
Aku kembali pulang di malam hari, lagi-lagi aku mengerjakan tugas di sekolah. Aku sama sekali tidak takut tentang pembunuhan yang terjadi di sekolah. Memang tugasku yang sangat menumpuk mengharuskan aku mengerjakan semuanya. Aku sudah tidak masuk hampir satu minggu lebih.
Malam ini begitu sunyi, sangat sunyi sekali. Kenapa Ayah memberikan aku rumah di tempat yang sepi seperti ini. Aku terus berjalan masuk ke dalam gang untuk mencapai rumahku yang ada di ujung sana.
Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan. Aku diam tidak bergerak siapa itu yang berteriak. Suara perempuan dengan teriakan yang melengking tapi tiba-tiba suara itu menghilang.
Aku yang memang penasaran dan takut perempuan itu membutuhkan bantuan segera berjalan lebih cepat ke arah suara yang tadi aku dengar. Saat mendekati tempat itu alangkah kagetnya aku saat ada seorang laki-laki sedang menancapkan pisaunya ke dada perempuan itu, dengan mulut perempuan itu dibekap oleh tangannya.
Aku tidak bisa bergerak. Aku hanya bisa diam menatap kejadian itu. Pembunuh itu membelakangiku apa dia pembunuh berantai itu, aku melihat dia menyayat wajah perempuan itu. Lalu dijambaknya rambut perempuan itu dan mulutnya disobek oleh pisau yang dia bawa.
Aku yang masih shock masih belum bisa bergerak. Aku masih diam di sana mematung. Tapi aku sadar kalau aku terus di sini bagaimana kalau aku yang menjadi mangsanya selanjutnya. Aku perlahan mundur mundur.
Krek aku kaget, aku menginjak ranting. Pembunuh itu membalikkan badannya dan itu membuat aku syok, orang yang aku lihat laki-laki itu orang yang aku kenal.
Aku segera berlari dengan kencang. Aku tidak mau berhadapan dengannya. Aku berlari dengan sekencang-kencangnya. Aku tidak peduli aku yang sempat jatuh tadi menendang sesuatu , tapi itu tak penting aku sekarang ingin masuk ke dalam rumah. Aku sungguh kaget dan merasa kenapa harus dia.
Setelah sampai rumah aku segera mengunci pintu dan masuk ke dalam kamar. Aku keluarkan ponselku, ponselku jatuh karena tanganku bergetar.
Aku mencoba untuk menghubungi Kak Tio, dia satu-satunya orang yang sekarang aku percaya, aku tak mungkin menelfon Kak Chelsea atau Dian, mereka perempuan dan akan sangat membahayakan.
"Ada apa Kat "
"Kakak sekarang di mana. Aku tadi tidak sengaja melihat ada pembunuhan di daerah tempat tinggal baruku. Aku baru saja pulang aku takut dia mengikuti Kak"
"Apa, dia ada di sana. Lalu apakah kau melihat bagaimana perawakannya, bagaimana orangnya. Kakak akan segera ke sana kau tunggu jangan kemana-mana tetaplah diam di rumah. Kirimkan alamatmu ya Kakak akan pergi ke sana"
__ADS_1
"Baik kak tolong cepat datang ke sini ya aku takut, aku sangat ketakutan sekali Kak"
"Baiklah tunggu sebentar "
Sambungan sudah dimatikan oleh Kak Tio dan tiba-tiba saja pintuku digedor, "Apakah itu dia. Ya Tuhan selamatkan aku. Aku tidak mau mati karena dibunuh Ya Tuhan tolong aku"
Aku menarik selimutku dan menutup seluruh tubuhku. Aku ketakutan ketukan pintu itu makin kencang, sangat kencang sekali bahkan terdengar kalau pintu rumahku seperti di dobrak.
Aku membuka selimutku dan mencoba untuk melihat ke arah jendela dan benar orang itu ada di sana sedang mencoba untuk membuka pintu ku.
Aku yang takut kalau pintu rumahku sampai dibongkar dan dia masuk segera berlari ke arah ruang tamu, lalu mendorong kursi agar menahan pintuku.
Meskipun sangat sulit aku mendorong kursi tapi aku tidak menyerah. Gedoran pintu itu malah makin kuat dan pintuku juga akan sudah terdorong dan sebentar lagi akan terbuka.
"Kak Tio kenapa sangat lama "
Tiba-tiba saja ada yang berteriak dan aku tahu itu suara Kak Tio. Aku melihat ke arah jendela Kak Tio sedang mengejar orang itu tapi tak lama kemudian Kak Tio kembali.
Aku yang sudah tenang ada Kak Tio menggeserkan kembali kursi yang tadi aku buat untuk penghalang. Aku langsung memeluk tubuh Kak Tio aku begitu syok dan takut.
"Kau baik-baik saja kan"
"Aku baik-baik saja Kak, tapi kenapa dia sampai mengikuti ke rumah. Bagaimana ini aku tidak mau sampai menjadi korban selanjutnya aku takut Kak"
"Ayo duduk, tenang dulu tenang dulu Kakak di sini ya"
__ADS_1
Kak Tio membawaku ke ruang tamu lalu pergi ke arah dapur dan membawakanku air minum. Aku dengan cepat meminumnya, bahkan saat minum air pun tanganku bergetar saking aku syok dan kaget, kalau orang yang selama ini aku kenal, orang yang selama ini baik padaku ternyata tidak kuduga dia membunuh seorang perempuan.
"Kau sudah tenang kan Kat"
"Aku sedikit tenang Kak, aku sudah lebih baik "
"Kenapa kau bisa melihat orang yang sedang membunuh. Kenapa kau pulang malam bukannya sekolahmu beres siang hari kan"
"Iya memang sekolahku beres siang hari, tapi aku mengerjakan tugasku dulu dari pulang sekolah sampai malam. Aku mengerjakan semua tugasku karena kakak tahu sendiri kan aku tidak masuk sekolah 1 minggu lebih makanya aku ngerjakan di sekolah agar aku juga tidak terlalu membawa buku banyak"
"Kakak sudah bilang kan sekarang ini sedang genting, pembunuh itu sedang bermain-main dengan Polisi. Kau jangan pulang malam lagi ya. Apalagi dia sudah tahu rumahmu. Bagaimana kalau Kakak tidak ada dia meneror lagi datang kemari lagi. Kenapa kau tinggal sendiri kenapa tidak bersama Ayahmu "
"Aku memang memutuskan untuk tinggal sendiri Kak, aku akan lebih nyaman bila sendiri. Aku tidak mau bersama ayah biarkan Ayah bahagia bersama keluarga kecilnya. Aku tidak mau menjadi benalu di sana makanya aku memisahkan diri untuk Ayah lebih bahagia lagi bersama keluarganya"
"Kau juga sama keluarganya , kau bukan benalu kau anak Ayahmu, kenapa kau mengatakan kalau dirimu ini benalu. Seharusnya kau di sana jangan pisah rumah seperti ini. Apalagi kau masih sekolah kalau sudah berkeluarga mungkin itu tak masalah, kita pulang ke rumahmu ya aku antarkan ke rumah. Aku tidak mau sampai terjadi apa-apa denganmu"
Aku menggelengkan kepala, aku tidak mau sampai kembali lagi ke rumah itu. Aku tidak mau Ibu semena-mena lagi pasti ibu akan mengejek karena aku kembali lagi ke rumah itu.
"Apakah kau melihat wajah dari pembunuh itu, apakah dia laki-laki atau perempuan"
"Dia laki-laki"
"Apakah kau melihat wajahnya"
Aku diam, aku tidak menjawab aku masih bingung apakah aku harus jujur pada Kak Tio atau tidak, tapi hatiku rasanya berat untuk memberitahu yang sebenarnya. Tapi kalau tidak orang itu akan berkeliaran.
__ADS_1
"Dia adalah _"aku diam sejenak dan...