
"Apa yang kamu lakukan padaku bibi Marry mungkin saja kamu kan yang memberikan racun di makananku itu"Barulah sekarang Tamara berbicara setelah sedikit menenangkan pikirannya, dirinya ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi
"Setega itukah kamu memfitnah aku Tamara. Mana mungkin aku meracunimu. Tak habis pikir aku kamu akan berbicara seperti itu padaku. Kapan aku berani meracunimu, kalau aku mau juga dari kecil mungkin aku sudah meracunimu Tamara"
"Kamu marah kan tentang yang tadi malam, mungkin kamu ingin membalas dan memberikan aku racun memberikan makananku racun, aku terakhir kali memakan makanan darimu. Memakan rujak itu setelah itu aku malah masuk rumah sakit kan. Kalau bukan kamu Bibi siapa lagi yang meracuniku, memangnya ada yang berani melakukan itu padaku"
Bibi Merry langsung membelakangi Tamara "Ternyata kamu memang begini ya tidak percaya pada Bibi, padahal Bibi dari dulu yang mengurus kamu. Tapi kamu malah mencurigai Bibi seperti ini, memangnya yang ada di rumah itu Bibi saja banyak kan orang di sana bukan hanya bibi. Kalau memang benar Bibi yang meracuni kamu, mana mungkin Bibi mau mengantarmu ke rumah sakit mungkin Bibi sudah kabur"
Bibi Merry kembali menatap Tamara, "Bibi sama sekali tidak melakukan itu, tapi ada satu orang yang bibi curigai. Bibi tadi melihat Lea memasukkan sesuatu pada makananmu, pada rujak mu itu bibi baru ingat. Bibi kira dia memasukan vitamin untukmu Tamara "
"Lea, bukannya dia datang sesudah kamu membuatnya dan memberikannya padaku ya" Tamara masih menyangkal dan tidak percaya.
"Kata siapa, dia datang saat aku membuat rujak itu, lalu dia menaburkan sesuatu pada makananmu itu, aku juga sudah bertanya itu apa tapi katanya ini untuk kesehatan janin kamu. Makanya bibi membiarkannya, bibi tidak tahu itu apa, makanya Bibi hanya diam saja dan tidak menegurnya, bibi berfikir karena dia temanmu"
"Tapi mana mungkin Lea yang melakukan itu, mana mungkin Lea berani meracuniku dia adalah temanku. Dia tidak mungkin melakukan, aku yakin dia tak akan mungkin melakukan itu bi, mungkinkah dia setega itu padaku Bi "
"Kamu yakin temanmu tidak akan melakukan itu, siapa tahu dia ingin merebut hartamu. Apalagi sudah tidak ada suami kamu kan mungkin saja dia ingin bekerja di tempatmu atau menggeruk semua hartamu. Kamu jangan terlalu percaya pada orang yang belum kamu kenal lama, sedangkan kamu bersama bibi kan sudah kenal dari dulu dari kecil mana mungkin Bibi tega memberikan kamu racun kan. Bibi tidak akan pernah setega itu padamu Tamara "
Tamara memalingkan wajahnya, dia masih binggung siapa yang telah melakukan ini padanya, masa iya Lea temannya apakah sekejam itu Lea padanya. Dendam apa yang Lea punya padanya sampai-sampai meracuninya seperti itu.
"Lebih baik nanti kamu coba untuk datang ke rumahnya, coba kamu periksa jaket yang Lea gunakan dia menggunakan jaket berwarna army, yang sering dia pakai siapa tahu ada petunjuk di sana. Jaket yang pernah kamu berikan padanya. Kamu masih ingat kan"
'Baiklah nanti aku akan mengeceknya ke sana. Jika sampai itu salah berarti kamu yang telah meracuniku Bibi Merry. Mungkin kita sudah kenal lama tapi aku tidak tahu di dalam hatimu dan dalam pikiranmu kamu sedang merencanakan apa untuk kematianku"
"Silakan jika sampai aku yang bersalah aku siap menanggung semua hukuman yang akan kamu berikan, aku tidak akan melawan aku akan mengikut mu. Bahkan aku bersedia jika harus kamu kurung seperti ibumu" Merry terus menyakinkan Tamara dirinya juga tak mau kalau sampai ketahuan. Dirinya ingin aman. Kalau urusan Lea sih terserah Tamara saja mau diapakan juga terserah.
"Aku pegang kata-katamu itu, awas saja sampai kamu ingkar dan malah kabur nantinya "
Bibi Merry mengangkat jempolnya. Bibi Merry pindah ke kursi panjang dia ingin meluruskan kakinya dia juga diam tidak memainkan ponselnya, tidak mau membuat Tamara curiga dan malah menuduhnya yang tidak-tidak.
Tamara pasti akan curiga padanya, sekecil apapun dia bergerak atau memegang ponsel pasti Tamara akan berpikir kalau dia sedang bertukar pesan dengan orang lain dan merencanakan untuk kabur. Jadi sekarang dirinya hanya bisa melamun menunggui anak perempuan ini yang tidak bisa mati-mati.
...----------------...
Hasil dari rumah sakit sudah keluar, tapi racunnya tidak ditemukan jenis apa. Jadi Tamara juga sudah pasrah tidak memperdulikan itu yang terpenting dia dan juga anaknya selamat, sekarang dia datang ke rumah Lea.
Tamara benar-benar datang ke rumah Lea, saat dia baru saja keluar dari rumah sakit. Karena dia ingin membuktikan semua perkataan Bibi Merry. Jika dia sampai berbohong lihat saja apa hukuman yang akan dirinya lakukan pada Bibi Merry, mungkin akan lebih dari apa yang ibunya rasakan.
Tamara benar-benar menggeledah jaket yang digunakan oleh Lea dan benar saja ada dua bungkusan kecil di dalam jaket Lea ini. Dengan geram Tamara mengambil air dan menyiramkannya ke wajah Lea tanpa belas kasih sama sekali.
Kenapa dia bisa masuk, karena Tamara punya kunci cadangan rumah Lea. Lea sendiri dulu yang memberikannya pada Tamara. Bukan Tamara yang meminta.
"Tamara apa-apaan sih, aku lagi tidur tiba-tiba kamu siram aku ada apa sih, kalau mau bangunin kan bisa dengan cara baik-baik, nggak usah kayak gitu juga. Kamu ini sebenarnya kenapa sih"
Tamara melemparkan bungkusan yang tadi dia temukan. Lea masih bingung dia hanya diam bengong melihat bungkusan itu "Gimana suka lihat aku mati, sampai-sampai kamu ngeracunin aku buat apa Lea, selama ini kamu benar-benar ya manfaatin aku aja dan sekarang kamu mau ngeracun aku. Apa gunanya kamu lakuin itu sama aku Lea, kamu udah menodai pertemanan kita berdua, padahal aku udah percaya sama kamu"
"Meracun kamu, apaan sih aku sama sekali nggak ada niatan buat ngeracunin kamu maksud kamu apaan sih. Baru aja aku kemarin datang ke rumah kamu, tapi aku malah difitnah kayak gini. Aku bener nggak tahu apa-apa jelasin dong yang baik-baik, jangan kayak gini "
"Itu udah ada buktinya loh, kamu mau ngelak gimana lagi, kamu mau bohong lagi sama aku l. Kamu udah kasih racun di rujak aku yang kemarin aku sampai ke rumah sakit dan pendarahan. Gimana kalau anak aku sampai kenapa-napa emangnya kamu mau tanggung jawab. Apa kamu bisa gantiin anak aku "
"Aku juga makan rujak itu kok, tapi aku nggak kenapa-napa, aku nggak sampai ke rumah sakit kalau sampai kamu ke rumah sakit, aku pun sama akan masuk rumah sakit. Kamu bisa ga sih duduk dan bicara sama aku baik-baik ga kayak gini "
Tamara tersenyum sinis"Mana mungkin orang yang mau meracuni malah racun dirinya sendiri gila jadi orang aku udah tahu semuanya, kalau kamu itu ternyata cuman mau harta aku aja kan sampai-sampai kamu mau racunin aku. Padahal aku udah tawarin kamu untuk kerja di kantorku apa masih kurang hah"
Lea langsung menghampiri Tamara dan menggelengkan kepalanya "Untuk apa aku melakukan itu Tamara, kita udah berteman lama loh. Terus buat apa aku tiba-tiba mau ambil harta kamu. Aku ga ada niatan buat lakuin itu, aku sama sekali ga kepikiran sampai sana, buat apa aku ambil harta kamu emangnya ada gunanya buat aku nggak ada. Udahlah kita selidiki sama-sama pasti bakal ketemu siapa dalang dari semua ini. Jangan malah bertengkar kaya gini dong ah Tamara. Aku lagi cape nih Tamara jangan ajak aku debat "
__ADS_1
"Tetap aja kamu emang bener-bener pengen aku mati dan sekarang aku yang akan membuat kamu mati. Aku ga akan segan-segan bunuh kamu "
Tamara langsung menikam Tamara, dia menusuk-nusukan pisau itu dengan sembarangan. Bahkan ada yang mengenai wajah Lea. Lea yang memang tidak siap fia hanya bisa pasrah dia menjambak rambut Tamara, tapi kekuatannya itu kalah dengan Tamara. Lea hanya bisa menahan kesakitan di tubuhnya tusukan itu terus saja menghujam tubuhnya.
Lea tak bisa melawan, dia hanya bisa merasakan sakit yang bertubi-tubi diseluruh tubuhnya. Apalagi saat mengenai wajahnya begitu sakit sekali.
Tamara bangkit saat melihat Lea sudah tidak bernyawa, dia menatap Lea yang sudah penuh dengan tusukan yang dia berikan. Darah pun sudah memenuhi tubuhnya dan wajahnya. Setelah itu Tamara langsung meninggalkan Lea.
Sedangkan Tamara dia masuk mobil begitu saja, seperti semuanya sedang tidak terjadi apa-apa. Untungnya juga belum banyak orang jadi tidak ada yang melihat kelakuan yang dilakukan oleh Tamara.
Bibi Mery juga ikut dengan Tamara, bibi Merry menatap darah yang ada di tubuh Tamara "Bagaimana aku benar kan di dalam jaketnya Lea itu ada racun yang kamu maksud. Aku tidak pernah berbohong kan padamu aku selalu jujur padamu Tamara. Lihatlah aku pergi tidak"
Tamara masih mengatur nafasnya, dia menyimpan pisaunya kembali ke tempatnya lalu menatap bibi Tamara "Sekarang aku tahu siapa orang yang telah meracuniku tapi jika suatu saat aku keracunan lagi berarti itu adalah ulahmu. Maka aku akan menghabisimu langsung di tempat tanpa ada rasa belas kasih sedikitpun. Seperti aku menghabisi Lea"
"Ya aku mengerti aku juga tahu konsekuensi yang harus aku terima. Apa gunanya juga aku meracunimu kalaupun aku mau hartamu mungkin dari dulu aku sudah mengambilnya saat kamu masih kecil dan mengambil semua perhiasan ibumu, tapi aku tidak melakukan kan. Aku bekerja dengan jujur dirumah mu"
Tamara mengusap darah yang mengucur ke arah matanya "Jalan sekarang kita pulang ke rumah"
Mobil segera melaju meninggalkan rumah Lea. Tamara tidak peduli dengan polisi ataupun yang lainnya. Toh polisi pun akan sulit menangkapnya nanti. Yang terpenting sekarang hatinya puas dulu saja.
Bibi Merry hanya bisa tersenyum dalam hati, dia begitu senang dengan rencananya yang berhasil. Ternyata semudah itu memfitnah orang lain.
Dirinya harus mencari tumbal lagi, aku takut nanti Tamara tidak mati pasti dirinya yang akan di incar olehnya, tapi tenang saja ada Lucas yang akan melindunginya sampai nanti.
flashback on
Bibi Merry saat melihat Lea masuk ke kamar Tamara dan melihat jaket yang ada di sana langsung tersenyum senang, itu adalah sebuah kesempatan untuk dirinya membuat Lea dan juga Tamara bertengkar.
Bibi Merry memasukkan bubuk racun yang tadi dia bawa, dia menyimpannya dengan sangat hati-hati jangan sampai nanti Lea menemukannya dan membuangnya. Bisa gawat, dirinya harus pintar-pintar menyimpan semuanya jangan sampai ketahuan oleh Lea.
Bibi Merry kembali duduk dan menunggu kedatangan Lea untuk kembali lagi ke sini. Tak lama kemudian Lea datang dan mengambil jaketnya "Bi aku pulang dulu ya aku harus bekerja. Pekerjaanku sedang banyak-banyaknya jadi aku harus mengerjakan semuanya dengan cepat, nanti saat lahiran aku akan menemani mu menjaga Tamara, aku akan ambil cuti bi aku pulang ya Bi "
"Tentu silakan Lea, yang semangat ya kerjanya Bibi nanti punya teman kalau kamu datang saat lahirannya Tamara, jadi Bibi tidak sendirian kan ada teman mengobrol. Kamu juga harus hati-hati ya Lea, kalau ada yang menyerang kamu harus melawan ya dunia ini kejam Lea"
"Iya bi aku titip Tamara ya, jangan sampai obatnya lupa diminum Bi. Kalau misalnya obatnya lupa diminum nanti dia kambuh lagi bi, aku memang sudah jarang pergi ke sini karena memang pekerjaanku yang sangat banyak dan aku tidak bisa meninggalkannya. Memangnya aku harus melawan tadi siapa bi"
"Iya Bibi akan selalu mengingatkan Tamara untuk selalu minum obatnya, kamu tenang saja ya Bibi akan selalu memperhatikan temanmu itu sepertinya kamu sangat menyayangi Tamara. Ya intinya jika ada yang menyerangmu kamu harus selalu waspada dan balik menyerang saja jangan pernah takut, meskipun nanti kamu harus dipenjara"
Lea sempat mengerutkan keningnya "Ya begitulah bi, aku sangat menyayanginya karena dia temanku satu-satunya apalagi hanya dia yang mengerti aku dan selalu ada saat aku terpuruk. dia adalah teman terbaikku makanya aku tidak mau sampai hubungan pertemanan kita ini memburuk"
"Baguslah memang Tamara membutuhkan seorang teman. Dia harus waras setiap hari kan, jangan sampai dia menjadi gila dan semuanya berantakan "
"Ya bi, aku tidak mau sampai Tamara kembali seperti dulu lagi. Ya sudah aku pulang dulu ya bi, dadah bibi sampai ketemu lagi "
Bibi Merry hanya menganggukan kepalanya, dia tersenyum senang rencananya akan berhasil. Dirinya tidak akan dicurigai kalau selama inilah dirinya yang memberikan bubuk-bubuk itu pada makanan Tamara.
Kita lihat pertengkaran pertemanan mereka, apakah akan saling membunuh apakah nanti Tamara akan mati di tangan temanmu sendiri, kita saksikan saja nanti peperangan antara mereka berdua.
Pasti akan sangat menyenangkan sekali. Rasanya tak sabar sekali dirinya ingin melihat itu. Itu adalah kejadian yang langka kan.
flashback off
"Ayo Tamara turun ini sudah sampai rumah. Kamu akan terus diam di mobilmu, apakah kamu tidak merasa jijik dan bau amis dengan darah itu, ayo cepat turun lah"
"Apakah aku salah membunuh Lea, kenapa aku baru berpikir sekarang kalau aku menyesal telah melakukan itu pada Lea. Bisakah kita kembali lagi untuk mengecek keadaan, aku sangat khawatir dengan keadaan Lea, bagaimana dia sekarang"
__ADS_1
"Memangnya apa saja yang kamu lakukan pada Lea, sampai kamu penuh darah seperti ini. Aku tidak tahu kan apa yang kamu lakukan di sana, karena aku tidak ikut denganmu"
"Aku menikamnya, aku memberikan beberapa tusukan pada tubuhnya dan wajahnya aku menusuknya secara acak "
"Sudah pasti dia tidak bisa terselamatkan, lalu kamu ingin datang ke rumah Lea dengan pakaian seperti ini penuh darah, apa kamu ingin dicurigai dan masuk kantor polisi. Apa kamu ingin dipenjara apa kamu sudah bosan hidup"
"Tapi bagaimana dengan keadaan Lea, aku sangat khawatir dengan keadaannya. Dia temanku satu-satunya dia yang selalu ada untukku dia yang selalu mengantar aku berobat. Kenapa aku sampai buta seperti tadi dan menikamnya seperti itu"
"Ganti bajumu dulu, baru kita akan pergi ke sana. Aku tidak mau membawamu ke sana dengan keadaan seperti ini. Mau kamu dicurigai oleh semua orang dan kamu yang nanti diseret ke kantor polisi, ayo cepat sana aku tidak mau nanti terbawa-bawa yah kalau kamu masuk ke kantor polisi"
Tanpa banyak bicara lagi Tamara segera masuk ke dalam rumah, sedangkan Bibi Merry tidak turun dari mobil nanti juga toh pergi lagi kan mereka. Lebih baik menunggu di mobil saja mau apa mengikuti Tamara capek-capek bolak-balik masuk keluar mobil.
Kembali bibi Merry mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan pada Lucas. Pokoknya setiap saat dirinya harus mengirimkan perkembangan yang dilakukan olehnya agar Lucas tidak menganggapnya kalau dia hanya kerja pura-pura saja.
Aku sudah membuat Tamara dan juga temannya Lea bertengkar, sampai-sampai Tamara menikam Lea. Mungkin dia sudah mati sekarang. Aku memfitnahnya kalau Lea lah yang telah memberikan racun itu dan otomatis Tamara percaya dan malah menikam temannya itu
Katanya sekarang dia menyesal, aku bingung harus melakukan apa lagi. Ayo beri tahu aku langkah selanjutnya Lucas, aku tidak mungkin terus pura-pura baik di hadapannya. Cepat balas pesanku yang kemarin saja belum kamu balas, balas lah jangan membuatku menunggu.
Apa kamu juga menubalkanku untuk dibunuh oleh Tamara cepat balas, aku butuh jawaban aku tidak mungkin bergerak sendiri seperti ini, sedangkan kamu yang menyuruhku hanya diam berleha-leha seperti itu, aku harus melakukan apalagi aku sudah bingung dan buntu.
Bibi Merry seperti biasa menghapus kembali pesannya dan menyimpan kembali ponselnya. Dia menunggu Tamara cukup lama, Tamara yang sudah berganti pakaian dan bersih sekarang tidak ada darah masuk lagi ke dalam mobil dan menyuruh supirnya untuk kembali lagi ke rumah Lea.
Baru saja mereka sampai ternyata rumah itu sudah dikerumuni oleh tetangga-tetangga yang ada di sana. Tamara hanya bisa diam mematung melihat pemandangan itu, dia juga melihat ada kantung jenazah yang dibawa dari rumah itu serta ada ambulans juga.
"Aku sudah membunuh Lea, bagaimana ini aku telah menghabisi temanku sendiri. Bagaimana Bibi Merry aku sudah membunuhnya. Bagaimana aku bingung"
Bibi Merry langsung memeluk Tamara dengan erat "Sudah Bibi bilang kan dari awal jangan menggunakan kekerasan. Kenapa bisa kamu sampai membawa pisau ke rumah Lea, seharusnya bibi tadi ikut kenapa kamu melarang Bibi untuk ikut kamu masuk rumah Lea, jadi seperti ini kan kejadiannya kamu pasti akan berurusan dengan Polisi. Kamu tidak akan pernah dilepaskan oleh Polisi apalagi sampai ada sidik jari kamu yang tertinggal kacau semuanya Tamara"
Tamara malah menangis dia menutup wajahnya, dia tidak menyangka kalau dirinya sendiri akan menghabisi nyawa temanmu dengan sangat sadis sekali. Padahal kan semuanya bisa dibicarakan baik-baik dulu, tidak dengan kekerasan seperti ini dirinya sudah membunuh temannya yang selalu menemaninya selama ini.
Dalam pelukan itu bibi Merry tersenyum apakah dirinya harus melumpuhkan Tamara dari mentalnya, mungkin itu bisa saja. Mungkin saja nanti Tamara stress dan bunuh diri jadi dirinya tak usah repot-repot untuk memberikan racun seperti itu.
Menyerang mentalnya itu lebih baik, daripada harus beresiko memberikan racun setetes demi setetes ke dalam makanannya, tapi ya sudahlah nanti tunggu saja instruksi dari Lucas bagaimana kedepannya, karena dirinya juga tidak mau gegabah dan nanti sampai ketahuan.
"Lalu sekarang bagaimana, apa kita akan terus diam di rumah Lea. Apakah kita akan terus diam di depan rumah ini sampai ketahuan Tamara, lebih baik kita pulang saja tenangkan dulu dirimu"
"Aku harus ke rumah sakit sekarang, aku harus melihat dulu keadaan Lea. Aku ingin mematikan sendiri bibi Merry "
"Baiklah ayo jalankan mobilnya, kita ke rumah sakit ikuti saja mobil ambulans itu. Cepat ayo ikuti "
Mobil kembali berjalan, benar saja mengikuti ambulans yang pergi baru beberapa menit itu. Untungnya mereka masih bisa mengejarnya dan Tamara juga tidak mau masuk ke dalam rumah Lea dan melihat TKP.
Karena sungguh dirinya tidak menyangka kalau dirinya akan setega itu pada temannya sendiri, sampai menghabisinya dan menusuknya beberapa kali mungkin bukan beberapa kali, tapi puluhan kali karena banyak sekali yang dia tusukan pada tubuh Lea itu.
Bagaimana nanti dirinya menjelaskan pada kedua orang tua Lea, apakah dirinya sanggup untuk bertemu dengan mereka, sedangkan dirinya sendirilah orang yang telah membunuh Lea. Padahal orang tua Lea sudah baik padanya. Kenapa pikirannya malah seperti itu.
"Bibi bagaimana aku takut sekali. Kalau misalnya tiba-tiba Polisi datang ke rumah aku harus menjelaskan apa, apakah aku harus jujur saja"
"Ya mungkin itu konsekuensinya untukmu. Kenapa kamu gegabah sampai menusuk Lea. Bibi sudah bilang kan jangan sampai kamu menyakiti Lea. Ya seharusnya bicara baik-baik semuanya bisa kan diselesaikan baik-baik tanpa harus ada kekerasan"
"Kenapa bibi selalu memojokkanku, bukannya Bibi memberiku solusi" Tamara sudah sangat frustasi.
"Mau memberi solusi bagaimana, semuanya sudah terjadi bibi juga bingung. Masa kamu yang melakukan bibi yang harus bertanggung jawab. Bibi kan hanya menyuruhmu untuk melihat apakah benar ada di jaket itu racun yang diberikan oleh Lea. Bibi tidak menyuruhmu untuk membunuh Lea kan. Bibi hanya menyuruhmu untuk melihatnya saja tidak sampai untuk mempengaruhi mu, jadi jangan bawa Bibi kalau misalnya kamu ditangkap oleh Polisi"
Tamara tidak menanggapinya lagi, dia menangis Takur sekali rasanya dirinya ini.
__ADS_1