
"Bibi Merry bisa buatkan aku rujak. Aku sangat ingin sekali makan rujak, entah kenapa tiba-tiba aku mau makan rujak, tolong buatkan ya jangan terlalu banyak sedikit saja "
Bibi Merry yang memang sedang membereskan kamar Tamara menatap wajahnya. Sepertinya Tamara seperti tidak melakukan apa-apa padanya, dia acuh dan menganggap semuanya tak pernah terjadi "Baiklah mau buah apa saja, takut nanti aku salah kamu salah dan tak mau memakannya mubazir kan kalau kamu tidak mau memakannya "
"Terserah kamu saja yang terpenting bikin rujak. Aku pengen rujak sekarang ya jangan terlalu pedas. Aku tidak terlalu suka pedas kamu pasti masih ingat kan seleraku masa lupa "
"Baiklah akan aku buatkan sekarang. Aku tak akan lupa, tenang saja aku tak akan melakukan kesalahan sama sekali "
"Hemm"
Tamara sama sekali tak melihat kearah bibi Merry hanya fokus merias wajahnya. Sebenarnya dirinya tak nyaman ada bibi Merry dikamarnya. Makannya dirinya menyuruh buat rujak saja. Agar dia tak lama-lama membereskan kamar ini.
Bibi Merry mengambil beberapa buah-buahan, dia mengerjakan sendiri, dia tidak mau dibantu oleh pelayan manapun. Dia ingin rencananya lancar tanpa terhambat oleh pelayan-pelayan yang lain. Setelah selesai Bibi Merry membuat bumbu kacangnya dan memisahkan untuk Tamara dan menyimpan sebagian, soalnya dirinya membuat banyak. siapa tahu ada yang mau kan.
Ya itung-itung buat tumbal nantinya. Karena lambat laun Tamara akan tahu dan dirinya harus mencari tumbalnya agar tak terkena imbasnya. Bukan sekali dua kali dirinya melakukan hal seperti ini. Dirinya sering membantu Lucas untuk melakukan pekerjaan seperti ini untuk memusnahkan musuh.
Bibi Merry menaburkan bubuk itu ke dalam rujak yang akan Tamara makan, lalu memberikannya pada Tamara yang masih ada di dalam kamarnya "Ini rujaknya, kalau masih mau dan kurang panggil saja aku akan membawakan lagi, masih banyak itu "
"Iya terima kasih" Tamara menjawab hanya seadanya saja tak mau memperpanjang pembicaraan.
Saat bibi Merry pergi ke dapur dia malah melihat temannya Tamara Lea. Kebetulan sekali kan ada Lea. Sudah lama juga dia tak datang kemari. Ini adalah sebuah kesempatan.
"Bibi Merry kamu ada disini, kamu kembali pada Tamara. Aku senang kamu ada disini lagi Tamara pasti senang banget kan ada bibi lagi disini. Tamara itu emang butuh bibi kasian dia bi"
"Iya aku di sini bersama Tamara lagi. Sudah lama kita tidak bertemu Lea, bagaimana kabarmu masih tahan bersama Tamara berteman dengannya, kamu tak pernah disakiti olehnya Lea, kamu tahu sendiri kan Tamara itu seperti apa " tanya bibi Merry yang ingin tahu apakah Tamara akan kasar juga pada teman satu-satunya itu.
Lea menganggukan kepalanya "Tentu saja aku nyaman bersama Tamara, toh dia juga tidak melukaiku kan, dia tak pernah menyakiti ku bi yang ada dia baik sekali. Bibi bikin apa tadi kayaknya nganterin sesuatu deh ke kamarnya Tamara, aku pengen dong bi"
"Bikin rujak ambil aja itu ada di dapur kok banyak, bibi buat banyak tadi katanya Tamara mau makan rujak, jadi sekalian buat banyak aja buat yang lain juga. Enak kan siang-siang gini makan rujak seger"
"Oke deh bi makasih ya bi, pasti akan enak sekali "
Lea segera pergi ke dapur dan segera memakan rujak itu begitu enak buatan rujak bibi Merry, tidak pernah gagal dari dulu dia bahkan hampir menghabiskan setengah dari rujak itu. Rasanya memang nikmat sekali sudah lama dirinya tidak makan rujak seenak ini.
"Bi aku udah kenyang nih, aku ketemu dulu Tamara ya. Makasih loh rujak enak banget. Nanti kapan-kapan bikinin lagi ya, sebenarnya aku masih mau tapi perut aku udah kenyang"
"Iya sama-sama "
Lea langsung saja masuk ke dalam kamar Tamara, Lea juga melihat Tamara baru saja menyelesaikan makannya. Memakan rujak itu "Ada apa Lea kamu datang ke sini tidak seperti biasanya, biasanya kamu sibuk terus "
"Ya pengen temuin temen lama lah, masa sih aku tiba-tiba menghilang gitu aja. Aku tuh pengen ketemu sama kamu, gimana kandungan kamu aman-aman aja kan. Sebentar lagi kan kamu lahiran masa aku nanti nggak ada di samping kamu. Aku pasti akan selalu temenin kamu, aku akan temenin kamu melahirkan nanti ya "
"Iya sebentar lagi. Oh ya gimana kamu nggak lagi sibuk itu sama kerjaan kamu. Bukannya kamu bilang lagi sibuk-sibuknya banget ya sama kerjaan, kenapa sih ga pindah ke kantorku aja, jadi kamu juga ga sibuk-sibuk banget "
"Ya sibuk sih sibuk, cuman ya luangin waktu aja buat ketemu sama kamu. Ini juga aku mau pergi ke kantor lagi. Aku nggak mau dianggap sama orang kalau aku lagi manfaatin kamu. Kerja di tempat kamu karena kita temenan. Aku nggak mau lah pikiran negatif-negatif itu sampai datang. Oh ya Bibi Merry kerja lagi di sini ya, udah lama banget ya nggak kerja"
"Iya dia masuk sini lagi, nggak papa lah buat urus anak aku juga nanti kalau nggak ada dia siapa yang ngurusin anak aku. Karena aku nggak akan mampu urusin anak aku sendirian, apalagi dengan pekerjaan kantor yang banyak pasti akan terbagi perhatianku ini, apalagi kan aku sendiri yang harus mengelola semuanya aku belum percaya pada siapapun untuk membantuku mengelola perusahaan itu aku takut dikhianati lagi. Kalau kamu mau masuk kamu bantu aku "
"Ya sudahlah tapi jangan terlalu terlarut dalam pekerjaan dan meninggalkan anakmu begitu saja. Kamu harus selalu memperhatikannya. Meskipun sedikit perhatian tapi harus ada jangan sampai anak kamu merasa kalau kamu itu acuh padanya, kasian kan dia nanti "
"Iya Lea, aku juga tidak akan seperti Ibuku dulu, aku tidak akan membiarkan anakku tersakiti dan dipukuli seperti itu. Aku bukan dia aku berbeda-beda dengannya. Jadi kamu jangan samakan aku dengannya, ya sudahlah lebih baik kamu pergi kerja saja. Nanti kalau telat bagaimana aku ga kamu diomelin sama bos kamu "
"Kamu lagi usir aku ya. Kenapa emangnya aku punya salah apa sama kamu sampai-sampai kamu tiba-tiba usir aku kayak gitu, apa karena aku ga mau kerja sama kamu gitu "
"Bukannya gitu, bukannya aku usir kamu cuman aku kasihan aja sama kamu. Kamu kan lagi banyak kerjaan kalau kamu banyak ngobrol sama aku kapan kerjaan kamu akan beres. nanti malah terbengkalai dan kamu akan pusing dengan pekerjaan kamu yang menumpuk. Aku ga mau kamu banyak fikiran aja"
__ADS_1
"Iya juga sih bener juga kata-kata kamu. Ya udah aku berangkat kerja ya hati-hati selalu jaga kandungan kamu. Jangan teledor kalau makan harus di lihat-lihat dulu jangan langsung makan saja "
"Iya aku akan jaga kandunganku, kamu tenang saja. Nanti saat aku akan melahirkan kamu harus cuti ya harus temenin aku pokoknya"
Lea menganggukan kepalanya dan memeluk Tamara cukup lama. Lalu setelah itu dia pergi dari rumah Tamara. Tamara tiba-tiba merasakan sakit di area perutnya dia melihat ke arah kakinya sudah berdarah, Tamara pendarahan.
"Aduh, ada apa ini kenapa berdarah, bibi tolong bibi"
"Bibi Merry tolong aku, bibi bibi bibi tolong"Tamara terus saja teriak Tamara tak mau sampai terjadi apa-apa pada kandungannya.
"Ada apa. Ada apa Tamara " Bibi Merry melihat ke arah Tamara dengan begitu khawatir.
"Ya ampun Tamara kenapa bisa pendaran seperti ini, apa kamu jatuh "
"Aku juga tidak tahu Bi. Ya ampun sakit sekali Bi tolong Bi, tolong anak ku jangan sampai dia kenapa-napa "
Bibi Merry segera membantu Tamara. Mereka pergi ke rumah sakit. Di dalam mobil saat di perjalanan bibi Merry tersenyum tipis sekali, ingin rasanya melihat salah satu dari mereka tiada agar pekerjaannya cepat-cepat selesai dan dirinya tidak berurusan lagi dengan Tamara.
Rasanya marah sekali pada Tamara, dulu anak ini begitu dirinya sayang melebihi anak-anaknya tapi dia malah ingin membunuh dirinya. Sungguh tidak tahu berterimakasih sudah di urus malah seperti itu.
...----------------...
Bibi Merry : Aku akan terus membantumu Lucas. Aku tidak akan merasa kasihan lagi pada Tamara. Mungkin aku kemarin memang sedikit goyah, tapi kali ini aku tidak akan pernah goyah lagi. Aku akan membantumu sampai berhasil aku tidak akan menghianatimu. Ingat kalau aku butuh bantuan kamu harus cepat-cepat meluncur.
Lucas menyimpan ponselnya, dia tersenyum senang dengan apa yang Bibi Merry katakan, keputusan Bibi Merry memang sudah benar dengan mengikuti rencananya permainannya ini.
Perlahan namun pasti Tamara akan tiada mungkin racun itu tidak seberapa, tapi kalau nanti dites di laboratorium tidak akan ketemu jenis racun itu dirinya sendiri yang membuatnya khusus untuk temannya Tamara maksudnya musuh.
"Hallo Abang, kenapa malah senyum senyum. Kenapa sih Abang awas ah "
"Hayo lagi ngapain tadi, nonton apa ayo di ponselnya sampai-sampai senyum kayak gitu. Aku bilangin Kat ya Abang pasti macam-macam kan sampai-sampai senyum-senyum sendiri kayak gitu. Ayo jujur ah bang jangan bohong sama aku mah "
"Ga kata siapa, aku sama sekali nggak macam-macam untuk apa. Ga ada gunanya juga macam-macam"
"Ya siapa tahu Abang nonton film gitu-gitu"Nabil terus saja menggoda Lucas.
"Gitu-gitu apa sih, kamu ini kenapa sih Nabil "
"Masa sih nggak ngerti. Abang ini kan udah dewasa sering kali lakuin sama Kat, masa sih ga tahu. Bukannya nggak tahu mungkin pura-pura nggak tahu ya"
"Untuk apa aku nonton seperti itu. Aku punya istri dan aku bisa melakukannya langsung dengan istriku, tanpa harus menonton itu dulu. Kamu ini ngawur banget tahu ga sih"
"Betul sekali, abang tapi bagaimana cara mendekati Daisy. Kenapa dia sangat sulit untuk aku dekati dia selalu saja menghindar, kenapa sih Abang ada apa dengannya padahal aku mau serius loh. Aku nggak akan pernah main-main kok sama dia"
"Kamu harus sabar, kamu tahu sendiri kan bagaimana Daisy dulu saat pacaran, pasti dia tidak mau sampai hal itu terulang lagi. Dia masih trauma meskipun dia menyembunyikan semuanya, tapi tetap saja dia masih ketakutan dengan seorang laki-laki kalau kamu memang benar-benar ingin dengan Daisy maka berjuang lah "
"Iya bang, tapi sampai sekarang aja nggak ada yang namanya pdkt pdkt malah kadang kalau aku WhatsApp atau telepon dia nggak pernah angkat, bahkan kalau di chat pun seperlunya aja. Padahal kan aku pengen ngobrol banyak "
"Yang sabar kamu lagi deketin orang yang lagi trauma, dia tuh butuh proses apalagi kejadiannya belum lama kan. Dia pasti sedang menyesuaikan dulu diri"
"Tapi kenapa tuh si Adiba cepat banget ya, padahal kan Abang juga lakuin yang sama, sama dia tapi dia kayaknya nggak trauma trauma sama sekali. Kemarin sih ya bilangnya tante Airin kalau Adiba itu kabur. Katanya mau pergi tapi balik lagi loh Bang malahan nggak pakai sepatu sebelah, kakinya berdarah gitu katanya sih jalan kaki tapi ya udah sih biarin aja. Aku juga tahu karena lagi ada di rumah Mami"
"Dia itu nggak akan pernah ada traumanya, orang jahat kayak gitu pasti ga akan ada kapok-kapoknya. Makannya kamu jangan sampai berurusan sama dia, nanti ceritanya bakal panjang dan banyak drama lihat aja Toni banyak drama banget kan hidupnya gara-gara nikah sama Adiba"
"Hemm, Abang emang nggak ada niatan buat balik lagi gitu ke rumah. Biar kita tuh bisa kumpul sama-sama seperti dulu lagi nggak pisah kayak gini Bang. Ya setidaknya rumahnya dekat gitu deketan jangan jauh-jauh, kalau jauh-jauh gini kan susah mainnya nggak bisa jalan kaki gitu, harus naik mobil aja. Pindah lah bang ayolah bang, jangan jauh-jauh kayak gitu lah bang "
__ADS_1
"Emang kamu akan ngejamin kalau hidupku dan juga istriku akan tenang saat perempuan bernama Adiba itu masih hidup. Yang ada dia akan terus datang ke rumahku dan mengganggu istriku dan dia juga pasti akan mengatakan hal-hal yang membuat istriku sakit hati, aku sedang menjauhkan orang-orang toxic seperti itu dari samping istriku. Aku ingin selalu dia bahagia tanpa memikirkan omongan-omongan orang lain. Aku tidak mau dia banyak fikiran kasian dia "
"Iya juga sih susah Bang, kalau mau singkirkan perempuan itu. Apalagi ya papi itu pasti aja kalau kita mau lakuin apa-apa sama Adiba mikirnya tuh Om Tora Om Tora dan Om Tora. Aku juga tahu sih gimana om Tora dulu mengabdi sama Papi tapi kan seenggaknya ga kayak gitu juga anaknya ini udah keterlaluan banget, dia itu harus dibasmi kan bang jangan didiemin aja"
"Ya gimana lagi, susah. Aku udah nyaman tinggal di rumah yang itu. Aku nggak mau pindah ke mana-mana lagi udah di sana aja, kebahagiaan istriku ada di sana aku nggak mau sampai ganggu-ganggu kebahagiaannya. Kasian dia kalau terus diganggu-ganggu"
"Hemm, iya deh yang udah bucin tau deh tau kalau udah bucin susah banget "
"Bukannya bucin, nanti juga kamu kalau udah nikah pasti ngerasain apa yang aku rasain. Prioritas utama kamu adalah membahagiakan istri kamu sendiri, nanti kamu juga akan ngerasain itu semua kok. Jadi tenang aja kamu akan merasakan bagaimana caranya untuk bisa membahagiakan istri sendiri dengan cara sendiri "
"Iya iya deh Abang, tapi aku nggak yakin deh kalau aku akan nikah muda kayak Abang, Daisy nya aja kayaknya nggak mau nikah sama aku. Padahal aku udah kumpulin uang, beli rumah perlengkapan buat seserahan tapi Daisy nya masih kayak gitu aja"
"Ya udah kamu buktiin sama Daisy. Kalau kamu emang benar-benar suka sama dia. Dia itu sedang tidak percaya diri dengan apa yang pernah terjadi padanya, pasti dia berpikir di zaman sekarang mana ada laki-laki yang mau bersamanya, itu yang selalu pasti dipikirkan sama Daisy. Meskipun aku tidak terlalu dekat dengan adikku tapi aku tahu isi kepalanya apa "
Nabil mengiyakan apa yang dikatakan oleh Lucas. Benar juga. Dirinya harus berjuang lebih lagi agar Daisy mau dengannya dan menerimanya dengan baik. Padahal dirinya tidak pernah mempermasalahkan tentang masa lalu Daisy.
Dirinya tahu tentang apa yang terjadi dengan Daisy dan dirinya tidak akan pernah mengungkit hal itu, mungkin untuk sebagian orang akan mencela dan sebagainya. Tapi dirinya tak akan melakukan itu dirinya akan selalu mendukung Daisy dan tak akan pernah membicarakan tentang masa lalu.
...----------------...
Bibi Merry masih di rumah sakit, dia menunggu kabar dari Tamara dia masih diperiksa oleh dokter. Dirinya ingin tahu kelanjutannya bagaimana. Dirinya juga harus memberikan kabar pada Lucas. Ini adalah kabar yang begitu membahagiakan.
Dokter keluar dan bibi Merry segera menghampiri dokter itu "Bagaimana dengan Tamara. Apakah dia baik-baik saja dokter dan anaknya juga apakah dia baik-baik saja" bibi Merry sedang memainkan perannya dengan baik.
"Syukurlah kamu membawanya dengan cepat, dia baik-baik saja kandungannya masih kuat tapi dia harus banyak istirahat lagi ada racun dalam tubuhnya itu"
"Apa racun, racun apa "bibi Merry pura pura untuk kaget, padahal dirinya sendiri yang memberikan racun itu. Tapi kenapa juga harus selamat tidak ada yang meninggal. Padahal tadi dirinya sudah menaburkan banyak racun tetap saja masih hidup.
"Kami juga sedang menyelidiki racun itu dulu, tapi untungnya Nyonya Tamara tidak apa-apa dia baik-baik saja dia selamat bersama anaknya. Untung saja kandungannya itu kuat silakan jika anda ingin bertemu dengannya"
"Baik dokter terima kasih aku akan menemuinya sekarang juga, aku begitu khawatir pada anak itu"
Bibi Merry tidak langsung masuk, setelah dokter itu pergi, Bibi Merry mengeluarkan ponselnya untuk memberikan pesan pada Lucas. Harus cepat-cepat memberinya kabar jangan sampai dirinya nanti lupa dan sibuk mengurus perempuan itu.
Lucas sebenarnya racun apa yang kamu berikan pada dia. Kenapa tidak berhasil bahkan kandungannya dan juga Tamara dia masih baik-baik saja, tidak ada yang mati di antara mereka berdua. Mereka berdua selamat. Kamu ingin memperpanjang pekerjaanku ini.
Aku tidak mau lama-lama ada di rumah Tamara, dia sudah mengancam nyawaku bahkan malam kemarin dia sudah menodongkan pisau padaku. Apakah kamu ingin membunuh ibu keduamu ini sampai-sampai mengirimkan ku lama-lama dirumah itu.
Cepatlah balas pesanku ini, aku langsung menghapus pesan ini aku sedang di rumah sakit menunggu perempuan itu. Aku tidak tahu dia akan bertanya apa saja padaku. Aku masih memikirkan bagaimana cara untuk berbohong lagi padanya.
Aku sudah terlalu banyak berbohong padanya. Lama-lama dia juga akan curiga pada aku kalau aku terus saja berbohong. Dia tidak bisa dianggap remeh Lucas dia juga pintar sama sepertimu, orang-orang seperti ini memang pintar jadi jangan terlalu lama membuatku harus diam di sini.
Setelah pesan itu terkirim benar saja bibi Merry menghapus semuanya, menghapus jejak yang bisa saja ketahuan oleh Tamara. merapikan dulu penampilannya mencoba untuk tegang dan khawatir pada keadaan Tamara, bibi Merry segera masuk ke dalam ruangan Tamara dan duduk di hadapan Tamara dengan wajah yang khawatir sekali.
"Tamara "panggil Bibi Merry dengan khawatir Bibi Merry juga menggapai tangan-tamara yang tidak diinfus. Digenggamnya erat tangan itu.
"Untung saja Bibi masih bisa membawamu ke sini. Bibi sangat khawatir dengan keadaanmu, kamu baik-baik saja kan sekarang sudah tidak ada yang sakit kan. Kalau misalnya ada yang sakit bilang pada Bibi, nanti Bibi akan panggilkan dokter lagi jangan diam terus ya"
Tamara bukannya menjawab. Dia malah menatap Bibi Marry terus menerus. Tidak ada ekspresi dari wajahnya dia hanya diam. Tamara sibuk dengan pikirannya sendiri masih menerka-nerka siapa sebenarnya yang telah memberikan racun padanya.
Apakah mungkin Bibi Merry atau siapa tadi yang membuat rujak kan bibi saja. Apakah ada yang membantu bibi Merry saat membuat rujak. Apakah pelayannya berani untuk meracuninya seperti itu.
"Tamara apakah kamu baik-baik saja kenapa mendiamkan bibi seperti itu. Ada apa Tamara apa kamu sekarang sudah tidak bisa bicara, apa karena racun itu membuat kamu tidak bisa bicara Tamara"
Tamara tetap bungkam, dia malah membalikan badannya membelakangi bibi Merry ingin menenangkan dulu fikirannya yang mumet ini.
__ADS_1