenapa Ayu menolaknya karena Ayu takut nanti tidak bisa menggantinya, ini barang-barang mahal semuanya.
"Kenapa seperti itu. Aku sudah membelikannya untukmu sudah terima saja. Alex juga tidak akan marah kok, semua juga sudah mendapatkan hadiahnya ini untuk kamu. Aku sengaja memberikannya untukmu jadi terima ya jangan ditolak"
Ayu yang tidak enak akhirnya menerima semua barang yang diberikan oleh Vio"Terima kasih Kak, aku suka dengan hadihnya "
"Sama-sama jangan lupa untuk dipakai, kamu jangan pernah sungkan ya sama aku"
"Iya kak"
"Ya udah lebih baik kamu istirahat. Pasti lemes banget deh apalagi kamu tuh lagi mual-mual kayak gitu, kamu harus banyak istirahat ya semoga kamu dan bayi kamu juga sehat dan doakan juga semoga aku nyusul biar anak kita nanti bisa main sama-sama"
Ayu mengganggukan kepalanya, meski dia tahu kalau dirinya tidak akan lama di sini hanya satu tahun saja, tapi Ayu tidak mau membuat orang-orang yang ada di sini curiga hanya dirinya saja dan Alex yang tahu tentang perjanjian itu tidak boleh ada yang tahu lagi.
Vio keluar dari kamar Ayu. Ayu masih menatap barang-barang itu, pasti ini sangat mahal sekali harus disimpan di mana ya. Ayu tidak mau merusak barang-barang ini, apalagi ini pemberian pertama dari Kak Vio orangnya baik sekali. Ayu kira Kak Vio akan jutek dan tidak suka padanya karena penampilannya dengan Kak Vio sangat jauh sekali.
Saat menikah Ayu melihat Kak Vio ada dua, ternyata kata Mama itu adalah kembarannya, Ayu sangat takut melihat kembarannya karena wajahnya benar-benar galak dan sepertinya tidak ramah. Ayu kira juga Kak Vio seperti itu tapi ternyata tidak berbeda mungkin wajah mereka bisa sama tapi sikap mereka berbeda sekarang Ayu bisa membedakannya.
Waktu awal bertemu sih Ayu tidak bisa membedakannya. Tapi sekarang sudah bisa kalau dilihat-lihat dari mata memang agak beda, kalau mata Kak Vio itu lebih bulat kayak boneka, tapi kalau kembarannya itu tidak. Mungkin hanya itu yang membedakannya saja dari fisik mereka berdua.
...----------------...
Ayu melihat suaminya masuk kedalam kamar, tapi dia sepertinya sedang telfona dengan seorang perempuan dan sangat asyik sekali. Ayu hanya bisa menatapnya tak berani menegurnya.
Karena sudah perjanjian juga kan, kalau mereka tak akan ikut campur kehidupan masing-masing. Tapi Ayu sangat risih sekali mendengarnya.
"Alex bisa tidak teleponannya di luar saja. Aku ingin tidur kepalaku pusing aku ingin tenang"
"Ini kamarku ya jadi kamu tidak berhak menyuruh ku untuk keluar, kalau kamu mau keluar ya keluar saja dari kamar ini" bentak Alex pada Ayu.
"Baiklah aku akan keluar "
Ayu melangkah keluar pintu kamar, tapi tangannya langsung ditahan oleh Alex "Kamu ingin aku dimarahi Mama, iya kamu pengen aku disalahin sama Mama "
"Kata kamu aku keluar aja, kalau aku pengen tenang. Aku pengen tenang aku pengen istirahat aku bisa kok tidur di kamar tamu. Kenapa sih serba salah banget" Ayu jadi terbawa emosi kan gara-gara tingkah Alex.
"Diam disini, mau aku berisik atau tidak ya terima saja. Aku tidak mau ya nanti malah jadi masalah. Sudah diam tidurlah "
"Aku tidak akan pernah bisa tidur kalau kamu terus berisik dengan perempuan itu. Aku ini ingin istirahat aku ini sedang mengandung anakmu"
"Alasan saja, kamu hanya ingin mencari masalah kan dan aku nanti dimarahi oleh Mamaku. Iya itu yang kamu mau"
"Kenapa sih jadi aku serba salah banget Alex aku pengen tenang aku pengen tidur "
"Ya tinggal tidur aja "
"Alex kamu udah punya istri "ucap suara disebrang.
"Iya Rena aku sudah punya istri kenapa kamu tidak mau sama aku kalau misalnya aku udah punya istri"
"Engga kok, aku tetap mau aja sama kamu. Kayaknya istri kamu juga baik ya ga masalah tuh suaminya telfonan sama perempuan lain "
"Ya emang kayak gitu. Nanti pagi seperti biasa aku jemput lagi ya sayang, sekarang sudah waktunya tidur lebih baik kamu tidur ya"
"Iya Alex aku tak sabar ingin segera bertemu kamu lagi dadah sayang "
Alex langsung mematikan sambungannya. Alex menatap Ayu yang masih diam berdiri "Tidur bukannya mau tidur kan, cepat istirahat jangan buat masalah. Aku lelah kalau harus terus bertengkar dengan orang tuaku, hanya gara-gara kamu semenjak kamu datang dalam hidupku aku tidak bisa bebas lagi seperti dulu, bahkan untuk tinggal sendiri di apartemen saja susah cepat tidur jangan membuatku marah dan memukulmu nanti"
Ayu berjalan kearah tempat tidur membaringkan tubuhnya dan membelakangi Alex. Memangnya siapa yang mau hidup seperti ini. Ayu juga tidak mau seperti ini. Ayu juga ingin bebas Ayu juga ingin bekerja seperti teman-teman yang lain, membahagiakan kedua orang tuanya.
Ayu sebenarnya belum siap menikah, tapi ya mau bagaimana lagi keadaannya seperti ini tapi Alex malah menyalahkannya seolah-olah di sini Ayu yang salah padahal Ayu tidak pernah menjual dirinya pada Alex ini ulah temannya.
Ayu sangat menyesali hari di mana Ayu mendatangi temannya. Kalau saja Ayu tidak nekat pergi ke rumah temannya itu mungkin nasib Ayu akan lebih baik kan tidak seperti ini.
"Awas aja sampai kamu mengadu pada Mama, kalau aku telfonan dengan perempuan lain. Kamu akan habis oleh ku "
__ADS_1
Ayu menatap Alex "Silakan aku tidak peduli mau kamu selingkuh dengan ribuan wanita pun aku tidak peduli, itu bukan urusanku. Jika kamu sampai ketahuan maka jangan salahkan aku. Aku selalu ada di rumah mungkin di luaran sana ada orang-orang yang melihat kamu selingkuh dan memberitahu mamamu, jadi jangan hanya mengancam aku saja, tapi ancam semua orang yang kenal denganmu agar perselingkuhanmu itu tidak diketahui oleh Mama"