
Malam-malam Ayu dibangunkan dengan dering ponselnya yang terus saja berisik, dengan masih mata yang mengantuk Ayu mengambil ponselnya.
"Hallo, siapa malam-malam menelfon "
"Halo Ayu bisa pulang, ibumu sedang sakit dan dia ingin bertemu denganmu. Maaf aku malah memberi kabar padamu malam-malam seperti ini. Aku takut terjadi sesuatu dengan ibumu "
Kedua bola mata Ayu langsung terbuka, rasa kantuknya langsung hilang digantikan dengan rasa cemas yang begitu dalam "Apa ibu sakit, bukannya ibu baik-baik saja ya, kenapa tiba-tiba ibu sakit. Aku sering loh telfonan bersama ibu tapi dia baik-baik saja jangan bermain-main denganku ya. Ini tidak lucu "
"Aku sedang tidak bermain-main, ibumu benar-benar sakit keras dan waktu itu saat teleponan denganmu ibumu sedang tidak baik-baik saja, hanya saja dia tidak mau memberitahumu Ayu, kamu bisa kan datang kemari ibumu sudah sangat lemah sekali, aku takut terjadi sesuatu dengan ibumu"
Air mata Ayu sudah mengalir tak karuan, sedangkan Alex yang terbangun karena mendengar istrinya berteriak langsung duduk dan ingin menenangkannya. Tapi saat melihat Ayu sedang menelpon Alex diam terlebih dahulu.
Alex juga tidak mau gegabah kan tiba-tiba menyela semuanya. Alex akan menunggu Ayu sampai selesai menelpon, sepertinya ini sangat gawat sekali.
"Kenapa tidak bilang dari awal, kenapa sudah sakit seperti ini baru bicara"
"Ini permintaan ibumu, waktu itu dia tidak mau sampai jamu mengkhawatirkan keadaannya. Bisa kamu datang kemari Ayu, aku takut terjadi sesuatu pada ibumu"
"Tentu aku akan datang sekarang juga ke sana. Aku akan pergi sekarang juga. Dari awal aku sudah bilang kan jangan ada yang disembunyikan dariku, aku tidak suka kalau seperti ini kalian tak jujur padaku. Seharusnya kalaupun Ibuku menyuruh kalian untuk merahasiakannya beritahu aku, tidak usah ikuti kata-kata ibuku. Sekarang kalau sudah begini bagaimana "
"Ya Ayu maaf kami salah, kami memang salah"
Setelah sambungan itu terputus Ayu langsung menatap Alex yang masih bingung dengan semua keadaan ini. Ayu ingin meminta tolong pada Alex tapi sangat takut, takut Alex akan menolaknya, tapi Ayu juga tidak bisa berangkat ke sana sendirian malam seperti ini. Alex juga tak akan mengizinkannya. Mau bagaimanapun Ayu harus meminta izin pada Alex kan Alex adalah suaminya.
"Ada apa dengan kamu. Kenapa kamu menangis seperti ini.Apa ada yang terjadi di keluargamu "sambil mengusap air mata Ayu. Tapi tetap saja air mata itu kembali turun, tak mau berhenti mengalir.
"Bisakah kamu mengantarku pulang, ibuku sedang sakit aku tidak mungkin pergi nanti pagi. Bisakah kamu mengantarku sekarang aku mohon, kalau tidak izinkan aku untuk pergi sendiri, aku akan naik bis saja"
"Tentu saja aku bisa mengantarmu, tidak usah sampai berbicara seperti itu. Aku ini suamimu maka aku akan menemanimu kemanapun kamu pergi, sekarang bersiaplah aku pun akan bersiap dan membawa beberapa pakaian ayo segeralah bersiap. Bukannya kamu ingin cepat-cepat pergi kesana kan "
Alex tanpa banyak bicara lagi langsung bersiap. Ayu sendirian tak menganti pakaiannya, dia masih menggunakan baju tidur tapi hanya menggunakan jaket saja. Sedangkan Alex sibuk dengan bekal pakaian mereka, takut di sana lama juga kan Alex harus sedia karena di sana jauh ke mana-mana.
Mau beli di mana pakaiannya nanti, kalau sudah di sana, pasti Alex akan menempuh waktu yang lama lagi kalau sampai kurang membawa pakaian.
Sedangkan Ayu sudah berdiri dan ketakutan sekali. Kenapa Ibunya menyembunyikan semua ini darinya. Kenapa Ibunya tidak jujur, mungkin Ayu bisa dari awal datang ke sana kan. Ayu sangat takut terjadi sesuatu pada ibunya.
"Ayo sudah aku kemas pakaianmu. Sekarang kita berangkat, semoga saja dijalan kita lancar ya Ayu"
Ayu menganggukan kepalanya, bahkan saat Alex menarik tangannya Ayu tidak menolak sama sekali, mereka bahkan tidak bicara dulu pada kedua orang tua Alex, langsung pergi begitu saja karena darurat sekali.
Nanti kalau masalah izin kan bisa ditelepon Alex juga tidak kepikiran ke sana tadi, karena yang dia pikirkan adalah keluarganya Ayu, takut kenapa-napa dengan mereka kalau sampai menelpon tengah malam seperti ini pasti sangat darurat sekali kan.
"Kamu tenang ya jangan terus menangis seperti ini. Kita akan sampai dengan cepat kita berangkat jam 12.00 malam pasti subuh kita sudah sampai di sana"
"Iya aku hanya takut saja, aku takut terjadi sesuatu dengan ibuku. Aku benar-benar takut kehilangan ibuku "
"Pikiran kamu jangan ke sana, istirahatlah sekarang. Jangan memaksakan diri untuk terus membuka matamu, ini sudah sangat malam sekali. Sudah waktunya kamu tidur "
Ayu tidak mengikuti apa kata-kata Alex, mau bagaimana tidur perasaannya saja sudah tidak enak pikirannya saja sudah kemana-mana tidak ada pikiran Ayu untuk tidur sama sekali.
Ayu hanya memikirkan bagaimana keadaan ibunya sekarang. Sakit apa sebenarnya ibunya sampai-sampai tidak mau memberitahu padanya.
...----------------...
Alex dan juga Ayu sudah sampai di rumah Ayu, meskipun Alex mengantuk tapi dia terus saja menyetir. Dari pertama mereka pergi sampai-sampai ke rumah ini Ayu terus saja menangis tak karuan.
Alex sudah mencoba untuk menenangkannya. Tapi tetap saja Ayu terus saja menangis tidak mungkin kan Alex membentaknya, yang ada Ayu malah akan ketakutan dengannya.
Ayu langsung masuk ke dalam kamar Ibunya dan memeluknya dengan erat "Kenapa Ibu ga bilang sama Ayu, kenapa ibu rahasiakan semua ini, harusnya Ibu tuh bilang sama Ayu kalau ibu kenapa-napa gimana. Ayu ini anak ibu masa Ayu mau tahu yang paling terakhir sih"
"Ibu baik-baik saja, ibu hanya tidak mau mengganggu kamu di sana. Apalagi kamu sedang hamil muda, ibu tak mau menambah pikiran kamu"
__ADS_1
Ayu melihat tubuh ibunya yang sangat kecil sekali, tidak seperti saat Ayu baru menikah. Sebenarnya ibunya ini sakit apa sampai-sampai badannya sekarang kecil sekali dan wajahnya sangat pucat sekali.
"Lebih baik sekarang kamu istirahat, kamu sudah bertemu dengan ibu kan. Sekarang waktunya istirahat kasihan bayi kamu dan juga suami kamu. Suami kamu pasti ngantuk banget apalagi perjalanan cukup jauh dari sana"
Ayu menatap Alex yang hanya berdiri di belakangnya. Ayu mengusap air matanya lalu segera bangkit "Ya udah Ayu anterin dulu Alex masuk ke kamar, setelah itu Ayu kemari lagi ya. Ayu akan temenin ibu tidur jangan menolak Bu "
Ibunya dengan lemah hanya menganggukkan kepalanya saja, Ayu membawa Alex ke dalam kamarnya. Sebenarnya Ayu malu bukan apa-apa kamarnya begitu kecil bahkan kalau dibandingkan dengan yang ada di Rumah belakang itu kamar ini hanya seperempatnya saja, tidak ada setengah-setengahnya.
Ayu membuka pintu kamarnya, masih sama tidak ada yang berubah "Alex maaf kamarku kecil tidak seperti di rumahmu dan tempat tidurnya pun tidak se empuk yang ada di rumahmu, apa tidak masalah atau mungkin kamu mau tidur di hotel aku akan memberitahu di mana tempatnya. Aku tidak masalah kok ditinggal di sini"
Alex langsung menangkup pipi istrinya itu "Sudah di sini saja sama saja, yang terpenting aku terus bersamamu kan. Kamu mau temani ibumu lagi kembalilah aku akan istirahat di sini, aku ga masalah kok tidur sendiri "
"Kamu yakin akan tidur di sini" Ayu mencoba untuk meyakinkan kembali Alex, takut nanti Alex berbuat aneh-aneh Ayu tidak mau kalau misalnya orang tuanya melihat perlakuan Alex padanya sebelumnya.
"Aku yakin, ini kan kamarmu bukan kamar orang lain sudah sana temani ibumu lagi, aku akan istirahat aku juga mengantuk Ayu. Aku tak akan bisa pergi kemana-mana lagi "
Ayu akhirnya keluar juga dari kamarnya, sebelumnya Ayu melihat ke belakang tapi Alex malah memberikan senyumnya. Ayu menutup pintunya dengan perlahan.
Sekarang Alex ditinggalkan sendirian bukannya tidur Alex malah melihat foto-foto Ayu saat masih sekolah, memang kamarnya ini sangat kecil tapi sangat rapi sekali barang-barangnya pun tertata dengan rapi Alex suka.
Alex mengambil salah satu foto Ayu, sepertinya ini foto terbarunya Alex tersenyum melihatnya dan menyimpannya ke dalam tasnya. Alex membaringkan tubuhnya sambil menatap ke arah plafon.
Memang agak sedikit tidak nyaman sih tempat tidurnya, tapi ya sudahlah Alex juga tidak mau mempermasalahkan itu yang terpenting Ayu ada di sampingnya kan, tidak kemana-mana tidak pergi ataupun menjauhinya.
Alex yang memang dari tadi sudah mengantuk dengan cepat dia langsung tertidur, tidak butuh waktu lama untuknya, untuk menutup matanya dan terlelap dengan nyenyak.
...----------------...
Hari ini mau tidak mau Vio harus pergi ke butik, karena ada sedikit masalah tadi juga Vio sudah meminta izin pada Daniel, sebenarnya Daniel ingin mengantarkannya dan menjemputnya tapi Vio tidak mau biar dia saja pergi sendiri.
Bukan apa-apa Daniel banyak sekali meeting hari ini, kenapa dia bisa tahu ya Sela selalu memberi tahu jadwal Daniel pada Vio, setiap hari malahan. Sela tak pernah lupa.
"Itu Bu masalah gaun, seharusnya gaun yang kita buat selesai hari ini tapi penjahitnya tiba-tiba sakit. Aku bingung harus bagaimana menyelesaikannya sedangkan dia saja kan yang tahu semuanya, pakaian itu akan dikirim sekarang Bu"
"Kita punya dua penjahit. Memangnya yang satu lagi ke mana, seharusnya dia bisa menggantikannya kan"
"Dia resign, kemarin dia mengundurkan diri alasannya katanya ingin lebih fokus pada keluarganya. Aku belum memberitahu Ibu soalnya pekerjaan di butik sangat banyak sekali"
Vio masuk ke dalam ruangan penjahit, di sana ada satu gaun yang belum selesai dan hanya tinggal sedikit lagi sih sebenarnya. Itu sih masalah gampang untuk Vio.
"Ya sudah sini bawa gaunnya biar aku yang menyelesaikan semuanya. Memangnya jam berapa pakaian ini harus diantarkan"
"Jam 02.00 siang Bu pakaian ini harus segera diantarkan, tadi juga dia sudah menelpon menanyakan tentang gaunnya Bu, makanya aku menelpon ibu dengan panik"
"Baiklah kemarin kan gaunnya"
Setelah ada di tangannya, Vio melihat dulu yang mana saja yang belum dijahit, lalu Vio segera mengerjakannya tidak terlalu pusing untuk Vio, karena yang membuat desainnya juga dirinya yang membuat pola juga Vio.
Jadi untuk meneruskan jahitan ini untuk Vio ya gampang-gampang saja sih, mungkin asistennya hanya takut saja dimarahi oleh Vio makanya tadi saat menelpon dia sangat ketakutan sekali. Padahal Vio tidak akan mungkin memarahinya.
1 jam berlalu akhirnya Vio menyelesaikannya, Vio kembali menyimpan gaun itu di patung dan melihat apakah ada yang kurang. Semuanya sudah bagus tak ada yang terlewat berarti sudah selesai.
"Sudah selesai semuanya tinggal kamu bawa saja pada orang yang memesannya, masih ada waktu setengah jam kan kamu bungkus ya yang rapi"
"Iya Bu akan aku segera dibungkus "
"Dan untuk masalah penjahit lebih baik tambah lagi 3 orang jadi 4 orang bersama orang yang sakit itu. Aku tidak mau sampai ada masalah seperti ini lagi. Apalagi aku tidak akan ke butik lagi dalam beberapa bulan "
"Iya Bu aku akan membuka lowongan lagi "
"Ya sudah aku pulang dulu ya, aku harus segera pulang kalau ada masalah langsung saja telepon seperti biasa"
__ADS_1
"Iya Bu akan aku laksanakan, hati-hati Bu dijalannya"
Vio keluar butik, dia datang kemari menggunakan taksi. Vio tidak mau menyetir sendiri entah kenapa rasanya Vio ingin naik taksi saja. Sudah lama saja rasanya Vio tak naik taksi.
Vio berjalan ke sisi jalan terlebih dahulu menunggu taksi yang datang, tapi tidak ada taksi yang datang satupun kenapa ya tidak biasanya tadi saat berangkat juga gampang. Tapi saat pulang kenapa seperti sangat sulit sekali.
Vio akan berjalan sedikit lagi saja sambil jalan-jalan saja, tanpa Vio sadari di belakang ada mobil yang berjalan dengan kencang dan sengaja ingin menabrak Vio, tapi tiba-tiba tangannya ditarik Vio sampai kaget saat tangannya ada yang menarik. Untung saja mereka tak sampai terjatuh.
"Kamu itu kalau jalan hati-hati lihat mobil itu mengarah padamu, bagaimana kalau dia sampai melukaimu. Kamu ini selalu saja teledor Vio "
"Aku tidak tahu Valeria. Aku tidak tahu kalau ada mobil yang ingin mencelakaiku. Kalau aku tahu pasti aku akan langsung menghindarinya"
"Kenapa juga jalan sendiri seperti ini, kamu punya suami kan kenapa tidak diantar suamimu saja. Bukannya jalan sendiri seperti ini aku tidak habis pikir denganmu ayo biar aku antarkan pulang. Kamu ini lagi hamil seharusnya lebih hati-hati lagi"
Tangan Vio langsung ditarik oleh kembarannya itu, untuk masuk ke dalam mobil Vio benar-benar tidak tahu kalau ada orang yang akan mencelakainya. Tadi saat Vio sedang menunggu tidak ada mobil satu pun malahan jalanan kosong tidak ada siapa-siapa.
Vio sudah ada di dalam mobil lagi, kembali Vio diceramahi olehnya "Kamu emang nggak punya sopir sampai-sampai harus pergi sendiri pakai taksi, terus mobil kamu ke mana apa sekarang fasilitas kamu ditarik sama Daniel"
"Bukan gitu, tadi aku tiba-tiba pengen naik taksi aja, nggak maksud apa-apa kok. Ya sopir ada mobil aku juga ada ga mungkin lah Daniel tarik fasilitas aku. Sebenarnya dia ga tahu kalau aku naik taksi kayak gini. Aku nggak bilang kalau bilang aku nggak akan dibolehin"
"Ya udah gunain aja yang ada kenapa sih nyusah-nyusahin diri sendiri, Vio kamu itu kan lagi hamil harus benar-benar jaga kandungan kamu, jangan teledor kayak gitu lah Vio. Kalau aku nggak datang mungkin kamu udah kelindes tuh. Satu lagi kamu juga nggak bilang sama suami kamu kalau kamu nggak pakai mobil, kamu ini benar-benar cari penyakit ya, buat apa sih punya mobil kalau nggak digunain jual aja sekalian sana"
"Iya iya Maaf aku tadi nggak fokus mungkin. Udah dong jangan marah-marah terus"
"Ya makannya ga usah banyak pikiran, apa sih yang dipikirin udah aku bilang kan kalau kamu nanti lahiran akan baik-baik aja, nggak akan pernah ada yang terjadi kok nggak usah terlalu jauh deh masih lama juga. Kamu juga baru hamil beberapa minggu masih ada 8 bulan lebih, jangan mikirin yang aneh-aneh pokoknya"
"Iya maaf maaf "
"Kita ke restoran dulu ya laper, aku pengen makan "
"Iya aku juga sama pengen makan, kamu kok tiba-tiba ada di sekitar butik. Ga biasannya kamu ada disini "
"Ya iyalah aku kan mau cek butik kamu, emangnya aku akan dengan senang hati gitu ngasih semua tanggung jawab sama Daniel, butik itu kamu yang rintis dari awal meskipun dia suami kamu tetap aja aku nggak akan mungkin kasih dia tempat untuk menguasai semuanya. Tapi kamu juga harusnya bersyukur karena aku datang kalau aku nggak datang udah nggak tahu apa yang akan terjadi"
"Iya Valeria makasih ya udah selamatkan aku"
"Iya sama-sama "Jawa Valeria dengan ketus seperti biasa, Valeria itu memang perhatian tapi iya dia jutek dan juga tidak bisa diajak bersahabat.
Vio juga memberikan dulu pesan pada sang suami, memberi kabar kalau dirinya akan pergi bersama Valeria dulu.
...----------------...
Ayu mengecek kamarnya ternyata Alex masih tertidur, ini sudah jam 03.00 sore tapi dia masih belum bangun juga.
Ayu sudah dari tadi mengecek tapi belum bangun-bangun juga, apa Alex tak akan bangun "Ayu suami kamu belum bangun "
Ayu menutup pintunya lagi "Belum Ayah, kayaknya dia memang bener-bener ngantuk banget "
"Ya udah kamu pisahkan saja makanannya untuk suami mu itu "
"Iya ayah "
Ayu memisahkan makanan untuk suaminya. Sedangkan Ayu makan bersama keluarga besarnya yang memang sudah berkumpul disini. Kakak kakaknya juga sudah ada disini. Semuanya diberi kabar tentang ibunya yang sakit, tak ada yang tak datang.
"Gimana nih punya suami tampan dan kaya enak dong tinggalnya. Kenapa nggak suka ngirim ke sini" celetuk bibinya yang berhadapan dengan Ayu.
"Sudah ngapain juga bahas-bahas yang kayak gitu, yang terpenting Ayu sehat, Ayu udah nikah kan kita juga nggak ngarepin kok Ayu ngirim-ngirim uang yang terpenting Ayu di sana bahagia" jawab Ayahnya.
"Iya tapi tetep aja, Ayu kan nikah sama orang kaya masa keluarganya nggak kebagian sama sekali. Ya pasti uang bulanan juga gede kan"
"Udah ah lagi makan kamu ini bahas yang kayak gitu" balas Ayahnya Ayu lagi.
__ADS_1