
"Bagaimana Daisy sudah ditanya kebenarannya pada Kakakmu yang tersayang itu. Kalau aku juga mendapatkan pelecehan yang sama seperti yang kamu dapatkan, bagaimana apakah kamu marah padannya karena telah melakukan ini padaku "
Daisy langsung menatap Adiba yang duduk di sampingnya. Sungguh menyebalkan kalau sudah duduk bersama perempuan ini, kenapa juga dia harus ada di sini.
"Sepertinya tidak usah aku jawab, karena itu sudah resikonya kamu yang sudah menjebak aku, maka itu resikonya. Untung saja kakakku tidak menjadikanmu atau mungkin membunuhmu seperti yang lainnya, aku sih akan lebih senang kalau kamu tiada saja. Karena hidup pun kamu hanya menjadi beban saja. Benar tidak kamu beban kan " jawab Daisy dengan sinis.
Adiba malah menggebrak meja, bahkan teman-teman langsung menatap ke arah Daisy dan juga Adiba "Jika kamu ga suka sama aku, ga usah kayak gini caranya Daisy. Kamu bisa suruh aku pergi baik-baik kok, ga usah usir-usir aku kayak gini"
"Apaan sih ga jelas banget nih orang, jangan suka bikin drama deh ah "
"Ya ampun Daisy, kamu ga malu emang dilihatin sama temen-temen jangan kayak gitu ya, emang kamu di rumah boleh sama aku ga sopan memperlakukan aku kayak gimanapun, tapi di sekolah jangan ya. Kamu emangnya ga malu lakuin itu, aku pasrah di rumah kamu karena aku di sana cuman pembantu aja. Aku tahu orang tuaku hanya pembantu di rumah kamu aku sadar diri "Adiba memerankan actingnya dengan bagus bahkan dia sampai menangis.
Daisy langsung membawa tasnya, dasar ini perempuan gila tiba-tiba saja seperti itu"Daisy jangan pergi kamu. Maafkan aku, aku yang akan pindah di tempat duduk itu. Kamu tidak usah pindah kamu tetap aja di sini jangan kemana-mana ya "
"Ga usah banyak drama deh, ga usah putar balikin fakta juga kali. Sepertinya keluarga Daisy ga pernah deh perlakukan keluarga loh kayak pembantu, inget ya lo itu cuman penghasut di sini. Perempuan ga berguna tahu ga sih penghancur. Adiba itu cuman bisa bikin semua orang tuh salah faham. Padahal di sini lo yang jahat "teriak Aruna yang baru saja datang dari kantin
Tapi Daisy langsung menarik tangannya "Udah ga usah berurusan sama dia, biarin aja dia buat drama yang banyak nanti juga dia capek sendiri. Udah jangan hiraukan dia ah "
Daisy duduk paling belakang bersama Aruna, sedangkan Adiba langsung menangis dia benar-benar melakukan dramanya. Entah apa yang akan dia lakukan dengan melakukan itu semua. Sampai-sampai teman-teman kelasnya itu menjadi iba dan menatap Daisy serta Aruna dengan benci.
Padahal mereka tidak tahu yang sebenarnya, apa yang sebenarnya terjadi di rumah dan apa yang terjadi pada Daisy. Sebenarnya siapa pelaku sebenarnya di sini, tapi mereka seolah-olah memang membenci mereka berdua tapi ya sudahlah tidak usah dipusingkan. Namanya juga orang yang ingin cari perhatian, ingin diperhatikannya pasti seperti itu.
"Ga boleh gitu dong, Daisy Aruna, Adiba itu kan temen kalian. Jahat banget sih kalian" teriak salah satu temennya.
Makin menjadi-jadi saja kan tu anak menangisnya, sampai-sampai memekan telinga kalau ada sapu mending dipukul saja sekalian. Soalnya sangat menyebalkan sekali anak ini.
"Daisy kita sepertinya harus waspada deh sama perempuan kayak gini. Dia tuh ular "bisik Aruna sambil membereskan buku-bukunya.
"Ya makanya dari dulu tuh ga mau satu jurusan sama dia, tapi gimana lagi dia itu selalu ikutin kita terus-terusan. Kalau kita ke sini pasti dia ikut, kita ke sana dia ikut aneh banget kan aku tuh udah ga terlalu suka sama dia bukannya terlalu lagi sih, emang ga suka banget kelakuan itu udah bener-bener nyebelin banget. Dia selalu putarin fakta yang sebenarnya dia itu lagi buat drama. Tapi orang-orang tuh kadang percaya sama dia, aneh banget ga sih" bisik Daisy juga mereka malah bisik-bisikan di dalam kelas. Karena nanti kalau ketahuan sama teman-temannya malah mereka berdua yang diolok-olok kan ga enak.
...----------------...
Kat yang baru saja turun dari lantai atas melihat ada beberapa polisi "Selamat siang bu, saya ingin berbicara dengan ibu Katherine"
"Iya saya sendiri, ada apa ya Pak. Ada yang bisa saja bantu "
"Begini Bu, apa Pak Lucas nya ada"
"Suami saya masih kerja Pak kalau jam segini "
Tapi tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki masuk ke dalam rumah. Ternyata suaminya Lucas datang, menatap istrinya lalu tersenyum pada para polisi "Sayang kamu masuk ke kamar ya, biarkan aku bicara dengan Polisi. Ini urusan laki-laki "
"Tapi_"
__ADS_1
"Sudah sayang, ikuti kata-kataku. Masuk ke dalam kamar sekarang ya istirahat, kamu sedang mengandung"
Kat akhirnya pergi juga, tapi sebenarnya dia tidak pergi ke kamar. Tapi dia menguping pembicaraan suaminya dan polisi itu. Setelah suaminya menyuruh polisi duduk mereka akhirnya mengobrol.
"Ada yang bisa saya bantu Pak, sampai-sampai datang ke rumah saya apa ada masalah ? "
"Begini Pak, saya ingin tanyakan satu hal apa kemarin benar Bapak dan istri Bapak pergi berlibur dan ada di puncak"
"Iya betul. Kami sedang membangun rumah dekat-dekat puncak itu dan kami juga punya penginapan di sana. Sekalian liburan saja untuk membuat istriku lebih rileks lagi saja dan dia tidak jenuh di rumah. Karena saya bekerja setiap hari dan tidak ada waktu bersama istri saya, saat ada waktu maka saya akan ajak dia jalan-jalan"
"Baik Pak. Tapi bapak tahu kan tentang kecelakaan beberapa orang yang mobilnya terguling ke arah jurang dan terbakar ? "
"Entahlah saya kurang tahu. Memangnya ada kecelakaan ya di sana, karena saya pulang waktu itu saat hujan sudah reda"
"Begitu ya, tapi dari kesaksian yang saya terima kalau mereka melihat Bapak dan Ibu ada di daerah sana. Bahkan mereka juga melihat mobil bapak"
"Begitu ya. Apa mungkin kami sedang jalan-jalan saja di sana, karena memang saat sore hari mau ke malam kamu jalan-jalan tapi kami juga ke tempat makan dulu, kami memakai mobil yang lain. Sedangkan mobilku tak dipakai, ada di penginapan mungkin mobilnya sama"
"Baiklah Pak, kalau begitu nanti bapak ikut pemeriksaannya untuk bisa menyangkal semua tentang tuduhan-tuduhan yang mengarah pada bapak"
"Baik dengan senang hati, saya akan datang ke sana tinggal kirimkan saja suratnya kapan saya harus datang ke kantor polisi dan membicarakan semua tentang masalah ini"
"Baik kalau begitu Pak. Saya permisi"
Lucas hanya diam saja dia menatap ke-4 polisi itu yang keluar dari dalam rumahnya. Kenapa polisi bisa tahu apa di sana ada CCTV, Apa Nabil lupa menghapus CCTV itu dasar anak itu"
"Kenapa kamu berbohong Lucas"
Lucas langsung membalikkan badannya dan menatap istrinya "Lalu aku harus bagaimana. Apakah aku harus mengakui semuanya, apa kamu mau aku dipenjara sayang "
Lucas mendekati istrinya dan mencengkeram bahunya "Bukan begitu. Aku ingin kamu berubah aku ingin kamu menjadi manusia biasa, maksudku tidak menjadi manusia yang haus akan darah. Aku ingin kamu berubah aku ingin kamu sembuh. Lebih baik kita berobat aku akan terus menemani kamu sampai kamu sembuh, asal kamu punya niat untuk sembuh dan mau berubah"
Lucas malah makin mencengkram bahu istrinya dengan kuat. Sampai-sampai meringis kesakitan"Lepaskan Lucas. Apa kamu ingin menyakitiku lagi "
Lucas langsung melepaskannya dan mengusap wajah istrinya "Aku sedang terbawa emosi, kalau kamu ingin aku berubah mungkin itu tidak akan pernah bisa. Kamu hanya perlu menerima aku apa adanya Katherine. Aku tidak akan menyakitimu aku hanya akan menyakiti orang lain yang mungkin akan menjadi target ku. Kamu bisa tenang, kamu dan anak kita akan bisa tenang. Aku tidak akan melukai kalian ini sudah sangat tidak bisa untuk disembuhkan. Apakah kamu tidak bisa memahami aku sedikit saja Kat " teriak lucas
"Bukannya begitu, aku tahu mungkin kamu tidak akan pernah melukai aku tapi bisa saja suatu saat kamu bisa melukai aku kan. Sekarang saja kamu bisa kasar sama aku kayak gitu, gimana nanti ke depannya bisa-bisa kamu bunuh aku sama anak aku nantinya"
"Intinya aku berbohong demi kebaikan kamu, emangnya kamu mau nanti saat aku jujur semuanya bilang sama polisi itu, semua kejadian itu emang kamu mau diseret-seret ke penjara ? "
"Ya aku siap, karena aku ga salah kok. Aku siap memberikan kesaksian yang sejujur-jujurnya "
"Terus kamu mau aku dipenjara, kamu mau aku membusuk di penjara dan kamu pergi gitu tinggalin aku sama laki-laki lain. Laki-laki mana yang mau kabur sama kamu hah, kamu mau hidup bahagia sama laki-laki lain emangnya dia punya apa sampai-sampai kamu mau sama dia. Udah lakuin apa aja kalian "
__ADS_1
"Dengar ya, semenjak aku nikah sama kamu aku ga pernah tuh deket sama laki-laki lain. Jadi jaga ucapan kamu meskipun kamu di penjara aku ga akan pernah lari sama laki-laki lain"
Kat yang marah langsung saja naik kelantai atas, sungguh dirinya sakit hati Lucas malah menuduhnya akan lari dengan laki-laki dan dia bertanya sudah diapakan memangnya dirinya ini perempuan macam apa.
Padahal dirinya ingin yang terbaik untuk Lucas, dirinya ingin Lucas berubah menjadi manusia biasa tidak terus membunuh orang lain. Apakah sulit untuk melakukan itu apakah itu sama menyakitkan lepas dari perbuatan jahat.
Lucas menjambak rambutnya sendiri dan berteriak dengan melengking "Akhhh, sialan sialan "
Lucas langsung saja pergi dari dalam rumah. Dirinya harus melampiaskan amarahnya ini pada seseorang. Tidak bisa didiamkan begitu saja, bisa-bisa dirinya malah melukai istrinyq. Dirinya sudah berjanji tidak akan pernah melukai Kat lagi sampai kapanpun.
...----------------...
Kat hanya bisa diam sendirian di kamar Lucas tidak masuk kedalam kamar, padahal sudah jam 09.00 malam tapi Lucas belum naik juga. Kat menghapus air matanya yang dari tadi terus mengalir. Dia hanya terus saja menangis memikirkan rumah tangganya ini.
Apakah dirinya harus menerima keadaan Lucas yang seperti itu, tapi sangat sulit untuk menerima semua itu. Semua itu sangat menyakitkan, menerima seseorang yang sebenarnya di luar dari impiannya untuk menjadi suaminya itu sangat sulit.
Kalau saja Lucas seperti orang lain normal mungkin dirinya akan sangat mencintai Lucas, tapi dia sangat berbeda sekali dirinya hanya was-was takut suatu saat Lucas akan menghabisi nyawanya.
Akan membunuhnya dengan tiba-tiba, kita tidak akan pernah tahu apa yang ada dalam pikiran Lucas selama ini, bisa saja dia memikirkan rencana-rencana yang rumit dan bisa menghabisi nyawanya.
Kat mencoba menelfon suaminya tapi malah ditolak, sengaja tak diangkat oleh suaminya itu. Apakah Lucas benar-benar marah. Apakah Lucas tak ada dirumah.
Kat menghubungi Daisy, dia hanya bisa bercerita pada Daisy "Halo Kat, bagaimana keadaanmu apa kamu baik-baik saja"
"Untuk sekarang aku tidak baik. Aku ingin cerita sama kamu. Kamu punya waktu luang ga Daisy "
"Kenapa, apa Abang sakitin kamu ? "
"Ga kok, apa aku salah minta buat Lucas berubah aku ga mau dia terus jadi pembunuh. Aku ga mau dia terus habisi orang. Kamu tahu sekarang ada polisi datang ke rumah gara-gara kemarin, kamu lihat berita kan tentang orang yang masuk ke jurang. Itu tuh ulah Lucas. Aku tahu niat dia baik buat menyelamatkan aku, tapi rasanya ga usah sampai dibunuh juga, tadi juga di depan polisi dia bohong dan aku minta sama dia buat jujur semuanya. Tapi dia ga mau dia sekarang belum pulang,kayak emang dia ga dirumah, aku ga tahu dia pergi ke mana"
"Aku tahu kalau Kakakku itu punya gangguan yang sangat sulit untuk bisa disembuhkan sampai kapanpun. Mungkin dia ga akan pernah bisa berubah sampai kapanpun, karena itu udah kepribadiannya bahkan dokter aja yang selama ini bantu dia buat sembuh juga ga bisa buat dia sembuh. Mungkin sekarang dari kamunya aja sih kamu itu sayang ga sih sama Kakak aku kalau emang sayang kamu bisa terima kekurangan yang Kakak aku punya, emang aku tahu kamu sulit akan menerimanya dan menjalaninya tapi kalau kamu memang mau bersama Kakakku silahkan, jika kamu ingin pergi juga silakan. Aku tidak akan pernah melarang kamu Kat "
Kat hanya diam, mencerna setiap kata-kata yang dilontarkan oleh Daisy. Apakah bisa dirinya menerima, mau pergi ke manapun Lucas akan mencarinya dan membuatnya kembali.
Satu-satu cara adalah dia mencoba untuk mencintai Lucas. Hanya itu satu-satunya cara dan menerima semua kekurangan Lucas, tapi sangat sulit untuk menerima semua itu sulit sekali.
"Sekarang semua keputusan ada di kamu, aku ga bisa harus misalnya bela kamu atau bela Abang aku, karena yang ngejalanin kan kamu bukan aku. Jadi aku hanya bisa mendukung kamu aja, mau kamu pergi juga aku nggak masalah. Aku akan tetap ada buat kamu. Mau kamu stay juga aku sangat bersyukur ada yang mau sama kakakku itu, aku tahu kekurangannya tuh banyak banget. Aku tahu gimana kekejamannya, aku tahu gimana dia dari kecil sampai sekarang. Dia mau sembuh tapi nggak bisa udah berobat kemana-mana tapi susah Kat "
"Mungkin aku akan merenungkan dulu semuanya Daisy. Aku juga bingung dengan semua pilihan ini. Apakah aku harus bertahan, apakah aku harus pergi karena memang sulit untuk menerima semua ini. Bukannya aku tidak menerima selalu dibantu oleh keluargamu dan juga Lucas, tapi rasanya hatiku sangat sulit sekali apalagi dengan Kakakmu yang dulu kasar padaku rasanya aku takut-takut dia akan melakukan hal-hal itu lagi padaku nantinya"
"Iya aku tahu, aku mengerti maka semua itu ada dalam keputusanmu. Aku tidak bisa mendesak untuk terus kamu bersama kakak aku. Karena hati juga tidak bisa dipaksakan, lebih baik kamu tidur nanti juga abang pulang. Ini juga udah malam kasihan kamu kan lagi mengandung ya, tidur aja nggak usah pikirin abang nanti juga dia balik kok nggak lama lagi, dia ga akan bisa jauh dari kamu. Dia pasti sebentar lagi akan pulang "
"Malam Daisy"
__ADS_1
Setelah mencurahkan semua isi hatinya. Kat membaringkan badannya mengusap air matanya. Hatinya sedikit lega. Tapi sekarang pilihan ada ditangannya. Apa yang harus dirinya pilih. Bertahan atau pergi seperti dulu.