Psychopath 2

Psychopath 2
Bab 283 Berbalik sekarang


__ADS_3

Valeria terbangun dengan tangan dan kaki yang sudah diikat, tapi dia tenang-tenang saja seperti semuanya baik-baik saja. Tamara yang ada di pojokan kaget melihat tingkah Vio yang seperti itu kenapa dia diam saja dan seperti biasa-biasa saja. Seperti tak ada yang terjadi, Tamara jadi ragu apakah ini benar-benar Vio atau bukan, karena memang sangat berbeda sekali.


Tamara segera mendekati Valeria dan berjongkok di hadapan Valeria, tapi Valeria langsung meludahi wajah Tamara. Tamara yang kesal langsung menampar wajah dari Valeria, tak segan sama sekali Tamara melakukan hal itu.


"Berani sekali kamu padaku, aku bunuh kamu di sini baru tahu rasa kamu ya, aku tak suka perempuan seperti kamu Vio sok berani padahal apa kamu itu penakut, kalau saja dulu Daniel tak melindungi kamu, kamu tak akan bisa seperti ini, kamu itu penakut, cenggeng dan itu sangat menjijikan sekali "


"Silakan saja bunuh aku. Aku ingin tahu kamu akan benar-benar membunuhku atau tidak. Orang yang selalu aku bully dulu apakah akan bisa menghabisi aku, aku ingin tahu saja seberapa kuat kamu melawan ku, kamu itu dari dulu kan seorang pengecut, kamu itu sangat mudah aku kalahkan, kamu tak ada apa-apanya tahu "


Tamara sampai melotot kan matanya saat mendengar itu, berarti yang dia tangkap adalah Valeria jadi yang mendatanginya adalah Valeria bukan Vio, kenapa bisa kecolongan seperti ini kenapa bisa. Pantesan sangat berbeda sekali dari gelagatnya semuanya berbeda sekali ternyata ini memang bukan Vio dirinya benar-benar di jebak.


"Kenapa jadi takut jangan takut, aku tidak akan menggigit kamu. Bahkan kamu saja mengikat kaki dan tanganku bagaimana aku bisa melukaimu Tamara, jadi kondisikan wajahmu itu aku malah ingin tertawa tahu melihat ini, sungguh lucu sekali wajahmu itu "


Tamara memundurkan langkahnya, bukan orang ini yang mau dia sakiti kenapa malah menjadi Valeria yang dia tangkap, kenapa juga dirinya tak bisa membedakan mereka berdua, saat tadi sore masuk kedalam rumah seharusnya dirinya bisa membedakannya dulu kan, tidak gegabah seperti ini.


"Masih takut ya denganku. Padahal aku seperti ini loh aku tidak melakukan apa-apa masih ingin melukai Vio, apa sih faedahnya untuk kamu hem, kenapa kamu begitu ingin melukainya, punya masalah apa sih Vio sama kamu sampai-sampai kamu melakukan ini "


Tatapan Tamara langsung beralih pada Valeria "Aku akan tetap melukai saudaramu itu, untuk membalaskan segalanya untuk membalaskan apa yang kamu lakukan juga padaku dan satu lagi, Daniel juga aku akan melampiaskannya pada orang lemah seperti Vio"


"Lucu sekali aku ada disini, kenapa tak padaku saja dasar pengecut, hanya bisa melampiaskan kesalahanmu pada orang lain, jika ingin membalaskan apa yang terjadi denganmu maka dengan orang yang melakukannya saja, jangan malah mencari orang lain yang lemah darimu. Sebenarnya kamu ini lemah sangat lemah sekali Tamara, sampai-sampai kamu tidak bisa meladeni aku ataupun Daniel "Valeria sengaja untuk menjatuhkan mental Tamara, agar Tamara tak berani.


Susah juga melawan Tamara dengan keadaan seperti ini, Valeria juga sekarang sedang mencoba untuk melepaskan ikatannya tapi sulit sekali, sangat sulit rasanya melepaskan ini.


"Aku tidak pernah lemah kamu yang lemah, adikmu yang lemah kalian yang lemah aku tidak terima dengan apa yang kalian lakukan padaku. Aku begitu muak terus kamu injak-injak Valeria"


Maka balaskan lah ke kesalan mu itu langsung padaku, pada orangnya jangan pada orang lain seperti pengecut. Dasar perempuan pengecut dari dulu kamu emang pengecut tahu Tamara, kamu itu tidak punya nyali dari dulu hanya mungkin sekarang karena punya antek-antek jadi berani, benar tidak tebakan ku pasti benarkan aku tak pernah salah.


Kembali Valeria ditampar oleh Tamara, tapi Valeria malah tertawa bahkan sampai terbahak-bahak "Tak ada sakitnya Tamara memang kamu tak pantas jadi orang seperti itu, mana lebih keras lagi dong dasar perempuan pengecut dari dulu kamu memang pengecut, s pengecut tidak tahu diri kamu ini "


Sebenarnya Valeria sakit ditampar seperti ini, tapi ya mau bagaimana lagi Valeria tak suka dilihat lemah dihadapan orang seperti Tamara, tapi dia ingin menghancurkan mental Tamara, dia ingin Tamara tidak bisa berkutik lagi. Tamara tidak bisa melawannya lagi dari dulu kan dia suka menghancurkan mental orang lain.


Maka sekarang Valeria akan mempermainkan perasaan Tamara, itu lebih baik kan dari pada diam saja dan menangis, itu benar-benar bukan tingkahnya sama sekali.


"Diam ya, aku tidak suka kamu tertawa seperti itu. Aku muak mendengar suara kamu itu aku tak suka benar-benar tidak suka aku ini "


"Ini mulutku punyaku lalu apa masalahnya denganmu, mau aku tertawa ataupun tidak itu bukan urusanmu. Kamu tak punya hak, ini hidupku pengecut, jika ingin ikut tertawa maka tertawa lah jangan ditahan seperti itu"


Tamara langsung keluar dari dalam ruangan itu, bahkan menutup pintunya dengan sangat keras sekali, Tamara benar-benar sudah sangat marah sekali dengan tingkah Valeria yang meremehkannya. Tamara masuk ke dalam kamarnya dan mengacak-ngacak seluruh barang yang ada di sana, bahkan banyak guci kecil yang dia pecahkan. Saking sudah kesalnya dengan Valeria yang terus saja menghinanya.


"Kenapa aku bisa salah orang, kenapa bisa salah tangkap seperti ini harusnya Vio yang ada di sana harusnya dia yang aku habisi sekarang kenapa harus Valeria, kenapa aku salah orang sialan sialan aku ini, benar-benar bodoh aku "


"Akhhh kenapa harus dia kenapa aku kesal sekali kenapa dia sih, kenapa aku kesal sekali apakah aku bisa menghabisi Valeria tapi aku takut sekali dengannya"


Valeria yang masih ada didalam ruangan itu terus saja mencoba melepaskan ikatannya dan terbuka, mudah sekali ternyata. Valeria membuka ikatan dikakinya dan segera bangkit sambil merenggangkan tubuhnya ini.


"Huff aku lepas juga. Dimana perempuan itu aku tak boleh sampai kecolongan lagi "


Valeria melangkah pergi dari ruangan itu mencari keberadaan Tamara, bahkan Valeria membuka pintunya satu persatu. Dan Valeria menemukannya Tamara sedang menunduk dan Valeria langsung memeluknya dengan erat.


Ini adalah kesempatan yang harus dia manfaatkan, hebat sekali kan dirinya ini bisa langsung menangkap Tamara dengan keadaan dia sadar tanpa memukulnya juga lagi. Valeria jadi bangga dengan dirinya sendiri ini.

__ADS_1


"Tertangkap kamu"


"Lepaskan tidak lepaskan aku, aku tak mau seperti ini lepaskan sialan ya kamu. Disini aku yang akan membunuh kamu Valeria, lepaskan aku dasar biadab kamu Valeria "


"Hahaha kamu telat kamu telat sudah aku bilangkan kamu itu adalah seorang pengecut, jadi kamu tak akan bisa melawan aku. Kamu tak akan bisa menumbangkan aku sampai kapan pun itu "


Valeria sekarang menggusur Tamara, dia menjambak rambut Tamara dengan sangat kencang tidak peduli dengan teriakan Tamara yang terus saja mencaci makinya. Entah kenapa kalau pada Valeria tidak bisa melawan dia merasa ada trauma dalam dirinya ini karena dulu selalu dibully oleh Valeria dan juga teman-temannya.


Makannya Tamara begitu takut saat berhadapan dengan Valeria, dia begitu menakutkan sekali Valeria bisa melakukan apa saja, dulu saja bahkan Valeria pernah melukainya dengan sangat dalam sekali.


Gara-gara waktu itu Tamara mendorong Vio sampai jidatnya bocor dan Valeria membalasnya dengan lebih parah lagi, sampai-sampai bekasnya masih ada.


Valeria membawa Tamara ke ruangan tadi, ruangan di mana Tamara mengurungnya. Barulah di situ Tamara melawan menggigit kaki Valeria, tentu saja Valeria langsung melepaskan pegangan tangannya di rambut Tamara itu. Tak bisa mempertahankannya lagi.


Sekarang mereka malah bertengkar, mereka malah saling jambak dan juga saling cakar, tidak mau ada yang mengalah tapi Valeria yang memang sudah terbiasa melakukan hal ini pada orang lain menang, dia menginjak perutnya Tamara dengan sangat kencang sekali.


"Lihat sudah kubilang kamu ini tidak ada apa-apanya, kamu ini tidak akan bisa melawanku sampai kapan pun Tamara jadi jangan berharap kamu akan memang, kamu akan habis ditanganku sekarang juga, ingat akan habis olehku kamu ini "


Lalu kaki Tamara berpindah pada dadanya Tamara, diinjaknya dada itu dengan sekuat tenaga, sampai-sampai Tamara terbatuk dan mencakar cakar kaki Valeria, tapi Valeria masih saja diam dan tidak berpindah.


Valeria menduduki perut Tamara yang masih lemah lalu ditamparnya wajah Tamara itu. Valeria sangat suka dengan apa yang dia lakukan ini. Sudah lama dia tak seperti ini "Sudah aku bilang kan kalau punya masalah denganku hadapi aku, bukannya mencari orang yang menurutmu lemah yang lemah di sini adalah kamu. Vio juga bisa seperti ini kamu tidak tahu saja dia seperti apa, kamu hanya melihat dia dari sisi baiknya bukan dari sisi jahatnya tapi sekarang kamu bisa melihat sisi jahat Vio dariku, kamu tak akan pernah bisa lepas, kamu akan aku habisi tahu "


Valeria terus saja menampar Tamara, Tamara sudah berteriak minta ampun tapi Valeria yang memang belum puas dengan apa yang dia lakukan ini terus melakukannya, rasanya muak sekali dengan Tamara. Kalaupun dia sampai melepaskannya Tamara akan kabur lagi dan itu akan sulit lagi, sungguh menyusahkan sekali Tamara ini kan.


Setelah puas melakukan itu Valeria bangkit dengan nafas yang tak beraturan. Valeria mengambil tali tadi dan mengikat Tamara di kursi yang digunakan olehnya tadi. Valeria menatap Tamara sambil duduk berhadapan dengannya.


"Bagaimana masih suka dengan apa yang aku lakukan, aku juga dulu pernah melakukan ini kan padamu. Kamu ingat dengan apa yang aku lakukan, inilah yang aku lakukan "


"Lepaskan aku, aku tidak mau diperlakukan seperti ini lepaskan. Kamu ini benar-benar perempuan tidak tahu diri Valeria lepaskan aku, kamu yang seharusnya duduk disini bukannya aku, kamu yang harusnya aku habisi, lepaskan aku sialan lepaskan aku "


"Lepaskan saja sendiri aku akan hitung 1 sampai 3 kalau kamu belum bisa melepaskannya maka aku akan menggoreskan satu sayatan di pipimu, bagaimana kamu setuju kan, bahkan aku tadi bisa melepaskannya sendiri, aku bisa melakukannya tanpa bantuan kamu maka kamu juga harus bisa melakukannya "


Tamara tentu saja langsung menggelengkan kepalanya gila saja kalau Valeria akan melukainya seperti itu, sudah cukup Valeria selalu melukainya, Valeria tak boleh melakukan hal itu lagi padanya.


"Kenapa sayang takut, kamu saja berani kan ingin membunuh Vio saat dia melahirkan. Lalu kenapa kamu sekarang tidak berani mendapatkan konsekuensinya dariku. Seharusnya kamu berani dong berbuat salah berani bertanggung jawab juga, jangan jadi pengecut kalau mau jadi orang jahat itu langsung saja sekalian bukan seperti ini "


"Oh tunggu aku akan telepon Daniel dulu saja, agar dia bisa membantuku untuk membunuhmu, kamu harus segera dihabisi tak boleh didiamkan seperti ini, karena kamu ini selalu melunjak tahu "


"Tidak jangan jangan lakukan itu, gila ya kamu. Lepaskan aku Valeria jangan main-main dengan aku"


"Tidak jangan, aku tidak mendengar kamu aku akan menelpon Daniel, aku akan menghubunginya saja ah"


Valeria mengeluarkan ponselnya yang ternyata masih ada dalam celananya, ternyata Tamara itu bodoh ya tidak menghancurkan ponselnya. Valeria benar-benar menelpon Daniel di hadapannya Tamara, wajah Tamara sudah sangat pucat sekali dan ketakutan tapi Valeria suka melihat wajah itu.


Lucu wajah ketakutan Tamara itu, bahkan Valeria saja ingin mencakar nya, lucu saja rasannya ingin menghabisi Tamara sekarang juga, tapi harus tahan, harus Daniel yang melakukan ini.


"Ada apa Valeria kamu malam-malam menelponku seperti, ad masalah apa sih "


"Jebakanku berhasil cepat pergi ke rumah yang ada di seberang, benar Miranda itu adalah Tamara aku ada di sini sekarang. Aku sudah mengikatnya jangan lama, aku sudah tak sabar ingin melihat dia kehabisan darah"

__ADS_1


"Yakin kamu,kamu sedang tak berbohong kan dengan aku "


"Yakinlah kalau ga yakin aku nggak akan telepon kayak gini cepetan ke sini ah, lama banget deh kamu ini "


Sambungan langsung dimatikan. Valeria menunggu kedatangan Daniel Tamara sudah menangis tapi Valeria menepuk-nepuk pipi Tamara dengan sangat kencang.


"Kenapa menangis sayang, jangan menangis kamu akan berhadapan dengan orang yang punya masalah dengan kamu. Hadapi dia jangan jadi pengecut aku sudah ada di sini dan hadapi Daniel juga jangan seperti inilah sayang, jangan melampiaskan rasa sakit mu itu pada orang lain, kamu harus membalasnya pada orangnya langsung "


"Sialan kalian berdua memang benar-benar sialan kalian ini, kalian berdua tak punya hati, kalian benar-benar membuat aku muak sekali, aku kesal pada kalian berdua ini "


"Aduh kasihan, ya ampun udah jangan teriak-teriak nanti suaranya abis, nggak kasihan sama suaranya Udah ya cup cup cup Dede bayi diam ya jangan banyak bergerak dan berteriak, kasian tenggorokan kamu sakit nanti ah "


Valeria menunggu kedatangan Daniel yang menurutnya sangat lama sekali. Memang Daniel ini orangnya ngaret tidak pernah sesuai waktu padahal tinggal nyebrang saja apa sulitnya.


Tadinya ingin menyusul saja, tapi takut keluar dengan Vio nya nanti dia ikut lagi kesini. Bisa gawat kalau itu terjadi akan sangat sulit menghabisi perempuan ini.


...----------------...


"Kamu mau ke mana malam-malam kayak gini" tanya Vio pada suaminya yang tiba-tiba saja panik dan akan pergi, padahal mereka tadi sedang mengobrol, mereka sedang menghabiskan waktu bersama-sama.


"Aku ada urusan kamu diam di rumah ya Tamara sudah ketemu, aku akan menemuinya sekarang. Aku sudah muak dengan Tamara"


Daniel tidak mau menyembunyikan hal itu lagi, Daniel akan memberitahu Vio tapi dia juga tidak akan memberitahu kalau Valeria yang telah menemukannya takutnya nanti Vio malah ikut dan khawatir, istrinya ini kalau sudah seperti itu akan sulit.


"Ketemu di mana, terus bagaimana sekarang keadaannya"


"Yang ada di depan rumah kita itu dia adalah Tamara, sudah aku bilangkan dia memang benar-benar Tamara, kamu diam di sini aku akan ke sana dan menangkap Tamara. Jangan pernah keluar kunci rumah sebelum aku datang, kamu tidak boleh keluar kemana-mana jika ada yang mengetuk pintu pun jangan bukakan aku akan membawa kunci cadangan tidurlah bersama Arumi. Kamu pasti akan tenang bila dengan Arumi "


"Tapi kamu jangan bunuh dia, kamu jangan gegabah ya lebih baik kamu masuk kan saja ke penjara, agar kamu tak terlibat masalah lebih dalam lagi, aku tak mau kamu kenapa-napa nanti "


"Iya aku akan bawa dia ke kantor polisi jadi kamu sekarang masuk ke dalam kamar jangan di sini ya, jangan tunggu aku juga "


Untungnya Vio patuh dan tidak bertanya apa-apa lagi, itu adalah keuntungan untuk Daniel karena kalau sampai Vio terus bertanya-tanya akan sangat lama lagi.


Daniel sudah geram dengan tingkah Tamara, rasanya Daniel ingin menghabisinya dia tidak akan mengikuti apa kata Vio memasukan Tamara ke dalam penjara, sama saja dengan bohong yang ada dia akan keluar lagi dan mengancam keluarganya lebih baik dibunuh saja kan daripada terus membuat masalah.


Vio sudah masuk ke dalam kamar anaknya Daniel barulah pergi dari dalam rumah, dia tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumahnya Tamara, Daniel langsung saja masuk ternyata tidak dikunci dan rumah juga terlihat gelap semua.


Memang sengaja sepertinya Tamara melakukan ini, sungguh menyebalkan sekali Tamara ini menyamar dan juga diam didekat rumahnya memang dia ingin ditangkap.


"Valeria di mana ruangannya, kenapa gelap sekali Valeria dimana kamu ini sih "


Daniel terus aja berteriak karena memang suasananya mencekam sekali di rumah ini, tapi Daniel menyalakan satu persatu lampu agar orang-orang tidak terlihat curiga. Susah juga berjalan ditempat yang gelap.


Akhirnya Daniel menemukan di mana Valeria karena dia tadi melambaikan tangan dari sebuah kaca "Lama banget sih padahal tinggal nyebrang aja, kamu ini lihat perempuan ini ada didekat kalian "


"Aku harus memberi pengertian dulu pada Vio kamu bagaimana sih, kamu tahu sendiri kan Vio itu harus jelas aku akan pergi ke manam Dengan siapa mau apa, kamu kayak nggak tahu aja gimana kembaran kamu itu"


Valeria mengibas-ngibaskan tangannya "Ya sudah cepat sini, lihat aku sudah menemukannya kan, aku hebat kan dari pada kamu yang tak bisa melakukannya, kamu butuh bertahun-tahun tapi aku dengan sekejap saja sudah menemukannya "

__ADS_1


Daniel langsung bertatapan dengan Tamara, Tamara tentu saja langsung menundukkan kepalanya takut saat melihat Daniel seperti itu, rasanya Tamara tak kuat menatap mata Daniel yang tajam. Tamara sudah tahu hidupnya tak akan lama pasti Daniel akan langsung menghabisinya.


__ADS_2