Psychopath 2

Psychopath 2
Bab 273 Arumi Nasya


__ADS_3

Tamara diikat dan matanya juga ditutup oleh sebuah kain. Tamara sudah berteriak-teriak dari tadi tapi tidak ada yang mendengarkannya, semua orang seperti tuli dan tidak mau membantunya bahkan anak buahnya pun tidak ada yang datang kemari.


Padahal Tamara sudah memerintahkan mereka kalau sampai terjadi sesuatu pada Tamara maka mereka harus mencari Tamara, dan menyelamatkannya. Tamara sudah membayar mereka dengan mahal.


Tamara tak mau sampai harus mati konyol seperti ini, misinya belum selesai. Tamara belum melakukan apa yang dia mau. Tamara belum membunuh orang kesayangan Daniel, Tamara harus puas dulu baru dia akan tenang.


"Lepaskan berani-beraninya kalian lakukan ini, lepaskan aku ingin keluar lepaskan. Jangan permainkan aku seperti ini, lepaskan aku lepaskan siapa saja yang mendengarkan suara aku lepaskan"


"Sialan siapa saja tolong aku. Aku tidak suka diperlakukan seperti ini, lepaskan aku lepaskan akhh kenapa tak ada yang datang kenapa tak ada yang menolongku "


Ikatan kain yang menutupi mata Tamara langsung dibuka dan Tamara langsung berhadapan dengan Daniel langsung, Tamara langsung membuang pandangannya.


Tamara tak mau menatap Daniel, nanti pada akhirnya apa Tamara akan luluh dengan Daniel. Mau bagaimana pun mereka dulu sempat bersama-sama kan.


"Senang bisa bertemu lagi denganmu, bagaimana rencanamu gagal total kan. Mungkin kamu menganggap kalau aku sedang lengah nyatanya aku sedang memancing mu untuk masuk ke ruangan itu, dan rencanaku berhasil juga kan kamu masuk dalam perangkap ku ini "


"Lepaskan aku, aku tidak suka diperlakukan seperti ini, aku ingin pulang "


"Tidak semudah itu, memangnya aku menangkap kamu hanya untuk melepaskan kamu lagi, tidak kamu tidak mengenal siapa aku sebenarnya kan, kamu tidak dekat denganku kamu hanya membutuhkan uangku saja waktu itu, dan kamu tidak mengenal siapa diriku yang sesungguhnya. Kamu sudah salah bermain-main dengan aku Tamara "


"Memangnya selama ini aku tidak tahu apa yang akan kamu lakukan, aku tahu semua rencanamu. Mau kamu membuat rencana itu dengan bagus dan tersembunyi pun aku akan tahu Tamara. Mata-mataku ada dimana-mana "


"Akan aku ceritakan bagaimana aku bisa menangkap kamu, mungkin kamu ingin mendengar dongengku ini agar kamu nanti tertidur lelap dan aku bisa langsung menikam mu"


Flashback on


Daniel yang tadi berlari untuk mencari kedua orang tuanya sebenarnya tidak pergi. Dia hanya sedang mengawasi Tamara yang masuk bersama Bara, dia juga tahu kalau Bara dari tadi mengirimkannya pesan. Daniel hanya sedang ingin menguji Bata saja apakah dia akan benar-benar membantunya atau akan menghianatinya.


Daniel tak bisa percaya begitu saja dengan Bara, dia saja mudahkan untuk beralih padannya apalagi untung berkhianat padannya, dia pasti akan sangat mudah sekali melakukannya.


"Pak apa kita harus sekarang masuk, apa kita harus mendiamkan mereka dulu bagaimana kalau mereka melukai Nona Vio"


"Biarkan mereka masuk dulu aku ingin tahu, mereka akan melakukan apa. Biarkan mereka terjebak di dalam sana, aku ingin mereka tak berpencar dan kita akan kesulitan untuk menangkap mereka nantinya"


Daniel menunggu beberapa menit, setelah cukup dia berjalan masuk ke dalam ruangan itu Daniel melihat kalau Tamara sedang mengeluarkan sebuah suntikan yang akan disuntikkan pada istrinya. Daniel juga mendengar istrinya memohon-mohon pada Tamara agar tak melakukan apa-apa padannya.


"Tolong jangan lakukan ini padaku, apa salahku. Aku tidak pernah punya masalah kan denganmu. Kita saja tidak kenal, tapi kamu kenapa masuk kedalam ruanganku, aku tahu kamu bukanlah suster disini pergi dari sini "


"Tidak kenal, kamu kenal denganku Vio kamu saja yang terlalu bodoh. Kamu saja yang tidak tahu siapa aku kita berteman lama, kita bahkan sering main dulu"


"Tapi aku benar-benar tidak tahu siapa kamu apa maksudmu, jangan lukai anakku sana pergi dari sini jangan macam-macam ya. Siapapun dirimu pergi dari ruanganku, aku tak pernah membuat masalah dengan siapapun "Vio memeluk anaknya dengan erat tidak mau sampai diambil oleh perempuan yang ada di hadapannya ini.


Vio benar-benar tak tahu siapa mereka ini, teman sering bermain siapa Vio begitu tak ingat. Banyak kan orang yang bermain dengannya dulu.


Bara juga yang ada di sana mengambil suntikan itu "Nona pelan-pelan jangan seperti itu, sepertinya Vio masih lemah dan keadaannya juga belum lemas seperti ini, apa kita tak bisa menunggunya pulih dulu nona "


"Apa-apaan kamu ini Bara, dari tadi kamu terus saja mengganggu pekerjaanku kamu ini mau aku pecat atau ingin aku suntik mati hah, diam dan lihat saja bagaimana cara kerjaku ini. Kamu ini sangat sulit untuk menyelesaikan apa yang aku minta, kamu hanya diam seperti itu saja awas dasar kamu tak becus "


Bara membuang suntikan itu dan menundukkan kepalanya, Bara di sini serba salah tentu saja dia serba salah jika mengikuti apa kemauan Tamara maka dia akan habis oleh Daniel.


Bara bekerja untuk dua orang sekaligus. Dan mereka berdua bukan lah orang yang mudah untuk dikalahkan dan Bara mau tidak mau harus mengikuti mereka berdua.


"Siapa kamu apa maumu dariku, katakan kamu ini ingin apa hah" tanya Vio dengan suara pelannya, Vio benar-benar lemas sekali kenapa tak ada yang menolongnya, kenapa tak ada orang yang datang.


Suaminya juga tak ada, kemana suaminya ini. Apa suaminya lupa dengannya sampai-sampai dia tak datang-datang Vio takut sekali anaknya dilukai.


"Nyawamu dan juga nyawa anakmu, itu yang aku inginkan "


Tamara mengeluarkan pistol dan saat akan menembakkan itu Daniel datang dan meringkus Tamara beserta orang-orangnya. Daniel tidak mau lama-lama lagi menunggu drama ini, makanya dia tadi langsung menerobos masuk.


Daniel sudah melihat kalau Bara memang benar-benar melindungi istrinya, kalau Bara memang benar-benar tidak akan mungkin menghianatinya. Sekarang Daniel mulai percaya dengan Bara.

__ADS_1


Tamara di sana sudah meronta-ronta tapi, Tamara dipegang dengan erat oleh beberapa orang dan dibawa keluar dari ruangan itu. Daniel melihat istrinya yang sangat ketakutan sekali.


Tamara sudah sangat keterlaluan sekali. Dia memang ingin mencari kelemahannya dan ingin membunuh Vio, tapi dari dulu juga Tamara memang seperti benci pada Vio entah kenapa. Daniel yang sering lihat Vio dicelakai oleh Tamara.


Flashback off


"Lepasan aku, aku tidak peduli dengan ceritamu itu, mau bagaimanapun kamu menangkap mu lepaskan aku. Aku tidak peduli aku ingin pulang "


"Apa dulu alasanmu melakukan ini padaku, kamu tau sejak dulu aku tidak pernah jahat padamu Tamara. Bahkan aku peduli padamu, saat kamu tidak punya seragam aku membantumu, saat kamu tidak punya bekal aku membantumu. Bahkan Mama aku saja membuatkan bekal lebih hanya untukmu saja, lalu inikah balasanmu. Aku berteman denganmu itu bukan karena semata kasihan saja aku memang benar-benar ingin berteman denganmu tapi inikah balasannya. Aku sungguh tak percaya kamu malah akan seperti ini Tamara"


"Kenapa kamu melakukan ini, apa salah teman-temanmu ini. Jangan membuat teman-teman mu benci dengan kamu. Kamu ini baru muncul lagi "


"Kenapa, kamu ingin aku bayar semua yang pernah kamu berikan padaku. Aku bisa memberikannya berapa kamu hitung semuanya, aku akan bayar sekarang semua, aku juga akan membayar mulutmu itu yang selalu saja berkata baik tapi orang tua mu sendiri tak baik "


"Aku tidak pernah mengharapkan itu. Aku tidak pernah mau semua itu diganti, bukannya aku mau mengungkit-ungkit semua itu, hanya saja aku tidak mau masalah ini malah membawa istri ku Vio. Kalau kamu berurusan dengan ku maka dengan aku saja jangan membawa yang lain-lain, jangan jadi pengecut kamu "


"Ya salah dia sendiri kenapa harus jadi istri kamu. Mau diganti akan aku ganti semuanya, makan yang pernah Mama kamu berikan aku ganti dengan uang berapa hitung saja semuanya. Aku benar-benar akan membayarnya "


Tamara sudah mulai sombong, Daniel tidak habis pikir orang yang selalu Daniel tolong, Daniel perhatikan malah seperti ini timbal baliknya. Daniel sama sekali tidak mau diganti apapun Daniel membantu Tamara dengan ikhlas. Bukan karena ingin suatu saat diganti dengan uang.


"Kamu memang sombong, seharusnya memang dari awal aku tidak menjadikan kamu teman, seharusnya aku sama seperti Valeria yang selalu membully kamu. Benar kata Valeria kalau kamu itu bukan anak yang baik, kamu itu penuh kebohongan dan tipu daya. Apa maksudmu melakukan ini pada istriku "


"Tanya saja pada ayahmu kenapa aku bisa sampai seperti ini, ini adalah ulah ayahmu Daniel, ini adalah ulahnya kalau saja dia tidak melakukannya aku juga tidak akan pernah melakukan ini, aku akan baik-baik saja dengan kamu juga "


"Kenapa harus pada Vio, aku lihat kamu dari dulu memang selalu saja mencelakai Vio memangnya Vio ada bersama Ayahku hah "itu yang selalu Daniel tanyakan karena yang punya masalah kan bukan Vio dia tidak tahu apa-apa, bahkan Vio hanya seorang menantu saja kan.


"Karena dia adalah kelemahanmu, jika dia mati maka kamu akan terpuruk kamu akan gila dan aku akan senang melihatnya, itu yang aku mau sudah puas dengan alasannya. Satu lagi aku juga ingin membalas apa yang Valeria lakukan, aku muak dengan pembullyan nya aku ingin membalas itu sekalian"


"Yakin Vio adalah kelemahanku dan juga Valeria ? "


Tamara malah tertawa mendengar itu" Mana mungkin aku tidak yakin, kamu saja dari dulu selalu saja mengikuti Vio, memangnya aku tidak tahu kalau kamu selama ini menyukainya, lepaskan aku, aku ingin pulang jangan permainkan aku seperti ini, aku tidak suka"


"Lepaskan aku tidak mau ada di sini, kamu berhak menerima semua itu kamu berhak dihabisi, kamu itu seharusnya sudah hancur Daniel. Aku muak dengan keluargamu. Keluargamu itu hanya pura-pura baik saja tapi kenyataannya mereka itu seorang pembunuh, mereka semua memakai topeng termasuk kamu "


"Apa yang ayah kulakukan sampai-sampai kamu seperti ini, coba kamu berbicara yang benar bukannya cuman berteriak tak penting seperti itu "Daniel sudah kesal mendengarnya. Rasanya Daniel ingin memukulnya tapi Daniel mencoba untuk menahannya.


"Dia telah membunuh Ibuku, dia yang membunuhnya aku sampai tidak mempunyai seorang ibu dan ayah itu gara-gara ayahmu, aku hidup sengsara tidak punya apa-apa itu juga gara-gara ayahmu "jerit Tamara sambil menangis.


Daniel diam, berarti benar apa yang ayahnya katakan waktu itu. Tapi dia sepertinya belum tahu alasan yang sebenernya. Tamara tak tahu semua ceritanya.


"Kalau begitu jangan jadikan Vio sasarannya, dia tidak tahu apa-apa yang satu keluarga dengan ayahku itu adalah aku bukan Violetta, karena kamu sudah masuk dan ingin mencelakai istriku maka terima saja akibatnya. Aku tidak akan melepaskanmu diam di sini akan ada saatnya aku menghabisi mu "


"Kamu tidak tahu kan siapa aku yang sebenarnya, kamu hanya tahu aku sebagai Daniel yang baik suka membantu dan peduli padamu. Hanya itu yang kamu tahu Tamara, makannya kamu gegabah seperti ini kan"


Daniel melangkah pergi dari ruangan itu, membiarkan Tamara yang terus saja berteriak mengumpat padanya. Daniel tidak bisa meninggalkan istrinya terlalu lama nanti yang ada istrinya akan mencarinya dan kebingungan ke mana Daniel sebenarnya.


Daniel tidak mau membuat istrinya pusing dan menerka-nerka, apalagi tadi Daniel datang kemari dengan bersembunyi-sembunyi, saat istrinya sedang istirahat. Pasti sekarang istrinya sudah bangun kan.


...----------------...


Tamara melihat Bara yang tidak lagi di sekap, Tamara tersenyum senang melihat itu "Bara lepaskan aku ayo bantu aku keluar dari sini, kamu hebat bisa melarikan diri ayo cepat kemari dan lepaskan tuanmu ini"


Bara hanya diam saja dia menatap Tamara sambil mematung, Tamara yang kesel berteriak lagi "Ada apa dengan kamu ini. Kamu ini lambat laun menjadi orang bodoh ya aku memintamu untuk melepaskan aku tapi kamu malah melamun seperti itu, cepat bantu aku keluar kita pergi dari sini bukannya diam seperti itu terus-menerus, apa kamu ingin ketahuan dan nanti malah ditangkap lagi "


"Maaf Tamara aku tidak lagi bekerja denganmu aku keluar, aku tidak mau lagi bekerja dengan perempuan seperti kamu yang selalu mencaci maki aku. Aku ini punya harga diri loh, aku ini tidak suka terus diinjak-injak olehmu seperti itu, bisa kan berbicara baik-baik denganku. Aku pun akan melakukan apa yang kamu mau jika kamu berbicara baik-baik padaku tidak berteriak tidak memakiku seperti itu"


"Jika sikapmu baik maka aku akan membantumu, tapi kamu belum juga aku bantu suka memarahiku seperti itu, jangan mentang-mentang kamu punya uang dan kamu semena-mena padaku, pada pegawai mu "


"Sialan kamu disaat seperti ini malah berbicara hal seperti itu, cepat lepaskan aku sialan tak ada gunanya sekali ya kamu ini, aku memang seharusnya tak memperkerjakan laki-laki tak becus seperti kamu, kamu ini tak pernah benar dalam bekerja Bara "


"Kamu bilang aku tidak becu. Lalu kenapa kamu minta tolong denganku. Aku tidak akan pernah membantumu keluar, kamu harus membusuk disini kamu harus mati disini, perempuan seperti kamu memang pantas untuk mati "

__ADS_1


Tiba-tiba saja beberapa orang masuk dengan drum yang sangat besar, mereka tempatnya tidak jauh dari Tamara lalu mengisinya dengan air sampai penuh. Cukup banyak waktu yang mereka lakukan untuk mengisi drum itu sampai penuh, lalu Tamara tiba-tiba saja digantung dengan tubuh yang terbalik.


"Apa-apaan ini lepaskan aku lepaskan aku, kalian semua berani padaku Lepaskan aku sialan"


Tapi orang-orang itu seperti robot tidak mendengarkan kata-kata Tamara, mereka mengikat Tamara terbalik dan menatap Tamara yang meronta-ronta tidak karuan. Di sini Bara yang mendapat kendali penuh dari Daniel untuk menyiksa Tamara.


Saat diberitahu seperti itu Bara begitu bahagia dan ingin menyiksa Tamara sampai habis. Bara sudah lama muak dengan tingkah Tamara ini, dia itu sangat kasar perempuan ini tak pernah tahu terimakasih meremehkan terus anak buahnya.


Bukannya Daniel ingin melemparkan masalah ini atau hukuman Tamara pada orang lain Daniel hanya ingin membuat hati Bara tenang. Karena tadi Bara meminta sesuatu pada Daniel untuk bisa menghukum Tamara oleh tangannya sendiri, maka ya silakan Daniel mau bebaskan Bara untuk melakukan apapun itu asal jangan dibunuh saja.


"Turunkan talinya dan rendam dia "teriak Bara dengan raut wajah yang sudah sangat marah dan muak sekali pada Tamara.


"Hei kamu sialan ya Basa Sialan kamu ya, tak tahu diri kamu ini ya dasar pegawai tidak becus "


Tamara benar-benar dimasukkan ke dalam drum besar itu sampai hanya terlihat setengah kakinya saja, badan itu terus saja bergerak-gerak. Bara tersenyum melihat itu ternyata senang juga ya melihat orang disiksa seperti ini.


Untung saja tidak berkhianat dengan Daniel, jadi dia bisa melihat Nona yang pernah menjadi atasannya ini tersiksa dia selalu saja seenaknya dengan anak buahnya dan ini yang harus dia terima. Kalau anak-anak yang lain melihat mereka pasti akan sangat senang sekali. Mereka akan bersorak gembira.


"Ayo angkat aku ingin melihat wajahnya, apakah dia masih bisa bernafas "


Kembali tali itu ditarik dan Tamara bernafas lega, dia bisa menghirup nafas dengan sebanyak-banyaknya. Tamara juga sampai batuk-batuk nafasnya juga sudah tidak beraturan "Bara apa-apaan kamu ini kamu yang menghianatiku, kamu pengecut dasar mengkhianati aku demi bisa ada disamping Daniel "


"Sudah lama aku menghianatimu. Memangnya kamu tidak sadar kenapa Pak Daniel bisa tahu tentang rencanamu, akulah di belakangnya. Aku sudah bekerja sama dengannya, dia lebih menghormati aku sebagai anak buahnya dia tidak membentakku, dia tidak mencaci-makiku ataupun dia tidak menyebutku orang bodoh, aku di sini tak di remehkan sama sekali"


"Hanya karena itu saja kamu beralih padanya. Dia itu orang jahat dia itu tidak pantas untuk dipuji, dia itu sama saja seperti ayahnya. Dan suatu saat kamu akan dihabisi oleh keluarga mereka lihat saja "


"Kamu mengatakan Pak Daniel jahat, padahal dirimu yang jahat. Kamu terlalu kasar pada orang dan menyepelekan orang inilah akibatnya yang harus kamu terima, ketika kamu sudah sangat merendahkan banyak orang sekali Tamara "


"Biarkan dia seperti itu menggantung, dan nanti setiap satu jam sekali masukkan dia ke dalam drum itu. Aku ingin tahu dia akan bertahan atau tidak kalau dia sudah lemas maka turunkan dan biarkan dia duduk untuk beristirahat"


"Pak Daniel memerintahkan aku untuk memberikannya makan satu kali sehari, maka biarkan dia kelaparan sampai waktunya dia makan "


Bara yang sudah memberikan arahan pada orang-orang yang ada di sana keluar dari ruangan itu. Bara ingin istrinya dan menikmati kebebasannya ini.


...----------------...


Vio menyusui putrinya itu, dia kembali menangis tapi Daniel belum juga kembali padahal Vio ingin berdiskusi tentang nama yang akan dia berikan pada putrinya ini, Vio waktu itu tidak sempat untuk memberi kan nama pada anaknya karena Vio selalu memikirkan bagaimana dia nanti lahiran dan alhamdulillahnya Vio selamatkan tidak terjadi apa-apa dengannya.


Vio melihat Daniel yang baru datang dia juga membawa beberapa makanan Anda "Kamu ini dari mana aja kok lama banget. Aku telepon juga kamu nggak diangkat-angkat "


"Iya maaf aku tadi beli makanan ini buat kamu, siapa tahu kamu nanti pengen ngemil malam jadi aku belanja dulu sayang sekalian aku cari makan juga. Dia kembali minum asi sayang"


"Iya dia haus, kita belum nyiapin nama loh buat Putri kecil kita, kamu udah pergi gitu aja mau kasih nama siapa"


"Emm, tunggu sayang aku pikirin dulu ya nama yang cantik untuk anak kita anak pertama kita ini"


"Bagaimana kalau Arumi Nasya"


"Emm, nama yang bagus aku suka itu"


"Baiklah anak cantik kita ini bernama Arumi Nasya, Arum jangan terus rewel ya kasihan Mama"


Daniel manoel pipi Arum yang gembul, tapi tiba-tiba saja Arum menangis dan dia langsung menatap wajah istrinya lalu Daniel mencoba untuk mengambil alih Arumi dan mencoba untuk mendiamkannya, tapi ternyata berhasil Daniel langsung tersenyum lebar melihat anaknya yang bisa tenang olehnya.


"Arumi anak cantik. Halo ini ayah bagaimana apakah Ayah tampan"


"Daniel kamu ini bertanya seperti itu pada Arumi "


"Aku hanya ingin tahu saja sayang tanggapan anak kita apa, apakah aku ini tampan menurut anak kita"


Vio hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan tingkah suaminya itu. Arumi kan belum bisa bicara dan juga Arumi belum mengerti, tapi sudah ditanya seperti ini Ayahnya ini ada-ada saja. Vio juga tidak terus bertanya ke mana sebenarnya suaminya tadi pergi beberapa jam yang lalu. Vio juga tidak mau berpikiran yang tidak-tidak.

__ADS_1


__ADS_2