
Kembali sudah pandang Kat.
Aku yang sedang memasak tiba-tiba dikagetkan dengan ponselku yang memberikan notifikasi pesan khusus untuk Barbara saja.
Aku diam, aku belum mengambil ponselku bukannya Barbara sudah tidak ada kan. Baru saja aku pergi mengantarkannya ke rumah peristirahatannya tidak mungkin kan dia memberikan pesan padaku.
Kembali suara notifikasi itu keluar, aku mematikan dulu komporku dan mengambil ponselku yang tak jauh berada di dekatku. Kubuka pesan itu dan benar itu dari Barbara.
Barbara : Bagaimana apakah kau suka kejutanku. Kejutan yang sangat indah kan membuat sahabatmu mati dengan seketika.
Aku diam ternyata ini pesan dari pembunuhan itu ,jadi ponsel Barbara diambil olehnya. Aku tidak menyangka kalau ponsel itu sampai ada pada orang itu.
Kat : Kejutan. Kenapa kau tidak langsung saja memberikan kejutan padaku Lucas.
Aku mencoba untuk bisa melawan. Aku tidak mau diam terus dan aku yakin ini Abang. Aku yakin dia pelakunya. Tidak mungkin orang lain. Hanya dia orang gila yang bisa membunuh sekeji itu.
Barbara : Sudah berani ya sekarang kau padaku Katherine. Kau tahu saja kalau aku pelakunya kau memang yang paling mengenalku dari dulu sampai sekarang. Aku akan terus menghabisi teman-teman dekatmu dan siapapun yang dekat denganmu maka dia akan habis. Kau telah mengecewakan aku dengan melaporkanku ke kantor polisi. Apa maksudmu melakukan itu.
Kat : Kau hanya seorang pengecut yang hanya bisa menghabisi teman-teman terdekatku saja. Kenapa aku melaporkan mu, agar kau membusuk dipenjara. Kau sudah terlalu banyak mengambil nyawa seseorang. Kau tak berhak hidup dengan tenang.
Aku menunggu jawaban dari penjahat itu tapi tidak ada jawaban sama sekali. Apakah dia mulai takut pada aku, tapi tidak mungkin mana ada seorang pembunuh takut.
Kembali ada pesan dari penjahat itu. Aku tidak mau memanggil kembali namanya ataupun sebutan masa kecilnya. Dia adalah seorang penjahat seorang pembunuh maka aku akan memanggil seperti itu.
Barbara: Keluarlah aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu hadiah spesial yang sangat spesial sekali.
Aku yang enggan membalasnya hanya membacanya saja, tapi kembali ada pesan yang diberikan oleh pembunuh itu.
__ADS_1
Barbara: Kalau kau tidak mau mengambil hadiah dariku, maka malam ini kau akan mendengar kembali kematian teman terdekatmu atau mungkin aku akan mengambil nyawa adiknya Barbara.
Kat: Aku akan melaporkanmu ke kantor polisi agar kau ditangkap lagi.
Barbara: Benarkah apakah mereka akan bisa menangkapku, aku sudah lari dari mereka satu tahun tapi apakah mereka bisa menemukanku tidak kan. Mereka tidak akan bisa menemukanku Kat. Kau bodoh melaporkan ku ke kantor polisi dan membuat nyawamu terancam. Seharusnya kau baik-baik menurut padaku maka semuanya akan baik-baik juga. Kau tidak akan tersakiti kalau menurut.
Kat: Kalau aku terus ada di sampingmu aku akan mati muda dan mungkin saja aku akan bunuh diri, karena aku tidak sudi hidup dengan seorang pembunuh sepertimu.
Barbara: Kau yakin akan bunuh diri, kau tidak akan bisa mati sebelum aku yang memerintahkanmu untuk mati. Lebih baik sekarang ambil hadiah dariku itu simpan dengan baik-baik ya.
Aku yang penasaran melihat ke arah jendela takut-takut pembunuh itu ada di depan rumahku. Meskipun aku tidak tahu sekarang dia posisinya ada di mana.
Tapi aku yakin dia ada di daerah sini, dia menyewa suatu rumah di sini mungkin saja aku pernah bertemu dengannya. Tapi aku tidak tahu kalau itu adalah pembunuh gila itu.
Setelah merasa aman aku mengambil kotak yang tergeletak begitu saja di depan rumahku, lalu aku kembali menutup rumahku tak lupa aku pun mengunci pintu.
Aku sangat merasa bersalah atas kematian Barbara. Aku tidak mau kalau sampai nanti adiknya menjadi sasaran pembunuh gila itu, saat aku membuka kotak itu ada foto Barbara yang sudah penuh darah dan juga mengirimkan satu jari padaku. Aku yang kaget langsung melemparkan hadiah itu.
Barbara: Suka kan dengan hadiahnya, sengaja aku menyimpan salah satu jarinya untuk kenang-kenangan. Kau pasti akan senang mendapatkan itu. Itu adalah kenang-kenangan untukmu karena kau sampai kapanpun tidak akan bisa bertemu lagi dengan Barbara. Makanya aku menyisihkan salah satu bagian tubuhnya dan itu mungkin cukup. Akan sangat menyenangkan untukmu nikmatilah temanmu itu ya aku akan terus menerormu Kat kau tidak akan bisa lepas dariku.
Aku yang kesal langsung melempar kan ponselku. Aku tidak peduli ponsel itu rusak atau tidak aku kesal. Kenapa dia kembali, kenapa dia harus terus menerorku.
Apakah aku tidak bisa hidup bahagia seperti orang lain, apakah aku tidak bisa normal seperti orang lain. Aku ingin hidup nyaman, aku ingin bisa bebas dan tidak diancam terus-menerus.
Aku sudah lari darinya tapi kenapa dia bisa menemukanku lagi, padahal aku sudah lari sejauh mungkin darinya tapi dia masih bisa menemukan. Apa dia mempunyai seseorang yang membantunya tidak mungkin kan.
Dia langsung tahu posisiku di mana, bahkan saat itu aku membuang kartu yang aku pakai untuk menelepon polisi agar tidak ada yang mengetahui aku lari ke mana. Tapi tetap saja dia mengetahui kemana larinya aku.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi-pagi sekali aku sudah ada di luar rumah dengan segala susu hangat dan juga gorengan. Mataku begitu sembab tadi semalaman aku terus menangis mengingat Barbara. Aku sangat-sangat merasa bersalah sekali atas kematian Barbara aku begitu kehilangan.
Tak sengaja aku melihat laki-laki yang kemarin, yang ingin mengantarkanku dia ada di sekitar rumahku aneh. Bukannya dia rumahnya dekat Barbar.
Jarak rumahku dan Barbara cukup jauh dan dia juga tidak mungkin kan jalan-jalan ke daerah sini, tiba-tiba saja dia tersenyum dan menghampiriku. Aku sebisa mungkin tidak takut padanya aku tidak boleh menampakan wajah yang takut.
"Ternyata rumahmu di sini"
"Iya rumahku di sini. Apakah kau pindah rumah tidak bertetangga lagi dengan almarhum Barbara"
"Tidak masa aku langsung pindah, tidak mungkin lah aku hanya sedang ingin pergi ke rumah temanku saja. Itu rumah paling ujung dia adalah temanku "
"Begitu ya, ya sudah silahkan "
"Apakah kita tidak akan kenalan dulu masa kita saat bertemu hanya akan berbicara tanpa nama"
dia lebih mendekatiku aku lantas langsung berdiri dan berhadapan langsung dengannya "Aku Arkan"
"Katherine"
"Salam kenal ya"
Iya"
"Ya sudah aku pergi dulu ya, sekarang kita sudah saling mengenal dan kau juga tak perlu canggung lagi padaku "
__ADS_1
"Silahkan "aku menjawab seadanya saja.
Dia langsung pergi begitu saja. Aku juga tak melarangnya biarkan saja. Aku sedang curiga pada laki-laki itu.