
Singkat cerita sekarang Daniel sudah masuk sekolah. Dia sudah SMP dan juga adiknya yang sudah lahir berjenis kelamin laki-laki bernama Alexander juga sudah sekolah. Tapi masih sekolah SD mereka berbeda beberapa tahun.
"Daniel kamu di sekolah jangan buat masalah ya. Mama mau jangan sampai nanti Mama dipanggil lagi ke sekolah gara-gara kamu buat ulah. Ini adalah hari pertama kamu masuk kamu harus jadi anak yang baik dan penurut. Ingat kamu harus baik ya sayangku "
"Hemm kalau mereka baik sama Daniel maka Daniel juga akan baik sama mereka, tapi kalau sebaliknya Daniel ga bisa. Daniel harus balas semuanya ga mau diam aja. Mama tenang aja Daniel ga akan buat mereka celaka kok, hanya sedikit perhitungan saja yang pas untuk mereka yang bermain-main dengan Daniel "
"Tapi sayang Mama ga mau sampai kamu nanti dicap anak nakal di sekolah. Mama mau kamu menjadi anak yang baik penurut hanya itu yang Mama minta tak lebih sayang "
Lucas yang baru turun dari lantai atas langsung menghampiri anak dan ibu itu yang sedang berbicara serius "Sudah jangan memikirkan tentang Daniel, dia pasti akan bisa menjaga dirinya sendiri. Tidak masalah dia nakal nanti juga dia akan baik sendiri, tidak usah menasehati Daniel sedalam itu. Dia masih dalam masa pertumbuhan dia akan memilih mana yang benar dan mana yang salah sayang "
"Kamu ini ya Mas. Bukannya bantu aku malah kayak gitu malah bela terus Daniel. Aku nggak mau dia jadi anak yang nakal itu aja. Kamu ini ya ga pernah ngerti perasaan aku, aku tuh nggak mau kalau terjadi sesuatu sama Daniel. Aku khawatir sama keadaan Daniel "
Lucas memeluk istrinya dengan erat dan membawanya kemeja makan. Daniel juga mengikuti langkah kedua orang tuanya, sedangkan Alexander dari tadi sudah sibuk dengan makanannya.
Sudah biasa Alexander itu adalah anak yang cuek dan tidak memperdulikan sekitar, memang sifatnya sedikit berbeda dengan Daniel. Tapi banyak kesamaan juga diantara meraka berdua. Tapi kadang mereka tidak mau disama-samakan.
Kesamaan mereka sama-sama tidak suka diganggu, pendiam dan juga kalau sekalinya marah maka sudahlah hancur semuanya, tapi Daniel itu lebih bisa diajak bicara tapi kalau Alexander sulit sekali.
Entah dari mana sifat anaknya ini, kenapa dua-duanya nakal sampai-sampai Kat kadang-kadang sakit kepala memikirkan anaknya. Kadang Kat juga minum obat untuk meredakan sakit kepalanya.
Saat Daniel kelas 6, Daniel bisa-bisa membuat masalah setiap Minggu, berantem lalu tak suka dengan temannya yang melawannya dan banyak lagi. Makannya Kat mewanti-wanti agar anaknya tak seperti itu lagi disekolah barunya.
"Ayo lebih baik sekarang makan, nanti ayah akan antarkan kalian ke sekolah. Alexander kamu di sekolah jangan membuat anak perempuan menangis lagi. Kamu tak boleh mempermainkan mereka "
"Hemm "
"Jawab ayah dengan benar, ayah tidak suka jawaban seperti itu. Ayah dan juga mamamu tidak pernah mengajarkanmu untuk menjadi anak yang seperti itu. Jawab yang benar kalau tidak ayah akan menghukummu"
"Baik ayah aku tidak akan mengerjai anak-anak perempuan itu, aku akan diam untuk beberapa saat tapi tidak tahu nanti. Kita lihat saja "
"Terserah kamu saja,;tapi jangan buat mamamu ini sakit kepala, dan kamu juga Daniel sama jangan buat masalah terlalu banyak. Kalau masih bisa diurus oleh sendiri maka urus sendiri jangan memanggil ibumu untuk ke sekolah. Kamu sudah besar dan harus bisa menghadapi masalah kamu sendirian "
"Tentu aku akan bisa menghadapi semuanya Ayah, jadi tenang saja aku bisa menghadapi semua orang sendirian. Aku tidak akan pernah kalah oleh mereka. Aku janji tak akan membuat Mamah sakit kepala lagi"
Lucas langsung mengacungkan dua jempolnya "Bagus, anak Ayah harus seperti itu tidak boleh ada yang cengeng. Jadi kalau ada masalah maka harus menghadapi sendiri tidak boleh membuat orang lain pusing, apalagi membuat mama kalian pusing awas saja ayah akan menghukum kalian berdua. Mungkin akan lebih dari sebelumnya "
"Siap Ayah siap "ucap mereka berdua dengan kompak.
Entahlah Kat tidak bisa berbicara apa-apa lagi. Kalau oleh ayahnya pasti mereka akan menurut tapi oleh Kat kadang-kadang menurut kadang-kadang tidak. Rasanya Kat ingin punya anak perempuan saja yang bisa dia dandanin dan ajak belanja.
Ini anak laki-lakinya dua-duanya tapi sangat membuatnya pusing. Bisa-bisa nanti kepalanya pecah memikirkan anak-anaknya yang selalu saja nakal. Saat kecil mereka tak senakal ini tapi sekarang malah minta ampun.
Kat melambaikan tangannya pada 3 laki-laki itu yang pergi, sungguh hidupnya ini ditemani oleh tiga laki-laki tampan. Semuanya mirip dengan Lucas dengan ayahnya, tidak ada satupun yang mirip dengan Kat. Padahal Kat ingin mempunyai anak yang mirip dengannya tapi ini malah tak ada yang mirip satupun.
Bahkan dari keseluruhan anaknya hanya bibirnya saja yang menurun pada Daniel lalu pada Alexander matanya. Untuk yang lainnya semuanya pada Lucas menyebalkan sekali kan.
...----------------...
Daniel yang baru masuk ke dalam sekolah sudah menjadi perhatian banyak anak. Tapi Daniel sama sekali tidak peduli. Dia berjalan dengan cuek dan tidak peduli , sampai Daniel ditabrak oleh perempuan lusuh.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja. Sekali lagi aku minta maaf ya "
"Hemm" hanya itu saja respon Daniel. Daniel kembali masuk ke dalam sekolah dan mencari daftar namanya, masuk kelas apa ternyata masuk kelas B. Tanpa banyak bicara Daniel langsung masuk ke dalam kelas itu dan duduk paling belakang.
Daniel benar-benar tidak suka duduk di depan. Di belakang juga masih bisa kok melihat dan mencerna semua apa yang gurunya katakan. Jadi tak ada masalah untuk Daniel.
"Boleh aku duduk di sini "tanya salah seorang anak laki-laki yang tiba-tiba saja menghampiri Daniel.
Daniel menatapnya terlebih dahulu dari atas sampai bawah lalu hanya menganggukan kepalanya saja. Laki-laki itu langsung duduk dan menatap wajah Daniel dengan lama "Perkenalkan namaku Hans dan kamu siapa "
"Daniel "
"Kenapa kamu irit kalau bicara. Apa kamu tidak mau berteman denganku, apa aku jelek sampai tak pantas berbicara dengan kamu "
"Gimana nanti aja lah "
"Gitu ya. Padahal aku pengen loh berteman sama kamu. Kayaknya seru deh bisa berteman sama kamu"
"Hemm " Lagi-lagi hanya itu saja yang keluar dari mulut Daniel. Benar-benar dingin sekali kan ternyata di sekolah Daniel seperti ini kelakuannya.
__ADS_1
Tapi saat di rumah tidak seperti ini, sangat berbeda sekali saat bersama mamanya Daniel pasti akan banyak bicara, tapi dengan orang lain bungkam seperti ini seperti tidak mau diganggu.
Datang gerombolan anak-anak perempuan mendorong seorang anak perempuan yang lusuh tadi. Daniel yang memang acuh dari tadi tidak memperdulikan anak perempuan itu membully perempuan lusuh tadi yang menabrak Daniel.
"Awas jangan halangi kita jalan dong, lusuh banget sih penampilannya ga banget tahu ga sih, kenapa sih harus masuk sekolah sini "
Anak perempuan itu hanya menundukkan kepalanya, dia langsung duduk di tempat duduk yang kosong. Tapi malah diganggu oleh salah satu gerombolan perempuan itu "Heh ngapain duduk disini. Awas jangan duduk disini. Awas-awas ah "
"Terus aku harus bagaimana, tempat ini kan kosong belum ada orang yang menempati berarti aku bebas dong duduk disini "
"Duduk di bawah aja sana, ga pantes kalau disini "
Teman-temannya langsung tertawa terbahak-bahak. Hans langsung menatap Daniel "Kamu lihat gerombolan perempuan itu, dulu satu sekolah juga denganku. Mereka itu sukanya membully dan tidak pernah ada yang memarahi mereka. Bahkan guru-guru juga tidak memarahinya, mereka dibiarkan begitu saja"
"Aku tidak peduli dan aku tidak mau tahu juga, bukan urusan ku juga "
"Tetap saja kamu harus tahu siapa tahu nanti kamu yang dibully sama mereka, bahkan laki-laki pun mereka bully menyebalkan sekali kan mereka ini tak ada takutnya "
"Benarkah mereka berani membully ku "
"Ya mereka sangat berani sekali"
"Hemm "
Guru membimbing datang, semua murid langsung duduk. Para gerombolan perempuan tadi juga langsung duduk di tempat masing-masing yang mereka sudah pilih.
Perempuan lusuh tadi juga sama duduk di tempat yang sama, tapi tidak ada yang mau duduk dengannya dia hanya duduk sendirian.
...----------------...
Saat jam istirahat datang, Hans langsung menarik tangan Daniel untuk pergi ke kantin "Ayo kita harus pergi ke kantin kamu jangan terus diam dikelas ayo ayo "
"Silakan aku punya bekal sendiri. Mamaku sudah memasak dengan susah payah. Mana mungkin aku malah jajan di luar sana, aku tidak mau lebih baik uang jajanku ditabung saja "
"Kamu bawa bekal, aku juga sama kok bawa bekal makan, tapi aku pengen beli camilan-camilan yang lain ayo beli dulu yu hanya sebentar saja "
"Ga aku sudah dibekali Mamaku dengan berbagai macam camilan juga. Jadi aku tidak mau ke mana-mana, silahkan kalau kamu mau ke kantin. Aku mau disini saja "
Daniel yang tidak mau direcoki oleh Hans akhirnya mengikuti saja ke kantin. Tak ada salahnya juga kan Daniel mencoba untuk berteman dengan anak laki-laki cerewet ini.
Mereka berdua duduk paling pojok. Entah kenapa atau memang kebetulan mereka kembali bertemu dengan gerombolan gerombolan anak-anak itu. Dan anak lusuh itu mengikuti dari belakang entah kenapa mengikuti seperti itu.
"Ini belikan kami makanan. Jangan sampai salah ya. Awas saja kalau salah kamu yang bayar semua itu"
"Tapi aku ga punya uang"
"Ya makanya jangan salah udah cepet sana "sambil mendorong perempuan lusuh itu.
"Kamu kenal dengan perempuan lusuh itu. Apakah dia juga sama satu sekolah denganmu dulu, kenapa mereka seperti sudah mengenal perempuan itu "
Hans yang diajak bicara oleh Daniel langsung semangat "Ya satu sekolah juga. Memang dia itu sering dibully di sana. Entah kenapa mereka selalu saja membully anak itu padahal dia baik, dia hanya tinggal bersama neneknya saja kadang-kadang aku merasa kasihan sama dia, tapi kalau ada yang mendekati perempuan itu pasti ujung-ujungnya akan dipermalukan oleh gerombolan-gerombolan perempuan itu. Jadi tak ada yang mau berteman dengan perempuan itu "
"Tidak baik ya mereka ternyata"
"Ya mereka memang seperti itu, semena-mena kadang-kadang aku juga kesel pada mereka. Tapi karena aku tak mau berurusan dengan mereka ya sudah biarkan saja "
Pandangan Daniel langsung menatap Hans "Apakah kamu nanti tidak akan menyesal berteman denganku"
"Kenapa harus menyesal "jawab Hans dengan sangat percaya diri.
"Kamu belum tahu siapa aku. Bagaimana kalau kamu tahu siapa aku yang sebenarnya"
"Emangnya kamu apa, kamu anak alien atau kamu anak vampir"
Daniel mendelikan matanya "Jaga ucapanmu jangan kamu ucapkan kata-kata itu lagi, kalau kamu tidak ingin aku marah padamu dan tak menemani kamu"
Hans yang melihat wajah Daniel yang berubah dan sangat mengerikan dengan cepat langsung menganggukan kepalanya "Maafkan aku Daniel, tapi biarkan aku menjadi temanmu agar aku bisa mengenal dirimu lebih dalam lagi. Jadi aku tahu karaktermu seperti apa mungkin memang aku sedikit cerewet tapi ya bagaimana lagi aku ini seperti ini, tidak bisa berbicara sedikit seperti kamu "
"Hemm, "
__ADS_1
"Terima kasih kamu mau menjadi temanku, kapan-kapan kita main ya"
"Hemm "
Mereka segera melanjutkan makan mereka. Mereka benar-benar memakan bekal mereka masing-masing malahan tidak membeli apa-apa.
"Kamu membeli makanan yang salah. Pokoknya kamu yang bayar makanan ini, aku tidak mau tahu ah "
"Tapi aku ga punya uang tolong jangan seperti itu, jangan buat aku harus membayar semua ini buat makan saja aku kadang susah. Jangan persulit hidupku"
"Memang kami peduli, ga makanya jangan sekolah di sini kalau ga mampu buat beli makanan, jangan sok-sokan sekolah disini "
Daniel yang jengah melihat perempuan-perempuan itu yang berbicara dengan suara cempreng dan membully temannya langsung bangkit. Hans memegang tangan Daniel tapi Daniel langsung melepaskannya. Daniel menghampiri mereka semua.
"Berapa pesanan kalian ini sampai-sampai kalian tidak bisa membayarnya dan meminta orang lain untuk membayarnya. Kalau tidak punya uang jangan jajan "
"Hei, kamu jangan ikut campur" ucap salah satu perempuan maju dan mendorong bahu Daniel, tapi itu percuma karena Daniel masih tetap berdiri kokoh tanpa mundur sedikitpun atau bergeser sedikitpun.
"Berapa, butuh uang berapa sampai-sampai harus minta uang pada orang lain. Apa perlu aku bantu memintakan uang pada kepala sekolah saja, atau pada guru-guru yang selalu membela kalian "
"Berani sekali namamu siapa, Daniel kamu belum tahu siapa kita semua hah "
"Emangnya penting enggak kan jadi kalau ga mampu buat bayar ga usah jajan dan gaya-gayaan kayak gini"
"Kita mampu ya beli sendiri dan juga bayar sendiri"
"Kalau mampu maka bayar sendiri, ga usah suruh orang lain buat bayar makanan kalian"
Daniel menatap perempuan lusuh itu dan menyuruhnya untuk pergi dari sini. Dengan cepat perempuan itu langsung pergi mengikuti perintah dari Daniel.
Daniel juga setelah mengatakan itu langsung pergi, tidak mau berurusan lagi dengan perempuan itu. Daniel hanya tidak suka kalau ada seseorang yang dibully apalagi seorang perempuan. Memangnya sekolah itu tempat pembulian bukan kan. Sekolah itu adalah tempat untuk menuntut ilmu.
"Siapa anak laki-laki itu kenapa dia berani sekali padamu Valeria "
"Ternyata anak perempuan yang tadi, yang berani mendorong Daniel adalah bernama Valeria dia adalah ketua dari perempuan-perempuan nakal ini"
"Lihat saja aku tidak akan pernah melepaskan laki-laki itu. Aku akan mengetahui siapa dia berani sekali dia tidak tunduk padaku"
...----------------...
"Terima kasih karena telah membantuku"
Daniel memberhentikan langkahnya dan menatap perempuan itu, perempuan lusuh tadi. Entahlah Daniel tidak tahu siapa namanya. Karena seragamnya tak ada name tag nya, bukan ingin menghina memang karena penampilannya begitu lusuh. Dia memakai seragam yang kusut dan juga rok yang sama kusutnya.
"Jangan senang dulu. Aku hanya tidak suka saja ada pembulian di sekolah"
"Namaku Tamara"
"Ya "
Daniel melangkah pergi meninggalkan Tamara. Daniel tidak mau berinteraksi cukup lama dengan perempuan itu, cukup tahu namanya saja ya sudah.
"Kamu hebat Daniel "
"Apa yang hebat, aku hanya menolongnya saja"
"Ya hebat kamu bisa membuat Valeria diam dan tidak berkutik lagi, dia itu kadang sulit untuk diberitahu. Orangnya tak mau dinasehati "
"Kenapa harus tidak berani padanya, seharusnya semua orang berani. Pembullyan itu tak boleh ada lagi dalam sekolah-sekolah atau diluaran juga. Sekolah itu untuk menurut ilmu bukan untuk seperti itu"
"Benar sekali kamu. Aku suka dengan kamu yang seperti ini "
Daniel tak menjawab, dia malah fokus pada hewan yang singgah di kaca jendela kelas mereka. Daniel menangkap burung itu dengan mudah.
"Untuk apa kamu menangkap burung, kamu suka burung ya. Aku juga suka burung kamu dirumah punya berapa "
"Tidak juga, aku tidak terlalu suka burung. Aku tidak suka hewan "
"Lalu untuk apa kamu menangkapnya"
__ADS_1
Daniel tanpa banyak bicara langsung mematahkan leher burung itu dan melemparkannya keluar dari dalam kelas melewati jendela "Hanya saja aku tidak suka ada yang mengganggu penglihatan ku"
Hans sampai melongo melihat itu dengan mudahnya Daniel mematahkan leher burung itu, Hans tidak bisa bergerak bahkan tubuhnya sekarang malah lemas melihat Daniel yang melakukan itu.