
Kembali pada sudut pandang Kat.
Malam-malam sekali aku sudah sampai di rumahku. Dengan cepat aku mengetuk pintunya, pintu tidak dibuka tapi aku mendengar ada suara langkah kaki. Aku yakin itu Kakakku bukan Abang. Aku sungguh takut dengan Aban.
Ctrek suara pintu dibuka, aku langsung memeluk Kakakku yang membuka pintu. Kakakku melepaskan pelukannya menatap tubuhku.
"Kau baik-baik saja kan Kat "
"Iya aku baik-baik saja "
"Mana Lucas kau diantarkan olehnya kan "
"Sudah ayo masuk dulu Kak "
Aku menarik tangan kakakku untuk masuk dulu. Lebih baik bicara dirumah jangan diluar seperti ini. Takut-takut Abang datang dan marah padaku. Untung saja Abang tak memberi kejutan lagi seperti kemarin.
Aku tak lupa mengunci pintu rumah dulu. Aku membuka sedikit gorden untuk melihat apakah ada orang yang mengikutiku tapi tak ada. Aku sangat bersyukur sekali aku bisa pulang dengan selamat.
Aku membawa Kakakku duduk dikursi yang tak jauh dari pintu "Kenapa kau seperti ketakutan Kat, ada apa dengan mu. Apakah ada yang mengikuti mu "
"Aku kabur dari Abang Kak, makanya aku takut Abang tiba-tiba datang ke sini dan bawa aku lagi pergi. Aku ga mau pergi sama dia lagi ini juga aku kabur susah payah Kak. Sepertinya aku harus pergi dari kota ini. Aku tidak mungkin terus di kota ini Kak "
"Kenapa kamu harus lari dari kota ini, memangnya kenapa apakah Lucas sudah menyakitimu apa dia melakukan sesuatu padamu sampai-sampai kau harus pergi dari kota ini. Jangan gegabah Kat "
"Kota ini sudah tidak aman untukku Kak. Aku harus pergi aku tidak mungkin terus tinggal di sini mungkin nanti aku akan bilang sama Ayah. Aku tak mau bertemu lagi dengan Abang Kak "
__ADS_1
"Jangan, kamu ga usah pergi dari sini. Kamu sekolah belum selesai dan sebentar lagi sekolah kamu akan selesai jangan gegabah tiba-tiba kamu pergi begitu saja. Apa kamu pergi karena takut sama laki-laki itu. Sudahlah kita lawan sama-sama saja ya. Kita lawan laki-laki itu. Jangan takut ada Kakak. Kamu ga bisa lari gitu aja. Dia pasti akan kejar kamu terus Kat. Yang ada kamu yang cape nanti "
"Dia bukan laki-laki yang mudah untuk kita lawan Kak. Dia bukan laki-laki sembarangan aku tidak mau Kakak nanti celaka, sungguh aku tak mau melibatkan siapapun disini "
"Sudah kau jangan pergi kemana-mana percuma kabur juga kau akan ditemukan lagi olehnya. Lebih baik kau masuk kamar dan beristirahatlah. Ini sudah sangat larut malam aku tidak mau kamu memikirkan itu semua lebih baik sekarang kamu masuk kamar dan istirahat. Aku pun akan istirahat sekarang "
Tanganku ditarik oleh Kakakku dan dia membawaku ke kamarku. Lalu setelah itu dia pergi ke kamarnya aku hanya diam merenung. Apakah Abang akan menemukanku pasti dia akan menemukanku ini kan gampang sekali. Aku kabur ke rumahku sendiri.
Aku penasaran dengan tas yang ayah berikan. Sebelumnya aku menutup pintu dulu terlebih dahulu, aku juga mengunci pintu takut-takut ini adalah sebuah rahasia dari ayah dan tidak boleh ada yang tahu. Ayah sudah mengatakan padaku kalau ini tidak boleh diketahui oleh siapa-siapa.
Aku membuka tas itu dan di dalamnya adalah surat-surat. Aku membukanya satu persatu ternyata ini adalah surat rumah, surat perusahaan dan banyak lagi. Atas nama mamaku Jovanka dan di sini juga ada keterangan kalau aku sudah berumur 18 tahun maka semua ini akan menjadi milikku.
Aku memeluk berkas-berkas itu, ternyata ini berkas penting. Tapi aku malah menggeletakannya begitu saja. Bagaimana kalau ada yang mengambilnya aku dengan cepat pergi ke arah lemariku dan menyimpan berkas-berkas ini di tempat yang paling aman dan tidak akan pernah ada yang tahu.
Tiba-tiba pintuku diketuk, aku segera membuka kunci pintu kamarku dan ternyata Kakakku membawa sup dan juga segelas air.
"Maaf kak, tadi aku hanya ketakutan saja takutnya Abang datang kemari tiba-tiba masuk ke kamarku gitu. Makanya aku menguncinya aku sangat ketakutan Kak"
"Ya sudah kau makan dulu ya, aku lupa kau pasti sangat lapar sekarang makanlah dulu nanti setelah itu istirahat. Apakah perlu aku temani makannya Kat "
"Tidak usah Kak, lebih baik Kakak tidur saja aku baik-baik saja sendiri makan di sini. Aku juga setelah makan akan langsung tidur. Besok juga pasti Kakak akan kerja maka kakak harus cepat-cepat pergi tidur. Agar ditempat kerja Kakak tidak mengantuk"
"Iya, ya sudah Kakak tinggal dulu ya. Kakak tinggal tidur kamu nanti setelah makan harus cepat-cepat tidur ya jangan begadang. Kalau masih cape jangan sekolah dulu "
"Iya kak nanti aku langsung tidur kok. Kakak tenang aja"
__ADS_1
Kakakku langsung pergi meninggalkanku sendirian. Aku dengan cepat memakan sup itu, karena memang aku sangat lapar.
Tadi aku sama sekali tidak keluar dari bus, aku hanya diam terus meskipun orang-orang beristirahat tadi membeli makan.
Aku tidak berani, aku tidak berani keluar takut-takut nanti aku malah bertemu dengan Abang atau mungkin suruhannya Abang.
Tidak mungkin kan Abang tak mempunyai anak buah. Dia pasti akan menyuruh orang untuk mencariku. Aku tidak mau sampai ketemu aku takut disiksa lagi olehnya.
Tapi tetap saja sih nanti juga dia akan kembali kemari dan menyiksa aku. Sudahlah itu ku pikirkan nanti saja. Aku juga mau pergi ke mana tadi kata Kakak aku harus diam di sini tidak boleh pergi kemana-mana. Sekarang aku jadi pusing.
Aku melihat ke arah ponsel yang diberikan oleh Abang. Apakah aku harus menyalakan ponsel itu, tapi takutnya kalau Abang menelpon bagaimana. Lebih baik aku buang saja pemberian darinya tidak penting kan kalau sampai aku simpan untuk apa juga.
"Aku akan membuang setiap apapun yang kau berikan padaku, aku tak akan menerimanya"
Aku mengambil ponsel itu dan melemparnya ke arah tembok, tapi masalahnya itu belum hancur. Aku mengambilnya lagi lalu mencari barang yang berat untuk menghancurkan ponsel itu.
Aku menemukan sebuah palu yang entah kenapa ada di kamarku. Mungkin bekas aku memasang paku untuk gantungan tapi entahlah. Aku meremukan ponsel itu sampai tidak tersisa dan tidak berbentuk lagi.
"Baguslah ponsel ini sudah tidak ada gunanya lagi. Aku tidak mau sampai Abang mengetahui sekarang aku di mana" gumamku dengan tenang.
Untuk sekarang aku mungkin bisa tenang, tapi untuk kedepannya aku tidak tahu. Apakah aku bisa tenang dari Abang atau tidak.
Tapi yang terpenting aku tidak berhadapan dengannya, aku tidak bisa kalau terus disakiti oleh Abang. Tapi bagaimana cara aku pergi dari Abang.
Aku duduk termenung memikirkan bagaimana cara pergi dari Abang. Tapi tak ada satupun cara yang terlintas dari kepalaku.
__ADS_1
Semuanya terasa buntu, apalagi harta ibuku ini pasti akan ada sangkut pautnya dengan Abang. Bagaimana aku pusing memikirkan nasibku ini.
Aku kira dia akan menjadi pelindungku tapi ternyata dia malah menjadi orang yang menyakitiku. Aku sungguh tak menyangka kalau dia yang akan menyakitiku selanjutnya setelah ibu tiriku.