Psychopath 2

Psychopath 2
Bab 60 Aku tidak salah


__ADS_3

Aku sekarang sedang bersama mamih Zeline, saat aku tadi bangun tidur Abang sudah tak ada. Tapi aku sangat bersyukur sekali, aku tak perlu melihat wajah menyebalkannya.


"Gimana kamu disana baik-baik saja kan, Ayah kamu juga baikkan "


"Ayah selalu baik mih, tapi aku boleh ga minjem telepon rumah buat telepon kakakku"


"Boleh dong kenapa engga, kenapa harus bilang coba pakai saja. Ponsel kamu kenapa Kat "


"Emm, ponselku mih jatuh kemarin dan ga tahu dimana. Jadi aku belum kabarin Kakakku Chelsea pasti dia akan sangat khawatir "


"Chelsea anaknya Lisa "


"Iya mih, aku telfon dulu kakak ya "


"Iya sayang, kamu ngobrol saja dulu sama kakakmu, bilang kamu baik-baik saja disini"


"Iya Mih "


Aku mengambil telfon rumah , Mamih sudah pergi meninggalkan ku. Aku langsung menelpon kakakku untung saja aku ingat nomornya.


"Ini siapa ya "


"Kak ini aku Kat "


"Kat kamu di mana, keadaan kamu sekarang giman. Kakak di sini khawatir banget Kakak udah cari kamu ke mana-mana. Lucas bawa kamu kemana, kakak udah telfon Lucas tadi dia ga angkat "


"Di sini aku baik-baik aja Kak, gimana Kakak keadaannya di sana. Kakak udah dapat kerja belum, kalau emang belum udah ga usah cari-cari dulu mending Kakak diam dulu aja di rumah nunggu panggilan. Jangan cari-cari dulu lagi kan uang tabungan kita juga masih ada, kalau kakak kurang Kakak bisa pakai uang tabungan aku"


"Syukur kamu baik-baik saja Kat. Kakak di sini baik-baik saja cuman kakak tuh khawatir banget sama keadaan kamu. Kakak takut Lucas ngapa-ngapain kamu. Alhamdulillah sih Kakak udah dapat kerja di kantor yang dekat rumah kita, untung saja deket jadi kakak kan bisa jalan kaki ke sananya"


"Alhamdulillah Kak, aku senang Kakak udah dapet kerja semoga Kakak betah ya "


"Iya Kat, kamu kapan pulang, kenapa ga pulang-pulang kamu kan masih sekolah Kat "


"Aku juga pengennya kak, tapi gimana lagi Abang masih banyak kerjaan "


"Ya harusnya ga usah bawa kamu juga "


"Hemm, iya kak. Aku pengen pulang "

__ADS_1


"Kabur saja Kat, nanti Kakak akan jemput "


Aku menghembuskan nafas kasar ku, itu tak akan pernah terjadi. Aku takut malah kakak yang akan jadi sasarannya.


"Kayaknya aku harus tunggu dia dulu sampai selesai kerjaannya deh kak, aku ga mungkin pulang sendirian yang ada dia bakal marah-marah nantinya sama aku. Aku ga mau kakak punya masalah sama Abang dan nantinya malah jadi rumit. Kakak ga tahu siapa sebenarnya Abang nanti kalau kakak tahu pasti Kakak syok banget dengernya"


"Emangnya siapa Lucas, ada apa sama Lucas Kat "


"Aku ga bisa kasih tahu sekarang Kak, karena ini tuh rumit banget Kak "


"Siapa yang menyuruhmu untuk berbicara dengan kakakmu "


Aku yang kaget langsung menutup telfonnya, aku berdiri dan berhadapan dengan Abang.


"Mamih sudah mengizinkannya, makannya aku menelfon kakakku. Aku masih punya keluarga yang mengkhawatirkanku. Maka aku harus memberi kabar padanya tidak mungkin aku membiarkan dia mencari-cariku. Sedangkan kau sendiri tidak mengabari kakakku. Kau sudah janji kan akan membiarkanku untuk menelepon kakakku, tapi mana apakah kau menepati janjimu tidak kan"


Abang diam, dia tak menjawab dia malah pergi meninggalkan ku. Aku bernafas lega Abang tak balik marah.


Aku tak tahu harus kemana akhirnya pergi kebelakang rumah. Disana ada seorang perempuan yang sepertinya seumuran dengan ku.


Aku tersenyum padanya tapi dia tak membalas senyumku. Dia malah mendelikan matanya dan langsung menghampiriku.


"Hai Adiba " aku mencoba untuk akrab bersamanya.


Tapi dia malah melihatku dari atas sampai bawah "Apa spesialnya dirimu, sampai-sampai Abang memilihmu dari fisik saja kau sudah sangat kurang. Tapi Abang malah memilih perempuan seperti ini"


"Oh ya fisikku kurang, memangnya aku cacat. Kurasa aku tidak cacar sampai-sampai kau mengatakan kalau fisikku kurang. Apa yang kurang dariku aku punya mata, hidung telinga, mulut, tangan, kaki semuanya lengkap dan semuanya normal lalu apa yang menurutmu kurang dariku"


"Parasmu yang kurang "


Aku tertawa mendengarnya, dia tak sadar diri dengan parasnya sendiri "Sepertinya kau tidak punya kaca ya di rumahmu sampai-sampai kau merendahkan orang lain, cobalah lihat wajahmu dulu, apakah kau sudah lebih baik dariku "


"Kenapa memangnya, memang kau jelek "


"Iya ga apa-apa aku jelek yang terpenting hati aku yang cantik, percuma punya wajah cantik tapi hatinya jelek dan iri pada orang lain "


"Siapa yang kau maksud hah "


"Ga ada yang merasa saja sih "

__ADS_1


"Jangan pernah bermain-main denganku ingat itu. Aku bisa saja membuatmu terusir dari sini "


"Hemm, cobalah kau buat aku terusir dari sini. Kalau kau memang suka pada Abang tanyakan saja kenapa dia memilihku "


Aku yang tak mau berurusan dengan perempuan itu langsung saja pergi meninggalkannya. Tapi rambutku malah ditarik dari belakang sampai-sampai aku terjungkal.


Dia langsung menindih tubuhku, rambutku masih dia jambak, aku yang tak terima mencakar pipinya, lalu aku menarik rambutnya sampai dia terjungkal juga.


"Ada apa ini "


Kami yang sedang berkelahi langsung dihentikan. Aku segera bangkit dan membereskan rambutku. Abang yang datang ternyata.


"Apa yang terjadi "


Adiba malah langsung menangis, dia mengadukan ku pada Abang. "Dia yang mulai terlebih dahulu Abang "


"Tidak, aku sama sekali tak memulainya, aku sama sekali tak berbuat salah dia yang pertama menjambak rambutku" aku tak mau kalah, aku pasti akan membela diriku sendiri.


Dia menangis tersedu-sedu "Abang tahu kan aku dari kecil bagaimana, dia yang telah memulai semuanya. Aku tadi sedang menyiram tanaman tiba-tiba dia datang mendekatiku dan menjambak rambutku. Dia yang terlebih dahulu melakukannya makanya aku melawan"


Abang menatap kearah ku "Kenapa aku tak salah "


"Masuk kerumah Kat, kita akan bicara. Kau sudah keterlaluan aku tak pernah mengajarkanmu untuk kasar "


"Tapi aku tak salah"


"Masuk suruh ku Kat "


Aku dengan kesal segera masuk kedalam rumah, aku lihat juga Adiba memeluk Abang, tapi Abang sama sekali tak melepaskannya ataupun menolak.


Aku tak benar-benar masuk kedalam rumah, tapi aku mengendap-endap kebelakang rumah. Yang aku tahu disana ada pintu yang tak dijaga.


Tak lupa aku melepaskan cincinku "Aku pergi dasar menyebalkan "


Cincin itu aku lemparkan begitu saja. Aku tak mau membawa cincin itu. Aku yakin cincin itu dipasang GPS.


Untungnya aku berhasil keluar, tak ada orang yang menjaga benar kan kataku tidak ada orang di sini. Maka sekarang aku bebas dan aku akan pergi sejauh-jauh dari Abang.


Apakah aku harus pulang ke kota aku, tapi kalau aku pulang ke kotaku yang ada aku malah bertemu lagi dengannya. Tapi kalau aku tidak pulang ke kotaku aku harus ke mana dan sekolahku juga tidak diselesaikan nantinya. Aku juga tidak bawa uang banyak aku hanya membawa uang beberapa lembar.

__ADS_1


Baiklah sudah aku putuskan tujuanku ini. Aku sudah muak biarkan kalau aku sampai ketemu lagi, mungkin aku akan mati di bunuh olehnya.


__ADS_2