
Aku yang baru saja sampai di kantor dikagetkan dengan kerumunan orang-orang. Aku segera menghampiri mereka dan ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan aku juga tidak melihat Barbara ke mana dia.
"Maaf ada apa ya ini"
"Apakah kau tidak tahu Kat, kalau Barbara dibunuh. Bukannya kau sahabat dekatnya masa kau tidak tahu kejadian semalam. Barbara dibunuh dia ditemukan di dekat rumahnya, sudah mendapatkan beberapa tusukan di tubuhnya"
Apa Barbara dibunuh, ini tidak mungkin kemarin malam aku masih bertukar pesan dengannya. Aku membekap mulutku aku masih tidak percaya kalau Barbara meninggalkanku air mataku tiba-tiba saja mengalir. Aku masih tidak percaya kalau sahabatku Barbara pergi meninggalkanku.
Tiba-tiba saja pandanganku gelap. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Aku syok mendengar kalau sahabat dekatku dibunuh.
Aku mencium bau kayu putih, perlahan aku membuka mataku meski masih sangat sulit. Di sana ada beberapa temanku yang sedang mengobrol.
"Aku mengerti kenapa Kat sampai pingsan seperti ini, dia kan sangat dekat dengan Barbara dari pertama mereka masuk mereka sudah sangat dekat sekali kan. Ya wajar Kat sampai pingsan kalau aku ada di posisi Katherine pasti aku akan seperti dia"
"Iya aku pun pasti seperti itu. Aku tidak menyangka penjahat itu akan secepat ini datang ke kota kita, padahal kejadian itu sudah 1 tahun lamanya kalau bukan penjahat itu siapa lagi kan yang membunuh dengan sesadis itu, aku juga membaca berita-berita dia saat membunuh tiga orang siswa itu memang sangat sadis"
"Ya aku juga menyangka kalau orang itu orang yang sama, kita tidak akan pernah bebas lagi untuk bisa pergi kemana-mana saat malam. Kita harus selalu waspada seorang pembunuh sudah ada di kota kita"
Aku yang sudah agak sedikit enakan segera bangkit, teman-temanku kaget saat melihat aku langsung duduk "Sudah kau tiduran saja Kat jangan langsung duduk seperti ini"
"Aku baik-baik saja, aku harus pergi ke rumah Barbara aku tidak bisa diam di sini terus"
Dan bosku datang kemari aku menatapnya untuk meminta izin "Pak saya minta izin untuk pergi ke rumah Barbara"
__ADS_1
"Iya saya juga ke sini ingin berbicara itu, lebih baik kau pulang istirahat dan ambil cuti saja ya, aku tahu kau sangat terpukul atas kematian Barbara "
"Terima kasih Pak. Maaf sudah membuat kantor ini menjadi kacau seperti ini. Saya permisi Pak terima kasih atas pengertian anda"
"Sama-sama Katherine hati-hati di jalan. Minta antar saja supir kantor ya "
Aku mengganggukan kepalaku dan segera mengambil tasku. Sekarang tujuanku adalah ke rumah Barbara. Aku begitu terpukul dan aku begitu merasa bersalah. Kalau saja Barbara menjauhiku mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi.
Aku yakin yang melakukan ini adalah Abang. Abang selalu memakai pisau dan menusuk targetnya dengan pisau kecil dan aku yakin juga kalau Barbara ditusuk oleh pisau kecil itu. Kenapa Abang harus membunuh temanku, kenapa dia harus membunuh teman baikku.
Kenapa dia tidak langsung menampakan dirinya padaku. Kenapa dia tidak langsung membunuhku saja. Kenapa harus Barbara yang menjadi sasarannya. Seharusnya dari awal aku tidak boleh dekat dengan siapa-siapa, mungkin tidak akan ada korban seperti ini mungkin Barbara masih hidup.
Aku yang sudah sampai di kediaman Barbara langsung memeluk ibunya yang sedang menangis "Tante maafkan aku, ini salahku seharusnya Barbara tidak berteman denganku"
"Kat jangan berbicara seperti itu nak, mungkin ini sudah jalannya Barbara untuk pergi, tante juga belum bisa menerima atas kematian Barbara. Tapi mau bagaimana lagi Barbara tidak akan pernah bisa kembali lagi pada tante. Tante sudah melaporkan tentang pembunuhan ini pada polisi "
Kulepaskan pelukan dari ibunya Barbara, aku menatap jenazah Barbara yang sudah dibungkus lengkap oleh kain kafan. Aku memeluk tubuh Barbara, wajahnya pucat sekali aku menangis sesenggukan. Aku sangat kehilangan. Lalu kemarin malam siapa yang membalas pesanku kalau bukan Barbara.
"Barbara sudah aku bilang kan kau jangan pernah dekat denganku. Sudah aku bilang jauhi aku, aku ini pembawa sial, aku sudah memperingati mu. Kenapa kau tidak mendengarkan kata-kata aku. Kalau saja kau menjauh dariku mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi"
Tiba-tiba ada yang membangunkan ku, aku menatap orang itu ternyata itu adiknya Barbara dia memelukku dengan erat "Sudah Kak, Kak Barbara sudah tidak ada. Aku juga sama kehilangan seperti Kakak, tapi mau bagaimana lagi Kak Barbara sudah tidak ada"
Aku tidak bisa menjawab. Aku sudah menangis sesegukan. Aku tidak menyangka kalau Barbara meninggalkan aku secepat ini. Selama 1 tahun hanya Barbara temanku, hanya dia teman dekatku tidak ada lagi hanya dia yang selalu ada untuk ku.
__ADS_1
Setelah keluarga Barbara datang semua Barbara segera dikebumikan. Aku juga ikut ke pemakamannya. Di sana bahkan ibunya Barbara pingsan banyak keluarga yang menangis dengan histeris. Memang Barbara anak yang baik ,pintar, penyayang intinya dia mudah bergaul dan tidak pilih-pilih teman.
Setelah dari pemakaman Barbara aku pulang. Aku tidak kuat kalau harus terus diam di rumah Barbara. Aku makin merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Barbara. Aku masih belum bisa menerima atas kehilangan Barbara.
Tiba-tiba aku merasa ada orang yang mengikutiku, saat aku membalikkan badan ternyata memang ada seorang laki-laki yang mengikutiku. Dia memakai topi dan itu mengingatkan aku pada seseorang.
"Maaf kenapa kau terus mengikutiku ada apa, apa ada sesuatu yang kau ingin bicarakan padaku "
"Maaf bila aku mengganggumu. Kau temanya Barbara ya, aki ingin mengantarkanmu pulang tadi aku melihat kau keluar dari rumahnya Barbara. Aku adalah tetangganya Barbara. Aku takut terjadi sesuatu padamu karena aku lihat saat kau keluar dari rumah Barbara sampai berjalan sejauh ini tatapanmu sangat kosong. Makanya aku ingin mengantarmu pulang"
"Aku baik-baik saja dan aku bisa pulang sendiri, sungguh aku baik-baik saja. Terima kasih atas niat baikmu untuk mengantarkanku"
"Tidak masalah, aku bisa mengantarkanmu. Di mana rumahmu akan aku mengantarkanmu. Kau tahu sendiri kan pembunuh itu sedang berkeliaran bisa saja kau akan jadi target selanjutny. Jangan berjalan sendirian aku pasti akan mengantarkanmu ke rumah dengan selamat"
Aku diam, aku kembali mengingat Abang, sekarang dia tinggal di mana persembunyiannya sebenarnya di mana. Apakah dia punya rumah di sini.
"Tolong biarkan aku mengantarmu sampai ke pertigaan situ saja, aku tidak akan macam-macam"
"Tidak usah, sebentar lagi aku akan sampai rumahku. Kau tidak usah repot-repot untuk mengantarkanku. Bisa saja kan orang yang membunuh Barbara ada di sekitar sini dan aku juga tidak mengenalmu. Maka aku harus waspada pada orang asing. Terima kasih atas tawaranmu yang ingin mengantarkanku, tapi aku tidak bisa diantarkan oleh orang sembarangan"
Aku segera pergi dari hadapan laki-laki itu, aku sekarang tidak percaya dengan semua laki-laki aku takut Abang menyamar. Bisa saja kan dia memakai topeng wajah dan itu bisa saja terjadi. Aku tidak akan pernah percaya siapapun aku sudah kehilangan orang yang penting, orang yang sangat penting dalam hidupku.
Kenapa aku pindah rumah tanpa memberitahu Dian ataupun Kak Chelsea, ini alasannya. Aku tidak mau orang-orang tersayang ku, orang-orang terdekatku celaka apalagi Dian aku tidak mau sampai dia celaka, dia adalah temanku. Dia adalah orang yang paling penting dalam hidupku dan aku tidak mau sampai kehilangan Dian.
__ADS_1
Makanya aku tidak memberi tahu pada siapapun aku pindah ke mana, nomor teleponku berapa dan aku juga tidak menghubungi mereka lagi, biarkan aku hidup sendiri seperti ini agar semua orang terdekatku bisa aman tidak celaka satupun.
Tapi nyatanya, mau seberapa jauh aku berlari dari Abang aku akan terus dikejar olehnya dan dia akan bisa menemukanku. Aku hanya perlu menghitung beberapa hari atau mungkin beberapa bulan dia akan bisa menemukanku lagi. Sekarang aku harus lari ke mana lagi aku tidak tahu harus ke mana.