
"Aku tahu Merry kalau aku salah, aku memang salah karena telah melakukan semua ini pada Tamara. Aku salah karena telah mendidiknya seperti itu. Aku selalu menyiksanya menyuruhnya untuk selalu belajar belajar untuk meneruskan perusahaan ini, aku salah telah mendidik anakku seperti itu. Aku sangat menyesal "
Nyonya Sera sudah menangis. Dia sangat-sangat menyesal tentang apa yang pernah dulu dirinya lakukan pada anaknya. Seharusnya dirinya menyayangi anaknya dengan sepenuh hati.
"Semuanya juga sudah terjadi Nyonya, tidak akan bisa disesali dan tidak akan bisa terulang lagi. Waktu tidak akan bisa berputar pada dulu waktu akan terus berjalan. Kita hanya bisa menyesal saja"
"Iya aku tahu, tapi aku sudah lelah hidup seperti ini aku ingin istirahat. Aku sudah merasakan apa yang dulu Tamara rasakan. Aku sudah merasakan bagaimana dipukul, bagaimana dicakar, bagaimana dicubit dan bagaimana disakiti dengan barang-barang yang ada di sekitar"
Aku sudah merasakan semuanya. Apakah aku harus terus seperti ini sampai aku nanti mati, aku juga ingin bahagia. Aku rela diusir dari sini. Aku akan hidup sendiri. Aku lelah sekali Merry, aku sudah tidak kuat.
"Aku akan mencoba untuk bicara pada Tamara aku akan bicara padanya, semoga saja hatinya luluh dan mau memaafkanmu ya "
Sera menggelengkan kepalanya "Jangan pernah berbicara pada Tamara kalau kamu masih sayang nyawamu, mungkin kamu malah menjadi seperti aku nanti, malah akan melampiaskan semuanya padamu. Seharusnya kamu juga tidak masuk lagi ke dalam rumah ini. Tamara sudah lebih gila lagi daripada dulu, dia sedang marah karena apa yang dia inginkan tidak bisa dia miliki. Sebelum terlambat kamu pergi dari sini jangan terus bertahan"
"Aku akan keluar dulu Nyonya aku tidak mau sampai Tamara tahu kalau aku masuk ke dalam kamar ini. Ini aku bawakan makanan Nyonya buang saja bekas makanan ini ke kolong atau ke mana pun itu ya, jangan sampai Tamara tahu ya nyonya. Aku hanya bisa membantu ini saja "
Merry tidak mendengarkan jawaban dari Nyonya Sera, dia langsung saja keluar dari dalam kamar itu takut ketahuan. Takut Tamara akan bangun dan habis semuanya, bisa-bisa dirinya benar-benar terjebak kan.
Bibi Merry masuk ke dalam kamarnya, memikirkan tentang rencananya ini apakah dirinya harus membantu Lucas sedangkan keadaan Tamara sedang terpuruk seperti ini, dirinya juga menyayangi Tamara seperti menyayangi Lucas.
Bibi Merry segera menghubungi Lucas, dia ingin berbicara dengan anak laki-laki itu "Ada apa bibi Merry. Apa kamu sudah ketahuan olehnya, aku akan menjemput mu sekarang juga "
"Tidak, aku hanya ingin memberitahu orang yang selama ini dikurung oleh Tamara adalah ibunya sendiri, dia ingin membalaskan apa yang pernah ibunya lakukan padanya dulu. Apa kamu yakin ingin menghabisi Tamara. Sepertinya dia sedang kambuh dan dia sedang butuh bantuan, apakah kamu yakin akan menghabisinya saat situasi seperti ini Lucas"
"Aku yakin, tidak ada ampun untuk siapapun yang telah ingin menghabisi nyawa istriku. Apa kamu berubah pikiran Bibi Merry setelah ada di sana dan melihat anak asuh mu yang sedang sakit, apa kamu berubah pikiran untuk tidak bekerja padaku dan menghianatiku begitu saja. Kalau memang mau berubah haluan tak usah menghubungiku lagi bibi Merry"
"Bisakah kita bicarakan baik-baik semuanya dengan Tamara tidak seperti ini. Dia pasti akan mengerti kita bicarakan tentang masalah itu. Pasti dia akan mundur dan tak akan menganggu istri mu lagi. Bagaimana bibi akan bicara dengan Tamara nanti "
"Aku sudah mendengar percakapanmu dan juga Tamara saat kamu mengirimkan nya padaku, aku langsung mendengarkannya sekarang aku tahu alasannya kenapa dia ingin memilikiku dan ingin menghancurkan istriku. Jika kamu ada di posisiku bagaimana hah" Lucas sudah mulai marah dia tak suka dengan kata-kata bibi Merry.
"Aku tahu ini begitu rumit, tapi keadaannya juga di sini sangat rumit sekali. Aku harus bagaimana Lucas aku binggung sekali. Aku menyayangi kalian berdua"
"Ya sudah kalau kamu memang tidak mampu melakukan pekerjaan ini, tidak masalah. Aku tidak akan memaksamu untuk melakukan semua itu. Aku akan memikirkan cara yang lain atau mungkin aku akan menghabisi Tamara langsung ke sana. Perempuan itu sedang mengandung aku yakin akan mudah untuk mengalahkannya. Dia tak ada apa-apanya untukku bibi "
"Jangan gegabah Lucas kamu jangan gegabah melakukan semua itu. Kamu harusnya berpikir dengan dulu jangan tiba-tiba kamu datang kemari dan menghabisi Tamara. Yang ada bisa runyam dan makin panjang saja "
"Ya sudah aku ingin bertanya pada Bibi. Sebenarnya Bibi ingin melanjutkan semua ini atau tidak, kalau iya mau melanjutkan silakan kalau tidak juga tidak masalah, tapi aku tidak akan menjamin apa-apa tentang bibi nanti jika ketahuan oleh Tamara. Atau mungkin Tamara kambuh dan menyerang bibi nantinya"
Bibi Merry menimbang-nimbang dulu apa yang harus dirinya ambil, mengikuti permainan Lucas atau mengakhiri semuanya dan mengurus Tamara lagi, apa yang harus dirinya ambil dua-duanya begitu berat, dua-duanya adalah anak asuhnya sendiri yang mana yang harus dirinya pilih.
Bingung harus memilih yang mana, meninggalkan Lucas dan berkhianat padanya. Tapi kalau dirinya melakukan itu pasti Lucas akan kecewa. Apalagi Lucas yang dulu selalu membantunya dan juga menyelamatkan nyawa suaminya.
__ADS_1
Dirinya punya hutang nyawa yang harus dibalas pada Lucas. Lucas lebih sering membantunya dalam keadaan apapun. Bahkan Lucas juga sebenarnya tak pernah perhitungan tapi dirinya ingin membalas semuanya.
...----------------...
Lucas sudah cukup lama di dalam ruangannya, dia tidak pergi kemana-mana dia terus saja memikirkan tentang bagaimana kalau bibi Merry tidak mau melanjutkan tentang permainannya ini.
Padahal dirinya sedang banyak kerjaan di kantor dan ingin semuanya sesuai dengan cepat. Tapi malah begini semoga saja bibi Merry tidak mundur, karena kalau dirinya langsung terang-terangan mengibarkan bendera permusuhan pada Tamara pasti Tamara tak akan menyerangnya tapi malah langsung menyerang istrinya.
Tiba-tiba ruangan Lucas terbuka, Lucas melihat ke arah orang yang masuk ke dalam ruangannya, ternyata itu istrinya. Lucas langsung membenarkan duduknya dan tersenyum menyambut istrinya untuk duduk di pangkuannya"Kenapa sayang bangun, ada apa hemm"
"Kamu yang kenapa, jam segini masih disini, ini itu udah malah waktunya tidur, aku udah bilang kan jangan terlalu capek jangan terus urusin urusan pekerjaan, kamu itu harusnya banyak istirahat dong. Luangkan waktu buat istirahat emangnya nggak bisa gitu kerjaan kamu ditunda nanti dulu aja, kamu itu bukan robot Lucas "
"Iya maaf sayang, iya maaf tadinya aku itu ingin cepat-cepet beres biar punya waktu banyak buat kamu dan juga Daniel. Agar kita bisa jalan-jalan lagi. Bukannya kamu suka jalan-jalan kan sayang, kita keliling ya nanti kemanapun kamu mau "
Kat dengan semangat langsung menganggukan kepalanya "Tapi aku nggak suka kalau kamu lembur terus, aku tuh maunya ya biasa-biasa aja kerja dari pagi sampai jam 05.00 udah di rumah tuh kamu nggak ngerjain apa-apa lagi. Kerjaan kamu tuh cuma di kantor aja nggak dibawa sampai ke rumah, karena kamu juga butuh istirahat. Jangan terus paksain tubuh kamu. Aku ga mau sampai kamu nanti malah sakit"
Lucas memeluk tubuh istrinya dengan gemas, lama-lama istrinya ini cerewet tapi dirinya suka. Dirinya suka dengan sikap istrinya yang cerewet seperti ini. Menggemaskan sekali"Sayang apa kamu sudah selesai"
"Apanya yang selesai,"Kat binggung dengan pertanyaan ambigu suaminya. Memangnya ada pekerjaan rumah yang belum selesai tapi kalau dipikir-pikir semuanya sudah selesai, tak ada yang ditunda-tunda olehnya.
"Ya itu kamu udah selesai belum. Maksudnya kita udah bisa berdua-duaan lagi kan di atas tempat tidur sayang "
"Ya kan setiap hari juga kita berduaan di tempat tidur, nggak pernah pisah tuh. Emangnya kenapa coba tiba-tiba kamu tanya kayak gini, emangnya pernah kita ga tidur bareng. Aku fikir-fikir kita selalu tidur berdua dan bareng-bareng loh"
"Yang itu ya "
Kat menyingkap pakaian tidur satinnya dan memperlihatkan bahu polosnya pada sang suami, lalu dibuka semuanya dan itu membuat Lucas tidak menyangka kalau istrinya akan melakukan hal itu.
Sesuatu yang baru pertama istrinya lakukan. Biasanya istrinya akan malu-malu dan lampu selalu dimatikan tapi sekarang dengan terang-terangan istrinya melakukannya.
"Aku sudah siap untukmu Lucas " sambil mengedipkan sebelah matanya dan mengigit bibirnya dengan sensual.
Lucas yang mengerti apa yang dimaksud oleh istrinya langsung saja memulai ronde pertama di ruang kerjanya. Nanti biar diteruskan di kamar sekarang lupakan dulu masalah tentang Tamara dan kita manjakan dulu istrinya ini yang cantik.
...----------------...
Bibi Merry keluar dari kamarnya, dia mengecek keadaan Tamara yang masih tertidur. Bibi Merry duduk di dekat Tamara dan mengusap kepala Tamara dengan sayang "Kenapa kamu harus menjadi sosok seperti ibumu Tamara, aku tahu kalau Ibumu itu sudah sangat salah dan mendidikmu dengan kekerasan. Tapi apakah kamu harus membalasnya juga dengan hal yang sama. Kenapa harus begitu Tamara. Padahal banyak cara lain yang bisa kamu lakukan "
"Bibi tahu semuanya sangat menyakitkan, bibi tahu kamu trauma dengan masa lalumu tapi dengan kamu mengikuti apa yang ibumu dulu lakukan suatu saat kamu akan menyesal dan akan merasa bersalah. Kamu akan seperti ibumu sekarang merasa bersalah dan tak bisa melupakan semuanya "
Setelah puas melihat wajah Tamara. Bibi Merry keluar dari kamar itu dan menutup pintunya dengan perlahan, tanpa bibi Merry sadari kedua bola mata perempuan yang dia berikan obat tidur itu terbuka.
__ADS_1
Bibi Merry telah dikelabui oleh seorang Tamara, Bibi Merry bahkan tidak menyadari kalau orang yang tadi dia sedang ajak bicara ternyata tidak tidur dia sadar. Dan mendengar semua ucapan bibi Merry.
Tamara diam beberapa menit, lalu segera bangkit dan menatap pintunya "Jadi bibi Merry sudah tahu siapa yang ada di kamar itu atau mungkin Bibi Merry memang sengaja untuk melihatnya dan mengelabui ku. Emangnya aku bisa dibohongi tentu saja tidak aku tidak akan pernah bisa dibohongi oleh siapapun. Bibi Merry telah memulai permainan maka aku akan mengikuti permainan itu "
Tamara melihat air yang dibawa oleh Bibi Merry tadi dan membuangnya ke sembarang arah,"Aku tahu pasti bibi Merry kamu masukkan obat pada minumannya, Kenapa kamu selalu ingin tahu tentang apa yang aku lakukan. Kalau kamu diam dan tidak ingin tahu mungkin kamu tidak akan terancam. Karena kamu sudah memulainya maka aku harus menyelesaikannya kan aku tidak mungkin diam saja"
Tamara berjalan dengan perlahan untuk naik ke lantai 2 ingin menemui perempuan tua itu. Tamara duduk di dekat perempuan itu menatap tubuhnya yang sudah tidak berdaya. Dia begitu menyedihkan sekali. Tapi Tamara suka sekali melihatnya.
"Bagaimana rasanya didatangi teman lama, suka atau ingin lagi. Enak ya didatangi teman lama lalu mengobrol bersama. Kamu bicara apa saja. Apakah kamu mengadu tentang apa yang aku lakukan. Lalu apakah kamu bicara juga tentang Stevan. Apakah kamu menceritakan semuanya, emm sepertinya kamu sudah menceritakannya tapi ya sudahlah ya "
Nyonya Sera hanya diam saja, dia tidak mau membongkar semuanya tentang Merry yang datang kemari dan berbicara bersamanya, jangan sampai Merry dilukai oleh perempuan ini, jangan sampai Merry juga dikurung disini. Kasian dia tak tahu apa-apa.
"Kenapa diam, mau jadi bisu ya. Bicara dong ditemui pembantu lama bagaimana banyak mengobrol minta dilepaskan juga tidak, tapi kenapa tidak kabur saja sekalian. Padahal aku sedang tidur kan kenapa tidak kabur bukanlah itu adalah sebuah kesempatan untuk kamu. Oh ya tapi kalau kamu kabur mau ke mana, memangnya ada yang mau menampung mu, menampung nenek tua yang tidak punya apa-apa dan tidak bisa melakukan apa-apa sepertimu. Masih untung juga aku mau mengurusmu kan "
"Pergi aku tidak mau dikunjungi olehmu, sana pergi aku ingin sendirian. Aku ingin istirahat ini sudah sangat malam mau apa kamu ke kamarku tidak biasanya kamu datang kemari, sana pergi dari sini aku tidak suka ada dirimu di sini. Masih untung juga aku memberikan rumah dan perusahaan ini padamu"
Tamara menjambak rambut ibunya sendiri, sampai-sampai kepalanya mendongak dan menatap ke arahnya "Memangnya kamu siapa sampai-sampai mengusirku dari rumahku sendiri. Ini adalah rumahku bukan rumahmu, kamu sudah tidak punya apa-apa lagi kamu itu sudah menjadi orang miskin jadi jangan jadi penguasa di sini. Aku di sini yang mempunyai segalanya dan aku yang berkuasa di sini ingat itu. Kamu sudah tak punya apa-apa "
Tamara membungkam ibu nya sendiri dengan bantal, bahkan kaki dan tangan Ibunya sudah bergerak ke sana kemari mencakar tangan Tamara yang menahan bantal itu. Dia ingin membunuhnya, tapi langsung dilepaskan tangannya.
Tamara menatap perempuan itu dan tertawa. Entah kenapa Tamara malah tertawa terbahak-bahak, padahal tidak ada yang aneh disini. Dia sedang akan membunuh tapi malah begitu tertawa seperti orang gila.
"Lihat saja, aku akan membuat pembantu kesayanganmu itu tunduk di kakiku atau mungkin aku akan mengurungnya bersamamu. Aku tahu dia mencuri kunci untuk mendatangimu memangnya aku tidak tahu dengan apa yang dia lakukan. Dasar bodoh kalian itu bodoh "
Ibunya Tamara langsung menggelengkan kepalanya, "Jangan pernah sakiti dia, kamu lupa dia yang mengasuhmu dia yang mengajarimu segala halnya. Apakah kamu akan melupakan semuanya tentang bagaimana dia mengurusmu dengan baik, menganggapmu seperti anaknya sendiri. Kamu lupa tentang semua itu Tamara. Dia tak punya salah apa-apa dia tak pernah melukai kamu juga kan "
Tamara bangkit dan melipat tangannya "Memangnya aku peduli, dia mau mengasuhku dari kecil menyayangiku seperti apapun aku tidak peduli. Emangnya aku akan kasihan kalau membunuh dia tidak. Aku tidak akan sama sekali kasihan, aku tidak peduli mau dia kesakitan atau apapun itu. Mau dia menyayangiku seluas samudra pun aku tidak peduli. Aku tak pernah memintanya untuk menyayangiku kan"
"Dasar anak tidak tahu diri, disayangi seperti itu tapi malah membalasnya seperti ini. Memang seharusnya dulu aku tidak pernah memasukkan Merry ke rumah ini atau mungkin dulu seharusnya aku membunuhmu agar kamu tidak ada di dunia ini dan menjadi perempuan segila ini. Seharusnya memang aku dulu menghabisi mu Tamara tidak membuatmu hidup seperti ini dan malah seenaknya pada siapapun"
Tamara cukup lama menatap ibunya, lalu dia mematikan kembali saklar lampu di kamar itu dan keluar dari kamar ibunya. Tamara masuk ke dalam ruangannya membuka brankas yang ada di sana.
Ternyata isinya bukan uang di sana hanya berisi pisau-pisau yang selalu Tamara gunakan. Tamara mengambil pisau yang cukup besar untuk melukai seseorang siapa yang akan dilukai olehnya.
Tamara menggoreskan pisau itu ke tangannya lalu Tamara hanya diam menatap darah itu yang keluar dari tangannya, dia malah memencet tangannya agar darahnya keluar banyak, lalu Tamara menghisap darah itu.
Dia cukup lama melakukan itu, setelah puas Tamara berjalan keluar dari ruangannya siapa yang akan dilukai ibunya atau malah Bibi Merry yang akan dirinya lukai, mereka berdua sudah berani macam-macam di rumahnya maka ya inilah akibatnya
Tamara berjalan ke arah kamar paling ujung, dia membuka pintu kamar itu dan menatap orang yang sedang tidur dengan lelap. Tamara tak melakukan apa-apa dia ingin melihat dulu pergerakan orang itu setelah yakin kalau dia benar-benar tidur dengan lelap, Tamara berjalan dengan perlahan mengunci kamar lalu juga mengunci jendela agar dia tidak bisa kabur nanti.
Tamara duduk di meja rias, dia masih mengamati orang itu. Dia hanya ingin mengamatinya cukup lama saja sebelum dirinya menerjang perempuan itu, tidak ada rasa belas kasih sama sekali dalam hatinya tidak ada.
__ADS_1
Setelah puas Tamara mendekati tempat tidur, lalu Tamara langsung menaiki tubuh Perempuan itu dan menusukkan pisaunya ke arah leher dari orang itu, tapi tangannya langsung dicekal dengan kuat.
Tamara sampai kewalahan karena cekalan tangan perempuan itu begitu Kuat. Sangat diluar pemikirannya. Dirinya fikir tak akan sekuat ini. Tapi dirinya salah besar cekalan itu sangat erat sekali.