
"Daniel apa yang kamu lakukan. Kenapa kamu membunuh hewan itu apa kamu gila. Kamu udah bunuh burung itu. Dia kan baik gak lakuin apa-apa. Kenapa kamu tega sama hewan itu "
"Maka pikir-pikir dulu Hans jika ingin berteman denganku. Kamu sekarang sudah tahu siapa aku, jika ada yang menghalangiku maka nasibnya akan sama seperti burung itu. Jangan pikir aku ini orang baik Hans. Aku ini tidak seperti yang kamu lihat "
Daniel begitu saja pergi meninggalkan Hans yang masih lemas. Kenapa Daniel memperlihatkan ini padahal Hans, agar Hans berpikir dua kali untuk berteman dengannya. Entah kenapa Daniel suka sekali untuk membunuh hewan. Itu sudah menjadi kegemarannya sejak 2 tahun yang lalu.
Daniel hanya diam duduk termenung sendirian di taman. Tiba-tiba saja Tamara mendekatinya "Boleh aku duduk di sini, aku hanya duduk aku tak akan mengganggumu. Kalau kamu tak mengizinkannya aku tak akan duduk disini dan akan pindah saja "
"Ini tempat umum. Siapa saja boleh duduk di sini, jadi kenapa aku harus melarangmu. Duduk saja "
"Terimakasih karena kamu sudah baik sama aku "
Tidak ada jawaban dari Daniel. Daniel hanya diam saja menatap pohon dan juga hewan yang lainnya. Sebenarnya Daniel ingin membunuh hewan-hewan itu sekarang, tapi Daniel melihat perempuan yang ada di sampingnya ini.
Kalau perempuan pasti akan langsung berbicara pada guru, tapi kalau Hans tidak mungkin dia tidak akan pernah berani. Hans pasti akan diam dan patuh.
"Aku sudah lama diperlakukan seperti itu oleh mereka, aku kadang lelah sekali"
Daniel yang mendengar Tamara tiba-tiba berbicara seperti itu hanya menatapnya sekilas, lalu kembali fokus pada pandangannya "Untuk apa kamu menceritakan ini padaku. Sepertinya tak ada gunanya juga "
"Ya aku hanya ingin berbagi kisahku saja. Kalau kamu mau mendengarkan boleh, kalau tidak juga tidak masalah. Aku hanya ingin membuat hatiku lega. Aku tidak bisa bercerita pada nenekku yang ada malah menambah fikirannya saja "
Daniel hanya mengangkat bahunya saja, seperti acuh tak acuh. Karena dari dulu juga Daniel tidak terlalu suka mendengarkan kisah orang lain yang menurutnya untuk apa, itu tidak penting untuknya. Hidupnya hidupnya, hidup orang lain hidup orang lain.
"Aku cuman tinggal berdua bersama nenekku. Hidup kami awalnya baik-baik saja tapi setelah lama-kelamaan nenekku tidak bisa bekerja dan uang kami habis untuk nenek berobat, nenek tiba-tiba saja mempunyai penyakit mungkin faktor umur ya juga ya"
"Bahkan rumah kami pun dijual. Aku tidak pernah menyangka kalau hidupku ini akan hancur dengan cepat. Sampai di mana aku harus bisa menjadi anak yang mandiri dan juga menerima semua keadaan. Aku dituntut untuk menjadi dewasa disaat usiaku belum dewasa "
"Ke mana orang tuamu "Daniel tiba-tiba saja bertanya pada Tamara. Hanya ingin tahu sama kemana kedua orang tuanya. Semua orang punya orang tua kan tidak mungkin tidak.
"Kata nenek orang tuaku sudah meninggal, dua-duanya sudah meninggal mereka sudah tidak ada. Ibuku meninggal saat melahirkanku, tapi aku tak pernah melihat wajahnya, wajah ayahku pun aku tidak pernah melihatnya tapi aku masih bersyukur sih memiliki nenek yang baik dan mencintai aku. Itu sudah sangat cukup untukku "
"Jika kamu mau boleh nanti kamu main ke sana. Aku tidak punya teman di sini tidak mau ada yang berteman denganku. Bahkan dulu pun sama tidak ada yang mau berteman denganku, mereka seperti jijik padaku padahal aku tak punya penyakit tapi mereka malah jijik "
"Aku tidak akan menjadi teman yang baik, jadi jagan berharap lebih untuk bisa berteman denganku. Aku bukanlah orang yang bisa sabar dan mau diajak ke sana kemari, aku juga bukan orang yang peduli pada orang lain. Kamu akan rugi berteman dengan ku "
"Tidak masalah, tapi maukah kamu berteman denganku. Aku di sini sangat kesepian sekali tidak ada teman bercerita, bahkan tidak ada yang mau dekat denganku. Semenjak mereka membullyku orang-orang tidak mau mendekatiku karena kalau ada anak yang mendekatiku maka ia menjadi sasaran mereka untuk di bully"
"Kenapa tidak melawan, kamu bisa melawan kan "
"Bagaimana aku bisa melawan, sedangkan mereka saja ada banyak sedangkan aku hanya sendiri. Aku tidak bisa melakukan apa-apa kalau aku melawan mereka akan mengeroyokku. Aku ga mau sampai masuk rumah sakit dan pada akhirnya nenek lagi yang bayar semuanya kasian "
"Demi harga diri kenapa tidak"
"Iya aku tahu, aku pernah melakukannya aku pernah melawan mereka tapi hasilnya aku yang malah habis. Aku yang malah jadi babak belur pokoknya aku tidak mau melawan mereka lagi, sudah cukup aku lebih baik mengalah saja "
"Lawan saja, tak usah takut. Kenapa harus menyerah juga "
"Tidak bisa. Aku masih ingin sekolah disini. Masuk sini saja aku bersyukur. Ini adalah sisa uang nenek agar aku bisa sekolah disini Daniel "
"Maka seterusnya kamu akan menjadi anak yang terus dipermainkan oleh mereka, sampai kapanpun kamu akan diinjak-injak oleh mereka kamu tidak akan pernah bahagia dan menang"
"Tidak masalah yang terpenting aku bisa sekolah di sini, itu sudah membuat aku senang. Aku tidak mau menghambur-hamburkan uang nenekku itu "
"Semua itu ada dalam pilihanmu. Kalau aku jadi dirimu meskipun aku tinggal bersama nenekku dan mempertaruhkan sekolahku aku tidak peduli, yang terpenting harga diriku bisa aku pertahan kan tidak sampai diinjak-injak oleh mereka" Daniel terus saja ngotot dia tak mau mengalah.
"Tentu, tapi sayangnya aku tidak seberani itu. Aku tidak bisa melakukan itu, yang ada aku bisa hancur oleh mereka bahkan mungkin aku tidak akan bisa dapat sekolah di mana-mana lagi. Kamu dan aku memang berbeda maka kita akan berbeda pendapat juga kan "
"Daniel aku mencarimu. Aku kira kamu pergi ke kantin "teriak Hans yang menghampiri Daniel dan duduk berhadapan dengan Daniel. Hans ternyata masih berani mendekati Daniel anak pemberani juga.
"Masih mau berteman denganku Hans, apa kamu yakin aku tanya sekali lagi "
Hans mengganggukan kepalanya sambil tersenyum lebar "Tentu saja aku akan terus berteman denganmu. Mana mungkin aku tidak melanjutkan pertemanan ini. Kita kan baru berteman masa aku sudah mundur begitu saja, kita akan tetap berteman. Tapi dia kenapa ada disini, kenapa dia tiba-tiba ada bersamamu Daniel apa kalian sudah saling kenal sebelumnya "
"Hanya ingin duduk saja, ini tempat umum kan jadi dia bebas untuk duduk dimana saja tidak ada yang salah juga"
"Hemm, kamu benar. Kamu memang selalu benar "
Tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka, hening Tamara juga saat melihat Hans yang datang tidak jadi untuk bercerita. Tamara takut dengan Hans yang akan memberitahu seisi sekolah. Tamara takut kalau Hans itu sama saja dengan Valeria.
Mereka memang satu sekolah dulu, tapi tak saling mengenal baru sekarang mereka duduk bersama-sama. Hanya saja Tamara harus selalu waspada.
...----------------...
__ADS_1
"Tolong ya Ibu Kat Alexander dinasehati, dia terus saja membuat masalah dengan membuat anak perempuan di sini pada nangis, menjahilinya itu sudah sangat keterlaluan Bu. Kami bahkan disini sampai pusing harus bagaimana lagi dengan Alexander "
Kat menatap anaknya yang malah acuh menjilat lolipop nya. Dengan cepat Kat menarik lolipop itu "Maafkan anak saya Pak, kalau memang sudah tidak bisa dipertahankan lagi di sekolah ini saya tidak masalah kok kalau misalnya Alexander dikeluarkan. Jangan segan-segan Pak "
"Tidak tidak Ibu, tenang saja Alexander tidak akan sampai dikeluarkan dari sekolah ini, kami hanya ingin memberitahu Ibu saja kalau kelakuan Alexander selama ini seperti ini. Kami tak akan mengeluarkan siswa manapun Bu. Kasian Alexander juga kan sebentar lagi akan lulus "
"Jangan takut dengan ayahnya, kalau memang Alexander harus dikeluarkan dari sekolah ini ya sudah keluarkan saja. Ayahnya juga tidak akan marah Pak. Jangan menganggap kami ini keluarga kami ini spesial, kalau ingin menghukum Alexander juga hukum saja. Saya tak akan marah kalau memang benar-benar Alex salah "
Guru itu diam cukup lama, menimang-nimang kata-kata dari Katherine tapi dia mengurungkan niatnya untuk mengeluarkan Alexander. Yang ada kalau misalnya sampai Alexander dikeluarkan bisa-bisa dana yang selalu dikirimkan oleh ayahnya Alexander akan hangus dan tidak akan mengalir lagi ke sekolah ini.
Bisa-bisa sekolah kekurangan dana lagi seperti dulu. Tidak bisa dibiarkan itu. Sekolah harus terus maju tak boleh berhenti sampai disini saja. Alex adalah anak yang harus terus dipertahankan.
"Tidak Bu, kami hanya ingin memberi peringatan saja pada Alex, semoga saja nanti kalau Ibu yang berbicara dengannya Alex akan menurutkan. Ibu pasti lebih mengenal karakter anak ibu "
"Tentu Pak, nanti saya akan bicara dengan anak bungsu saya ini. Dan saya juga akan bicara pada ayahnya semoga saja dia bisa menurut pada ayahnya. Karena hanya Ayahnya saja yang dia takuti "
"Baik Bu terimakasih atas pengertiannya "
"Ya sama-sama Pak"
"Kalau begitu sudah tidak ada yang dibicarakan lagi kan Pak. Saya permisi ya ingin mengajak Alex untuk pulang. Pokoknya bila Alex salah hukum saja tak usah takut-takut "
"Sudah Bu, sekali lagi saya minta maaf karena telah memanggil Ibu untuk datang ke sekolah"
"Tidak usah meminta maaf. Kenapa harus minta maaf. Kalau anak saya salah kenapa harus disembunyikan. Saya sudah bilang kan dari awal jika anak saya memang salah maka bukalah semuanya pada saya dan saya akan memberi nasihat pada anak saya ini"
"Baik Bu"
Setelah semua itu selesai Kat menarik tangan Alexander untuk keluar dari ruangan itu "Alex baru aja tadi pagi Ayah kamu bilang kamu jangan buat masalah. Kenapa kamu buat masalah lagi, ada apa Alex kenapa kamu seperti ini "
"Alex itu cuma main-main doang Ma, ga ngelakuin apa-apa kok mereka itu emang cenggeng aja. Aku suka seneng aja kalau misalnya isengin anak cenggeng "
"Kamu jangan gitu dong Alex, kalau misalnya Ayah kamu tahu gimana. Udah dong jangan jahilin anak perempuan terus. Jangan lakuin itu lagi, kasian kan mereka gimana kalau sampai sakit coba ah "
"Ya makannya jangan cenggeng Mama, mereka itu cengeng Mama, tidak seperti Mama. Mama itu tidak pernah menangis tapi mereka hanya dijahili sedikit langsung menangis. Mama tidak seperti itu Alex sering menjahili Mama tapi malah tidak pernah menangis, aneh sekali kan malahan aku sering bertanya-tanya Mama"
Kat sampai menepuk jidatnya, anaknya ini kenapa menyamakan dirinya dan juga anak-anak kecil itu tentu saja Kat tidak akan menangis kalau Alexander menjahilinya. "Mama dan juga mereka itu berbeda, Mama ini sudah dewasa sedangkan mereka itu masih anak kecil. Kalau sudah dewasa mereka tak akan menangis lagi mereka akan kuat"
"Sama saja Mama, boleh aku minta lolipop nya lagi. Aku masih ingin Mama jangan disembunyikan. Apakah tangan Mama tak pegal terus memegangnya. Aku saja yang lihatnya pegal Mama "
"Mamah ga asik ah, padahal aku mau lolipop ku itu "
"Bukannya kayak gitu. Ini tuh hukuman buat kamu. Kamu ga boleh pokoknya untuk hari ini besok baru boleh lagi "
Brak tiba-tiba saja ada yang menubruk Kat sampai-sampai Kat terjatuh. Alexander langsung membantu Mamanya untuk bangun, saat Alexander akan mendorong perempuan itu Kat langsung menahannya.
"Kalau jalan itu lihat-lihat punya mata ga, lihat pakaianku jadi kotor karena ditabrak sama kamu "teriak ibu-ibu itu ke arah Kat.
"Kenapa aku yang disalahkan, kamu yang menabrak aku, seharusnya kamu yang minta maaf padaku. Bagaimana sih aku yang kotor pakaiannya bukan kamu "
"Enak saja, kamu yang salah di sini bukan aku. Berani sekali ya kamu berteriak padaku, turunkan suaramu itu. Kamu ingin aku adukan pada suamiku "
"Dasar tidak tahu malu, silahkan adukan pada suamimu dan kita akan lihat CCTV siapa yang salah disini "
Kat langsung menarik Alexander untuk pergi dari sana. Kat tidak mau berurusan dengan ibu-ibu rempong seperti itu. Kat langsung masuk ke dalam mobil dan menarik tangan Alexander yang sulit sekali dimasukkan ke dalam mobil, karena ingin memukul ibu-ibu tadi. Anaknya ini ya.
"Mama kenapa tidak membiarkan aku untuk menghajar perempuan itu. dia sudah berani melakukan ini pada Mama. Aku tidak terima Mama, sungguh aku tidak terima dengan kelakuannya itu "
"Pak cepat jalan Pak, sekarang jalan kita pulang kita pulang"
"Mama Alex sedang bicara, coba Mama dengarkan dulu Alex "
Kat mengalihkan pandangannya pada sang anak "Mama tahu kamu ingin membalas dia, tapi dia adalah orang tua lebih dewasa dari kamu. Jadi kamu tidak boleh seperti itu pada orang yang lebih dewasa. Sudah jangan dibesar-besarkan "
"Tapi dia sudah seperti itu pada Mama, dia sudah lancang memarahi Mama seperti tadi berteriak-teriak seperti itu. Ayah saja tidak pernah membentak Mama tapi dia sudah berani melakukan itu. Aku kesal padannya Mama"
"Sudah Mama tidak apa-apa kok, Mama baik-baik saja kok. Kamu tidak kenapa-napa tidak ada yang terluka juga kan sayang "
"Mama itu terlalu mengalah. Awas aja kalau Alex bertemu lagi dengan perempuan itu tidak akan Alex ampuni. Tidak akan Alex lepaskan juga "
"Sudah mama tidak apa-apa. Mama tidak mau kamu punya masalah, kamu harus jadi anak baik ga boleh temperamental kayak gitu. Jadi kita lebih baik mengalah daripada harus cekcok diliatin banyak orang kan malu. Mama kan ga pernah ngajarin kamu buat kayak gitu sama orang dewasa buat ngelawan mereka. udah ya yang sabar "sambil mengusap dada anaknya.
Alex yang kesal langsung melipat tangannya, dia masih mengawasi ibu-ibu tadi yang sepertinya menjemput anaknya. Memang masih terlihat karena Alex sengaja membuka jendelanya untuk melihat ibu siapa.
__ADS_1
Akan dia jahili terus anaknya itu sampai ibunya meminta maaf pada Mamanya. Enak saja dia marah-marah pada mamanya ini.
Alex sudah melihat siapa anaknya Alex tersenyum bahagia. Lihat saja besok dia akan habis di permainkan oleh Alex jangan harap anak itu akan lepas dari Alex. Tak akan Alex lepaskan sebelum Alex puas.
"Mau makan apa. Mau makan di rumah atau mau di luar Alex"
Alex yang sudah puas melihat ke arah luar, mengalihkan pandangannya pada mamanya dan menggenggam tangan mamanya dengan erat "Alex makan makanan Mama aja, kita makan di rumah aja ya Mama sambil tunggu kakak pulang, kita makan sama-sama nanti "
"Ga mau beli mainan atau cemilan yang lain, mumpung kita masih di luar. Nanti akan sulit lagi keluar harus bilang dulu sama Ayah "
"Ga usah Mama mainan Alex sudah banyak. Apalagi ditambah mainan kakak sama banyaknya sudah kita harus menghemat. Mama tidak boleh banyak terlalu membeli mainan, kasian Ayah yang bekerjanya Mama"
Kat yang mendengar kata-kata anaknya mendelikan matanya kalau bersama ayahnya pasti apa saja dibeli, tapi kalau bersama Kat pasti tiba-tiba menjadi bijak seperti ini, karena takut kalau Kat larang jika membeli mainan yang mahal.
"Mama kenapa kamu mau jadi orang baik, coba jelaskan padaku "
"Apa kenapa Mama tidak mengerti dengan pertanyaanmu itu. Memangnya Mama harus seperti apa, masa mama harus menjadi orang yang jahat "
"Ya seharusnya Mama dorong orang itu lagi. Mama jangan jadi orang baik. Lihatlah mama jadi orang baik malah seperti itu kan, Mama malah dimarah-marahi"
"Mama menjadi orang baik itu memang harus dan kamu juga harus menjadi orang baik, pokoknya kamu kakak ayah dan semua keluarga kita tuh harus menjadi orang baik, tidak boleh ada yang jadi orang jahat. Semua orang juga harus menjadi orang baik"
"Tapi jika aku melakukan sesuatu Mama tidak akan marah kan, Mama tidak akan membentak ku kan "
"Apalagi yang akan kamu lakukan. Sudah jangan membuat masalah, bisa-bisa kamu nanti dimasukkan asrama oleh Ayah kamu. Mau nanti kamu tidak bebas, mau kamu tidak bertemu dengan Mama, Kakak dan juga Ayah diwaktu yang lama "
"Gampang kok Mamah tinggal kabur saja, apa sulitnya aku tinggal kabur dari tempat itu. Aku ini anak pemberani Mama. Aku bisa kabur kerumah nenek dan Kakek mereka pasti akan menerima aku"
"Alex jangan buat mama pusing, jangan buat mama minum obat kepala Mama ini sudah pusing sekali. Kamu mau mama tiba-tiba pingsan "
"Ya ampun mama maafkan Alex, Alex sudah buat mau pusing lagi mau Alex ambilkan obat, air putih atau kita mau beli makanan dulu buat mama, mau di kipas-kipas dulu agar Mama tidak pusing begitu, Alex akan siap 24 jam untuk Mama"
Kat yang mulai gemes dengan Alex memeluknya dengan erat "Mama jangan peluk Alex, Alex sudah dewasa jadi Alex tidak mau dipeluk seperti ini nanti mereka mengatakan kalau Alex ini anak mama. Jangan Mama ya"
"Memang kamu anak mama, mama suka memeluk anak bungsu mama yang nakal ini "
"Tidak kakak saja yang Mama peluk seperti itu. Kakak akan lebih suka dipeluk oleh Mama. Jangan peluk aku, aku ini sudah dewasa mama "
"Dewasa belum pada saatnya, kamu ini masih kecil kalau dewasa itu kamu sudah bekerja"
"Ini sudah saatnya aku dewasa Mama, jangan bicara tentang masalah ini pada Ayah ya "
"Kenapa bukannya kamu sudah dewasa, berarti kamu bisa menghadapi Ayah kamu kan"
"Tidak aku tidak mau, Ayah pasti akan menghukum ku nanti. Ayah bisa-bisa mengurung aku. Aku tidak mau Mama"
"Makanya jangan buat masalah"
"Hemm, baiklah aku akan mencobanya tapi kalau tidak bisa jangan salahkan aku mama Ya "
"Kenapa kamu sekarang menjadi cerewet, biasanya hanya menjawab kata-kata Mama dengan kata hmm dan hemm"
"Mama tidak dengar tadi ayah marah-marah padaku karena merespon Mama seperti itu, maka mulai sekarang aku tidak akan melakukan itu. Aku akan banyak bicara kalau bersama mama saja seperti kakak. Kakak juga kalau bersama mama banyak bicara tapi kalau dengan orang lain dia cuek, bahkan sama seperti aku jawabannya seperti itu "
"Berubah itu bukan karena orang lain, tapi karena diri sendiri "
"Iya ini juga demi diri sendiri agar aku tidak dihukum oleh Ayah. Sudah mama tidak usah banyak bertanya ya tentang perubahan sikapku ini. Yang terpenting sekarang aku banyak bicara sama mama dan selalu menyayangi Mama"
"Baiklah mamah tak akan banyak bicara, mamah Akan tutup mulut "
"Boleh pinjam ponselnya mama tidak "
"Untuk apa"
"Hanya sebentar. Aku ingin main permainan, aku tidak akan melakukan hal aneh Mama"
"Tentu boleh, tapi di rumah tidak boleh main ponsel"
"Iya mamah"
Kat memberikan ponselnya pada anak bungsunya itu. Memang Lucas tidak membolehkan anak-anaknya memegang ponsel sebelum mereka masuk sekolah SMP dan sekarang Daniel baru diberi ponsel untuk sekolah kalau untuk Alex belum.
Memang kadang aturan suaminya itu sangat ketat sekali, bahkan kalau anaknya melakukan satu kesalahan pasti Lucas akan menghukumnya dan Kat juga tidak bisa melarangnya. Karena kalau sampai dilarang Lucas kadang-kadang juga marah dan tidak suka katanya ini demi kebaikan anak-anaknya, mau bagaimana lagi sebagai istri Kat hanya bisa menurun.
__ADS_1
Memang sih marahnya Lucas pada Kat tak pernah membentak atau sampai mencaci maki. Hanya diam dan tak mengajak Kat bicara. Seperti itu suaminya kalau pada Kat.
Kalau pada anak-anaknya asal saja Lucas tidak main tangan maka Kat akan terima. Kalau sampai itu terjadi Kat akan maju dan tidak peduli suaminya marah padanya. Atau bahkan sampai memukulnya Kat tak peduli itu. Anak-anaknya nomor satu.