
Adiba sudah siap-siap dengan pakaiannya yang begitu seksi, dia akan pergi ke club bersama teman-temannya. Pokoknya hidup itu harus di bawa enjoy dan dibawa santai, dirinya tidak mungkin kan masih muda seperti ini tapi harus mengurus anak dan suaminya.
Itu akan sangat melelahkan sekali, dan dirinya tidak mau melakukan itu lebih baik senang-senang bersama temannya kan. Dari pada menghabiskan waktu didapur dan mengurus suaminya serta anaknya.
Yang pasti penampilannya akan terlihat tua dan juga menyedihkan sekali. Kalau nikah muda dengan orang kaya sih tak masalah tapi ini dengan orang biasa-biasa saja merepotkan sekali.
Adiba keluar dari dalam kamar dan menatap suaminya yang sedang menimang-nimang Sela. Dia tidak peduli, toh dirinya sudah mengorbankan nyawanya untuk melahirkan anak itu maka sekarang tugasnya Toni adalah mengurusnya dengan baik dan benar.
"Sekalian saja jangan pulang ke rumah, percuma pulang juga cuman bikin masalah saja "celetuk Toni melihat penampilan Adiba yang seperti ******. Pakaian kurang bahan seperti itu.
Adiba berdecak kesal "Yah aku tidak akan pulang. Tenang saja aku tidak akan pulang lagi ke rumah ini. Aku juga muak melihat wajahmu. Aku juga muak terus-terusan ditanya mau ke mana, dengan siapa pulang jam berapa dan banyak lagi. Kamu itu terlalu ingin tahu urusanku padahal urus saja hidup mu sendiri jangan urus hidupku ini "
"Wajar aku menanyakan itu, nanti yang bertanggung jawab kalau sampai terjadi apa-apa padamu aku. Aku yang bertanggung jawab bukan orang lain. Aku di sini yang akan disalahkan atas apa yang kamu lakukan nanti. Seharusnya kamu itu fokus mengurus anakmu setelah pulang kuliah, seharusnya kamu fokus mengurusnya bukan seperti ini pergi-pergi dengan pakaian yang kurang baik seperti itu. Bagaimana dengan kata-kata tetangga melihat kelakuanmu seperti itu, apalagi kamu selalu saja pulang subuh subuh subuh. Apa yang akan dikatakan oleh tetangga ingat kita hidup bertetangga bukan di hutan dan kamu saja yang tinggal "
"Tidak usah didengarkan kata-kata tetangga, kita ini hidup bukan karena tetangga. Sudahlah memikirkan sekali tentang mereka ucapan mereka, aku tidak peduli mereka mau bilang apa yang terpenting hidupku. Yang penting keadaanku aku tidak peduli mereka mau bilang, intinya aku tidak suka orang-orang ikut campur tentang hidupku. Aku muak mereka ikut campur "
"Ya mungkin kamu tidak peduli, tapi aku disini sebagai suami dicap suami tidak benar. Karena tidak melarang istrinya, membiarkan istrinya pulang malah pulang malam dan anak ditinggal seperti ini. Apa kamu tidak kasihan melihat Sela seperti ini. Apa kamu tidak lelah setiap hari kita bertengkar tidak ada redanya, selalu saja seperti ini"
"Aku lelah, maka ceraikan aku. Aku juga tidak sudi pulang kemari kalau bukan karena keluargaku. Aku juga tidak akan mau pulang ke sini lagi, ingat aku tak akan mau lagi pulang kesini "
"Sudah aku lakukan, aku sudah membuat gugatan cerai jadi lebih baik kamu jangan pernah pulang lagi ke sini. Kamu jangan datang ke sini lagi dan jika terjadi sesuatu jangan pernah telepon aku atau menghubungiku lagi. Aku tidak ada urusan denganmu. Aku akan angkat tangan dengan apa yang berurusan denganmu. Aku muak dengan setiap yang kamu lakukan"
"Oke besok pagi aku akan mengambil semua pakaianku dan aku tidak akan bertanggung jawab atas anak itu. Aku tidak mau mengurusnya jangan sampai dia tahu kalau aku ibunya. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau mengakuinya sebagai anakku, pegang kata-kataku ini. Aku tidak mau anak itu menganggap ku sebagai ibunya "
Adiba langsung pergi begitu saja dengan kemarahan yang begitu besar pada suaminya. Berani sekali dia mengusirnya, lihat saja apa yang dia akan lakukan jika nanti suatu saat anaknya ingin mendekatinya, tidak akan pernah dirinya mau tidak akan pernah dirinya menerima.
Anak itu suatu saat akan membutuhkannya, akan mencarinya tapi dirinya akan menolaknya dengan mentah-mentah tak akan menerimanya, akan dirinya usir nanti.
...----------------...
Zeline yang sedang menimang cucunya menatap orang yang turun dari dalam mobil, Zeline mengerutkan keningnya saat melihat siapa yang datang.
"Tamara " gumam Zeline dengan kaget
"Hallo Tante, senang bertemu denganmu lagi, bagaimana kabarmu apakah baik-baik saja"
"Tentu aku baik-baik saja, seperti yang kamu lihat aku baik dan tidak kenapa-napa "
"Aku ingin berteman dengan Katherine, dia ada dirumahkan "
"Mau apa kamu bertemu dengan menantuku, kurasa kalian tak saling kenal, tapi kamu tiba-tiba ingin bertemu dengan menantuku "
"Kami berteman memang salah kalau bertemu, tidak kan tidak ada yang salah kalaupun kami bertemu itu hal yang wajar karena kami di sini teman bukan musuh. Aku hanya ingin menemuinya saja Tante, aku tak akan melukainya aku hanya ingin bertemu saja "
Tamara langsung saja masuk dan memanggil nama Katherine, yang memang sedang memasak bersama Daisy dan juga Aruna. Kat segera keluar dan menatap Tamara yang datang. Kat langsung menyambutnya dan menyuruhnya untuk duduk.
"Tamara apa kabar"
"Aku baik sangat baik, bisa kamu mengantarku. Aku sungguh butuh bantuan kalau bukan sama kamu aku harus minta bantuan siapa "
"Ke mana memangnya mau pergi ke mana, akan aku usahakan aku bisa membantumu "
__ADS_1
"Aku ingin membeli perlengkapan bayi dan aku juga bingung harus memilih yang mana. Siapa tahu kamu bisa memilihnya dan kamu juga kan sudah punya bayi jadi pasti akan mengerti dan bisa memilihkannya untuk anakku nanti "
"Baiklah aku akan meminta izin pada suamiku dulu, dan juga mertuaku, karena aku harus menitipkan Daniel juga pada mamih "
"Tentu aku akan tunggu di sini, jangan lama-lama ya aku juga nanti harus pergi kekantor lagi "
Kat menganggukan kepalanya, dia berbicara dengan suaminya yang baru saja turun dan suaminya membolehkannya untuk pergi. Sebenarnya saat berpamitan pada ibu mertuanya tidak dibolehkan tapi mau bagaimana lagi Tamara sudah menarik tangannya untuk masuk ke dalam mobil.
Bahkan dirinya belum menjawab ibu mertuanya, tapi tangannya sudah ditarik begitu saja. Tarikan Tamara juga begitu kencang sampai-sampai Kat tak bisa melepaskannya.
"Lucas kenapa kamu membiarkan istrimu pergi dengan perempuan itu. Mami tidak suka ya dengan dia Mami tidak pernah suka lagi dengan perempuan yang bernama Tamara itu, sudah Mami bilang kan dari dulu jangan pernah dekati dia lagi kenapa sekarang malah istri kamu yang dekat dengan perempuan itu. Mamih ingin penjelasan yang rinci Lucas. Apakah kamu mau kejadian yang dahulu terjadi lagi "
"Sudah lah mih, Tamara juga manusia dia pasti akan ada berubahnya kenapa Mami sangat ketakutan sekali mereka berteman dengan baik. Sudah biarkan saja hanya pergi ke mall untuk berbelanja saja tidak ada salahnya kan, aku juga pasti akan selalu mengawasi istriku "
"Iya tapi nggak seperti itu juga, membiarkan dia pergi bersama Tamara hanya berdua saja. Bagaimana kalau dia macam-macam dia itu bukan perempuan baik. Ingat dia bukan perempuan baik "
Lucas menghela nafasnya, dari dulu memang mamanya tidak menyukai Tamara, semenjak maminya tahu kalau Tamara itu sama sepertinya sama orang yang suka dengan darah. Maminya sangat membenci itu tapi maminya tidak membencinya mungkin karena dirinya anaknya.
"Sudah lama dia juga tidak pernah menemui keluarga kita kan, dia juga temanku dulu di tempat rehabilitas jadi tidak masalah kan kalau istriku berteman dengan temanku juga, dia juga tidak pernah macam-macam kan aku juga sedang menjalin kerjasama dengan perusahaannya. Jadi jangan terus diungkit-ungkit masalah yang dulu-dulu "
"Ya ampun Lucas kamu sudah dekat itu lagi, Mami dari dulu kan sudah bilang jangan dekati perempuan itu. Sepertinya dia perempuan licik, dia itu bukan teman yang baik untuk istri kamu. Bisa-bisa dia celaka Lucas "
"Biar Daniel bersamaku saja ya. Mami sepertinya sedang marah lebih baik Mami menenangkan diri Mami dulu ya, kasian Daniel kalau harus mendengar suara teriakan mamih "
Lucas langsung mengambil anaknya, mengambil alih anaknya Daniel biar bersamanya saja, karena mamahnya sedang mengantar dulu temannya untuk berbelanja. Tak masalah kalau berangkat dengan Tamara Lucas tidak masalah karena Tamara bisa menjaga dalam keadaan apapun.
Sebenernya tadi ingin berbicara dengan mamihnya tentang dirinya yang tak akan pindah lagi. Tapi waktunya belum tepat mamihnya masih marah-marah seperti itu dan tak akan baik nanti kedepannya kalau dibicarakan sekarang juga.
...----------------...
"Ini saja ini juga cantik, kamu juga mau belikan baju gaun untuknya nanti ya mungkin akan terpakai, nanti tapi ya nggak papa dari sekarang aja biar nanti kamu nggak bolak-balik beli"
"Iya bener banget, anakku pasti akan sangat suka sekali nanti " Tamara mengambil pakaian itu dan mengambil beberapa pakaian, sepatu aksesoris perempuan banyak lagi yang dia bawa dia juga mengambil peralatan-peralatan lainnya.
"Lihat apa ini sudah lengkap, semuanya sudah ada. Apa tidak ada yang tertinggal. Semuanya sudah lengkap kan Kat "
"Sepertinya sudah tidak ada. Semuanya sudah lengkap. Oh ya kamu apa ingin membeli tempat tidur ayunan atau apapun itu, biar sekalian gitu "
"Kalau itu aku sudah ada, aku pesan online sih sebenarnya kalau pakaian sih belum karena aku ingin melihat dulu bahannya karena kan kalau pakai yang bayi itu susah ya, harus cari yang yang nyaman dan juga adem. Jadi aku lebih baik belanja sendiri seperti ini dan diantar sama kamu "
"Iya juga sih ya udah ini dulu aja berarti ya, kita udah selesai ya belanjanya "
"Iya udah dulu aja Kat nanti kalau ada yang kurang aku belanja lagi dan ajak kamu. Nanti kamu mampir dulu ke rumah aku ya sebentar aja ga akan lama kok, aku juga akan lakuin apa-apa sama kamu aku janji deh"
"Boleh tapi nggak lama-lama ya, aku takut Daniel haus. Soalnya aku tadi belum kasih Daniel asi, aku ga bisa tinggalin Daniel lama-lama kasian dia "
"Iya cuma sebentar aja kok, aku janji sebenar aja ga lama-lama kok "
Setelah itu Tamara membayar semuanya, Tamara bener-bener membawa Kat ke rumahnya, mereka selama perjalanan terus saja mengobrol memang Kat sedikit senang berteman dengan Tamara, tapi masih ada rasa canggung dan rasa takut.
Apalagi sikap Tamara yang sama dengan suaminya, takut-takut saja Tamara melakukan sesuatu hal yang mengerikan padanya kan. Bisa saja Tamara itu ada niat buruk padanya. Baru terfikir sekarang dasar aneh padahal harusnya dari tadi kan.
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam rumah Tamara, Tamara memperlihatkan kamar untuk anaknya dan dia juga menyusun pakaian-pakaian itu di sana "Nanti kamu kapan-kapan main sini ya, kamu kan sekarang sudah tahu rumahku, jadi kamu datang kesini ya "
"Iya nanti aku main sama Lucas sama Daniel juga ya, sekalian silaturahmi juga kesini. Kamu disini sama siapa aja Tamara "
"Boleh tuh ide yang bagus, aku disini sama pelayan dan juga penjaga saja. Kamu tahu sendiri kan aku ini tidak punya siapa-siapa bahkan suami saja aku tidak punya "
Tiba-tiba saja ada suara teriakan yang melengking. Kat sampai kaget mendengarnya "Siapa itu Tamara. Apakah itu keluargamu apakah ada orang yang jatuh. Apa mungkin ada keluarga jauh mu yang datang kerumah ini " Kat sudah sangat panik sekali takut terjadi apa-apa dengan orang itu.
Tamara menatap ke arah anak buahnya yang berlari lalu menatap ke arah Katherine sambil tersenyum, tapi senyum yang dipaksakan "Kamu duduk saja di ruang tamu, nanti akan ada pelayanku yang menyiapkan makanan dan juga minuman untuk kamu. Sebentar aku akan cek dulu kamu duduk saja ya jangan kemana-mana. Ingat jangan ikuti aku takutnya bibi ku yang gila datang kemari, maksudnya disimpan disini oleh anak-anaknya. Kamu tenang di sini ya aku takut dia mengamuk dan menyerang kamu biasanya dia tidak suka orang asing"
"Baiklah aku akan menunggu di sini, bereskan saja dulu ya semuanya "
Kat dengan patuh duduk dan menunggu Tamara yang pergi ke lantai atas, dia melihat Tamara masuk ke dalam sebuah kamar dan menutup pintunya dengan sangat kencang.
Kat tidak berani untuk ikut campur masalah Tamara, dirinya juga tidak mau tahu tentang apa yang akan Tamara lakukan di sana. Dirinya takut kalau nanti malah jadi sasaran Tamara.
Seharusnya dari awal dirinya tidak usah ikut ke rumah ini, seharusnya dia tadi minta diantarkan pulang saja atau tidak pulang sendiri saja gitu naik taksi daripada ketakutan seperti ini.
Sedangkan Tamara di dalam kamar dia melihat perempuan tua itu yang masih saja berteriak-teriak tak karuan "Aku ingin lepas dari sini, lepaskan aku. Aku sudah lelah di sini aku ingin pulang aku ingin pulang mati saja aku bunuh saja aku, bunuh aku Tamara aku sudah lelah aku ingin pergi dari sini. Bertahun tahun kamu melakukan ini padaku "
Tamara menempelkan telunjuknya di bibirnya "Shut jangan berisik sedang ada tamu. Apa kamu tidak malu berteriak-teriak seperti ini aku bisa saja menghabisi mu dengan sangat sadis dan akan sangat menyakitkan untukmu nantinya "
"Biar saja agar mereka tahu, kalau ada seseorang yang dikurung di sini. Bunuh saja aku bunuh aku tidak peduli mati sekarang juga. Aku sudah lelah hidup seperti ini. Aku sudah lelah mengikuti apa yang kamu mau kamu terus saja memukulku, aku lelah sekali aku lelah aku tidak mau seperti ini "
Tamara mengambil sebuah cambuk dan benar-benar mencambuk perempuan tua itu, dengan teriakannya yang sangat melengking lagi perempuan itu berteriak sampai-sampai Kat yang ada di ruang tamu kaget mendengar itu.
Kat hanya bisa memainkan tangannya, ingin keluar tapi ada beberapa pelayan yang menunggunya di sana, apakah dirinya akan terjebak. Kat mengambil ponselnya untuk memberi kabar pada suaminya.
Sebenarnya bukan memberi kabar tapi meminta bantuan pada suaminya. Dirinya sungguh ketakutan sekali sekarang. Dirinya ingin cepat-cepat pulang dari sini.
Kembali Kat mendengar teriakan itu. Kat yang tidak mendapat respon apa-apa dari suaminya menatap ke arah pelayan yang menunggunya "Sebenarnya ada apa, apa ada masalah boleh aku pulang saja tidak apa-apa aku tidak diantar oleh Tamara, kalian bisa bilang pada Tamara aku pulang dulu aku takut mengganggu. Aku juga tidak bisa meninggalkan anakku lama-lama aku punya bayi "
"Tunggu dulu saja, nyonya Tamara juga sebentar lagi akan turun, tidak apa-apa hanya sedang berbicara dengan bibinya yang memang sedikit agak kurang waras. Mungkin bibinya sedang kambuh jadi dibawa kemari. Jadi nona tidak usah takut ini bukan masalah apa-apa ini bukan penyiksaan atau apapun, tenang dulu saja jangan khawatir seperti itu "
Kat mencoba untuk percaya, tapi sebenarnya dirinya tidak percaya sama sekali. Dirinya tidak percaya dengan ucapan pelayan itu karena dari raut wajah pelayan itu sangat ketakutan dan pucat sekali, seperti sedang menyembunyikan sesuatu dan takut ketahuan bagaimana ini caranya keluarnya.
Ponselnya berdering, ternyata suaminya yang menelpon. Kat langsung mengangkatnya dengan cepat "Aku di rumah Tamara aku takut " Kat mencoba untuk berbicara pelan semoga saja suaminya bisa mendengarnya.
"Takut apa yang terjadi, ada apa sayang "
"Di sini ada suara teriakan-teriakan dan Tamara masuk ke dalam kamar itu, aku sangat takut sekali bisa kamu datang ke sini aku tidak bisa keluar mereka tidak membolehkan aku keluar "
Kat senyum pada pelayan itu dan kembali fokus pada ponselnya, pelayanan itu terus saja mengamatinya tapi tidak melarangnya untuk mengangkat telepon tapi tatapannya terus saja tertuju pada Kat. Tidak lepas sama sekali seperti ingin menguping sesuatu tapi Kat berbicara dengan pelan.
"Tunggu aku di sana jangan matikan sambungannya, aku akan datang dengan cepat "
Kat mengganggukan kepalanya, meskipun itu tidak akan pernah terlihat oleh suaminya dia pura-pura menyimpan ponselnya di sakunya kembali. Padahal dirinya tidak mematikan ponsel. Kembali Kat mendengar teriakan itu tapi lebih kencang dari sebelumnya ada umpatan juga di dalam teriakan itu.
"Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit saja, mungkin saja di rumah sakit dia bisa ditangani dengan baik. Dari pada berteriak seperti itu kasian dia apakah perlu akan menelfon ambulans "
"Sudah pernah Nona, tapi masih seperti itu. Jadi mau bagaimana lagi kalau tidak dirawat di rumah ya mau bagaimana. Kita tidak tahu ini yang menentukan nyonya Tamara, kami di sini hanya seorang pelayan kami tak bisa ikut campur itu urusan keluarga "
__ADS_1
"Baiklah sepertinya kamu bisa meninggalkanku, tidak usah menunggu seperti ini aku akan menunggu Tamara, aku juga tidak akan mengambil barang-barang disini jangan ketakutan seperti itu. Aku bukan pencuri "lama-lama Kat jadi kesal juga kan.
Pelayan itu malah diam saja, dia tidak pergi malah makin membuat Kat frustasi kan. Sebenarnya apa yang direncanakan oleh Tamara sampai-sampai membawanya ke dalam rumahnya dan dirinya harus diawasi oleh orang-orang ini.