Psychopath 2

Psychopath 2
Bab 213 Daisy kabur lagi


__ADS_3

"Nenek kenapa nenek belum tidur, tidak biasanya nenek tidur malam ada apa. Apa ada yang nenek fikirkan kalau boleh tahu apa. Siapa tahu Tamara bisa bantu Nenek "


Neneknya menatap cucunya "Apa kamu berteman dengan anak itu"


Tamara binggung dengan pertanyaan neneknya. Maksudnya siapa yang tadi datang kan ada dua orang Hans dan juga Daniel.


"Yang mana Hans atau Daniel, aku binggung nenek siapa yang nenek maksud "


"Daniel. Kenapa kamu berteman dengan dia.


Memang tidak ada teman yang lain. Kenapa haru sama dia Tamara banyak kok teman yang lain"


"Apakah Nenek tidak tahu kalau aku ini tidak punya teman, tidak ada yang mau menemaniku seharusnya nenek bersyukur aku mempunyai teman. Di sekolah aku selalu saja di bully. Kenapa tiba-tiba nenek mempertanyakan pertemanan aku sama Daniel. Ga seharusnya kan nek "


Tamara benar-benar tak habis pikir dengan apa yang neneknya katakan. Kenapa tiba-tiba neneknya melarangnya untuk berteman. Biasanya kalau misalnya Tamara membawa temannya neneknya tidak pernah masalah, dulu teman baiknya suka main ke sini tapi neneknya ga pernah tuh komplain tapi ini Daniel baru datang langsung saya neneknya seperti tidak suka. Apakah ada sesuatu yang neneknya sembunyikan.


"Ya sudah kamu pindah sekolah saja ya, nenek kan sudah bilang lebih baik sekolah di tempat yang dekat saja. Pokoknya nenek ingin kamu baik-baik saja Tamara, nenek ga mau kehilangan kamu "


"Kita sudah pernah membicarakan ini Nek, nenek juga setuju kan aku sekolah di sana. Kata nenek itu lebih baik di sana aku jadi pusing dengan jawaban nenek. Sekarang nenek bilang seperti ini dulu seperti itu, aku sudah nyaman sekolah di sana dan aku juga sudah punya teman baik Nek. Akan sulit lagi aku mempunyai teman kalau begini. Tolong Nek jangan buat aku pusing "


Tamara tentu saja menolak dengan mentah-mentah. Tamara takut disekolah yang baru sama-sama saja tak ada bedanya. Tamara sudah senang punya teman Daniel dan juga Hans.


"Tetapi tidak dengan Daniel, nenek ingin kamu berteman dengan yang lain saja. Tolong jangan anak itu, Nenek hanya minta satu hal itu saja. Jangan buat nenek khawatir ya "


"Aku ingin jawaban yang jelas nenek, aku tidak mau jawaban seperti ini kenapa nenek melarangku untuk berteman dengan Daniel ada apa. Apakah dia pernah membuat masalah dengan nenek tapi kurasa tak mungkin, kalian saja baru pertama bertemu kan"


Tamara kekeh ingin jawaban yang benar. Tamara tidak mau tiba-tiba menjauhi Daniel tanpa alasan seperti ini hanya karena neneknya tak suka. Tamara sudah senang sekali punya teman seperti Daniel dan Hans yang baik.


"Pokoknya nenek tidak mau kamu berteman dengan laki-laki itu. Meskipun kamu tidak punya teman itu lebih baik daripada nanti nyawa kamu yang akan melayang, lebih baik kamu sendiri saja seperti dulu. Nenek yang akan menjadi teman kamu "


"Nenek tidak memberikan jawaban yang membuat aku puas dan alasan yang membuat aku bisa untuk menjauhinya. Pokoknya aku tidak akan pernah menjauhinya aku sudah terlalu nyaman bersamanya, berteman dengannya. Aku tidak punya teman aku tidak mau sampai sendiri lagi. Kalau nenek kan adanya dirumah bukan di sekolah "


"Ini untuk kebaikan kamu Tamara " neneknya juga tak mau kalah terus saja melarang Tamara. Apa sebenarnya yang nenek Tamara sembunyikan.


"Kebaikan aku gimana nek. Aku ga mau, aku akan tetap berteman dengannya mau nenek suka atau enggak. Kalau belum kasih alasan yang pasti aku ga akan pernah jauhi Daniel "


"Ya sudah lebih baik kamu tidur saja, kamu jangan memikirkan ini semua biar nenek saja yang memikirkannya. Nanti juga ada saatnya kamu tahu semuanya "


Tamara yang sudah terlanjur kesal pada neneknya akhirnya masuk ke dalam kamarnya. Rasanya neneknya ini tidak beralasan menyuruhnya untuk tidak berteman dengan Daniel. Padahal dia baik bahkan Tamara tidak sampai di bully lagi kan oleh mereka. Tamara senang hidupnya menjadi lebih ringan hidupnya lebih jadi bahagia.


...----------------...


Daniel menatap adiknya dengan wajah yang kesal, baru saja akan terlelap Mamanya sudah membangunkannya untuk membantu tugas adiknya. Bahkan Ayahnya sedang membeli buku gambar dan juga korek api yang banyak.


Adiknya ini benar-benar ya membuatnya kesal. Kalau tak ada Mamanya sudah Daniel pukul adik nakalnya ini. Selalu saja begini merepotkan seisi rumah.


"Kalau punya PR itu kerjain dari tadi, dari siang. Bukannya udah malam kayak gini baru kamu bikin. Mama pusing Ayah belum lagi aku. Aku aja selalu Bereskan tugas aku sendiri kan tapi kamu bener-bener ya semua harus gerak dan kerja "


Alex menundukkan kepalanya, mata kakaknya begitu tajam, sangat menakutkan sekali Alex takut mata itu mengeluarkan laser bisa mati Alex "Maafkan aku, aku lupa kalau saja aku ingat pasti aku sudah mengerjakannya dari tadi, dari siang malahan. Sungguh aku lupa kalau aku punya tugas seperti itu, aku menyesal telah membuat kalian semua kerepotan"


"Itu bukan lupa memang kamu saja ingin membuat aku dan juga satu keluarga ribet dengan tugas sekolahmu, setiap ada tugas yang sulit pasti kamu akan lupa dan bilang pada Mama saat malam hari atau tidak pagi hari sangat memusingkan sekali. Jadilah dewasa Alex "


"Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, aku tidak akan seperti itu lagi"


"Buktikan saja jangan ngomong saja, kamu selalu ingkar janji "


Lucas yang baru datang langsung menyimpan buku gambar dan juga korek api yang sudah Lucas beli tadi. Lalu Lucas memilih-milih gambar rumah adat apa yang harus digambar.


Lucas juga tapi saat didekati istrinya kaget karena berteriak, waktu ditanya kenapa katanya tugas anaknya belum dikerjakan dan harus membeli ini itu.


"Alex Alex kamu ini kadang membuat ayah pusing. Sudah sekarang kita gambar dulu jangan murung seperti itu. Tenang kita akan bantu kamu buat kerjain ini biar cepat selesai "


"Maaf aku sungguh minta maaf Ayah. Alex bener-bener salah "


Kat menyimpan camilan dan juga minuman segar di hadapan mereka. Lalu Kat mengambil alih buku gambar dari tangan suaminya. Kalau suaminya yang menggambar akan sangat lama sekali. Suaminya akan menggambar dengan sangat rapi dan juga teliti"Biar aku saja kalau kamu bisa-bisa nanti pagi beres, kasian anak-anak "


Kat dengan fokus menggambar rumah adat itu. Tidak butuh waktu lama sudah selesai juga. Kat memberikannya ke arah anaknya, lalu Alex dan juga Daniel menyusun korek api itu di atapnya dan di pintu di jendela dan di beberapa tempat lagi.


Mereka mengerjakan tugas adiknya bersama-sama. Daniel yang sempat kesal dengan sikap adiknya sekarang sudah tidak setelah mengerjakan tugas ini rasa kesalnya sudah hilang. Mau bagaimana lagi Alexander adiknya dan sebagai kakak ya Daniel harus seperti ini membantu adiknya.

__ADS_1


Daniel juga tak bisa marah lama-lama pada sang adik. Daniel menyayangi adiknya tapi tidak diperlihatkan saja. Bukannya gengsi Daniel tak mau adiknya menjadi manja padannya itu saja sih.


"Akhirnya sudah selesai Daniel udah ngantuk banget. Awas ya Alex sampai diulangi lagi hal yang kayak gini. Kakak ga akan pernah bantuin kamu lagi Mama juga sama ayah jangan bantuin biarin aja nanti dia kerjain sendiri. Biar tahu rasa gimana capeknya, dia yang punya tugas tapi satu keluarga yang pusing. Kamu harus belajar bertanggung jawab Alex "


Setelah mengatakan itu Daniel langsung pergi ke lantai atas untuk masuk ke dalam kamarnya. Kat mengusap rambut anaknya sepertinya Alex sangat merasa bersalah. "Sudah jangan dengarkan kata-kata kakakmu. Yang terpenting nanti kamu kalau punya tugas kayak gini lagi bilang saat pulang sekolah. Mama kan selalu tanya apakah ada tugas, jangan mendadak seperti ini ya"


Kat mencoba untuk menenangkan anak bungsunya ini, Kat tidak mungkin kan memarahinya. Nanti anaknya malah tak berani lagi berbicara padanya kalau sedang ada tugas seperti ini dan akhirnya tidak dikerjakan.


"Iya Mah Alex minta maaf, Alex ga akan lakuin ini lagi, Alex janji sama mama sama ayah dan juga Kakak. Sebenarnya sih tugas ini adalah tugas Minggu lagu. Alex anggapnya kan masih lama jadi Alex ga bilang deh baru ingat sekarang itu juga karena lihat jadwal pelajaran "


"Ya udah lain kali ga boleh kayak gitu, meskipun nanti tugasnya satu minggu lagi, dua minggu lagi ataupun 1 bulan lagi Alex harus tetap bilang sama Mama. Jadi Mama bisa ingetin Alex buat kerjain tugas itu ya. Sekarang udah jam 11.00 malam lebih baik Alex tidur"


"Iya Ma Ayah makasih ya, Alex kekamar dulu"


Alex membawa tugasnya dengan lesu, Alex sungguh merasa bersalah selalu merepotkan keluarganya dalam tugas-tugas sekolahnya. Kenapa juga Alex ini pelupa sekali kalau masalah tugas sekolah. Sepertinya Alex harus mulai mencatat semuanya.


Lucas memeluk istrinya sambil mencium pipinya "Istriku ini pintar sekali cepat menggambarnya, tugas anak kita selesai dengan cepat. Kenapa kamu tidak pernah marah pada Daniel dan Alex. Meskipun mereka melakukan kesalahan yang begitu besar, kamu kenapa sabar sekali menghadapi kedua anak nakal itu. Bahkan saat dulu Daniel pernah memecahkan meja makan kesayanganmu tapi kamu ga marah"


"Aku tidak akan memarahi mereka, yang ada mereka akan takut denganku. Aku hanya akan menasehati mereka saja. Aku tidak mau anakku sendiri malah tidak bisa terbuka denganku karena takut dimarahi. Kamu bisa lihat sekarang kan hasilnya Daniel dia menjadi anak baik, penurut dan bisa terbuka apapun padaku. Masalah sekolah, masalah apapun akan Daniel ceritakan padaku tanpa terkecuali tidak pernah ada yang dia sembunyikan"


"Tapi kalau sama aku kamu sering marah-marah sayang, kenapa coba "


"Ya kalau kamu itu berbeda. Aku ingin Daniel dan Alex bisa terbuka saja, kita harus selalu melindungi anak kita dan tahu apa saja kegiatannya agar sesuatu yang tidak kita inginkan tidak terjadi. Aku tidak mau ada masalah apapun yang mereka sembunyikan. Aku ingin mereka terbuka pada orang tuanya makanya aku selalu menyuruhmu untuk tidak terlalu keras pada anak-anak. Nanti juga kalau sudah dewasa mereka juga akan berpikir kan tidak akan seperti itu terus"


"Ya kadang aku kesal kalau mereka itu nakal, apalagi kalau sampai membuat kamu pusing "


"Namanya juga anak-anak. Memangnya di dunia ini ada anak yang baik tidak kan mereka pasti ada nakalnya dan juga ada baiknya. Kita sebagai orang tua hanya bisa membimbing mereka jangan sampai kemarahan kita ini memicu rasa takut pada mereka nantinya satu trauma juga "


"Iya sayang aku mengerti, aku keras karena mereka itu laki-laki. Nanti saat dewasa mereka harus menghadapi dunia yang begitu melelahkan ini. Aku tidak mau mereka tergantung pada kita terus saat dewasa mereka harus mandiri, mereka harus bisa menghadapi semua masalah sendirian "


"Aku sudah bilang kan ada saatnya mereka akan bisa dewasa dan mandiri. Aku tidak mau anakku dewasa sebelum waktunya, meskipun sekarang sudah terlihat di diri Daniel kalau dia dewasa sebelum waktunya dia terlalu bijak untuk jadi anak kecil"


"Kita tidur sayang ini sudah sangat malam, aku selalu percaya dengan cara kamu mendidik anak-anak "


"Tentu aku juga sudah sangat mengantuk, aku juga ingin tidur "


Lucas langsung memangku istrinya, Kat dengan refleks langsung mengalungkan tangannya ke leher sang suami.


...----------------...


"Mama kenapa bekalnya dua" Daniel binggung saat Mamanya membawa bekal lebih.


"Untuk temanmu Tamara sekalian. Ini uang untuk kamu belikan seragam dia ya, kalau masalah tentang sembako yang kita akan berikan apa neneknya akan menerimanya. Responnya saja seperti yang kamu ceritakan sudah seperti itu, Mama takut dia tidak menerimanya malah jadi tersinggung "


"Ya sudah Ma untuk masalah sembako itu nanti kita bahas lagi ya Mah. Entah kenapa neneknya itu seperti waspada sekali dengan Daniel. Terima kasih karena Mama sudah memberikan bekal ini untuk Tamara dan juga uang untuk membeli seragamnya juga"


"Iya sama-sama Mama senang kamu bisa peduli sama orang lain kayak gini. Kamu hati-hati ya di jalan kalau ada apa-apa kamu harus selalu hubungi Mama. Jangan pulang sendirian kayak kemarin, kalau emang ada kerja kelompok ya udah minta jemput di mana. Emang kamu bilang mau ke rumah Tamara kemarin tapi kamu ga bilang kan waktu pulang, Mama khawatir sayang "


"Iya Mah Daniel cuma mau belajar dewasa aja, pengen coba pulang sendiri dan coba mandiri aja. Nanti Daniel akan selalu bilang sama Mama. Tapi Daniel kemarin juga pulang sendiri ga kenapa-napa Ma "


"Iya Mama tahu kamu kemarin baik-baik saja, tapi Mama takut ada penculik atau apalah itu pokoknya Mama tidak mau sampai itu terjadi pada kamu selalu hati-hati ya"


"Pasti Ma aku pergi ya, aku sekolah dulu Ma "


Setelah berpamitan Daniel masuk ke dalam mobil dan Ayahnya juga sudah ada di sana, Kat melambaikan tangannya pada anak-anaknya dan juga suaminya yang pergi untuk ke sekolah dan tempat kerjanya.


Kat yang akan masuk ke rumah melihat ada mobil yang masuk bukannya itu mobil Daisy. Benar saja Daisy keluar dan langsung memeluknya dengan erat. Sekarang dia sedang mengandung anak pertamanya.


Akhirnya penantian Daisy dan juga Nabil terkabul juga, Kat senang sekali saat mendengar Daisy sudah mengandung.


"Kamu kenapa Daisy "


Tapi Daisy tidak menjawab malah terus sama memeluk Kat. Pasti ini masalah dengan suaminya. Daisy memang suka kabur kesini kalau sedang ada masalah. Tapi Kat tak pernah keberatan tak masalah.


"Ayo masuk dulu ke rumah, kamu ini lagi mengandung tapi nyetir sendiri Daisy "


Daisy hanya menganggukan kepalanya saja. Dia ikut masuk bersama kakak iparnya. Kalau Daniel lari kerumah Maminya yang ada diceramahi tapi kalau kerumah Kakaknya tak akan.


Mereka berdua duduk berhadapan, lalu Daisy segera menceritakan semuanya pada kakak iparnya "Aku sedang kesal dengan Nabil. Aku tidak mau pulang makanya aku datang kemari, aku sangat kesal sekali dengan Nabil. Pokoknya aku ga mau bicara sama dia. Nyebelin banget Nabil itu "

__ADS_1


"Ada masalah apa, emangnya Nabil lakuin apa sampai kamu marah kayak gini. Kasian loh Nabil kalau ditinggal sendirian "


"Dia tidak peka, aku kesel. Dia tidak mengerti apa yang aku mau. Harus selalu saja aku beritahu. Seharusnya dia peka, tapi ini boro-boro baru kalau aku marah dia ngerti. Masa sih setiap hari harus seperti itu "


"Memangnya peka dalam hal apa, mungkin dia sedang sibuk. Aku mengerti kadang ibu hamil itu sensitif dan ingin selalu dimanja. Aku juga pernah merasakannya "


"Nah benar, tapi dia tidak mengerti. Dia itu tidak mengerti apa yang aku mau, kadang aku itu selalu ingin dipeluk olehnya. Tapi dia itu harus diberi kode dulu tidak mau langsung melakukannya, kenapa sih harus seperti itu. Aku sangat kesal sekali "


"Ya sudah kamu dulu saja yang memeluk Nabil. Aku juga sering memeluk Lucas langsung seperti itu kalau dia tidak peka"


"Tidak mau, aku tidak mau seperti itu. Aku maunya Nabil saja yang langsung memelukku bukannya aku yang memeluk dia" Daisy melipat tangannya dan juga bibirnya tak lupa maju.


Kat menggaruk kepalanya yang tidak gatal, memang kan kalau sedang hamil itu suka beda-beda ya. Dulu saja waktu mengandung Alex Kat tidak suka pada suaminya, bahkan enggan untuk didekatinya. mungkin ini adalah hormon ibu hamil.


Bahkan waktu itu Kat sampai minta beda kamar dengan suaminya, saking bencinya melihat wajah suaminya. Entah kenapa tiba-tiba hal itu timbul dalam benaknya untuk membenci suaminya. Memang hanya bertahan beberapa bulan tapi suaminya malah jadi uring-uringan padanya, padahal kan itu hormon ibu hamil. Kat tidak bermaksud untuk membenci suaminya.


"Aku akan menginap di sini beberapa hari, sebelum Nabil menyadari semuanya dulu. Aku malas kalau harus pulang dan Nabil masih tak peka "


"Kamu yakin nanti kamu tidur sendiri ga ada Nabil loh, bukannya kamu ga bisa jauh-jauh ya dari suami kamu itu "


"Ga apa-apa ada Alex, aku bisa peluk Alex dia pasti lebih ngerti daripada suamiku itu harus aja disuruh-suruh dulu baru dia peka. Padahal kan dia tahu kalau aku suka dipeluk, kayaknya dia tuh memang benar-benar harus disuruh terus aku jadi kesel sendiri kan"


"Mau makan, lebih baik kamu makan saja daripada marah-marah kan pagi-pagi tidak enak"


Kat mencoba mengalihkan ke hal lain. Agar ibu hamil ini tak terus marah-marah, pasti dengan makanan akan berhasil tak mungkin tidak kan.


"Aku juga lapar sih Kat karena aku tadi langsung pergi ke sini saat Nabil pergi kerja. Dia tidak tahu kalau aku datang kemari, aku juga tak membolehkan para pelayan untuk memberi tahu suami ku yang tak peka itu "


"Nabil itu orangnya panikan kalau masalah kamu, gimana kalau nanti tiba-tiba dia telepon polisi karena kamu ga ada di rumah. Kamu pengen masalah tahun lalu kejadian lagi kayak gitu. Tiba-tiba Nabil lapor polisi gara-gara kamu ga ada padahal kamu ada di rumah Mami karena kamu lupa kasih tahu Nabil "


"Biarin aja, aku ga mau pokoknya berurusan dulu sama dia. Biarin dulu biar dia peka dulu aja. Dia itu benar-benar laki-laki ga peka, udah yu Kat lebih baik kita makan aja aku udah lapar banget. Aku selalu kelaparan setiap harinya Kat "


"Ya udah kamu sana makan, kasian Dede bayinya" sambil mengusap perut adik iparnya.


"Iya aku makan dulu deh "


"Iya makan lah"


Kat hanya bisa mengelengkan kepalanya dengan kelakukan Adik iparnya ini. Ada ada saja. Sudah tiga kali Daisy seperti ini. Pasti ada saja kelakuannya ini.


Pertama,karena Nabil bau membuat Daisy muntah-muntah katanya suaminya itu bau dan dia tak mau dekat dengan suaminya, yang kedua setelah masalah itu hilang beralih pada Nabil yang cerewet dan sekarang yang terakhir Nabil tidak peka.


Entahlah lah Kat pusing dengan adik iparnya ini. Nanti Kat akan menelpon Nabil saja setelah Daisy lengah. Kasian juga nanti Nabil mencari Daisy.


Kat menghampiri adik iparnya yang sedang makan dengan lahap Daisy seperti belum makan beberapa hari saja. Untung saja Kat tadi masak banyak kan kalau tidak sudahlah ibu hamil ini akan kelaparan.


"Kamu udah ga makan berapa hari Daisy "tanya Kat.


"Aku belum makan pagi aja sih. Kalau hamil tuh rasanya lapar banget, lapar terus emang kamu dulu ga lapar ya kok badan kamu dulu ga segemuk aku ya. Aku gemuk banget tahu ga sih kiloannya tuh naik terus bahkan kadang 3 KG 4 kg sedih banget deh. Semakin besar perut aku semakin bertambah berat badan aku ini "


"Ya ga masalah namanya juga lagi hamil, setiap orang beda-beda ga akan sama, tapi kamu udah USG kan kamu ga pernah mau bilang anak kamu laki-laki atau perempuan"


"Rahasia nanti saat lahir kejutan, pokoknya aku ingin keluarga tahunya nanti saat lahir aja biar kejutan "


"Oke deh aku tunggu kejutan dari kamu itu"


"Tentu, tunggu saja ya kejutan dari aku"


Daisy kembali melanjutkan makannya. Kat tak ikut makan hanya menatap adik iparnya itu saja. Melihat adik iparnya makan malah membuat Kat kenyang terlebih dahulu.


Kat jadi curiga apakah Daisy hamil anak kembar, karena perutnya sangat besar sekali dulu Kat waktu 8 bulan tidak sebesar itu tapi dai sangat besar.


"Kat ini kamu ga mau ikut makan "


"Engga, kamu aja ya aku kan tadi udah sama suami dan anakku sekalian tadi "


"Aku habisi ya "


"Iya habiskan saja"

__ADS_1


__ADS_2