Psychopath 2

Psychopath 2
Bab 72 Surat ancaman lagi


__ADS_3

Saat aku keluar dari rumah aku sudah melihat Abang,bersandar di mobilnya sambil tersenyum dan melambaikan tangan padaku.


Aku sangat ragu untuk mendekatinya, tapi aku masih sayang nyawa. Akhirnya dengan perlahan aku menghampiri Abang.


Abang langsung memelukku dengan erat, dia juga mencium keningku cukup lama.


"Kita pergi sama-sama ya kesekolah. Maafkan Abang yang sudah kasar padamu. Sekarang kita baikan ya "


"Lebih baik kita tak sama-sama pergi kesekolah Abang. Aku tidak mau nanti ada fitnah dan semua orang membenciku"


"Kenapa, ayo kita pergi sekarang. Tak usah takut dibenci orang "


Abang menarik tanganku dan membantuku masuk kedalam mobil. Aku hanya diam tak banyak bicara. Abang juga sama tak banyak bicara.


5 menit sudah sampai disekolah karena memang jarak rumahku dengan sekolah sangat dekat. Abang membukakan pintu mobil dan mengandeng tanganku.


"Jangan seperti ini Abang, aku jalan sendiri saja. Sudah aku bilangkan aku tak mau dibenci oleh teman-temanku "


"Sudah ayo aku antarkan ke kelas mu. Tak usah takut oleh mereka "


Tanganku digenggam erat, seperti biasa murid perempuan melihat kearah ku. Aku juga mendengar bisik- bisik dari mereka.


"S Kat ga tahu malu banget ya, liat dia digandeng sama Pak Lucas. Udah tahu Pak Lucas itu punya pacar masih saja di godo dasar ga tahu diri "


"Iya bener, emang perempuan gatel. Dia juga dulu dekat sama Darwin kan. Tapi Darwin malah celaka. Emang S Kat itu pembawa sial "


Aku mencoba untuk menutup telingaku, aku tak suka mereka menghinaku seperti itu. Kenapa mereka berfikiran seperti itu coba.


"Jangan didengarkan "


Aku menatap kearah Abang "Mau bagaimana tidak didengarkan, ucapan mereka saja bisa aku dengar. Ucapan mereka saja masuk ke dalam telingaku"


"Apa yang kau inginkan, apa kau ingin mereka aku habisi "


Aku melepaskan pegangan tangan Abang lalu berhadapan dengannya "Tidak usah Bang, aku tidak mau sampai ada korban lagi. Makasih udah diajak bareng "


Aku langsung saja pergi dari hadapan Abang. Aku menjadi berani padanya. Karena memang aku sudah muak diperlakukan seperti boneka.


Aku duduk disambung Dian dan melipat tanganku dengan kesal.


"Kenapa sih kamu "


"Lagi kesel saja Dian, tuh temen-temen diluar pada bisik- bisik tetangga nyebelin banget deh"


"Kenapa bisa kayak gitu "

__ADS_1


"Karena aku berangkat sama Abang makannya mereka bisik-bisik "


"Udah ga usah didengerin, nanti juga diam sendiri. Ini kan hubungan kamu sama Pak Lucas. Jadi mereka ga usah ikut campur mau mereka bilang apapun jangan didengerin"


"Iya sih tapi kesel juga "


"Siapa sih yang recokin kamu "


"Siapa lagi kalau bukan gengnya Sabrina "


"Dia ternyata udahlah jangan didengerin "


Aku menganggukan kepalaku dan mengeluarkan buku-buku ku saja. Dari pada memikirkan mereka semua lebih baik aku belajar.


...----------------...


"Ini Kat mienya "


"Makasih Dian "


"Iya sama-sama "


Aku yang baru saja mau menyuapkan mie itu kemulutku tak jadi. Mangkukku sudah diambil oleh Sabrina dan disiramkan ke kepalaku.


"Akhh panas "


"Nah ini yang pantes diterima sama perempuan gatal. Makanya ga usah gatel deh jadi perempuan"


Aku mengambil mie Dian dan menyiramkannya kewajah Sabrina "Lo kali perempuan gatel "jeritku dengan kesal.


"Sialan ya main siram-siram saja ya panas tahu "


"Ini juga sama panas. Gila ya kamu Sabrina apa sih mau mu "


"Lo jauhi Pak Lucas "


Aku mendorong bahu Sabrina "Lo bilang saja sama Pak Lucas. Ga usah bully gue deh cuman gara-gara masalah laki-laki"


"Pokoknya lo mundur jangan pernah deketin Pak Lucas "


"Terserah, dasar nenek sihir "


Aku keluar dari kerumunan itu dan Dian mengikutiku dari belakang. Berani sekali Sabrina melakukan ini padaku. Aku sedang lapar malah diganggu seperti ini.


"Kat kamu kenapa "

__ADS_1


Aku menatap Abang bersama Ibu Carolet, mereka itu selalu bersama. Mereka itu seperti pasangan. Pasangan yang serasi.


"Lebih baik Pak Lucas jauhin saya saja, ga usah jemput-jemput saya lagi dan ga usah ikut campur lagi tentang hidup saya. Udah sampai sini aja ya Bapak berantakin hidup saya"


Aku melengos dari hadapan Pak Lucas. Aku sudah muak diperlakukan semena-mena oleh semua orang.


"Kat tunggu dong "


Aku tak menghiraukan teriak Dian, aku masuk kedalam kamar mandi lalu aku berteriak sekencang-kencangnya.


"Akhhhh kenapa hidupku seperti ini. Kenapa aku selalu saja sial. Apakah aku tak boleh bahagia "


"Kat keluar dong jangan kayak gini "


"Aku lagi kesel Dian "


"Ini aku bawain baju. Kamu mandi dulu saja aku tungguin di sini ya"


Aku mengikuti kata-kata Dian, aku mandi dengan terburu-buru bahkan rambutku masih bau kuah mie. Aku mengambil pakaian ganti yang diberikan Dian dan menggantinya.


"Mukamu merah banget Kat, kita ke UKS aja ya "


"Ga usah Dian, mending kita ke kelas aja makasih ya untuk bajunya"


"Iya sama-sama. Yaudah yu "


Aku dan Dian pergi ke kelas meskipun perutku lapar, tapi aku tak mau kekantin lagi dan bertengkar lagi dengan perempuan tak tahu diri itu.


Saat aku dan Dian ada didepan meja kami. Aku melihat ada kotak makan. Disana juga ada surat. Aku mengambil surat itu.


Makan, jangan menunda makanmu. Nanti sore temui aku di alamat ini dan jangan sampai telat. Jika tidak nyawa kakakmu, ayahmu dan ibu tirimu taruhannya. Aku tidak main-main kita ketemu nanti sore. Jangan sampai telat sayang sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskanmu.


Aku meremas surat itu dan duduk dengan badan yang mulai lemas. "Dikirim makan nih"


"Makan aja sama kamu Dian, aku ga lapar "


"Tapi kan kamu yang dikasih makan, bukan aku. Lebih baik kamu aja yang makan nanti Pak Lucas malah marah sama aku. Udah makan aja kamu juga kan belum makan. Aku ga papa ga makan nanti pulang aku langsung makan atau ga nanti aku jajan dulu "


"Angga aku lagi ga mood makan, udah makan aja Dian "


"Bener nih "


"Iya bener, kamu makan ya "


Akhirnya Dian mau juga memakannya, aku memang tak selera. Apalagi dengan ancaman yang diberikan Abang. Hidupku penuh dengan ancaman.

__ADS_1


Aku menyimpan kertas tadi kedalam tas ku. Jangan sampai ada yang tahu tentang surat ini. Tapi kapan Abang kesini dan menyimpan bekal itu.


Sudahlah ga usah dipikirin juga. Yang seharusnya aku pikirkan sekarang adalah apakah aku harus pergi sesuai alamat yang diberikan oleh Abang atau aku harus diam saja dan membiarkan keluargaku dihabisi oleh Abang. Menurut kalian apa yang harus aku pilih datang atau tidak.


__ADS_2