
"Becca kemana sih Becca "
Laila yang terbangun mencari ke sampingnya ternyata Becca tidak ada, Laila yang akan menelpon Becca malah tidak menemukan ponselnya.
"Lah mana ponsel, tadi disini tapi sekarang malah ngilang"
Laila memegang kepalanya yang masih pusing, dengan langkah yang lunglai Laila turun kebawah untuk mencari teman sekamarnya itu.
"Becca jangan main-main ah udah malem, cepetan keluar jangan kayak gini, kita lagi ga dirumah ya. Jangan main petak umpet ah, kamu ga takut emang udah keluar Becca. Aku takut nih dikamar sendirian"
"Becca "
Tak ada jawaban, Layla menggaruk kepalanya dan terus mengelilingi ruang bawah. "Becca dimana, Becca dimana sih"
Layla malah melihat orang yang sedang berbaring. Dengan langkah perlahan Layla mendekatinya. "Agus, itu kamu kan jangan main-main kayak gini lah udah malem dimana Becca, kamu lihat dia ga sih"
Masih tak ada jawaban, Layla memutari tubuh orang itu dan sekarang Layla berhadapan , belum juga Layla berbicara tenggorokannya sudah ditusuk.
Layla hanya bisa melotot dan memundurkan langkahnya. Layla langsung terjatuh, dia memegang lehernya dan menarik tubuhnya untuk menjauh dari laki-laki itu.
"Bagaimana pestanya menyenangkan"
Layla malah menangis, dia terus saja berusaha untuk menjauh, tapi Lucas malah mengikutinya dari belakang dan menginjak kakinya.
Layla tak bisa berteriak dia hanya bisa menahan semua rasa sakit itu "Baik aku beri waktu kau 10 detik untuk menelpon polisi, akan aku hitung jika sampai terlambat maka nyawamu yang akan melayang dimulai dari sekarang 1 "
Layla dengan cepat bangun menyusur kakinya, Lucas terus saja menghitung "2,3,4,5,6,7,8,9,10 waktu mu habis nona "
Dengan langkah cepatnya Lucas menghampiri Laila dan mengeluarkan palu yang tadi dia bawa. Lalu menghancurkan kepala Laila dengan sangat brutal. Lucas sangat senang melihat korbannya tak berdaya seperti ini, memang seorang perempuan itu yang paling mudah untuk dikalahkan.
"Huff darahnya sampai kena pada wajahku, 4 orang tinggal 8 orang lagi mari kita siap-siap dan fikirkan bagaimana kedepannya aku menghabisi mereka"
Lucas melihat mata Layla yang copot, mengambilnya dan menyimpannya disebuah plastik dan menyimpannya dengan baik-baik
Untuk kenang-kenangan kalau dirinya pernah membunuh orang yang memiliki mata ini. Mata yang cukup indah dan sayang saja kalau sampai disia-siakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Kak gimana keadaan Daisy "
"Ya begitulah dia sepertinya masih trauma dengan semua keadaan ini "
Aruna menundukan kepalanya dan menutup wajahnya, Aruna malah menangis "Kenapa malah menangis, jangan menangis "
"Kalau saja aku tidak meninggalkan Daisy mungkin semua ini ga akan pernah terjadi Kak, kalau aja aku ikutin Daisy pasti Devon ga akan berani lakuin itu "
"Udah semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan kembali seperti semula. Kamu jangan nyalahin diri kamu sendiri ya "
"Tapi kenapa ga lapor polisi aja, biar mereka tuh semua tertangkap. Aku siap jadi saksi kok buat ngejelasin semuanya aku akan berjuang demi kemenangan kasus itu"
"Ga bisa dek kamu, nanti juga kamu akan tahu kenapa kita ga lapor polisi, udah sana tidur udah malem juga"
"Kalau misalnya didiemin terus yang ada malah keenakan Kak, lebih baik lapor polisi saja "
"Ga bisa, udah kamu mending istirahat ya "
"Hemm, baiklah "
Aruna dengan patuh mengikuti kata-kata kakaknya dia masuk kedalam kamarnya. Sebenarnya ingin menemui Daisy tapi belum siap saja. Takut Daisy marah padanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mamah juga binggung, apalagi tuan juga mau usir kita "
"Apa kita diusir, aku ga mau ya mah, aku ga mau sampai diusir aku ga mau kemana-mana aku pengen tetep dirumah ini "
"Keputusannya udah seperti itu, mau bagaimana lagi "
"Pokoknya aku ga mau keluar dari rumah ini, sampai kapanpun aku ga mau ya malahan aku pengen tinggal di rumah utama. Aku ga mau pergi dari sini. Aku pengen rubah segalanya, aku ga mau pindah aku pengen terus disini "
"Kita fikirkan nanti caranya "
Tiba-tiba saja pintu rumah mereka diketuk, Airin dengan cepat membuka pintu dan disana ada Toni. "Mau apa kamu kesini "
"Saya disuruh Tuan untuk pergi ke sini"
__ADS_1
"Mau apa, sudah sana ini sudah malam "
Airin yang akan menutup pintu malah ditahan oleh Toni, "Saya harus bicara dulu dengan anda baru saya bisa pergi "
"Yasudah ayo masuk, saya tak punya waktu lama"
Toni langsung masuk dan duduk tanpa dipersilahkan "Tak usah disajikan minum kan "
"Langsung keintinya saja. Tuan menyuruh saya untuk menikahi anak anda"
"Apa, tidak tidak memangnya dia siapa sampai menyuruh dirimu menikahi anakku tidak ya aku tidak mau. Aku tidak mau mempunyai menantu seperti mu. Anakku harus menikah dengan orang yang berpendidikan"
"Ya sudah kalau anak mu hamil tak akan pernah ada yang tanggung jawab jadi fikir-fikir dulu. Aku juga tak mau menikah dengan anakmu kalau bukan Tuan yang menyuruh, aku juga ini terpaksa jadi jangan kegeeran dulu "
Toni segera bangkit dan meninggalkan rumah itu, sebenarnya dirinya juga tak mau, tapi Tuannya yang menyuruh maka harus dirinya turuti.
"Akhhh "Teriak Airin
"Kenapa harus begini. Kenapa kejadian saat aku menikah dengan Tora harus terulang lagi pada anakku. Kenapa harus seperti ini. Harusnya anakku bahagia tidak seperti ini. Kenapa harus begini kejadiannya"
"Mah ada apa mah, kenapa teriak-teriak, ini udah malem mah, jangan buat ribut ah, aku baru aja mau tidur "
"Kamu harus menikah dengan Toni, ga ada pilihan lain lagi "
"Apa tidak aku tidak mau, aku masih kuliah. Aku belum siap menikah aku masih mau sendiri aku masih ingin menghabisi waktu mudaku. Aku tidak mau menyia-nyiakan waktu mudaku, aku tidak mau"
"Lalu bagaimana kalau kau hamil, mamah pusing begini "
"Seperti kata mamah kita gugurkan saja. Aku juga belum siap punya anak. Jadi sudah aku tidak mau tolak saja. Satu lagi aku tidak mau pergi dari sini. Ada sesuatu yang harus aku dapatkan aku tak mau sampai itu lepas "
"Tapi mamah fikir-fikir itu tak baik "
"Kenapa mamah cepat sekali berubah pikiran. Bukannya kita sudah sepakat kan"
"Iya tapi tetep saja, mamah ragu untuk melakukan itu. Bagaimana kalau kau juga nanti tidak selamat saat mengugurkan anak itu. Taruhannya nyawa "
"Lalu harus bagaimana aku malah jadi binggung seperti ini mamah. Pokoknya Mamah harus memikirkan semuanya. Aku ga bisa kayak gini "
__ADS_1
Adiba langsung pergi meninggalkan mamahnya meski berjalan dengan tertatih-tatih. Adiba seperti tak trauma diperlakukan seperti itu.