
Kembali pada sudut pandang Kat.
Aku yang baru saja sampai di kelas dan baru saja sampai di meja ku melihat ada sebuah kotak bekal makan. Ini punya siapa coba.
Aku mengambil kotak makan itu "Ini punya siapa ya "
Saat aku melihat kearah mejaku lagi, ada sebuah surat. Aku dengan cepat mengambilnya dan membacanya..
Sayang ini bekal makan siang untukmu, maaf jika tak enak makanannya aku membuatnya sendiri. Maafkan aku ya telah melukaimu. Aku janji padamu aku tak akan melukaimu lagi. Oh ya cincinya pas ya sampai-sampai tak bisa lepas dari tanganmu.
Aku yang kaget kalau cincin itu ada ditangan ku segera mengeceknya dan benar saja ada cincin itu. Kenapa aku tak sadar kalau aku sudah memakai cincin lagi.
Kapan aku memakainya tak mungkin kan Abang datang ke rumahku dan memakaikan cincinya padaku. Tidak ini tidak mungkin. Kalau iya Abang yang memakaikan kapan dia pakaiannya kan.
"Kat kenapa malah ngelamun bukannya duduk "
"Eh Dian, aku lagi liat kotak makan "
"Ngapain kotak makan diliatin suka aneh aja deh "
"Ya aku kan pengen tahu dari siapa gitu "
"Siapa lagi kalau bukan Pak Lucas pacar kamu. Kamu beruntung loh dapetin Pak Lucas. Dia itu ganteng, pinter, udah mapan dan perhatian deh sama kamu "
Aku duduk termenung, Dian tak tahu saja bagaimana Abang yang sebenarnya. Kalau dia sampai tahu mungkin dia tak akan memuji Abang seperti ini.
"Lah kenapa malah melamun "
"Ga kok, cuman pengen aja "
"Kamu ga suka ya jadi pacarnya Pak Lucas padahal dia baik lo"
"Mungkin, karena banyak banget yang bikin aku ragu Dian. Aku juga masih ga percaya kalau aku pacaran sama dia. Rasanya aneh aja "
"Nanti juga terbiasa kok. Oh ya kok udah lama ya ga liat Darwin "
"Darwin itu sakit, kalau tidak salah dia sudah tak bisa melihat "
"Maksudnya tak bisa melihat bagaimana "
"Kata Dimas sih matanya ada yang mencongkel, malah dia menyalahkan ku padahal aku tak tahu apa-apa. itu sebabnya aku pindah rumah dan memisahkan diri dari mereka semua. Tapi aku malah masuk kandang yang lebih berbahaya lagi "
"Hah kandang lebih berbahaya, maksud mu Pak Lucas berbahaya "
"Hemm, begitulah kau nilai sendiri, aku tidak mau membuka aib orang lain "
"Ada apa sih sebenarnya dengan hubungan mu ini. Siapa tahu aku bisa bantu "
"Jangan pernah kau terlibat Dian, aku tak mau sampai kau terluka. Sungguh jangan berurusan dengannya"
__ADS_1
"Aku makin pusing Kat "
"Hei teman-teman lagi ngerumpi apa sih "
Aku menatap Ale dan tersenyum "Tak ada, kami tidak merumpi kok "
"Huuh dasar laki-laki rumpi "
"Eh tunggu Kat sekarang bekal ya "
"Engga dia dikasih sama pacarnya makanya punya pacar song " jawab Dian.
"Sini Kat biar aku saja yang makan. Dia itu laki-laki Playboy jangan dikasih hari terus lah"
"Kata siapa sih Pak Lucas Playboy. Kamu yang playboy Ale "
"Ahh diam kau Dian. Berhubung aku belum makan sini Kat aku makan "
Ale langsung merebut kotak makan itu. Tapi Dian kembali merebutnya "Ga boleh udah sana kekantin aja"
Dian menyimpan kotak bekal itu didalam tasku lalu dia mengusir Ale, Ale tak banyak bicara dia langsung berlari keluar dan yang pasti dia pergi ke kantin.
"Kita belum selesai bicara Kat, terus sekarang Darwin gimana "
"Aku juga ga tahu sekarang dia gimana. Aku ga pernah kontekan lagi sama dia "
"Gimana kalau kita lihat keadaannya "
"Baiklah kita pulang sekolah pergi kesana "
"Oke kita pergi kerumahnya "
"Emangnya kamu tahu rumahnya Dian "
"Tahu, udah tenang aja aku pernah kok pulang bareng dia. Jadi aku tahu dimana rumah dia "
"Yaudah deh "
"Kita pulang sekolah langsung kesana ya "
"Iya "
Aku membuka buku pelajaranku dan membacanya, takut-takut nanti tiba-tiba saja ulangan harian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Makan apa nih kita hari ini " tanya Ale pada kami berdua.
"Emm, beli seblak dulu yu" Ajakku tiba-tiba saja aku mau seblak, kayaknya enak aja gitu siang-siang gini makan seblak.
__ADS_1
"Boleh tuh " jawab Dian dengan semangat.
"Akh ga asik " protes Ale pada kami.
"Yaudah kalau ga mau ga masalah, kamu beli yang lain aja Ale, kita juga makan masih satu meja dan sama-sama kan " aku mencoba memberi solusi.
"Emm, yaudah deh ah seblak aja kayak kalian dah lama juga ga makan seblak "
"Ih dasar aneh ya " teriak Dian
"Biarin aja. Kan bisa berubah ubah pemikiran kita ini"
"Ya deh iya gimana Ale aja "
Setelah memesan seblak mereka bertiga segera duduk, Kat yang tak sengaja melihat ibu Carolet duduk sendiri hanya tersenyum.
Tak biasanya dia sendiri, biasanya sama Abang. Kok aku jadi ingat Abang ya. Jangan sampai itu terjadi aku harus bisa melupakan Abang aku ga mau terjerumus dan disakiti sama dia.
"Kat liatin apa sih, ini seblak kamu "
"Oh iya "
"Sini biar Ale tiupin "
Ale mengambil seblak ku dan benar saja dia melakukan apa yang dia katakan. "Yang aku juga. Masa sih punya Kat aja "
"Yaudah sini-sini kenapa sih ga bisa dinginin sendiri"
"Ga adil ya kamu "
"Iya iya udah sini bawel banget sih ni anak "
Tak lama kemudian aku melihat Abang ada disini, dikantin dia mendekati Bu Carolet dan mereka makan bersama.
Sungguh pasangan yang luar biasa, mereka begitu akur dan cocok kalau menikah mereka akan sangat serasi kan. Aku juga bisa terlepas dari Abang. Tapi ada rasa aneh didalam hatiku seperti sesak dan perih.
"Kat ini cepat makan seblakmu sudah dingin "
Aku segera mengambil seblakku dan rasanya jadi tak enak saja. Aku jadi tak berselera saja. Huff aku tak mau melihat mereka lebih baik aku sekarang pergi ke perpustakaan saja.
Aku langsung bangkit dan teman-temanku langsung menatapku "Mau kemana kamu Kat " tanya Dian yang binggung.
"Aku mau keperpustakaan dulu, lupa hari ini aku harus balikin buku "
"Harus banget ya sekarang "
"Iya aku harus balikin hari ini, yaudah aku balikin dulu ya "
Aku bergegas pergi, dan aku juga melewati mereka berdua, aku sama sekali tak menatap mereka dan dihadapanku sekarang ada Dimas. .
__ADS_1
"Kita bicara sebentar Kat, ini penting. Aku janji ga akan lukain kamu "
Tanganku langsung ditarik oleh Dimas dan aku tak tahu akan dibawa kemana olehnya. Semoga saja dia tak melukaiku seperti apa yang dia katakan.