Psychopath 2

Psychopath 2
Bab 284 Hal yang baru dan menyenangkan


__ADS_3

"Tamara bagaimana suka ketemu lagi dengan aku, aku suka sekali melihat wajah kamu yang murung seperti ini, kenapa kabur hem padahal kamu tak usah kabur mungkin semua ini tak akan terjadi, mungkin semuanya akan baik-baik saja, aku juga pasti akan melepaskan kamu nanti, tapi ya sudahlah kamu kan sudah kabur tapi sekarang sudah ketemu lagi, kita langsung pada intinya saja ya"


Tamara mengelengkan kepalanya, Tamara benar-benar tak suka bertemu dengan kedua orang ini, Tamara ingin keluar dari sini, Tamara benar-benar tak kuat kalau berhadapan langsung dengan kedua orang ini. Hancur sudah dirinya ini.


Tamara bisa hancur kalau langsung berhadapan dengan kedua orang ini, Tamara tak bisa bertahan seperti ini, kalau ada dua orang ini, Tamara akan habis pasti. Tamara sekarang ketakutan sekali, rasannya ingin pergi sejauh mungkin dan tak berurusan lagi dengan mereka kalau tahu akan ada dua orang musuhnya yang langsung berhadapan dengannya.


"Lepaskan aku, aku tidak akan melakukan ini lagi aku tidak akan mengincar Vio lagi. Aku akan pergi sejauh mungkin, aku janji pada kalian berdua sekarang tolong lepaskan aku, aku ingin pergi dari sini aku ingin hidup dengan tenang "


"Memangnya aku akan percaya dengan kata-katamu Tamara. Aku tidak akan pernah percaya kamu ini seorang pembohong kamu ini seorang pengecut tahu tidak lebih. Lebih baik diam di sini dan akan aku habisi sekalian kamu, kamu sangat sudah keterlaluan sekali tahu "


Daniel mendekati Tamara, Tamara mencoba untuk memundurkan kursinya tapi dia malah terjatuh. Valeria memang yang ada di sana tertawa melihat itu sangat lucu sekali "Lihatlah si pengecut ini sampai ketakutan seperti ini, sudah aku bilang kan dia itu bukan tandingan siapa-siapa, dia itu tidak akan pernah bisa melawan dia akan takut. Penakut seperti ini tapi berani sekali bermain-main dengan keluargaku, sungguh kocak sekali "


Daniel tidak menghiraukan kata-kata dari Valeria, Daniel membenarkan kembali kursi itu dan mencengkram dagu Tamara dengan sangat kencang sekali sampai-sampai Tamara kesakitan, Tamara tak mau dirundung langsung oleh dua orang ini langsung.


"Mau langsung saja atau mau dipermainkan dulu, coba pilih salah satu aku binggung sekali, soalnya aku ingin langsung keduanya saja "


"Jangan bunuh aku, kita berdua waktu itu teman kan apa kamu tega melakukan ini padaku, apa kamu tidak kasihan dengan aku, kita ini dulu teman masa kamu tiba-tiba berubah seperti ini Daniel, apa kamu tidak kasihan dengan aku kita sangat dekat dulu bahkan kamu juga sudah menganggap aku sebagai saudara kan, jangan lakukan itu kamu fikir-kiri dulu ya"


Tamara akan mencoba membujuk Daniel dulu, dia tak mau sampai harus mati konyol pasti Daniel akan mengerti, pasti Daniel akan memaafkannya kan, tak mungkin Daniel membunuhnya begitu saja.


"Kamu yang pertama melakukan ini, aku dari dulu tidak ada masalah denganmu tapi kamu yang sudah bermain-main denganku. Maka kamu harus terima akibatnya aku tidak akan pernah melepaskanmu dan kamu akan habis olehku, lihat saja kamu akan habis oleh ku Tamara, aku tak akan segan-segan padamu"


Tamara menggelengkan kepalanya dia tidak mau sampai mati konyol. Tamara harus bisa keluar dari sini kenapa orang-orang tidak ada yang datang kenapa tiba-tiba mereka tidak mendatangi rumahnya, kenapa tak ada yang melindunginya padahal Tamara sudah membayar dengan sangat mahal sekali, tapi apa mereka tak ada sekarang.


Daniel mengeluarkan pisau yang memang sudah dia bawa sejak tadi. Tamara yang melihatnya sampai menangis tapi Daniel tidak peduli dia menghujamkan pisau itu ke dada Tamara, darah sudah keluar, Tamara tak bisa berkata apa-apa lagi.


Tamara menatap Daniel dengan sendu, apakah harus seperti ini pada akhirnya, kenapa Daniel begitu tega dengannya. Kenapa Daniel melakukan ini padanya, Daniel benar-benar tak punya rasa kasihan padannya.


Daniel menatap ke arah Valeria yang hanya diam saja, menatap apa yang Daniel lakukan "Mau coba, sepertinya kamu tertarik dengan hal seperti ini Valeria"


Valeria masih diam apakah dia akan berani melakukan itu "Baiklah aku akan mencobanya, aku penasaran juga akan seperti apa rasannya nanti "


Daniel mencabut pisau itu tanpa perasaan, tubuh Tamara langsung condong ke depan, Daniel memberikan pisau itu pada Valeria, Valeria tidak ada rasa takut atau jijik atau ragu dia mengambilnya dan menghujamkan pisau itu ke perut Tamara, lalu memutarnya beberapa kali menikmati setiap jeritan yang keluar dari mulut Tamara, begitu merdu dan dirinya suka akan hal itu.


Valeria yang baru pertama melukai seseorang langsung tersenyum, rasannya tidak ada rasa takut sedikitpun rasanya ada sensasi aneh saja yang tumbuh dalam dirinya ini, Valeria suka ini, ya dirinya benar-benar suka dengan kegiatan yang mengujinya.


Valeria yang ingin melihat raut wajah Tamara langsung mencabut pisau itu. Tamara sudah minta ampun dia sudah minta maaf tapi Valeria yang merasa kalau melakukan hal ini ternyata mengasyikkan, kembali menusukkan pisau itu ke arah dada sebelah kanan Tamara yang belum terlukai.


"Waw darah sudah keluar dari mana-mana aku suka sekali melihat ini, kenapa begitu menyenangkan sekali aku suka sekali "


"Sebaiknya biarkan saja seperti ini Daniel. Aku ingin melihat darahnya keluar mengalir dari luka-luka yang sudah dibuat itu, lihatlah seperti selai strawberry merah dan sangat menggugah selera sekali"


"Kamu dulu sangat tidak suka denganku karena aku suka membunuh orang, tapi kulihat kamu juga suka seperti ini. Apa aku tak salah lihat dan dengar, apa kamu benar-benar sudah tertarik dengan darah "


Valeria menatap Daniel dan tersenyum "Aku kira hal itu tidak menyenangkan. Kukira itu akan menjijikan tapi ternyata menyenangkan membunuh seseorang apalagi musuh terberat kita, aku suka melakukan hal ini, rasannya aku ingin lagi melakukannya dan lagi "


Daniel hanya tersenyum saja menanggapi kata-kata dari Valeria, semoga saja istrinya tidak punya bibit seperti Valeria. Ya maksudnya senang melukai seseorang Daniel juga tadi kaget saat Valeria mau dan mengambil pisau itu.


Bahkan tanpa ragu langsung menusukkan pisaunya itu ke tubuh Tamara, padahal kalau orang pertama yang baru melakukan ini pasti akan ada rasa takut dan jijik, tapi Valeria berbeda apa sebelumnya mungkin Valeria sudah pernah melakukan hal ini.


"Kenapa kalian berdua sangat tega sekali padaku kenapa kalian begitu tega, di sini aku hanya ingin membalaskan apa yang terjadi dengan orang tuaku tapi kalian malah melakukan ini padaku, kalian benar-benar jahat sekali kalian tak punya hati, aku muak dengan kalian semua "


"Maka jika ingin balas dendam itu langsung pada orangnya saja, sudah salah sasaran tidak berdaya seperti ini lagi. Sangat memalukan sekali, kalau aku jadi dirimu lebih baik aku langsung mati saja, mau disimpan di mana wajahku ini sudah sok menjadi orang jahat tapi nyatanya kamu tidak bisa kan kamu masih kalah "ucap Valeria sambil mencabut pisau yang ada di dada kanannya Tamara.


Tamara berteriak dengan sangat kencang sekali, badannya sudah sangat lemas sekali, Tamara sudah pasrah dengan hidupnya ini, percuma dirinya hidup juga tak akan ada yang menemaninya, tak akan ada yang mengurusnya. Lebih baik diam dan ikuti permainan mereka meski ini sangat sakit sekali rasanya.

__ADS_1


Valeria mengusap darah yang ada di pisau itu, bau anyir memang langsung menyeruak tapi Valeria sama sekali tidak jijik dengan semua itu, Valeria tersenyum senang sepertinya nanti dirinya akan suka melakukan ini pada orang lain. Akan menjadi hobby barunya nih. Valeria tak sabar untuk melakukan hal ini pada orang lain, pada orang yang dirinya benci.


Tamara sudah tak bisa membuka matanya lagi, pandanganya sudah kabur sekali, Tamara hanya bisa mendengar suara tertawa mereka saja, tapi Tamara sudah tidak bisa membuka matanya, ini sangat sakit sekali Tamara tak bisa menahan rasa sakit ini terlalu lama lagi semua badannya sudah sakit.


Saat nanti jika dia terlahir kembali Tamara akan membalaskan semua ini, akan membalaskan rasa sakitnya ini. Tamara akan kembali membalasnya rasa bencinya ini akan terus bertambah, rasa sakit hatinya ini akan terbawa sampai dirinya mati, akan ada saatnya mereka mendapat karma dan merasakan apa yang dirinya rasakan.


"Apakah dia sudah mati Daniel, apakah darahnya sudah habis. Aku tak sabar ingin melihat dia kehabisan darah "


"Belum dia masih bernafas dia belum mati, dia memang kuat sudah biarkan saja kita lihat sampai jam berapa dia tahan. Aku juga tidak akan pernah meninggalkannya aku takut dia nanti kabur lagi. Biarkan dia merasakan sakit itu, biar tahu rasa Tamara ini, aku dulu begitu baik padannya tapi apa balasannya malah seperti ini "


Tapi Valeria yang memang sudah ketagihan kembali menusukkan pisau itu ke arah kaki Tamara, bahkan kembali menusukkannya ke beberapa tubuh Tamara yang lain Valeria benar-benar suka dengan semua ini rasanya bebas pikirannya plong saja.


Kapan lagi kan Valeria akan melakukan ini lagi dia juga bingung kalau ingin melakukan hal seperti ini lagi, harus bagaimana Valeria benar-benar baru pertama kali melakukannya tapi dia sudah sangat ketagihan sekali.


...----------------...


Saat sudah melihat Tamara tak bernafas lagi Daniel langsung membawanya ke taman belakang, di kubur saja Tamara di sana tidak akan ada yang tahu juga, sedangkan Valeria dia sedang membersihkan badannya yang sudah kotor dan bau amis.


Daniel melakukan ini semua sendirian, tidak mungkin kan Daniel menyuruh Valeria untuk menggali tanah ini, yang ada dia akan mengamuk kalau disuruh seperti ini.


Valeria menatap wajahnya di pantulan cermin, dia sudah selesai mandi lalu dia menatap tangannya yang habis membunuh Tamara "Apa yang aku lakukan ini benar, apa semua ini tidak akan ada konsekuensinya ke depannya. Aku benar-benar suka dengan apa yang aku lakukan, Daniel sudah membuat sisi jahat ku keluar, dulu aku mungkin menyembunyikannya dan menekannya dengan sangat dalam tapi sekarang malah keluar "


"Tapi ya sudahlah semuanya sudah terjadi. Mau dikatakan apa juga aku sudah membunuh perempuan itu, dia tidak akan bisa kembali lagi dia tidak akan pernah bisa datang lagi padaku dan membalaskan nya lagi, yang terpenting sekarang hidup Vio sudah tenangkan tidak akan ada lagi musuh dari belakang seperti ini, musuh yang sangat lemah itu "


Valeria memakai pakaian Tamara, dia juga tadi membakar pakaiannya karena kata Daniel lebih baik dibakar agar tidak ada sidik jari ataupun bukti yang akan memberatkan mereka. Kalau sampai Tamara ditemukan bahkan tadi juga Valeria sudah memastikan kalau sidik jarinya dan juga sidik jari Daniel tidak ada di tubuhnya Tamara.


Valeria juga tak mau kalau sampai harus dipenjara, mau disimpan dimana wajahnya ini, pasti kelurganya juga akan sangat marah sekali, mungkin dirinya tak akan dianggap anak lagi.


Valeria yang sudah selesai melihat Daniel yang masih menggali dan memasukkan Tamara ke dalam lubang yang begitu dalam sekali, ternyata seperti ini ya kalau sudah membunuh. Harus membereskannya sendiri, Valeria kira akan langsung didiamkan saja seperti itu dan dibiarkan busuk.


"Aku akan pergi ke rumahku saja, daripada nanti ketemu Vio dan dia banyak tanya nanti malah akan jadi masalah. Lebih baik aku pulang saja, aku juga sudah lelah dan ingin istirahat "


"Aku antar pulang atau bagaimana, atau mau pulang sendiri saja "


"Aku pulang sendiri saja aku bukanlah perempuan lemah yang harus diantarkan oleh laki-laki, aku bisa melakukannya sendiri, aku tak mau diantar pulang olehmu juga nanti malah akan jadi fitnah tahu sendiri kan bagaimana orang-orang sekarang "


"Yah itu terserah kamu saja, silakan aku akan pulang kerumah, aku harus menemui anak dan istriku, kamu hati-hati saja dijalannya "


Valeria hanya menganggukkan kepalanya membiarkan Daniel untuk pergi terlebih dahulu. Valeria menatap tanah yang sudah rata lagi "Sekarang tidak ada kamu lagi Tamara, kamu sudah aku habisi dan kamu tidak akan pernah bisa mengganggu Violetta lagi. Sudah cukup teror mu yang sangat tidak berarti ini, aku kira kamu memang menakutkan tapi ternyata tidak kamu itu hanya seorang pengecut yang bisa dihabisi dengan cepat juga"


"Kalau tahu begitu aku sudah menghabisi sejak lama sendirian "


Barulah setelah mengatakan itu Valeria pergi dari sana, Valeria juga ingin cepat-cepat istirahat ingin tidur dan besok dia harus bangun pagi karena ada sebuah meeting yang harus dia temui dan tidak bisa ditahan-tahan lagi.


...----------------...


9 bulan kemudian


Alex hanya diam bersandar di kursi dia mencoba untuk tenang, istrinya akan melahirkan dan Karina sekarang sedang ada di rumah kakaknya dia tidak mau membawa Karina takut Karina malah rewel dan membuatnya pusing.


Apalagi melihat mamanya seperti ini, pasti Karina malah akan menangis dan rewel. Alex tidak bisa menangani dua orang sekaligus kan, masa nanti dia meninggalkan istrinya begitu saja sedangkan istrinya juga membutuhkannya kan.


Alex ada dalam satu ruangan dengan Ayu, dari tadi Ayu terus menggenggam tangan Alex dengan erat. Alex juga mencoba untuk menenangkan istrinya. Dia tidak boleh panik saat Karina lahir Alex sangat panik sekali.


Alex harus mencoba tenang dan mengatur semuanya, dia tidak boleh sampai membuat Ayu ketakutan sebenarnya dari awal sih Alex ingin punya anak satu saja tapi dipikir-pikir lebih baik punya anak banyak juga tidak masalah kan, itu akan sangat menyenangkan rumahnya akan ramai dengan canda tawa anaknya.

__ADS_1


Tapi setelah melihat Ayu yang seperti ini, dirinya harus fikir-fikir ulang lagi deh, tak boleh egois dan membiarkan istrinya kesakitan terus.


Saat ada dokter yang masuk Alex langsung bertanya padanya "Kapan istriku akan melahirkan dokter, kenapa sangat lama sekali lihat dia sudah sangat kesakitan sekali"


"Kita masih harus menunggu pembukaan lengkap, kita tunggu sebentar lagi ya pak sabar "jelas dokter itu yang baru saja tadi mengecek istrinya.


Alex tidak bisa gegabah di sini, dia hanya bisa pasrah dan menganggukkan kepalanya Alex mengusap rambut istrinya dan juga berbicara dengan Ayu "Tenang ya sayang, semuanya akan baik-baik saja aku ada di sini aku akan menemanimu. Aku tidak akan pergi kemana-mana kamu pasti akan selamat, kamu pasti akan bisa melahirkan anak kita lagi kamu tenang tarik nafas buang lagi ya seperti itu sayang, tenang ya kita akan baik-baik saja, anak kita akan lahir dengan selamat dan Karina akan punya adik seperti apa yang dia mau aku akan terus menemani kamu di sini"


"Aku tak akan meninggalkan kamu kemana-mana sayang aku disini bersama kamu "


Ayu hanya bisa menganggukkan kepalanya, wajahnya sudah sangat pucat sekali ini untuk kedua kalinya Ayu melahirkan, tapi rasa tegangnya masih sama malahan lebih tegang yang ini daripada yang awal-awal. Ayu merasa dirinya akan lebih sulit melahirkan anak yang kedua ini entah kenapa pikirannya malah mengarah kesitu.


"Kenapa Alex yang ini sakit sekali. Ya ampun aku sakit sekali waktu Karina tidak seperti ini, aku tak kuat Alex akan sampai kapan terus begini Alex "


"Sabar ya aku ada di sini, aku ada bersamamu aku usap perut kamu ya sabar kamu pasti akan baik-baik saja. Kamu pasti bisa menjalankan semua ini sayang aku di sini bersama kamu aku tidak akan pernah kemana-mana, kamu lihat aku saja ya "


Ayu hanya bisa menganggukkan kepalanya dia sudah sangat pasrah sekali harus melakukan apa lagi, rasanya sudah tak kuat sekali dengan apa yang terjadi dengannya ini.


Satu jam setengah akhirnya Ayu dibawa ke ruang bersalin, Alex dari tadi terus saja mengikutinya untung saja kan boleh masuk Ayu bahkan terus menggenggam tangannya dengan erat. Ayu tidak mau melepaskan tangannya ini.


Alex melihat kembali bagaimana perjuangan seorang ibu untuk mengeluarkan anaknya. Alex bahkan mendengar Ayu yang menjerit mencakar nya tapi Alex tidak peduli, yang terpenting semua kesakitan istrinya ini bisa terlampiaskan, sebenarnya kalau bisa Alex saja yang merasakan sakit ini daripada istrinya.


Kalau bisa dipindahkan, lebih baik padannya saja kan. Alex jadi menangis kan melihat istrinya seperti ini, untuk pertama kalinya dia menangis setelah dewasa, mungkin wajar saat kecil, tapi saat melihat perjuangan istrinya begitu sedih Alex.


Alex berjanji tak akan pernah menyakiti istrinya lagi, Alex akan membuat istrinya bahagia selalu dan tersenyum lebar, pengorbanan istrinya begitu menyakitkan, apalagi nyawa taruhannya ini.


Wajah Alex benar-benar sudah pucat sekali, takut kenapa-napa dengan istrinya ini dari tadi istrinya sangat kesulitan untuk melahirkan anaknya ini, berbeda dengan Karina yang cepat.


Tapi sampai akhirnya terdengar suara tangisan bayi, anaknya sudah keluar Alex langsung bernafas lega Alex menciumi wajah istrinya itu betapa senangnya dia melihat istrinya sudah bisa melahirkan dengan selamat Alex bahagia sekali.


"Selamat ya Pak Bu anaknya laki-laki"


Ayu hanya tersenyum saja rasa sakitnya sudah terbayar dengan anaknya yang selamat dan lahir dengan sempurna, satu lagi istrinya juga selamat. Ayu tersenyum pada Alex tidak menyangka kalau dia bisa melahirkan kembali anak keduanya, laki-laki anaknya sudah satu pasang.


Alex juga sama bahagianya dia berterima kasih pada dokter yang sudah membantu Ayu untuk melahirkan, ini sangat-sangat membuatnya bahagia sekali Alex berjanji Ayu tidak akan melahirkan lagi sudah Alex tidak mau melihat istrinya kesakitan lagi, cukup ini yang terakhir, cukup dua anak saja tidak usah banyak-banyak.


Bayi itu ditidurkan di dada Ayu, Ayu tersenyum melihat wajah anaknya kenapa semua anaknya mirip dengan Alex tidak ada yang mirip dengannya "Kenapa anak-anak kita semuanya mirip denganmu Alex, kenapa tidak ada yang mirip denganku. Aku juga ingin anakku sama dengan aku, semuanya benar-benar menjiplak wajahmu, padahal aku kan yang mengandungnya "


"Ya karena aku ayahnya, makanya mereka mirip denganku. Aku kan yang paling banyak bergoyang sayang jadi mereka harus mirip denganku, itu memang sudah harusnya jadi kamu tak boleh protes sayang "


Ayu ingin rasanya memelintir mulut suaminya itu di sini masih ada suster dan juga dokter tapi suaminya itu malah seenaknya seperti itu, menyebalkan sekali suaminya ini.


Anaknya kembali menangis dan dokter membantu Ayu untuk menyusuinya. Ayu sangat senang sekali saat mendengar anaknya itu menyusu dengan kencang padanya, sensasinya begitu menyenangkan saja.


"Lihatlah Alex tak ada satupun yang mirip denganku mata hidung bibir semuanya padamu, ini sungguh tak adil Karina juga sama mirip denganmu hanya matanya saja yang mirip denganku seluruhnya kamu saja. Kenapa tak adil sekali Alex "lagi-lagi Ayu protes karena memang kesal sekali Ayu ini.


Alex yang mendengarnya tentu langsung tersenyum, memang hebat dirinya ini bisa membuat anak yang mirip semua dengannya "Aku memang hebat sayang tapi aku tidak mau menambah anak lagi, cukup dua anak saja kita sudah memiliki putri dan putra yang sudah sepasang dan kita tidak perlu mempunyai anak lagi. Cukup aku tidak mau melihat kamu sakit lagi"


Ayu yang mendengar itu malah meleleh rasanya Ayu bahagia sekali diperhatikan seperti ini oleh Alex, laki-laki yang sudah sangat dia cintai sekarang bahkan rasa cintanya mungkin akan lebih besar dari Alex.


Ayu mengusap wajah suaminya yang begitu dekat dengannya. Ayu menyukai wajah Alex yang begitu mulus ini, apalagi hidup Alex yang mancung sedangkan hidung Ayu tak seperti ini.


"Sayang, kamu jangan memancing aku "


"Aku tidak melakukan itu. Aku hanya mengusap mu saja"

__ADS_1


Alex tersenyum, entah kenapa kalau sudah disentuh oleh istrinya suka langsung tergoda saja, padahal istrinya ini baru saja beres melahirkan harus tahan Alex tak boleh gegabah dan membuat istrinya marah padannya kan Alex harus sabar.


__ADS_2