Psychopath 2

Psychopath 2
Bab 285 Vio kesal


__ADS_3

Karina begitu anteng bermain dengan Arumi, bahkan Karina tidak ingat dengan mamanya yang sekarang ada di rumah sakit karena saking asyiknya bermain dengan kakaknya itu.


Padahal tadi saat diantarkan oleh Alex Karina sudah menangis tidak mau ingin ikut dengan ayahnya, tapi Vio bernafas lega untungnya Karina mau diam di sini dan membiarkan Alex untuk pergi ke rumah sakit.


Vio yang memang dari tadi menjaga di sana dengan Valeria hanya bisa tersenyum melihat anak-anak kecil itu "Apa kamu tidak mau mempunyai anak Valeria, atau mungkin kamu ingin menikah. Kamu apakah akan terus seperti ini, kamu tidak mau gitu punya orang yang selalu perhatian sama kamu "


"Tidak aku belum kepikiran ke sana, aku belum mau menikah yang terpenting kamu sekarang sudah bahagia kan Tamara sudah tidak ada dan kamu bebas keluar ke mana saja. Aku belum memikirkan tentang pernikahan aku belum tertarik, aku masih mau sendiri Vio, kamu tahu sendirikan aku ini suka kebebasan, aku tak mau menikah dulu ah "


"Tapi aku tidak yakin kalau Daniel memasukkannya Tamara ke dalam penjara. Aku benar-benar ragu dengan apa yang dia lakukan, karena kemarin saja dari raut wajahnya sudah bisa aku baca, kalau Daniel tak mungkin menuruti kata-kataku yang satu itu"


Valeria menatap saudara kembarnya itu sekilas "Sudahlah jangan terlalu memikirkan hal itu, mau diapakan pun oleh Daniel yang terpenting Tamara tidak akan pernah muncul lagi di hidupmu. Kamu memangnya mau diganggu lagi oleh perempuan itu, dia itu hanyalah seorang pengecut yang tidak bisa melakukan apa-apa dia akan mencari orang yang lemah sama sepertinya dan targetnya adalah kamu, karena kamu terlalu banyak memaafkannya"


"Makanya dari dulu aku selalu bilang padamu jangan terlalu lemah kamu harus bisa melawan apapun keadaannya itu, mau dia siapapun dirimu kamu harus bisa melawannya "


"Ya karena dia temanku, aku tak bisa marah padanya, aku sudah lama berteman dengannya tahu, meskipun dia sering lukain aku tapi mau bagaimana pun dia tetap teman aku, bukan orang lain "


"Teman kalau dia menganggap mu teman dia tak akan seperti itu, jelas-jelas dia tidak menganggapmu teman. Jadi jangan terlalu naif dalam menanggapi semua hal ini kamu harus selalu tegas Vio, kamu tidak boleh gegabah dalam melakukan hal apapun itu, kamu itu harus menjadi orang yang bisa melawan jangan diam saja "


"Iya tapi kadang aku tidak bisa seperti itu pada orang lain, meskipun dia sudah jahat padaku aku tidak bisa jahat balik pada mereka, aku benar-benar tak bisa, aku tak ingin melakukan hal itu, kamu tahu sendirikan aku akan terus kefikiran kalau sampai jahat pada orang lain "


"Nah ini sikap yang paling tidak aku sukai dari kamu, kamu ini terlalu baik kamu adalah sisi baiknya sedangkan aku sisi jahatnya. Kita benar-benar melengkapi Vio "


Vio yang bingung dengan kata-kata saudara kembarnya itu langsung menatapnya "Maksud kamu apa, kamu memangnya jahat "


"Ya kalau diibaratkan kita seperti itu, aku dulu sangat suka membully orang-orang kan bahkan aku dari dulu tidak pernah mau melihat orang-orang bahagia, maksudku orang-orang lebih bahagia dariku aku harus lebih bahagia dari mereka. Sedangkan kamu selalu mengalah dalam hal apapun tapi aku tidak pernah menyakitimu kan karena kamu saudaraku, jadi kamu harus bersyukur memiliki saudara seperti aku, yang bisa melindungi kamu dalam segala hal "


"Iya tapi dari dulu aku sungguh tidak suka dengan sikapmu yang seperti itu, aku sangat senang kamu selalu ada untuk aku, bisa melindungi aku tapi aku tak suka kamu yang selalu membully teman-teman mereka kan tak punya salah dengan kamu tahu. Kadang dulu juga aku suka kesal dengan tingkah kamu itu Valeria, tapi bagaimana lagi aku tak bisa melakukan apa-apa lagi "


"Ya tapi aku nyaman dengan sikapku yang itu. Bahkan aku sekarang lebih nyaman lagi setelah mendapatkan sesuatu yang membuat aku sadar kalau ada yang lebih menyenangkan dari membully orang, aku sangat suka dengan hal itu, bahkan aku akan mencobanya lagi Vio"


Valeria begitu antusias menceritakan hal itu pada Vio, tapi Valeria tak akan gegabah menceritakan apa yang terjadi semalam bisa-bisa Vio akan melaporkannya pada orang tua mereka ini.


"Apa itu, hal apa yang disuka lagi oleh kamu jangan aneh-aneh ya Valeria "


"Suatu saat kamu akan tahu, kamu akan tahu semuanya tapi untuk sekarang lebih baik kamu diam saja dulu kamu tidak usah tahu dulu aku takut nanti kamu malah jadi takut denganku, aku tak mau sampai itu terjadi. Kalau kamu takut dengan aku siapa yang akan menemani aku nantinya "


Vio mengernyitkan keningnya. Ya sudahlah bagaimana saudara kembarnya saja, Vio juga tidak mau terlalu ikut campur dulu, ya semoga saja di waktu cepat ini Valeria akan segera menikah.


Vio tak akan banyak tanya dulu, Vio juga tak mau membuat saudaranya tak nyaman, semoga saja tak ada hal aneh yang dilakukan oleh saudaranya ini yang bisa mencelakai dirinya sendiri.


...----------------...


Sekarang Arumi sedang tidak ada di rumah, makannya Vio ikut kerja pada suaminya entah kenapa Vio ingin ikut saja bosan di rumah kalau pergi pun harus selalu ada pengawal.


Lebih baik ikut suaminya saja kan, Arumi sudah menginap dirumah Ayu beberapa hari dan tidak mau pulang entah bagaimana Vio harus mengajak anaknya itu pulang tapi kata Ayu tidak apa-apa tapi Vio tidak enak juga kan.


Kasian Ayu baru saja melahirkan, pasti berisik oleh anaknya yang ada disana, pasti anaknya itu akan menganggu, Vio sudah datang waktu itu bersama suaminya tapi Arumi malah menangis dan tidak mau pulang.


Anaknya ingin di sana karena ada dede bayi katanya, Arumi ingin selalu melihat Dede bayi itu Vio juga tidak bisa memaksakan Arumi ada di rumah saudaranya sendiri.


Vio bersandar di kursi milik suaminya, dia memakan camilan yang sudah sangat berantakan di meja suaminya itu nonton film kesukaannya, nanti dia akan bicara dengan suaminya bagaimana membawa Arumi untuk pulang ke rumah, tidak mungkin kan seterusnya Arumi tinggal di sana. Vio juga ingin menghabiskan waktu dengan anaknya lagi.


Memang sehari-hari kan Vio hanya bersama anaknya, jadi saat anaknya pergi dan menginap di rumah saudaranya itu Vio merasa sangat kesepian sekali. Vio tidak bisa kalau harus terus seperti itu. Vio harus benar-benar cepat-cepat menjemput anaknya.


"Kenapa sih pemeran perempuannya harus cinta banget sama laki-lakinya bahkan tinggalin sekolahnya cuman buat ikut sama laki-lakinya, gimana kalau nanti tiba-tiba laki-lakinya selingkuh sama aja bohong kan. Perjuangannya selama ini akan sia-sia saja karena kadang laki-laki akan cepat berubah kalau terlalu dicintai tapi tak semua seperti itu juga sih "komentar Vio melihat perempuan yang memang sangat mencintai laki-lakinya itu, merelakan sekolahnya demi seorang laki-laki yang belum tentu kedepannya akan menjadi jodohnya juga kan.


"Padahal ada yang lebih cinta lagi sama perempuan ini, tapi perempuan ini malah milih laki-laki itu gimana ya nanti endingnya penasaran banget. Bakal jodoh sama yang mana ya semoga aja dia dapat jodoh yang terbaik deh"


Sindiran dan komentar tidak hentinya keluar dari mulut Vio, dia terus saja berceloteh sambil memakan makanannya itu suaminya juga sedang meeting jadi Vio bebas menonton film apapun, kalau ada suaminya ada laki-laki yang lebih tampan darinya dan Vio memujinya langsung saja merajuk seperti anak kecil.


Makanya kalau sedang bersama suaminya Vio tidak pernah menonton film yang romantis-romantis, paling action atau film hantu karena kalau ada pemeran yang tampan dan Vio sukai pasti suaminya selalu merajuk ujung-ujungnya.


Padahal di film action dan juga hantu ada laki-laki yang tampan hanya Vio saja mencoba untuk bisa mengontrol ekspresinya dan bicaranya ini, agar suaminya itu tak banyak protes juga kan.


Suara pintu terbuka dan suara berat suaminya itu terdengar, sudah pulang lagi kenapa suaminya sangat sebentar. Padahal Vio belum selesai menontonnya jangan sampai dia mati penasaran.


"Daniel kenapa sangat sebentar sekali kamu, biasanya kamu akan sangat lama sekali sampai-sampai aku di sini akan jamuran karena menunggumu, tapi sekarang kenapa sangat sebentar sekali "


"Mau berapa jam aku meeting sayang, aku sudah satu jam lebih lo meeting apa menurutmu itu sebentar, lama sayang itu, pantatku sampai pegal tahu duduk terus"


"Ya aku kira akan lama biasanya kamu akan menghabiskan waktu 2 jam setengah atau bahkan lebih buat meeting aja, ya makannya waktu kamu sebentar aku aneh tahu "


"Engga sayang udah beres pulang yuk kita siap-siap, kita harus segera siap-siap pergi "


"Siap-siap, emangnya mau ke mana kita jemput Arumi ya kasihan dia. Kita bawa dia jalan-jalan supaya bisa mengalihkan pikirannya, masa Arumi akan terus tinggal di sana sih aku juga kangen main sama Arumi"


"Dia ga mau pulang nanti juga dia kalau mau pulang pulang ke rumah, kita nggak boleh maksa Arumi nanti dia malah akan marah. Udah biarin dulu aja mungkin dia masih mau main sama saudaranya lebih baik kita bulan madu aja. Sekolahnya juga lagi libur kan ya anggap aja liburan sekolah buat Arumi"


Tatapan Vio langsung terarah pada suaminya "Tapi aku nggak enak sama Ayu masa Arumi terus aja di sana, udah berapa hari coba dia disana ih kamu ini gimana sih "


"Sudah sayang nggak apa-apa nanti kita pulang dari Pantai kita jemput, aku mau main selancar ayo kita habisin waktu berdua dulu kapan lagi kita bisa berduaan kan. Mumpung Arumi lagi ga ada ayo lah sayang, sebentar saja jangan menolak ya, aku janji tak akan lama kok "

__ADS_1


Daniel membuka jasnya dan melonggarkan dasinya, lalu mendekati istrinya yang masih menonton, rasanya kalau memakai dasi ini tercekik sekali Daniel tak suka memakainya kalau boleh tak memakai lebih baik Daniel tak memakainya saja lah.


"Ayo sayang kita pulang sudah nanti saja nonton filmnya, kamu bisa kapan saja nonton lebih baik kita sekarang jalan-jalan kapan lagi coba"


"Kamu yakin mau ke pantai main selancar, nggak salah aku nggak salah dengar kan. Kapan juga kamu suka dengan hal itu"


"Ga kamu nggak salah denger, aku emang bener mau main selancar kapan lagi udah ya sayang kita pergi ke pantai aku nggak main-main loh ini. Aku udah benar-benar mau kesana ayo "


"Bukannya kamu akan ada meeting lagi, kamu ga boleh lepas tanggung jawab ya "


"Ya udah nanti ada yang ngurus kok ayo udah pulang ada asisten aku yang ngurus, kali-kali aku harus memanjakan diriku ini sayang, ayo cepat sayangku cintaku kita harus segera pergi sekarang juga "


"Ga kayak gitu dong Daniel kamu ini harus tanggung jawab masa harus Sela terus yang kerjain, kasihan dia kamu itu selalu saja mau membebankan dia dengan banyak pekerjaan. Sela juga punya anak suami dia sudah punya kesibukan lain, jangan terus membuatnya pusing lah "


"Tapi aku ingin pergi ke sana, ya kali-kali dong sayang main kenapa kamu sangat sulit sekali diajak pergi dengan aku "


Vio yang tidak mau berdebat terlalu panjang dengan suaminya ini akhirnya menutup laptop dan menyimpannya, lebih baik mengikuti saja apa kata-kata suaminya daripada nanti akan bertengkar dan ujung-ujungnya harus pergi juga kan lebih baik kita langsung turuti saja.


...----------------...


Vio aneh saat mereka tidak belok ke arah kanan, mau ke mana mereka "Kenapa tidak pulang ke rumah, seharusnya belok kanan apa kamu lupa jalan pulang ke rumah Daniel, kita harus mengambil pakaian dulu dong"


"Aku nggak lupa sayang lebih baik udah langsung saja ke sana, daripada nanti kesorean kan, kita beli aja baju di sana lah nggak usah bekal-bekal baju sayangku "


Baiklah Vio tidak kembali protes, ikuti saja apa mau suaminya kalau dia mau beli pakaian di sana langsung ya sudah. Vio tidak akan banyak komentar lagi, karena keputusan suaminya akan mutlak dan tidak bisa diganggu gugat sampai kapanpun itu mau Vio marah-marah seperti apapun tidak akan pernah bisa diganggu gugat.


Sebenarnya Vio ingin protes karena di rumah mereka juga sangat banyak pakaian, kalau beli lagi beli lagi kan sayang uangnya. Meskipun mereka orang berada tapi tetap saja Vio tidak suka menghamburkan uang hanya untuk pemberi barang-barang yang tidak perlu, pakaian sangat banyak di rumah.


Bahkan lemari Vio dirumah sudah sangat banyak sekali suaminya selalu saja membelikan pakaiannya, Vio melarangnya tapi suaminya tetap saja mau melihatnya.


Mereka berhenti di sebuah butik dan Daniel membelikan beberapa pakaian untuk Vio dan juga dirinya. Vio sudah meminta pada suaminya untuk membeli di tempat yang lebih murah saja tapi malah ke sini benar-benar suaminya ini ya. Bahkan banyak yang Daniel beli untuknya memangnya mereka akan berapa hari di sana.


Saat sudah di dalam mobil barulah Vio berbicara "Kamu beli banyak banget baju itu, di rumah juga banyak kan pakaian yang buat ke pantai. Seharusnya kamu beli satu atau dua aja nggak usah sampai 5 pasang kayak gini, kamu ini mubazir banget sih pakaian aku tuh udah banyak banget udah numpuk"


"Aku suka modelnya sayang sewaktu-waktu bisa kamu pakai di rumah juga kan, udah yang terpenting aku suka dan kamu mau pakai. Kamu lapar nggak sayang" tanya Daniel sambil mengusap paha istrinya yang memang tersingkap, istrinya ini memakai gaun yang Daniel pilihannya tadi sebelum berangkat ke kantor. Daniel sangat suka saat melihat istrinya memakai dress seperti ini.


"Aku belum lapar, kamu tahu sendiri kan tadi aku makan camilan yang sangat banyak sekali dan perutku belum mau diisi, sudah cukup nanti saja "


Tangan Daniel terus saja masuk Vio mengeplak tangan itu "Lebih baik kamu fokus menyetir jangan kesana kemari tangan kamu ini, jelalatan sekali ya tangan mu ini ah "


"Ya namanya juga sama istri, apa salahnya coba, ga akan ada yang marah juga dan protes juga sayang "


"Ya tapi kamu tahu waktu dan tahu tempat ini lagi di mana kamu lagi nyetir udah sana fokus, jangan terus kayak gini Daniel, kamu ga takut kenapa-napa gitu udah sana fokus ah "


Setiap mereka sedang berada di dalam mobil dan berjalan-jalan seperti ini, pasti Daniel mengambil kesempatan dengan melakukan hal seperti itu, Vio kadang kesal bukan apa-apa mereka sedang di jalan, kalau misalnya kecelakaan bagaimana mereka ini punya anak yang masih kecil.


...----------------...


Daniel dan juga Vio sudah sampai. Bahkan mereka sudah berganti pakaian mereka sudah ada di resort yang mereka pesan tadi langsung berhadapan ke arah Pantai, tapi bukan di sana tempat Daniel untuk berselancar, saat melihat sinar matahari yang terik Vio jadi Engan keluar lebih baik dia didalam saja kan.


Menghabiskan waktu dengan cara menonton yang tadi kan belum selesai Vio harus menonton ya lagi, Vio harus menyelesaikannya kalau tidak dia malah akan penasaran dan tak akan pernah bisa tidur, suaminya ya biarkan saja bermain. Vio tak keberatan ditinggal disini sendirian.


"Udah sana kamu main selancar katanya mau main, aku disini aja ah, aku mau tiduran aja kamu ga masalah kan kalau sendirian, kamu kan laki-laki ya" titah Vio sambil dia duduk dan melihat orang-orang yang berlalu lalang, ya meskipun hanya dari kaca saja Vio melihatnya.


"Kamu ga akan ikut gitu sayang kamu nggak mau lihat aku gitu, kamu masa mau disini aja sih, ga seru ah sayang, aku kan mau kamu temenin makannya aku ajak kamu kesini, ayo sayang temenin aku yu, cuman sebentar aja kok ga akan lama sayang " protes Daniel, karena Daniel ingin istrinya ini ikut kesana.


Masa Daniel akan sendirian, Daniel juga ingin istrinya ini nanti menatapnya. Daniel juga mainnya ingin sambil menatap istrinya yang cantik, Daniel tak mau meninggalkan istrinya begitu saja disini sendirian.


"Nanti juga aku nyusul kamu duluan aja ke sana, aku ingin disini dulu saja Daniel, aku tak akan kemana-mana kok aku akan menemui kamu nanti, aku janji itu kamu puas puaskan aja disana ya main, agar kita juga ga nginep disini. Aku ga mau kalau harus tinggalin rumah aku takut nanti tiba-tiba Arumi ingin pulang kitanya malah ga ada" jawab Vio yang tak mau diganggu gugat. Pokoknya Vio mau disini dulu saja tak mau kemana-mana.


Diluar juga panas sekali, dan Vio juga akan jenuh kalau menunggu suaminya yang main selancar sedangkan dirinya hanya diam tak bisa kemana-mana, kalau suaminya tak ada kan Vio bisa pergi mencari kuliner juga, tak akan ada yang melarang-larangnya lagi.


Daniel langsung menggelengkan kepalanya tidak mungkin kan dirinya meninggalkan istrinya sendirian di sini, sedangkan dia bersenang-senang Daniel harus selalu mengawasi istrinya tidak boleh sampai kecolongan.


"Tidak mau aku mau kamu ikut, ya sudah kalau kamu tidak mau ikut aku juga akan tetap di sini saja lah bersama kamu, aku tak akan jadi main ah, karena kamu juga ga akan ikut aku, aku maunya sama kamu sayang pergi kesannya "


"Loh kok kayak gitu udah kamu sana aja main aku juga nggak akan kemana-mana kok, nggak akan ada yang culik aku juga kamu bisa tenang, aku akan baik-baik saja disini, kamu lebih baik pergi kesana dan main gih, aku janji ga akan pergi kemana-mana"


"Tetep aja kamu harus ikut aku, udah cepet aku juga nggak akan lama-lama aku mainnya cuma sebentar kamu tungguin aku sebentar aja, jangan di sini aku nggak mau. Aku tak tenang nanti di sana nya sayang, kalau ada kamu kan akan ada yang semangati aku, yu sayang ikut aku sebentar aja, nanti kalau kamu sudah bosan kamu boleh deh kembali lagi kesini, kamu boleh tidur disini "


"Udahlah aku di sini aja. Kenapa sih kamu ribet banget tinggal kamu main aja nanti juga kamu balik ke sini lagi kalau aku nggak nyusul. Aku pengen di sini aja ga mau kemana-mana aku lagi ya mau panas-panasan tolonglah kamu mengerti Daniel" kukuh Vio ingin tetap di sini tidak mau ke mana-mana, Vio benar-benar tak mau mengikuti suaminya untuk sekarang.


Vio juga sudah tahu dimana suaminya akan main selancaran, yang pasti bukan disini karena ombaknya tak ada disini sangat tenang sekali. Vio tak akan sulit nanti menemukan suaminya ini\=.


"Kamu yakin beneran mau di sini sendirian, kamu ga akan nyesel sayang, kamu beneran mau disini aja ga mau ikut aku gitu, kalau kamu ikut kamu bisa sekalian beli makanan yang banyak, kamu bisa lihat aku sampai makan disana gimana sayang "


Daniel mencoba untuk membujuk istrinya sekali lagi, ya semoga saja istrinya tiba-tiba mau kalau dipancing dengan makanan, Daniel tak akan tenang apalagi setelah kasus Tamara, Daniel Takur ada orang jahat lagi yang mengincar istrinya yang cantik ini.


"Iya aku yakin kalau aku mau di sini aja. Aku cuman mau lihat pemandangan aja. Jadi udah kamu sana main aku nggak akan kemana-mana kok, aku akan tetap disini kalau pun aku mau makan aku bisa pesen buat dianterin kesini, aku juga belum mau makan "


Sama halnya dengan Daniel, Vio juga terus kukuh dengan pendiriannya tak mau diganggu gugat sama sekali. Vio tak mau mengalah untuk kali ini, biarkan saja suaminya itu bermain sendirian.

__ADS_1


"Ya udah kalau kamu tetap nggak mau, pokoknya kalau ada apa-apa kamu langsung hubungi pihak resort atau mungkin kamu langsung susul aku ya" Daniel mencium kening istrinya dan mengusapnya dengan perlahan Daniel juga tidak mau memaksa terus istrinya.


Nanti istrinya malah tiba-tiba ingin pulang bisa gawat kalau begitu, kalau istrinya pulang dirinya juga tak akan jadi mainkan, sudah jauh-jauh pergi kesini masa hanya untuk menyewa tempat saja dan pulang lagi.


Daniel akan yakin dengan istrinya, semoga saja tak ada yang terjadi semuanya baik-baik saja dan istrinya disini tenang-tenang saja tak ada gangguan sedikit pun.


"Iya tenang aku akan baik-baik aja kok di sini, aku tak akan kemana-mana juga aku akan tetap disini. Kamu bisa tenang "


"Aku akan ada paling ujung ingat paling ujung sekali, nanti kamu susul ke sana ya kalau kamu mau itupun. Kalau engga pun jangan dipaksa sayang, aku ga mau kamu datang kesana karena paksaan dari aku nanti kamu malah jadi ga mood dan marah-marah sama aku"


Vio hanya mengangkat jempolnya saja Vio sudah ingin melanjutkan menonton filmnya tadi, tinggal beberapa episode lagi dan selesai Vio tak akan penasaran lagi dengan filmnya ini, Vio harus menontonnya dengan tuntas dulu baru bisa tenang dan mau diajak pergi-pergi bersama suaminya.


"Aku pergi ya sayang, aku pergi sekarang nih "Daniel keluar dari dalam kamar itu meninggalkan istrinya sendirian. Vio dengan cepat langsung membuka laptopnya lagi dia akan menonton lagi suaminya akan bermain-main di sana sedangkan dirinya akan menonton.


Vio sudah tidak sabar dengan ending yang akan terjadi dalam film itu, dia sangat penasaran sekali jangan sampai nanti dia terus kepikiran dengan film ini. Padahal suaminya ini tidak usah memesan resort padahal hanya berselancar saja.


Vio bisa menunggu di pinggir pantai mungkin tapi suaminya yang konyol malah memesan tempat juga,


tapi itu juga menguntungkannya Vio bisa menonton film dengan tenang tidak ada gangguan sedikitpun, ya meskipun di sini agak sedikit berisik karena dekat sekali dengan pantai bahkan Vio saja bisa melihat orang yang berlalu lalang kan tapi tenang saja Vio sudah menutup semuanya.


Jadi aman dan tak akan ada yang mengintipnya. Vio juga sudah menguncinya agar tak ada orang sembarangan yang tiba-tiba saja masuk kedalam resort nya ini. Vio benar-benar tak mau diganggu oleh siapapun itu, termasuk oleh suaminya.


"Wah pasti bakal seru deh, ga sabar banget aku ini ingin melihat mereka kembali, apalagi dengan pemeran laki-lakinya yang itu aku sangat menyukainya aku sangat tergila gila dengannya, aku benar-benar tak bisa berpaling dengannya kenapa ada laki-laki yang tampan sekali sepertinya "


Vio sekarang malah mengagumi pemeran laki-laki yang kedua, dia benar-benar lebih tampan dari pada pemeran utamanya apakah tak salah ini menentukannya tapi Vio juga tak bisa protes. Vio hanya bisa menikmati filmnya ini tak boleh banyak protes.


...---------------...


Sudah 4 jam berlalu tapi suaminya belum pulang. Vio kembali menutup laptopnya dan akan menghubungi suaminya dia lupa kalau suaminya tidak membawa ponsel bodoh sekali dia ini, untung saja Vio juga sudah selesai menonton jadi Vio bisa menyusul suaminya dengan hati yang tenang karena sudah tahu bagaimana endingnya ini, endingnya cukup bagus dan Vio suka.


Vio segera merapikan rambutnya dan akan menyusul suaminya saja, kalau dibiarkan suaminya ini akan kebablasan ke mana coba lama sekali sudah 4 jam loh, apa dia tidak kepanasan bukan apa-apa Vio takut terjadi sesuatu saja pada suaminya itu.


Suaminya tak pernah pergi selama ini darinya, ya paling kejar saja itupun tapi kan Vio tahu kalau suaminya tak akan apa-apa kalau bekerja, sekarang mereka sedang ada di pantai dan Vio takut saja suaminya itu tak bisa main dan malah membahayakan dirinya sendiri.


Vio keluar dan menginjakkan kakinya di pasir lembut sekali, ini membuatnya kembali teringat saat terakhir kali dirinya pergi bersama Daniel kemari. Begitu menyenangkan bahkan waktu itu Vio sedang mengandung Arumi.


Saat itulah Vio selalu saja berpikiran yang aneh-aneh, takut kalau dirinya tidak akan hidup lama tapi nyatanya Vio sampai sekarang masih hidup kan rasanya tidak menyangka saja. Kalau dirinya akan bertahan seperti ini, entah kenapa dirinya bisa berfikir seperti itu waktu itu.


Kalau diingat-ingat sangat lucu sekali, Vio benar-benar konyol sekali bahkan menyuruh saudara kembarnya untuk menikah dengan suaminya. Bagaimana kalau misalnya waktu itu saudaranya mau coba dasar dirinya ini aneh-aneh saja.


Vio berjalan ke arah yang tadi suaminya tunjukkan, katanya paling ujung kan Vio berjalan ke arah sana dia juga ingin melihat suaminya bermain seperti apa. Vio tidak pernah melihat suaminya bermain selancar, kalaupun ke pantai mereka hanya akan jalan-jalan, mengobrol berenang.


Lalu naik perahu ya sudah seperti itu saja baru pertama kali sih suaminya meminta hal ini padanya, dan Vio juga sedikit kaget dengan permintaan suaminya. Tapi kalau Daniel tak bisa dia tak mungkin minta main itu juga kan, pasti ada yang tak Vio tahu dari suaminya itu.


Mungkin suaminya tahu tentang dirinya semua hal tentang dirinya, tapi Vio sendiri tidak terlalu tahu karena kadang suaminya itu sangat tertutup sekali, Vio kadang ingin masuk terus dalam kehidupan suaminya, tapi Vio berfikir ulang.


Dirinya tak mau mengganggu privasi suaminya, Vio tak mau membuat suaminya ini jadi sangat risih dengan tingkahnya, Vio harus bisa membuat suaminya nyaman, jangan sampai suaminya ini tak nyaman dan malah mencari yang lain Vio tak mau sampai hal itu terjadi padanya.


"Dimana sih kok nggak ada ini ujung, ujung yang mana sih tadi kan tunjuk ke arah sini tapi kok aku nggak ketemu ya sama di, ke mana sih suami aku sebenarnya apa dia udah selesai masa iya aku dengannya tidak bertemu"


"Aneh banget deh, padahal pantai ini ga luas luas banget kan, seharusnya aku lebih mudah untuk menemukan suami aku itu, aku tak akan kesulitan menemukannya "


Vio menatap pengunjung juga yang makin sepi, suaminya ini ke mana coba tapi dia melihat beberapa papan selancar yang menancap berarti daerah sini kan tapi Vio belum melihat suaminya.


Banyak juga yang main, Vio kira akan suaminya saja yang main, bahkan perempuan juga ada mereka memakai bikin pantesan suaminya betah. Ada perempuan yang memakai bikini saja main selancarnya, menyebalkan sekali suaminya itu. Awas saja Vio akan protes nanti pada suaminya itu.


Nah sekarang Vio melihat suaminya yang masih ada di dalam air sedang meliuk-liuk seperti ular, dan suaminya makin mendekat ke arahnya Vio juga agak berlari ke arah suaminya apakah dia tidak lelah, apakah main 4 jam tak membuatnya lelah kalau Vio yang main sudahlah Vio akan pingsan dan tak akan pernah mau melakukannya lagi.


Vio juga baru tahu kalau suaminya sehebat itu, Vio kira suaminya tidak akan hebat, Vio sampai tersenyum melihat hal itu sebenarnya apa sih yang suaminya tidak bisa kenapa suaminya selalu saja bisa melakukan hal apapun itu, bahkan hal yang sulit pun suaminya bisa lakukan benar-benar hebat sekali dia itu.


Daniel begitu mahir di atas papan selancar dia berdiri dengan sangat seimbang sekali. Bagaimana pun suaminya itu sangat keren sekali, Vio suka melihatnya, kenapa dia tak pernah menyadarinya kalau suaminya itu sangat keren sekali. Pasti banyak perempuan yang melihat kearah suaminya.


Vio benar-benar tak rela kalau sampai itu terjadi, kalau tahu disini banyak perempuan Vio tak akan meninggalkan suaminya Vio akan mengikuti suaminya saja.


Suaminya mencoba untuk ke bibir pantai tapi dia terus saja bermain rasanya suaminya ini belum mau mendekat kearahnya, suaminya sepertinya belum puas dengan permainan nya itu.


Vio juga memicingkan matanya saat ada seorang perempuan yang sengaja mendekati suaminya menyebalkan sekali itu perempuan, apa dia tak tahu kalau ada Vio disini ada istrinya.


"Hei jangan diam disini kamu menghalangi jalanku, awas sana "


Vio hanya mendelikan matanya pada perempuan itu, padahal Vio tak menghalangi mereka, Vio juga berdiri ditempat yang aman, menyebalkan sekali orang-orang yang ada disini.


"Ist aku ingin segera ini cepat selesai, kenapa coba Daniel sangat lama sekali dia memang sengaja melakukan itu agar di kerumuni oleh banyak perempuan awas saja suaminya itu "


"Aku tak akan berbicara dengannya ah, dia benar-benar menyebalkan sekali "


Vio sedikit menjauh takut ada yang menegurnya lagi nanti, Vio tak mau membuat masalah disini, Vio disini hanya ingin menemui suaminya saja bukan membuat masalah dengan orang-orang itu.


"Lama sekali kenapa dia begitu suka disana, sepertinya aku harus belajar agar bisa seperti perempuan-perempuan itu agar suamiku aku tak didekati oleh mereka semua"


Tatapan Vio terus saja terarah pada suaminya tak mau Vio berkedip sedikitpun nanti suaminya bisa berbicara dengan perempuan-perempuan itu, "Menyebalkan sekali akhh aku tak mau melihat ini lagi, kalau Daniel mau melakukan hal ini lagi aku harus ikut, aku tak boleh diam saja "

__ADS_1


Vio melipat tangannya dan menunggu saja, awas saja kalau lama Vio akan pergi dan marah dengan suaminya itu. Mau sampai kapan coba suaminya disini dan membuatnya menunggu.


"Ist malah makin lama aja, kapan coba akan kemari mendekati aku, Daniel benar-benar menyebalkan sekali aku kesal padannya aku benar-benar kesal. "


__ADS_2