
Lucas menatap dua orang yang sudah babak belur, laki-laki berkulit hitam dan putih. Mereka menatap Lucas dengan benci.
Tapi Lucas tak peduli dia hanya tersenyum sinis pada mereka berdua "Masih mau bermain-main denganku"
Cwih orang berkulit hitam meludah kesamping dan tersenyum mengejek "Ini tak seberapa, kami tidak takut dengan apa yang kamu lakukan "
"Hemm, punya nyali juga "
"Bagaimana kehilang seorang istri ? "ejek laki-laki berkulit hitam lagi.
"Rasanya bagaimana, memangnya siapa yang kehilangan istri, memangnya aku kehilangan istriku kurasa tidak, istriku ada. Memangnya yang kalian bunuh itu siapa coba lihat dengan jelas. Apakah itu istriku atau bukan. Jangan main-main denganku nyawamu dan nyawa keluargamu tidak akan pernah aman, kamu bermain-main denganku dan nyawa keluargamu yang pertama aku habisin bukan kalian berdua"
Lucas menyalakan laptopnya dan sudah tersambung dengan anak buahnya yang sudah ada dirumah kedua laki-laki ini. Mereka sedang menyekap keluarga mereka berdua.
"Sialan kamu, dasar psikopat lepaskan keluarga kami lepaskan mereka, jangan main-main "teriak pria berkulit putih.
"Marah, apa aku juga harus begitu karena kalian sudah berani mengusik keluargaku, hemm bagaimana ya punya ide tidak untuk aku menghabisi keluarga kalian. Apa perlu aku bakar mereka atau mungkin aku bantai satu-satu dengan pisau atau mungkin aku buat seolah-olah mereka semua bunuh diri. Satu lagi atau aku jatuhkan mereka dari gedung yang paling atas. Pilih salah satu aku tidak mempunyai penawaran yang bagus lagi untuk keluarga kalian"
"Sialan "
Mereka memberontak ingin dilepaskan tapi percuma saja. Mereka tak akan bisa bergerak "Kami juga melakukan ini karena ingin balas dendam padamu, kamu telah membunuh salah satu keluarga kami. Seharusnya dengan kami membunuh istrimu impaskan semuanya"
"Ada alasannya aku membunuh saudaramu, dia telah mengambil uangku dia korupsi di kantorku maka ya itulah akibatnya. Aku sudah bilang kan jangan bermain-main denganku di setiap surat kontrak kerja sudah tertera kalau sampai ada yang korupsi maka nyawa mereka akan melayang. Apa saudaramu tidak berbicara itu. Jangan melebih-lebihkan aku juga tidak akan melonggarkan apa hukuman untuk keluarga kalian, karena telah bermain-main denganku dan ingin mencelakai istriku kalian hanya perlu lihat saja kehancuran mereka semua jadi penonton yang baik ya"
__ADS_1
Lucas langsung menyuruh anak buahnya untuk membunuh mereka dengan cara yang paling sadis. Dua orang ini sudah berteriak-teriak melihat satu persatu keluarga mereka dibunuh.
Lucas melihat itu tertawa dan ingin sekali datang kesana untuk melakukannya sendiri. Tapi dirinya ingin melihat kedua orang ini yang menderita keluarganya dihabisi.
"Gila kamu gila, aku yakin kalau sampai istrimu tahu dia akan sangat membencimu "
"Benarkah istriku akan membenciku. Tapi kurasa tidak dia sudah tahu siapa aku jadi tak masalah. Tadinya aku ingin membawa istriku kemari untuk memperlihatkan pada kalian berdua kalau dia masih hidup dan ada di sampingku. Tapi ku urungkan niatku aku ingin lebih bermain-main dengan kalian berdua dan keluarga kalian. Itu lihatlah mereka sudah mati satu persatu kan"
Mereka berdua menundukan kepalanya dan menangis, kenapa harus keluarga mereka yang menanggung akibatnya "Kenapa kamu tak habisi kami saja kenapa"
"Itu terlalu mudah dan itu terlalu gampang untuk kalian mati. Aku ingin ada sebuah kekesalan, kemarahan, kebencian dan rasa bersalah karena kalian telah mengorbankan keluarga kalian untuk menghancurkanku. Aku tidak pernah bermain-main dengan kata-kataku, jika kalian tidak tahu karakterku maka jangan bermain-main denganku, karena aku ini bukan orang baik yang akan mengampuni orang yang membuat masalah denganku dengan mudah"
Mereka tak menjawab mereka hanya menangis tak tahan melihat keluarga mereka dihabisi dengan begitu sadis. Mereka tak menyangka akan seperti ini.
"Bagaimana masih ingin melawanku "
Masih diam, mereka masih diam tak mau berbicara dengan Lucas "Baiklah renungkan semua kesalahan kalian berdua, buatlah kemarahan yang begitu besar jika sampai kalian bisa kabur dari sini aku akan bertepuk tangan dan akan bersorak dengan gembira. Aku akan senang jika kalian bisa kabur dariku, tapi jika dalam satu minggu kalian tidak bisa pergi dariku maka bersiap-siaplah untuk siksaan kalian yang akan lebih menyakitkan dari ini"
Lucas membersihkan celananya dan juga membenarkan jasnya lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Setelah kepergian Lucas mereka berdua menangis dengan sangat memilukan. Keluarga mereka telah hilang. Keluarga mereka sudah tiada karena tindakan bodoh mereka sendiri.
...---------------...
"Tolong kamu jangan terus membuatku malu dengan datang ke rumah tuan Lucas. Dia baru saja berduka jangan membuat masalah aku malu dengan Tuan Liam, dia menelponku dan menyuruhku untuk menjemputmu. Tolonglah menjadi istri yang baik, menjadi istri yang menurut jangan seperti ini terus-menerus membuat aku malu di hadapan orang-orang dan teman-temanku"
__ADS_1
Adiba duduk dan melipat kedua tangannya, dia kesal dengan suaminya ini. Kenapa coba harus menjemputnya. Padahal sebentar lagi dirinya akan menjadi nyonya rumah disana.
"Kenapa sih kamu datang kesana, lihat koperku ketinggalan di sana. Emangnya kamu bisa mengganti pakaian-pakaian mahal ku, tasku sepatu semuanya. Apa kamu bisa menggantinya" teriak Adiba yang kesal
Toni langsung keluar dari dalam rumah dan kembali lagi membawa koper Adiba lalu melemparkannya kearah Adiba "Puas, itu barang-barangmu yang mahal itu. Makan sana barang-barang mahal mu itu "
Toni maju lebih dekat dan mencekik leher Adiba dengan marah. Sudah muak dia melihat wajah perempuan ini.
Sedangkan Adiba memukul-mukul tangan Toni dan kakinya terus bergerak. Toni langsung saja melepaskan cekikikan itu.
Adiba batuk-batuk dan menatap tajam kearah Toni "Apakah kamu gila hah, kamu ingin membunuhku "
"Ya aku ingin melenyapkan mu, lebih baik kamu mati saja dari pada menyusahkan ku, aku sangat muak denganmu "
"Kalau begitu biarkan aku untuk pergi dari sampingmu, aku tidak mau ada disini ceraikan aku, aku akan pergi pada Lucas, aku akan menikah dengannya "
Toni yang mendengar itu langsung tertawa dengan renyah "Mana mungkin Tuan Lucas mau menikahimu kalau memang dia mencintaimu dari dulu mungkin dia akan menikahimu. Bukan sekarang saat istrinya sudah tiada. Jangan terlalu berkhayal jadi seorang perempuan itu sampai kapanpun tuan Lucas tidak akan pernah mau bersama perempuan matre tidak tahu diri seperti kamu ini "
"Sirik kamu hanya sirikan padaku, aku tahu kamu tak ingin kehilangan ku "
"Kata siapa, aku akan bicara pada ibumu sekarang dan aku akan menceraikan mu "
Toni langsung pergi dari rumah diikuti oleh Adiba. Dia ingin tahu apakah ibunya akan mengizinkannya atau tidak.
__ADS_1