
Kat dan juga suaminya sudah pulang membawa sang buah hati. Mereka sudah sehat dan diperbolehkan untuk pulang oleh dokter.
"Kemari sayang, aku tunjukan sesuatu "
Lucas membawa istrinya kedalam sebuah kamar, sudah lengkap dengan semua peralatannya. Kat menatap suaminya tak percaya.
"Kamu mendekor kamar anak kita "
"Iya sayang, aku sendiri yang mendekornya. Aku minta maaf karena pada hari dimana anak kita lahir aku malah tak ada, disaat kamu berjuang untuk keselamatan anak kita dan kamu aku malah tak ada "sesal Lucas sambil memainkan tangan anaknya yang digendong Kat.
"Jangan pernah ulangi itu lagi, kamu sudah janji kan akan menunggui aku lahiran dan menemani aku, tapi kamu malah ingkar bahkan ini anak pertama kita tapi kamu malah menghilang aku minta nanti kamu jangan seperti itu lagi. Jika nanti suatu saat aku hamil lagi kamu jangan seperti itu, nomor tidak bisa dihubungi memangnya apa yang membuat kamu harus mematikan ponselmu itu"
Lucas binggung kalau sudah ditanya seperti ini. Dirinya tahu dirinya salah tapi kalau mengungkapkan semuanya istrinya malah akan marah.
"Aku ada pekerjaan kantor karena ingin fokus aku mematikan ponselnya "
"Hemm, tak biasanya "
Kat masuk kedalam kamar itu, dari pada memperpanjang masalah dengan suaminya dan tak akan beres sampai kapan pun lebih baik melihat kamar anaknya ini.
Kat begitu menyukai dekorasi dari kamar ini, apalagi ada lukisannya. Bagus sekali "Sayang lihat ayahmu mendekor kamarmu sendirian " meskipun anaknya belum mengerti tapi Kat menunjukkannya.
"Kita coba ayunannya ya sayang "
Kat membaringkan anaknya di ayunan dan mendorongnya dengan sangat pelan. Ingin melihat apakah anaknya akan nyaman atau tidak.
Lucas mendekati istrinya dan duduk disampingnya sambil memeluk istrinya dari samping "Mending kamu sana mandi, ini udah sore jangan nempel terus kayak gini. Kamu dari rumah sakit sampai rumah masih aja nempel sama aku. Udah gih cepat mandi "
"Aku minta maaf sayang, aku janji ta akan lakuin ini sama kamu. Aku ga akan ingat lagi aku janji sama kamu. Kalau aku sampai ingkar lagi kamu bisa hukum aku "
"Baiklah, aku hukum kamu sekarang kamu yang ganti popok Daniel, bagaimana "
"Baiklah sayang, aku sudah belajar dan aku akan mengerjakannya. Lebih baik kamu sekarang yang beristirahat biar aku yang menjaga Daniel"
"Benar kamu akan bisa, aku tidak bisa meninggalkan Daniel, dia begitu tampan dan lucu sekali "
Lucas merenggut kesal. Sudah berapa kali istrinya ini memuji sang anak, kapan istrinya itu memuji dirinya tidak pernah.
"Kenapa tiba-tiba kamu cemberut "
"Kenapa hanya Daniel saja yang dipuji, aku juga di sini laki-laki ayahnya yang membuat Daniel. Tapi kamu tidak memujiku memangnya aku kurang tampan"
Kat tiba-tiba punya ide untuk menggoda suaminya ini yang selalu saja cemburuan, bahkan pada tulang kebun saja dia cemburu.
"Daniel memang tampan, tapi kamu tidak meskipun kamu ayahnya tetap saja Daniel lebih tampan. Mungkin dia keturunan keluarga kamu atau mungkin keturunan keluarga aku. Lihatlah wajahnya Daniel mirip denganku kan, hanya dia versi laki-lakinya saja"
Lucas melongok anaknya, dilihat-lihat anaknya Daniel mirip dengannya. Kembali Lucas menatap sang istri "Mana ada sayang, lihatlah dari mata sampai bibir Daniel itu mirip denganku. Kalau dia tampan berarti aku pun tampan"
"Tidak kalian itu berbeda "
Lucas mengerutkan keningnya, menatap istrinya yang menahan tawanya "Hemm, sepertinya kamu sedang mempermainkan aku kan, iya kan "
"Tidak mana mungkin aku melakukan itu "
Lucas mendekap tubuh istrinya dengan erat dan menciumi seluruh wajah istrinya tanpa ampun "Ayo kamu harus katakan kalau aku ini tampan "
"Ampun sudah jangan ciumi aku, sudah sudah "
"Ya sudah katakan padaku kalau aku ini tampan baru aku lepaskan "
"Iya iya kamu tampan dan Daniel yang mirip denganmu. Kamu ayahnya lebih tampan" Kat akhirnya menyerah karena geli kalau dicium terus oleh suaminya.
Daniel menangis, Lucas melepaskan pelukannya dan mengambil sang anak, tapi anaknya masih saja menangis "Sepertinya dia lapar "
"Mau makan apa dia lapar, mau aku buatkan spaghetti, atau mau beli fried chicken atau apa" tanya Lucas dengan polos.
"Kamu ini gimana sih Daniel itu masih kecil, masa mau dikasih makanan yang kayak gitu. Gigi aja belum tumbuh dia aja baru lahir, masa udah makannya kayak gitu. Sini biar aku kasih susu dulu "
Lucas memberikan anaknya pada sang istri, istrinya sudah membuka kancing pakainya dan saat sudah keluar anaknya langsung melahap ****** sang istri dan menyedotnya dengan kencang.
__ADS_1
"Jangan terburu-buru anak ayah, tak akan kehabisan hanya kamu saja yang meminum asih mamah, tapi nanti ayah minta ya kapan-kapan "
Kat memukul tangan suaminya "Kamu ya"
"Ya ga apa-apa dong sayang bagi sama ayahnya, dulu kan aku yang sering gitu tiap malam, tapi sekarang malah Daniel, bagi-bagi aku juga mau "
Kat mendelikan matanya mendengar ucapan suaminya ini, kadang-kadang ya suaminya ini menyebalkan sekali.
...----------------...
"Adiba lihatlah anakmu itu tak bisa diam susui dia, kasian dia butuh asi, ayo beri dia minum" ucap Toni sambil mengendong anaknya.
Toni begitu khawatir dengan keadaan anaknya, dia terus saja menangis. Memang dari pagi anaknya ini belum diberi asi, kasian dia pasti sangat kehausan. Istrinya baru saja bangun memang ya Adiba ini.
"Sudah kubilang kan Toni, beli saja susu formula. Aku ini masih muda dan aku tidak mau sampai payudaraku nanti kendur karena menyusuinya, aku belum siap menjadi tua disaat usiaku masih muda seperti ini. Kamu harus mengerti itu jangan mau enaknya saja"
"Tapi kan ini anak kamu juga, susu formula itu menurutku kurang baik, asi kamu juga keluar banyak kan kenapa tidak mau memberinya padanya. Ayo berikan asi padanya. Aku juga sudah memberikanmu kesempatan kan, maka manfaatkan itu jangan mengecewakan aku dengan tingkah mu itu "
"Aku tidak pernah meminta kesempatan itu, kalau bukan karena ibu yang menyuruhku untuk kembali aku tidak akan pernah kembali. Sudah aku bilang beri saja susu formula aku tidak mau menyusuinya, aku ini masih kuliah dan aku harus selalu cantik dan segar. Aku tidak mau menyusuinya meskipun asiku ini keluar banyak tetap saja aku tidak, aku lelah kalau harus terus memberikannya Asi"
"Adiba jangan membuatku marah, kamu apakah tidak kasian dengan anakmu ini. Dia masih bayi ayo cepat jangan egois seperti itu pada anaknya sendiri "
"Kamu juga jangan membuatku marah, ikutilah kata-kataku untuk membeli susu formula saja dan kamu juga sewa baby sister agar aku bisa fokus dalam kuliahku. Sebentar lagi aku akan skripsi dan aku tidak mau diganggu dengan tangisan anak itu dan juga bukanya kamu yang terus meminta ini itu untuk mengurus anak itu. Dari awal bukannya kamu kan yang mau mengurus anak itu, ya sudah sekarang kamu nikmati saja mengurusnya aku tidak mau ya kalau sampai disibukan dengan bayi itu dan kuliahku harus berhenti ditengah-tengah karena harus mengurus anak "
"Aku mengurusnya siang malam aku yang mengurus, lalu sekarang yang mau cari nafkah siapa, di sini apa kita akan bertukar peran saja, agar lebih adil seperti apa yang kamu minta tidak mau mengurus bayiku maka aku yang mengurus dan kamu yang bekerja untuk mencari nafkah "
"Tidak mau, kamu kan suaminya maka kamu yang harus mencari uang. Masa aku sih aneh-aneh saja kamu ini, kamu kan kepala keluarga maka ya sudah kewajiban kamu untuk menafkahi aku dan anak itu. Jangan menyuruh aku untuk bekerja. Kalau pun aku mau bekerja nanti karena untuk kebutuhan ku sendiri bukan untuk kamu atau pun untuk bayi itu, aku juga punya kebutuhan dan banyak lagi "
"Berarti kamu istrinya kan dan ini kewajiban kamu untuk mengurus anak, mengurus rumah tangga. Aku bahkan sudah membantumu untuk memberes-beres rumah bahkan saat malam hari aku yang bangun untuk menenangkan anak kita. Berbagilah waktu kita sudah tidak berdua lagi, kamu harus dewasa. Aku tahu kamu kuliah tapi kamu juga harus ingat kalau kamu mempunyai anak "
"Tetap saja aku tidak mau aku akan mengerjakan tugasku yang sudah tertinggal banyak. Mungkin aku akan pulang malam ataupun menginap. Jangan cari aku dan jangan telepon-telepon aku, karena itu sangat mengganggu sekali aku harus membereskan semua tugasku dulu. Kenapa aku mengerjakan tugasku di tempat temanku, karena aku tidak mau terganggu oleh tangisan tangisan yang mengganggu , aku tidak akan pernah fokus dan malah akan pusing saja "
Adiba pengambil tasnya dan pergi begitu saja. Toni ingin berteriak juga tidak jadi karena melihat anaknya, takut-takut malah terganggu dan nanti malah menangis.
"Sabar ya sayang sabar ayo kita beli susu, maafkan ibumu yang seperti itu. Dia memang tak pantas memilik anak "
Mau tidak mau Toni akhirnya membeli susu formula juga, meskipun dulu orang tuanya pernah mengatakan kalau anaknya lebih baik diberi susu asi jika istrinya lancar air asinya, jangan susu formula kasian.
Tidak peduli ibunya menangis, atau mau melakukan apa yang terping hidupnya tenang. Dirinya juga bisa mengurus anaknya tanpa pusing memikirkan istri durhakanya itu.
Kalau dirinya terus saja bertahan dengan Adiba kasian juga anaknya. Tak akan mendapatkan kasih sayang dari ibunya yang ada malah bentakan saja yang akan anaknya terima ini.
...----------------...
Tamara melihat Sienna dan juga Stevan yang sudah tidak bernyawa, puas rasanya melihat mereka kekeringan dan darah mereka menetes dengan perlahan-lahan sampai habis seperti itu. Tidak diberi makan dan dibiarkan mati begitu saja.
"Nyonya apa kita harus menguburkan mereka berdua atau kita buang saja, karena kalau didiamkan lama akan bau nyonya dan menganggu nyonya juga nantinya"
"Tidak usah, biarkan saja mereka seperti ini di ruangan ini. Kunci dan terus beri pewangi di sini kalau misalnya mengeluarkan bau biarkan mereka tinggal di sini, aku tidak mau mereka dihilangkan. Toh ini saja diruangan bawah tanah kan, tak akan ada yang tahu dan tak akan ada bau yang menyeruak kedalam rumah juga "
"Tapi Nyonya bagaimana kalau polisi tahu atau mungkin keluarga mereka mencari nanti, mereka akan cepat mendapatkan buktinya kalau mereka berdua didiamkan disini terus nyonya "
"Tidak usah takut, aku akan mengurus semuanya kalian hanya perlu melakukan apa yang aku katakan, aku ingin kalian membiarkan mereka di sini tanpa memegangnya sedikitpun biarkan seperti ini aku ingin tahu tubuh mereka akan bertahan sampai kapan. Akan membusuk sampai kapan, aku ingin melihat bagaimana proses mereka membusuk berdua seperti ini. Pasang Cctv aku ingin melihat setiap daging mereka di habisi oleh belatung "
"Baik nyonya kami akan mengikuti perintah nyonya, kami akan melakukan segalanya "
"Apa hadiah yang aku siapkan untuk temanku itu sudah dimasukkan ke dalam mobil. Aku akan pergi sekarang"
"Sudah Nyonya, sudah dimasukkan ke dalam mobil semuanya sudah siap nyonya "
Tamara langsung saja pergi, dia menyetir sendiri Tamara akan pergi ke rumah Lucas dan memberikan hadiah karena istrinya sudah melahirkan.
Meskipun Lucas tidak memberitahunya, tapi berita sudah berseliweran di mana-mana kalau Lucas istrinya sudah melahirkan ini adalah waktu yang tepat dirinya untuk mendekati istri Lucas dan melihat seperti apa istri Lucas yang bisa bertahan dengan seorang psikopat seperti dia.
Tamara sudah sampai, dia langsung keluar dan disambut oleh beberapa orang pelayan di rumah itu. Tamara langsung dibawa masuk dan Lucas juga kebetulan ada di ruang tengah.
"Tamara kamu kemari "
"Ya aku datang seperti kata-kata ku, aku akan melihat istrimu dan anakmu mana istrimu. Aku ingin melihatnya dan melihat anakmu juga"
__ADS_1
Kat yang memang ingin menyusul suaminya dengan anaknya menatap perempuan itu. Kat tersenyum padanya"Hai kamu Katherine istrinya Lucas, aku Tamara temannya Lucas salam kenal ya "
"Iya aku istrinya Lucas "
"Ini ada hadiah untuk baby kalian berdua, aku senang sekali mendengar kelahiran anak kalian "
Katherine mengambil hadiah itu dan berterima kasih pada Tamara dan menyuruhnya untuk duduk. Lalu para pelayan mulai sibuk menyajikan camilan dan juga minuman untuk mereka.
Meraka yang sudah lama bekerja dengan Lucas sudah tahu bagaimana Tamara. Jadi mereka langsung saja kedapur dan menyajikan makanan dan minuman kesukaan Tamara. Tak boleh ada yang salah Tamara akan marah besar.
Daniel Masih betah tidur di pelukan sang ibu. Tamara menatap anak kecil itu dan tersenyum "Lucu sekali, siapa namanya"
"Namanya Daniel, kamu juga sedang mengandung berapa bulan "
"Baru 7 bulan, sebentar lagi aku akan melahirkan. Nanti kalian datang ya. Aku akan senang sekali saat nanti kamu datang Kat "
"Tentu saja kami akan datang "
Lucas meninggalkan istrinya bersama Tamara, karena tiba tiba ada telfon dari Nabil entah mau apa anak ini menganggu saja. Tak biasanya juga Nabil menelfon terus menerus.
"Bagaimana dengan Lucas padamu tidak melakukan hal-hal aneh kan padamu. Kalian bertemu di mana karena Lucas tidak cerita saat kalian bertemu, aku juga memang baru-baru sekarang sih kembali berhubungan dengan Lucas maksudnya bertukar kabar karena aku juga saat sudah menikah fokus dengan rumah tangga aku. Aku hanya fokus mengurus suamiku dan juga kehamilanku ini "
"Alhamdulillah dia baik, dia menjadi suami yang baik dan sekarang sedang belajar untuk menjadi seorang ayah. Kalian berteman sejak kapan "entah kenapa Kat ingin menanyakan hal itu
"Lama sih dari sekolah mungkin ya. Aku juga lupa karena kami cukup lama berteman tapi ya memang seperti itu Lucas dingin seperti kulkas, tapi aku heran saja kamu bisa mau bersamanya karena dia benar-benar cuek dan menyebalkan sekali. Bahkan aku saja muak bersamanya "
"Ya namanya juga udah suka susah, mau gimana lagi"
"Iya juga sih, tapi kamu hebat bertahan sama dia kamu udah tahu kan siapa dia" tanya Tamara dengan wajah penasaran.
Kat tahu apa yang dimaksud oleh Tamara, dirinya sangat tahu "Iya aku tahu siapa Lucas sebenarnya. Aku juga tahu masalahnya seperti apa. Sebenarnya kami memang teman masa kecil, mamaku dan juga mamanya Lucas bersahabat jadi kami bisa saling mengenal "
"Oh seperti itu ya, apa kalian berdua dijodohkan"
"Awalnya seperti itu tapi tidak juga, bagaimana yang menjelaskannya aku bingung"
"Iya iya aku mengerti pasti Lucas mengejar kamu kan, awalnya kamu nggak mau sama dia. Karena dulu dia pernah cerita mau kejar perempuan tapi dia ga bilang sama aku siapa perempuannya "
"Iya gitu deh"
Tamara memegang tangan Kat yang sedang mengais anaknya itu" Bisa kita berteman Katherine "
Kat diam cukup lama menatap Tamara, menatap matanya dengan sangat lama"Aku tidak pernah mempunyai teman mau kamu berteman denganku. Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu aku janji kita hanya berteman saja, aku ingin merasakan bagaimana punya teman perempuan, teman yang bisa diajak curhat dan bisa menerima aku apa adanya"
"Tentu kita bisa menjadi teman, kenapa tidak jadi kalau aku boleh tahu kenapa kamu datang sendiri kenapa tidak bersama suami kamu"
"Suamiku sudah tiada dia sudah meninggal"
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Maafkan aku bertanya seperti itu, pasti aku membuka luka lamamu. Maafkan aku ya Tamara "
"Tidak masalah, itu sudah takdir dari Tuhan untuk dia pergi meninggalkanku lebih dulu. Makanya sekarang aku kesepian dan butuh teman kamu mau berteman denganku"
"Aku mau berteman denganmu" Kat yang memang ngampang luluh langsung menerimanya. Nanti akan dirinya tanya-tanya lagi pada suaminya tentang Tamara ini.
Entah kenapa Kat melihat kesedihan di wajah Tamara, seperti ada yang disembunyikan olehnya tapi ia tidak mau terus menggali dan bertanya lebih padanya. Baru juga menjadi teman masa mau tanya-tanya lebih banyak lagi.
"Boleh aku memegang anak mu "
"Tentu saja "
Tamara tersenyum dan mulai mengusap tangan Daniel, menatap Kat lalu kembali mengelus pipi Daniel "Apakah nanti aku bisa mengurus anakku seperti ini"
"Kamu pasti bisa aku juga sekarang masih belajar. Apalagi aku tumbuh tanpa seorang ibu"
Tamara mendongak" Ibumu sudah tiada"
"Ya cukup lama , karena sebuah kecelakaan tapi ya sudahlah ini adalah jalan hidupku dari Tuhan. Tidak masalah"
"Aku turut berduka cita"
__ADS_1
Kembali Tamara mengusap Daniel dia gemas sekali, apakah anaknya akan segemas ini nantinya. Apakah dirinya akan bisa mengurus anaknya tanpa ada amarah sedikit pun.