Psychopath 2

Psychopath 2
Bab 160 baru setengah saja


__ADS_3

Kat yang menunggu suaminya tak pulang-pulang begitu khawatir bahkan sudah ditelfon tapi tak diangkat-angkat.


"Kenapa sih kamu, kenapa ga pulang gini "


Kat kembali menghubungi suaminya, tapi nihil tidak diangkat, sebenarnya kemana suaminya ini. Kenapa tiba-tiba tidak bisa dihubungi kemana dia.


"Ya ampun kenapa coba suamiku ini, tak bisa dihubungi sama sekali. Apakah dia baik-baik saja aku takut sekali terjadi sesuatu padanya "


Kat mondar mandir, tapi perutnya sakit Kat mencoba untuk duduk meredakan sakit diperutnya ini. "Aduh kenapa sakit, ya ampun kenapa sakit sekali"


Kat menarik nafasnya dalam dalam "Aw sakit sekali, ya ampun kenapa bisa sesakit ini aduh "


"Tolong " teriak Kat sekencang-kencangnya.


"Nyonya ya ampun ada apa "


"Perutku sakit, cepat panggilkan ambulans "


Para pelayan langsung heboh, mereka langsung saja pergi dan melakukan tugasnya, ada yang mengambil pakaian Kat untuk lahiran, ada yang menelfon ambulan dan ada yang menenangkan Kat juga.


Mereka begitu sibuk, Kat sudah tak karuan perutnya sakit sekali. "Tahan nyonya tahan ambulan akan segera kemari "


"Iya aku sudah tak kuat, suamiku dimana suamiku " teriak Kat.


"Akan kamu hubungi tuan nyonya "


Kat hanya menganggukan kepalanya mengatur nafasnya, sungguh dirinya sangat ketakutan sekali. Ini untuk pertama kalinya dirinya akan melahirkan.


...----------------...


Stevan sudah digantung, dibawahnya ada penggilingan daging sedangkan Sienna tangannya di ikat, Sienna begitu ketakutan sekali melihat Stevan digantung seperti itu.

__ADS_1


Tamara dengan semangat menyalakan mesin penggiling daging, "Ada yang ingin kamu ucapkan, sebelum kamu pergi Stevan "


"Aku minta ampun padamu Tamara, tolong ampuni aku, aku tidak akan melakukan ini aku janji padamu tolong jangan seperti ini. Aku begitu takut sekali jangan seperti ini "


"Hemm, tidak ada ampun untukmu. Aku muak melihat laki-laki tukang selingkuh "


Tamara menurunkan sedikit rantai itu dan kaki Stevan sudah kena kearah mesin penggiling itu. Stevan mengangkat kakinya tinggi-tinggi takut sekali.


Tulangnya akan langsung hancur kalau seperti ini, dirinya tak mau merasakan kesakitan itu. Perutnya sana masih sakit jangan ditambah dengan yang ini.


"Tamara jangan bunuh aku, nanti anak kita tak punya ayah "


"Aku tidak peduli, lebih baik anakku tak punya ayah dari pada punya ayah tapi tukang selingkuh "


Stevan diam, dia tak bisa membela lagi dirinya. Kalau sudah seperti ini akan sulit sekali. Pasti Tamara tak akan menerima alasannya lagi.


Tubuhnya makin turun dan kaki Stevan langsung mencium mesin penggiling besar itu, kakinya benar-benar digiling seperti daging sapi, Stevan sudah berteriak merasakan sakit yang begitu gila.


Sienna menatap Lucas, tapi Lucas malah tertawa saja. Dia malah senang melihat wajah Sienna yang ketakutan.


Stevan sudah hilang kakinya, dia berhenti berteriak. Dia menatap istrinya tak percaya kalau sang istri akan seperti ini.


Darah sudah menciprat ke tubuh istrinya itu, tapi istrinya malah asyik menjilati darah disekitar bibirnya dan menyeringai kearah Stevan.


"Bagaimana kamu tahu aku siapa sekarang, siap mendapat penyiksaan yang lebih dari ini"


Stevan mengelengkan kepalanya "Aku tidak percaya kamu seperti itu "


"Aku tidak perlu kepercayaan mu "


"Ayo Lucas biarkan dia kesakitan, biarkan mereka mengobrol berdua melepas rindu mereka"

__ADS_1


Tamara terlebih dahulu keluar disusul Lucas, Stevan langsung meneriaki Lucas. "Lucas bantu kami, tolong kami. Aku tahu kamu tidak seperti Tamara tolonglah"


"Benarkah Stevan, kamu percaya kalau aku tidak seperti Tamara"


"Ya aku yakin kamu tak sepertinya, aku butuh kerumah sakit. Aku belum siap mati aku tidak kuat ini sakit sekali, aku butuh penanganan tolong aku "


"Makanya jadi laki-laki setia, jangan selalu selingkuh. Ini akibatnya terima saja. Bahkan aku bisa lebih dari ini mungkin Tamara bukan apa-apa melakukan ini padamu, ini hal kecil yang selalu aku lakukan, aku bisa mengulitimu hidup-hidup jika aku mau membantu Tamara. Kamu tidak tahu masa lalu aku dan Tamara kami ini bukan manusia normal. Jika kamu ingin tahu siapa kamu berdua, kami ini adalah seorang pembunuh dan tidak akan pernah ada rasa kasihan sedikitpun apalagi pada mangsanya"


"Mungkin Tamara bisa mengendalikan dirinya untuk tidak bersentuhan dengan darah karena akan mempunyai anak, dan punya suami tapi nyatanya suaminya malah menghianati maka dia akan kembali. Kami tidak akan segan-segan untuk membunuh orang yang berkhianat. Kami saja tidak segan untuk membunuh orang yang tidak salah, apalagi orang yang telah berkhianat nikmati saja detik-detik saat kematianmu itu"


"Karena sampai mati pun Tamara tidak akan pernah menolongmu. Bahkan aku pun tidak akan pernah. Dan jika Tamara mau aku bisa menghabisimu sekarang juga tapi sepertinya Tamara ingin bermain-main denganmu dulu, jadi aku membiarkannya dan tak akan ikut campur tentang masalah ini"


"Kamu sudah fatal bermain-main dengan seorang pembunuh, pembunuh itu tidak akan pernah mengampuni siapapun "


Lucas menutup pintu, Stevan menatap Sienna yang masih menangis "Dasar kamu perempuan ******, gara-gara kamu aku menjadi seperti ini "


"Memangnya aku mau seperti ini. Seharusnya kamu pikir-pikir saat menikah. Seharusnya kamu tahu dulu seperti apa istrimu Tamara, bukannya langsung menikah-menikah lihat istrimu seperti orang gila, aku tidak mau mati aku tidak mau. Mataku sangat sakit sekali"


"Kamu lihat sebagian tubuhku sudah tidak ada, emangnya aku tidak sakit di sini aku yang lebih sakit darahku sudah bercucuran seperti itu, aku sudah lemas tubuhku sakit semua"


Stevan menatap tangannya yang digantung, tubuhnya sakit sekali remuk kakinya sudah tidak ada, hidupnya tidak akan pernah lama lagi. Stevan bahkan sampai menangis meratapi hidupnya ini.


Kalau tahu dari awal Tamara adalah orang seperti itu mungkin dirinya tidak akan pernah menikahi Tamara, meskipun demi uang. Dirinya tidak akan pernah mau kalau harus nyawanya yang menjadi taruhan seperti ini.


Sienna mencari jalan untuk keluar "Lihatlah Lucas sepertinya lupa menutup ventilasi itu, sepertinya kita bisa kabur kesana"


"Silakan aku tidak bisa melakukan apa-apa. Mungkin kamu bisa aku sudah pasrah dengan hidupku ini, meskipun nanti aku hidup aku akan cacat. Aku tidak mau itu "


Sienna yang tidak mau mati konyol seperti ini mencoba untuk melepaskan tali yang menjerat tangannya, ini adalah sesuatu yang baru pertama dirinya rasakan dirinya harus cepat-cepat ke rumah sakit matanya sakit sekali.


Harus segera diobati, pasti akan sangat mahal sekali semoga saja nanti ada yang mau mendonorkan matanya. Dirinya tidak mau sampai nanti cacat. Tak akan ada yang mau lagi nanti laki-laki padanya.

__ADS_1


__ADS_2