
"Bagaimana Daniel dengan sekolah barunya kamu senang di sana. Tak ada yang membuat kamu tak nyaman kan "tanya Kat, sekarang mereka sudah ada di rumah. Alexander juga dia sedang main sepeda di taman jadi tinggal Kat dan juga Daniel saja yang ada didalam rumah.
Alex memang setiap harinya kegiatannya seperti itu. Main sepeda, menganggu Mamanya dan bertengkar dengan Kakaknya pasti setiap hari seperti itu.
"Lumayan suka sih Mama dengan sekolahnya, tapi aku tidak suka dengan orang-orangnya. Maksudnya teman-temanku suka membully anak lain mah. Bukannya di sekolah itu tidak boleh ada pembulian lagi ya. Tapi kenapa di sekolah baruku ada yang seperti itu, aku merasa mereka itu terlalu seenaknya Mama"
"Kamu bisa mengumpulkan semua bukti dan kamu juga bisa datang ke kepala sekolah untuk melaporkan semua itu. Jangan sampai di sekolah ada yang seperti itu. Kasihan juga kan anak yang dibully namanya siapa dia dia, satu lagi dibully itu bisa menghancurkan mentalnya juga kasian dia kan mau sekolah bukan untuk dibully "
"Namanya Tamara, dia hanya tinggal dengan neneknya saja pakaiannya saja lusuh sekali Mama, tidak terawat sekali. Aku bahkan saat pertama melihatnya merasa kasihan. Tapi aku tidak terus terang padannya aku takut dia tersinggung "
Tamara, Kat mengigat lagi nama Tamara, nama yang membuatnya sangat kesal dan sangat membenci perempuan itu. Dia pernah ingin membunuh Kat. Mungkin ini hanya nama mereka saja yang kebetulan sama. Kat tak boleh sampai membenci anak itu karena bernama Tamara, hanya nama saja kan yang sama bukan berarti sikap mereka sama juga.
"Kenapa pakaiannya sampai seperti itu, kamu sempat berbicara dengannya Daniel "
"Katanya sih neneknya sakit-sakitan dan dia terus berobat uangnya habis, makanya dia berpenampilan seperti itu karena tidak punya uang. Mama apakah perlu kita memberikannya seragam baru seperti tas buku atau yang lainnya, bahkan name tag saja dia tidak memakainya. Untuk pakaian sekolah juga dia sedikit berbeda tidak sama seperti kita apa harus dibelikan. Apa kita harus peduli padannya atau membiarkannya saja "
"Kamu mau membantunya ? "
"Awalnya aku sih acuh saja, tidak mau membantunya. Tapi kata Mama kita harus saling membantu kan dan sepertinya menurutku dia pantas untuk dibantu, karena berpenampilan seperti itu tapi tunggu dulu aku akan mencoba untuk bermain ke rumahnya, aku ingin melihat dulu keadaan rumahnya seperti apa takut-takut dia hanya berbohong saja. Aku harus selalu waspada karena aku tidak mungkin membantu orang yang salah, aku tidak mau menyia-nyiakan waktu ku "
"Boleh coba kamu main dulu ke rumahnya, seperti apa tempat tinggalnya kalau memang harus dibantu maka Mama akan bantu. Mama suka dengan kepedulian kamu itu, jangan pernah berhenti membantu orang yang membutuhkan ya "
"Baiklah mah. Apakah Alexander membuat mama pusing lagi, kalau sampai dia membuat mama pusing biar Daniel yang memberi pelajaran padanya. Tadi aku lihat Mama menjemput Alex, pada ada masalah kan Mama"
"Sudah tidak apa-apa jangan marahi adikmu dia masih kecil, jangan terlalu keras pada adikmu yang ada dia akan tambah nakal. Alex itu kan masih kecil dulu kalian kan suka bermain bersama kamu sangat menyayanginya, jangan sampai Alex membenci kamu dan takut pada kamu juga "
"Ya tapi kalau dia membuat mau pusing dan terus minum obat pusing aku tidak suka. Pokoknya kalau ada apa-apa Mama harus bilang padaku. Dia itu harus diberi pelajaran sesekali mah, jangan dibiarkan terus, kalau terus seperti itu Alex akan terus begitu sampai nanti dewasa "
"Jangan jadi orang keras seperti ayah kamu. Alex kan masih kecil nanti juga dia kalau sudah dewasa tidak akan seperti itu kan. Dia pasti akan berfikir dua kali sebelum menjadi anak nakal "
"Baiklah sekarang dia di mana Mah"
"Dia lagi main sepeda paling juga keliling-keliling taman mengelilingi rumah. Dia ga mau keluar kalau sendiri, apalagi main sama teman-temannya dia kan jail banget. Mama suka kasian sama anak-anak yang main sama Alex "
"Hemm, iya juga ya. Aku mau ketemu sama Alex dulu ya Mama istirahat aja jangan terlalu capek. Mama harus banyak tidur biar tetap cantik "
"Iya sayang, kamu hati-hati mainnya jaga adiknya "
Daniel langsung pergi meninggalkan mamanya. Daniel benar-benar mencari Alex menggunakan sepedanya, tidak mungkin kan berjalan kaki di halaman seluas ini yang ada bisa-bisa Daniel kecapean.
"Alex kemarilah "teriak Daniel yang tak mau mendekati adiknya yang sedang meneduh.
Alex tanpa membantah lagi langsung mendekati kakaknya. Karena Alex tahu kalau kakaknya ini sama seperti ayahnya yang galak, kalau sampai tidak dituruti pasti akan langsung marah dan tak mau bermain dengan Alex.
"Ada apa Kakak, aku sedang bersepeda apa kamu ingin bersepeda denganku. Apakah kamu main denganku. Atau kita mau naik pohon Kakak, aku lihat mangga nya sudah matang "
"Kita lebih baik main keluar yuk, nanti aja ambil mangga nya ayah pulang. Jadi kita tinggal makan aja ga usah cape-cape manjat diatas banyak semut emangnya kamu mau kulitnya dimakan semut "
"Mau apa, lebih baik di rumah saja. Baiklah aku akan menunggu ayah sampai pulang dan memintanya untuk naik keatas. Oh ya Kak aku tuh punya dendam sama seseorang, aku kesal sekali dengan orang itu aku tidak bisa diam saja "
"Hah dendam sama siapa, seharusnya teman-teman kamu yang dendam sama kamu karena mereka sering kamu jahili "
"Tadi kan yang jemput aku tuh Mama, terus ada ibu-ibu yang tabrak Mama tapi dia malah marah-marah sama mama. Menurut Kakak apakah aku harus balas dia aja tapi kata Mama ga boleh, katanya dia lebih dewasa dari aku jadi aku ga boleh kayak gitu. Aku ga suka dia sakiti Mama. Kita disini menjaga Mama dengan baik tapi orang lain malah seperti itu pada Mama"
"Ya udah bales aja, buat apa kasih keringanan buat dia. Dia itu udah nyakitin Mama kita, dari dulu kita udah berjanji kan buat selalu jagain Mama. Kalau sampai ada yang sakitin mama, maka kita yang harus bergerak mau dia lebih tua dari kita, mau lebih muda kalau dia salah harus diberi pelajaran. Kalau aku yang ada disana sudah habis dia olehku "
"Nah gini dong, aku jadi suka kan aku jadi semangat lagi aku udah tahu kok dia itu siapa, ibunya siapa aku udah siap-siap buat balas dendam. Tapi aku harus punya dukungan dulu agar nanti kalau Mama marah kakak bisa membela aku "
"Ya udah tinggal kamu susun rencana yang lebih matang lagi aja buat dia. Ga usah segan-segan buat orang yang mau mencelakai keluarga kita ataupun membuat keluarga kita terancam, hidup itu terus berjalan dan kita harus selalu unggul tak boleh sampai dibawah "
"Benar juga Kakak. Ya sudah sekarang kita mau ke mana memangnya kita keluar mau ke mana. Apakah membeli lolipop, atau mungkin eskrim "
"Jalan-jalan saja diluar memangnya tak bisa disini terus setiap hari. Jangan terus makan lolipop gigimu mau bolong lagi dan nanti malah sakit gigi lagi "
"Tidak sih aku suka berkeliling di sini, tapi ya sudah kalau kakak mau aku temani berkeliling di luar rumah ayo. Sekali saja aku beli lolipop, aku benar-benar sedang ingin nanti aku akan sikat gigi 10 kali dalam sehari " sambil memperlihatkan semua jarinya pada Kakaknya.
"Ya sudah ayo, sebelum mama tahu dan marah karena kamu membeli lolipop"
...----------------...
Pagi-pagi sekali Alex dan juga Daniel sudah diantarkan oleh Lucas. Memang sengaja Lucas yang mengantarkannya, jadi jika ada sesuatu yang ingin mereka ceritakan Lucas bisa mendengarkannya. Lucas akan membebaskan anak-anaknya untuk bercerita padanya apapun itu masalahnya.
Lucas tak mau ada yang disimpan oleh anak-anaknya. Lucas takut anaknya menjadi sepertinya. Lucas ingin anak-anaknya norma tak seperti dirinya yang seperti orang gila, bunuh sana sini tanpa alasan bahkan.
Alex yang pertama sampai, Alex melihat temannya yang Ibunya kemarin melukai Mamanya itu. Alex mendekati dia"Mau apa kamu Alex dekati aku, sana jauh-jauh aku tidak suka didekati anak nakal seperti kamu "teriak anak perempuan itu.
"Kenapa emangnya ga boleh jalan di samping kamu, emangnya ini jalan punya kamu, punya keluarga kamu bukan kan, jadi aku bebas mau berjalan dimana pun dan disamping siapapun "
"Kamu itu pembuat onar sana jauh-jauh dari aku, aku ga mau nanti malah dicap anak nakal karena jalan sama kamu "
__ADS_1
"Biarin, yang terpenting aku ga cengeng kayak kamu yang apa-apa nangis "
Tanpa banyak lagi bicara Alex langsung mendorong tubuh anak perempuan itu, sampai-sampai jidatnya terbentur ke batu yang ada di sana. Alex bukannya membantunya dia malah tertawa terbahak-bahak melihat anak itu yang terluka.
"Rasakan itu, makannya jangan main-main dengan aku baru tahu rasakan "
"Akhhh Ibu guru tolong, Alex jahat sekali"teriak anak perempuan itu. Tapi Alex tidak peduli dia berjalan masuk ke dalam kelas bahkan tanpa beban sedikitpun. Teman-teman yang lain sudah banyak yang membantu, tapi Alex tidak dia masuk saja ke dalam kelas dan duduk dengan manis di sana sendirian.
Tidak lupa Alex mengambil lolipop nya dan mengemutnya sambil mendengar teriakan-teriakan guru yang khawatir dengan keadaan anak perempuan itu. Tapi Alex tidak peduli yang terpenting rasa dendamnya ini terbalaskan.
Ibunya sudah berani mendorong Mamanya dan tidak meminta maaf, bahkan malah memarahi Mamanya. Maka anaknya yang harus menerima semua ini dan sekarang Alex akan menghadapi masalahnya sendiri Mamanya tidak boleh datang kemari.
"Alex apa yang kamu lakukan. Kenapa temanmu sampai-sampai kamu dorong, kenapa kamu selalu nakal"
"Dia jelek makanya aku dorong, makannya kalau pakai bedak itu yang rata "
"Alex Ibu berbicara dengan kamu baik-baik, kenapa kamu dorong dia. Ada masalah apa ayo bicara dengan Ibu"
"Ya karena dia jelek, makanya aku dorong. Jangan telepon Mamaku awas ajam Aku tidak mau melibatkannya kalau Ibu sampai telepon Mama aku akan keluar dari sekolah ini"
"Baiklah, tetap diam dikelas jangan kemana-mana dan jangan sakiti teman mu lagi "
Gurunya itu langsung pergi meninggalkan Alex sendirian. Dia sudah tahu kalau Alex itu anak siapa. Apalagi kepala sekolah sudah mewanti-wanti jangan pernah melawan Alex.
...----------------...
"Terima kasih Ayah sudah mengantarkanku sampai sekolah"
"Sama-sama Daniel, sekolah yang baik jangan buat masalah. Jangan membuat Mama pusing ya ingat "
"Tentu aku tidak akan membuat masalah, aku akan menjadi anak baik di sini kalau mereka juga baik padaku. Kalau mereka tidak baik maka jangan salahkan aku "
Setelah berpamitan pada Ayahnya Daniel keluar dari dalam mobil dan Hans sudah melambaikan tangannya, sambil berlari ke arah Daniel. Hans begitu bersemangat sekali.
"Tak usah berlari seperti itu Hans, kalau kamu jatuh bagaimana. Aku tidak akan mau menolongmu "
"Aku anak laki-laki, aku tidak akan menangis kalau terjatuh. Ayo kita pergi ke kelas bersama-sama. Aku dari tadi sudah menunggumu untuk datang "
"Tentu"
Mereka beriringan masuk ke dalam sekolah "Hans mau ikut denganku, aku punya pekerjaan yang harus aku lakukan "
"Kita ke rumah Tamara, mau ikut kalau tidak juga tidak masalah. Aku bisa pergi kesana sendiri "
"Boleh nanti aku biar menelpon Mamaku agar tidak menjemputku. Memangnya mau apa ke rumah Tamara, apakah ada tugas yang mengharuskan kita kerja kelompok"
"Hanya main saja, siapa tahu kita bisa jadi teman mungkin kita harus punya teman perempuan. Enak juga kan punya teman perempuan "
"Kenapa harus ada teman perempuan, laki-laki saja juga tidak masalah kan"
"Agar lebih bervariasi saja pertemanan kita ini. Jangan laki-laki semua "
"Boleh, aku ikut kamu saja deh, terserah kamu saja yang terpenting kita masih berteman "
"Oke nanti pulang sekolah kita ke rumah Tamara, awas jangan berubah fikiran "
"Diam-diam atau bicara dulu sama orangnya"
"Diam-diam saja kita ikuti dia pulang"
"Kita jadi detektif"
"Anggap saja seperti itu"
"Baiklah, apa kita perlu membawa sesuatu untuk keluarganya. Karena menurut Mamaku kalau ingin bertamu kita harus membawa sesuatu, agar enak saja kalau kita tiba-tiba saja bertamu tanpa membawa apa-apa akan sangat aneh kan "
"Nanti kita pikirkan saja di jalan harus membawa apa ke sana, yang terpenting kita ke sana dulu saja. Untuk masalah makanan itu hal yang mudah "
"Baiklah"
...----------------...
"Oh jadi anak ini yang melukai anak saya, kamu itu bukannya anak perempuan yang waktu kemarin nabrak saya kan "teriak ibu-ibu itu di hadapan wajah Alex
Alex tidak meresponnya, dia hanya duduk sambil menatap wajah ibu-ibu itu "Saya ini sedang bicara sama kamu apa kamu bisu, jawab jangan diam saja dasar anak nakal ya kamu ini"
"Tenang dulu Bu, tenang dulu jangan marah-marah seperti ini, kita bisa bicarakan dengan baik-baik namanya juga anak-anak kan. Jangan seperti itu ya. Alex hanya anak kecil jangan dibentak seperti itu Bu tidak baik malu didengar oleh anak-anak yang lain " lerai kepala sekolah.
"Tidak bisa seperti itu Pak, dia sudah melukai anak saya, enak saja dia mau lepas begitu saja dari saya, tidak tidak tidak saya tidak mau sampai itu terjadi. Pokoknya dia harus tanggung jawab atas semua pengobatan yang terjadi pada anak saya, dasar anak nakal. Ibunya saja seperti itu maka tak jauh anaknya saja seperti ini "
__ADS_1
"Hey jangan bawa-bawa Mamaku ya"teriak Alex tak terima.
Sebelum ibu-ibu itu berbicara Pak kepala sekolah langsung menyela "Baik Bu, baik saya akan menelpon ayahnya dulu saya akan menelpon ayahnya sudah ya Bu sudah tenang tenang, jangan berteriak seperti itu tak bagus "
"Baiklah kalau perlu suruh ayahnya kemari dengan cepat, suruh dia datang kemari aku ingin bicara dengan ayahnya. Kenapa dia mendidik anak dengan tidak becus seperti ini, nakal sekali dasar anak nakal nakal nakal "
Kepala sekolah itu langsung keluar dari dalam ruangan dan menelepon Lucas, sebenarnya takut kalau menelpon Lucas lebih baik menelepon Katherine saja, tapi tadi Alex sudah melarangnya jangan pernah menelpon Mamanya, jadi mau tidak mau dia harus menelpon Ayahnya kan. Baiklah persiapkan diri untuk menelpon ayahnya Alexander.
"Halo selamat siang Pak Lucas. Maaf saya menganggu waktu Pak Lucas "
"Siang ada apa, apa anak saya Alex melakukan kesalahan, apa dia membuat onar lagi "
"Emm maaf Pak bukan saya mau mengganggu pekerjaan Bapak, tapi Alex tidak membolehkan saya untuk menghubungi Mamanya katanya jangan sampai Mamanya tahu. Alex mendorong temannya sampai keningnya berdarah bahkan harus dijahit. Bisa Bapak datang kemari orang tuanya tidak terima dengan apa yang Alex lakukan, dia marah-marah disini Pak "
"Memangnya kenapa sampai Alex mendorong anak itu, apa mereka terlibat cekcok "
"Entah kenapa jawaban Alex selalu saja anak perempuan itu jelek. Jadi saya bingung harus bagaimana Pak. Alex tidak mau menjelaskannya dia hanya menjawab kenapa dia mendorong anak itu karena anak perempuan itu jelek, sungguh saya tak mengerti dengan alasan yang dibuat oleh Alex sendiri tidak masuk akal saja Pak "
"Baiklah, aku akan datang kesana sekarang"
"Baik Pak terimakasih atas waktunya, kami tunggu Pak"
Sambungan langsung diputuskan begitu saja oleh Lucas. Kepala sekolah menghembuskan nafasnya dengan lega. Untung saja tak sampai dimarahi sungguh takut sekali kalau berurusan dengan Lucas itu.
...---------------...
Lucas datang kesekolah dengan terburu-buru, "Oh jadi ini Ayahnya anak laki-laki itu. Bagaimana kamu mendidik anakmu, kenapa dia begitu nakal sekali "Baru saja datang Lucas sudah dibentak seperti ini, kalau bukan ditempat umum sudah Lucas hajar.
"Kamu menanyakan aku mendidik anakku bagaimana. Mau datang ke rumahku dan melihatnya, silahkan datang dan lihat bagaimana aku mendidik anak-anakku "
"Untuk apa tidak penting, lihat anakku dia harus merasakan sakit yang luar biasa gara-gara anakmu itu. Alasannya begitu tidak masuk akal anakku itu cantik tidak jelek enak saja dia memanggil anakku jelek. Kamu harus menanggung semuanya, kamu harus mengganti semuanya bahkan kalau sampai ada bekasnya aku minta dioperasi agar tak ada "
"Berapa uang"
"10 juta "
"Kirim nomor rekeningmu akan aku berikan 10 kali lipat, cepat aku tak punya banyak waktu "
"Sombong sekali anda"
"Mau dibayar atau tidak"
"Ayah kemari dulu jangan dulu, kemarilah Ayah ku yang tampan yang wajahnya sama dengan Alex "Alex langsung melambaikan tangannya pada ayahnya.
Lucas dengan wajah yang sudah sangat marah mendekati Alex. Alex malah minta digendong oleh ayahnya, anak ini benar-benar ya membuat Lucas marah.
"Ayo cepat ayah sini dulu, gendong aku dulu ayah "
Setelah digendong barulah Alex berbicara "Ayah dia itu perempuan yang kemarin sudah membuat Mama kesal, dia telah membuat Mama terjatuh bukannya minta maaf perempuan itu malah marah pada Mama. Tapi Mama tidak mau melawannya makanya aku mau membalasnya melewati anaknya. Tak usah dibayar ayah, dia sudah jahat pada Mama. Kasian Mama kemarin pakaiannya kotor satu lagi pasti pantat Mama juga sakit "
Nah kalau gini kan sekarang Lucas tahu ceritanya apa. "Kenapa kamu tidak bercerita pada Ayah, kenapa kamu malah baru bilang sekarang. Kenapa tak dirumah saja atau tadi saat ayah antarkan "
"Nanti kalau Ayah tahu ayah malah melarangku. Makanya aku lakukan dulu baru berbicara pada ayah, aku tidak mau membuat Mama minum obat lagi nanti dia pusing lagi dengan kelakuanku ini, aku berpura-pura alasannya karena anak itu jelek. Aku tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan fisik orang lain Ayah. Aku berkata jujur dia dulu yang pertama membuat masalah dengan Mama dari kemarin aku ingin melawannya, tapi Mama tidak membolehkannya makanya aku melawannya sekarang. Jangan marahi aku Ayah aku membela Mama"
"Ya sudah kamu masuk saja ke dalam kelasmu, biar Ayah yang membereskan semua masalah ini. Tenang saja Ayah tidak akan menghukummu untuk masalah ini, belajar dengan benar dan selalu bela Mamamu jika terjadi seperti ini lagi "
"Benar ayah tak akan menghukumku, aku senang sekali ayah mendengarnya "
"Tentu Ayah tidak akan menghukummu masuk ke dalam kelas sekarang dan belajar dengan benar. Ini adalah rahasia kita berdua saja, jangan Mama tahu nanti kita yang dihukum oleh Mama"
"Tentu ayah. Aku senang cara kerjamu, aku akan meniru ayah nanti "
Alex ingin cepat-cepat diturunkan dari pangkuan ayahnya. Setelah turun Alex langsung berlari begitu saja tidak memperdulikan guru yang ada di sana dan juga ibu-ibu cerewet itu, biar ayahnya saja yang mengurus. Tadi ayahnya sudah bicara kan kalau dia sendiri yang akan mengurus.
Alex jadi bahagia kan kalau seperti ini, membuat masalah tapi tak dimarahi oleh Ayahnya. Ayahnya akan luluh kalau masalah Mamanya, Mamanya itu memang hebat sekali bisa membuat Ayah yang galak menjadi baik.
Nanti Alex akan membuat masalah lebih banyak ah kalau bersama Mamahnya jadi ayahnya tak akan marah juga kan.
"Alex masalah mu sudah selesai "tanya teman sebangku Alex.
"Sudah katanya biar ayahku saja yang membereskannya. Aku hanya perlu belajar dengan baik saja "
"Enak ya jadi kamu. Buat masalah tapi tak dimarahi habis-habisan. Kalau aku sudahlah akan habis lalu aku juga akan dipukul "
"Ya memang enak jadi aku. Apa lagi aku anak bungsu. Oh ya apa yang sudah aku lewatkan aku lihat buku catatan mu itu "
"Ini baru ini saja belum banyak kok"
"Aku lihat, aku mau mencatatnya "
__ADS_1