
Kembali pada sudut pandang Kat
Satu tahun berlalu. Waktu begitu cepat dan aku juga sudah tinggal di kota ini cukup lama ya satu tahun memang waktu yang lama menurutku dan aku juga bersyukur ada yang mau menerimaku bekerja meski ijazahku belum keluar.
Karena saat diriku kabur aku sudah menyelesaikan sekolah, tapi ijazah belum diambil mana mau aku ini kembali ke sana dan nekat pergi ke sekolah. Abang bisa-bisa menangkap ku.
Aku sekarang bekerja di sebuah perusahaan yang cukup besar. Di sini aku bekerja sebagai admin dan ada beberapa admin juga. Cukup banyak admin di sini aku hanya dekat dengan satu orang. Memang sih kenal dengan semua orang di sini tapi yang dekat denganku hanya satu.
Dia seumuran denganku, namanya Barbara dia cantik, baik. Pertama aku masuk kemari dialah orang pertama yang mengajakku pergi ke kantin, memperkenalkan makanan-makanan di sini dan mengajakku jalan-jalan.Pokoknya dia sangat baik sekali.
Sudah 1 tahun juga aku tidak pernah menghubungi kakakku, Ayahku, keluargaku. Aku tidak menghubungi mereka aku takut kalau aku menghubungi mereka Abang akan tahu.
Aku juga belum pernah mengecek lagi tentang bagaimana perkembangan kasus Abang aku takut. Aku takut kalau Abang kabur atau mungkin tidak tertangkap.
Karena dia pintar, dia bukan orang biasa yang bisa ditangkap dengan mudah, tapi selama 1 tahun ini aku begitu tenang. Hidupku sangat tenang. Abang juga tidak mencariku.
Tapi aku yakin dia sudah tertangkap, kalau dia tidak ditangkap mungkin dia akan mencariku kan dan menemukanku dengan mudah.
Aku yang memang sedang menunggu Barbara mencoba untuk mencari-cari berita pembunuh berantai. Siapa tahu aku mendapatkan berita. Tadinya sih aku tidak mau melihatnya atau ikut campur tentang masalah ini lagi, tapi karena aku penasaran apakah Abang tertangkap atau tidak maka aku mau bukanya.
Tapi yang aku dapatkan bukan hasil yang menyenangkan untukku. Ternyata pembunuh berantai itu belum ditemukan. Dia kabur bahkan berita tentang kematian Sabrina dan teman-temannya ada di sini, tertulis dengan besar kalau penjahat itu belum ketemu dan Sabrina serta kedua temannya itu belum mendapatkan keadilan. Karena pembunuhnya belum tertangkap.
Aku yang membaca itu langsung lemas. Berarti Abang itu belum tertangkap, dia kabur tapi kenapa dia tidak mencariku. Ish kenapa sih aku malah mikir begitu. Bagus dong kalau dia tidak mencariku aku aman.
Tapi, aku juga takut kalau dia tiba-tiba ada di hadapanku. Bagaimana aku takut dia datang dan membawaku pergi dari sini, lalu menyiksaku dan mengekang ku seperti dulu lagi. Aku tidak mau sampai itu terjadi.
__ADS_1
Aku yang sedang melamun dikagetkan dengan Barbara yang datang dan menepuk dahiku"Aww sakit Barbara. Kau ini ya"
"Habisnya dari tadi aku panggil kau tidak menyahut, kau ini mau makan apa ayo aku sudah selesai mengerjakan tugasku yang begitu menumpuk. Kau mau makan apa aku sudah sangat lapar "
"Makan daging atau sayuran, apapun lah aku akan makan yang penting perutku terisi"
"Ya sudah ayo cepat jangan lama-lama. Tak biasanya kamu melamun, biasanya ceria senyum-senyum sekarang kok kayak gitu sih. Ada apa sih cerita dong"
"Kamu udah lihat belum Barbara tentang berita yang itu loh, pembunuh berantai yang membunuh tiga anak siswi"
"Iya aku tahu kok, emangnya kenapa. Itu kan bukan di kota kita itu di kota lain. Ga mungkin kan dia jauh-jauh kemari cuman buat membunuh perempuan-perempuan di sini. Aku juga baca kok satu tahun yang lalu ada seorang perempuan yang nelpon polisi dan mengatakan kalau ada seorang pembunuh kan dan benar ada yang dibunuh tiga orang siswi "
"Kamu mau tahu ga siapa yang udah telepon polisi itu ? "
"Orang itu adalah aku"
"Apa kamu, yang bilang sama polisi gila Kat"
"Jangan teriak dong Barbara, jangan sampai orang-orang tahu aku hanya kasih tahu kamu aja. Aku juga kaget waktu baca berita ini kalau orang itu belum ketangkep. Aku kira setahun yang lalu tuh udah ketangkep makanya aku pindah ke sini tuh gara-gara itu. Aku ngelaporin dia ke kantor polisi, aku kabur aku takut kalau dia datang ke sini dan cari aku"
"Ya ampun Kat kenapa bisa kayak gitu. Kenapa kamu bisa berurusan sama dia. Seharusnya kamu tuh ga usah berurusan sama dia"
"Ceritanya panjang banget Barbara, kamu juga pasti bakal kaget kalau aku ceritain semuanya. Karena ini tuh bener-bener di luar nalar banget kita makan aja"
"Apa kita perlu lapor polisi lagi, supaya mereka jagain kamu gitu atau cari orang bodyguard buat jagain kamu "
__ADS_1
"Aku ini bukan orang penting Barbara yang harus sampai dijaga seketat itu, aku juga harus bayar mereka kan. Mana ada uang sebanyak itu, ini aja gaji dari sini hanya cukup buat bayar kontrakan, makan dan beli kebutuhan aku yang lain. Ga deh kayaknya semoga saja dia ga temuin aku deh"
"Semoga aja dia ga temuin kamu, emangnya kenapa sih pembunuh itu ada dalam masa lalu kamu"
"Orang yang udah jadi pembunuh itu pacar aku, maksudku orang itu maksa aku buat aku jadi pacarnya"
"Apa pacar, pacaran sama pembunuh ? "
"Aku juga ga kepikiran bisa sampai berpacaran sama pembunuh, intinya yang aku tahu dia itu dulunya bukan pembunuh"
"Semoga aja ya dia ga datang kemari, aku takut terjadi apa-apa lo sama kamu"
"Malahan aku takut terjadi apa-apa sama kamu Barbara. Mungkin mulai sekarang kamu jangan terlalu dekat sama aku ya. Aku takutnya dia ngincar orang-orang terdekat aku, takutnya dia mau balas dendam dengan cara ya bunuh teman-teman aku, tolong ya kamu nanti jangan terlalu dekat sama aku"
"Kok gitu sih ga ga, aku ga mau ya kita harus selalu sama-sam. Mau gimana pun nanti ceritanya kita harus selalu sama-sama"
"Tapi aku ga mau kamu celaka. Aku ga mau kehilangan kamu Barbara"
"Engga akan, kamu ga akan pernah kehilangan aku. Udah tenang ya semuanya akan baik-baik aja. Kita hadapi sama-sama"
"Tapi kamu jangan terlalu dekat ya sama aku. Intinya jangan terlalu dekat deh"
"Udah aku bilang kan ga mau ih, udah yuk ah ke kantin kamu tuh banyak bicara banget. Aku yakin dia ga akan pernah ada di sini udah jangan takut ada aku di sini. Kamu bisa tenang gak usah takut"
Aku diam, aku tak menjawab lagi. Barbara itu keras kepala. Sepetinya aku yang harus menjauh. Aku tidak mau Barbara celaka gara-gara aku.
__ADS_1