
Vio merenggangkan badannya yang pegal. Sudah seharian Vio duduk dan bekerja dengan sangat serius. Sebenarnya tidak serius-serius sekali karena sambil melihat ponselnya menunggu kabar dari Daniel tapi tak ada.
Vio benar-benar tak berani untuk menelfon Daniel takut malah tak diangkat. Meskipun Vio tahu bagaimana karakter Daniel tapi tetap saja rasannya ragu sekali untuk memulai terlebih dahulu.
Pintu tiba-tiba terbuka, ternyata itu Daniel. Vio yang menatap Daniel langsung menegakan badannya. Tapi Daniel seperti biasa tenang-tenang saja. Malahan Daniel langsung mendekati Vio dan mencium kening Vio.
"Kita makan sayang, kamu mau makan dimana "
Vio diam sejenak, apakah Daniel sudah tak marah lagi padanya ? Apakah Daniel sudah baik-baik saja. Vio menatap wajah Daniel yang tersenyum dengan sangat lebar.
"Kenapa sayang, tidak mau makan denganku "
"Emm, bukan begitu apakah kamu sudah memaafkan aku. Apakah kamu sudah tidak marah lagi sama aku ?"
"Masih, aku masih marah tapi kamu tidak ada inisiatif untuk membujukku makannya aku yang datang kemari. Aku tidak suka kamu seperti kemarin mengabaikan ku. Aku sudah pernah bilangkan aku tidak suka dibantah apalagi kamu tidak izin keluar padaku. Jika ketempat yang baik sih tak masalah. Tapi kamu malah ketempat seperti itu "
Vio langsung menundukan kepalanya "Aku minta maaf, aku ingin membujuk mu, tapi aku binggung harus seperti apa "
"Hemm, jadi pacarku binggung mau aku ajarkan ? "
Vio yang punya firasat yang tak enak langsung mengelengkan kepalanya "Engga, aku nanti belajar sendiri "
Tapi Daniel malah mengurung Vio, Vio mencoba untuk mendorong dada Daniel tapi hasilnya nihil, Daniel masih setiap seperti itu.
Daniel menatap Vio dengan lekat, lalu bibirnya itu mendarat di bibir Vio, lalu beralih pada salah satu pipi Vio "Begini saja sudah cukup, kalau mau membujukku "
Vio mengerjapkan matanya, semudah itu. Tapi apakah Vio mempunyai keberanian untuk melakukan hal itu pada Daniel ?
"Kenapa malah bengong ayo kita makan sayang. Mau makan apa kamu ? "
"Aku ikut kamu aja "
"Ya udah kita makan sate Padang aja"
Daniel langsung mengandeng tangan Vio, bahkan tadi tas Vio juga malah dibawakan oleh Daniel. Apakah Vio akan bisa melakukan itu kalau Daniel marah lagi, malu kalau harus tiba-tiba mencium Daniel.
__ADS_1
...----------------...
Alexander menatap perempuan yang masuk kedalam apartemen sebelahnya. Alexander menatap dari atas sampai bawah. Ini adalah perempuan yang Alex suka. Perempuan idamannya.
Wajahnya begitu cantik, dengan badan tinggi dan badan sedikit berisi. Alex suka dengan perempuan yang seperti ini.
"Aku harus berkenalan dengannya. Lumayan cantik kan. Siapa tahu jodoh"
Alex langsung mengetuk pintu kamar sebelahnya. Langsung dibukakan oleh seorang perempuan, yang tentu saja Alex kenal siapa dia. "Eh, Alex masuk udah lama nih ga mampir kapan main lagi "sambil mengedipkan sebelah matanya.
Alex melongok kedalam "Nanti kita main, itu siapa perempuan cantik juga, boleh lah"
Perempuan itu menarik Alex keluar "Lumayan masih perawan gimana mau, bodynya juga bagus banget kan" tawar perempuan itu yang sudah tahu bagaimana Alex.
"Boleh juga, nanti biasa ditransfer mau berapapun tapi perempuan itu harus jadi milik aku selamanya. Pokoknya kamu ga boleh ambil lagi perempuan itu dari aku"
Perempuan itu tersenyum bahagia saat mendengar bebas meminta uang pada Alex berapapun "Itu masalah gampang, lagian perempuan itu juga tinggalnya sama pamannya sih. Dan orang tuanya di kampung jadi ga masalah mau dibalikin atau enggak juga asal uang terus mengalir"
"Masalah uang gampang, tapi sekali minta aja ga terus berbulan-bulan oke"
"Baiklah cantik aku tunggu "sambil mengecup bibir perempuan itu.
Alex masuk kedalam apartemennya untuk menyiapkan segalanya. Memang terbilang seperti membeli sih, tapi ya mau bagaimana lagi biasanya juga Alex selalu memberikan uang pada perempuan-perempuan itu. Alex tak sabar sekali, menunggu sesuatu yang sempit dan hangat.
...----------------...
"Enak kan sayang "
"Iya enak "
Vio memakan kembali satenya, sesekali juga menatap Daniel yang sama sedang makan sate Padang.
"Vio "
Vio langsung mengalihkan pandanganya pada orang yang memanggilnya "Mario "
__ADS_1
"Gimana Vio kabarnya, udah lama ga ketemu "
"Aku baik"
"Ekhm " Daniel langsung berdehem dan merangkul pinggang Vio.
"Kenalin Mario ini pacar aku Daniel "
"Oh hai, yaudah aku permisi dulu ya "Mario yang melihat tatapan Daniel yang begitu menyeramkan akhirnya pergi. Dia tidak mau berurusan dengan siapapun. Tadinya hanya ingin menyapa Vio saja teman lamanya.
"Kamu harus nikah cepat sama aku "
"Uhuk "Vio sampai tersedak mendengar ucapan Daniel itu.
"Kamu kenapa sayang " Daniel mengambil minum dan memberikannya pada Vio.
"Kenapa harus cepat-cepet, kita juga masih muda kan"
Daniel mengangkat alisnya mendengar jawaban Vio "Kenapa aku sudah siap, apalagi yang harus dipermasalahkan dan kamu juga siap tidak siap harus mau dengan aku. Aku akan membeli rumah, sekarang aku sedang mencari rumah dan nanti kita akan melihat rumahnya sama-sama"
"Baiklah tapi kamu harus bicara dengan ayah dan Mamaku dulu "
"Sudah aku lakukan. Tadi pagi aku sudah berbicara dengan Ayahmu dan dia setuju saja nanti tinggal keluargaku saja yang datang "
"Kenapa kamu ga bilang sama aku"
"Ini aku bilang"
"Iya iya kamu bilang "
"Ya udah sayang kamu makan lagi ya. Kalau kurang kamu bisa tambah lagi ya "sambil mengusap rambut Vio.
"Ini juga belum habis dan pasti akan sangat kenyang sekali "
"Ya sudah habiskan sayang "
__ADS_1
Vio menganggukan kepalanya. Daniel malah menopang dagunya dan menatap kekasihnya yang sedang makan sambil senyum-senyum. Tidak menyangka kalau Vio akan menjadi miliknya.