
Kembali lagi pada Katherine
Aku yang sudah diantarkan oleh Pak Lucas langsung masuk ke dalam rumah tanpa Pak Lucas mengantarkan aku sampai depan rumah atau masuk ke dalam rumah. Dia hanya membuka jendela mobil dan melambaikan tangan.
Saat aku masuk sudah ada kakakku Chelsea yang mengintip ku diantar oleh Pak Lucas.
"Siapa yang mengantarmu. Kurasa itu bukan teman sekolahmu "ucapan Kak Chelsea bertanya padaku.
"Memang itu bukan teman sekolahku, dia guru sejarah"
"Apa, kau sedang didekati guru. Tak salah apakah kau sedang menghayal ya. Jangan senang dulu kau didekati oleh seorang guru, mungkin dia buta "
"Aku tidak pernah senang didekati oleh guru. Jadi kau jangan salah sangka dulu Kak"
"Tapi sepertinya aku mengenal wajahnya. Apakah dia Lucas anak dari Tuan Liam "
"Mungkin aku tidak tahu"
"Oh begitu, katanya diantar oleh guru tapi kenapa kau tidak tanya-tanya. Aku ingin bertemu dengannya kau bisa kan membuat aku bertemu dengan dia"
"Akan aku coba, tapi aku tidak bisa memaksa untuk kau bisa berteman dengan Pak Lucas"
"Ya coba saja kau berbicara padanya dulu. Negosiasi gitu aku ingin memastikan saja apakah itu Lucas laki-laki yang selama ini selalu membuat aku jatuh cinta setiap saat padanya. Aku ingin bertemu dengannya atur jadwalnya pokoknya aku ingin bertemu dengan laki-laki yang tadi mengantarmu pulang"
"Akan aku coba"
"Kenapa sih kau seperti tidak mau membantuku "tanya Kak Chelsea sambil mendorong bahuku.
"Bukannya aku tidak mau, aku sedang lelah aku ingin beristirahat. Bisakah kau membiarkan aku beristirahat. Bukannya kau juga baru pulang , seharusnya kau segeralah istirahat. Bukannya menggangguku akan aku coba berbicara dulu kepada Pak Lucas. Aku tidak bisa tiba-tiba memaksa dia untuk bertemu denganmu"
"Apa sulitnya hanya menemukan aku dengan dia, kau ikut saja nanti ke sana lalu tinggalkan kami berdua. Biarkan kami mengobrol begitu saja susah"
"Ya akan aku lakukan"
__ADS_1
Aku segera masuk ke dalam kamarku. Aku tidak mau berbicara lagi pada Chelsea. Yang ada malah akan ada pertengkaran dan yang menang pasti akan dia sih.
Aku tidak akan pernah menang dalam perdebatan ini, ataupun dalam masalah ini. Chelsea akan selalu menang Ayah dan Ibu pasti akan membela dia. Di rumah ini aku jarang sekali dibela oleh Ayah.
Meskipun itu yang salah Chelsea ataupun Dimas tetap saja kadang aku yang disalahkan. Memang tak pernah adil kan hidupku ini.
Baru saja aku menyimpan tasku, sudah ada telepon dari nomor yang aku tidak kenal, tapi ini ponselku ya bukan dari ponsel yang Pak Lucas berikan padaku. Aku dengan ragu mengangkatnya.
"Katherine kenapa kau tidak menungguku. Bukannya kita akan pulang sama-sama ya"
"Hah ini siapa ya"
"Kau tidak mengenali suaraku, ini Darwin aku mendapatkan nomormu dari Dimas tadi kulihat kau pulang bersama Pak Lucas. Apa kalian sedang dekat"
"Tidak, aku sama sekali tidak dekat dengan Pak Lucas, hanya kebetulan saja arah rumah kita sama. Makanya tadi Pak Lucas mengantarkan ku, katanya takut ada kejadian pembunuhan berantai yang sedang terjadi sekarang"
"Baiklah, ku kira kalian berdua sedang dekat. Boleh tidak aku sekarang datang ke rumahmu, ya hanya untuk sekedar mengobrol-ngobrol saja begitu "
"Ngobrol apa ya"
"Tugasku begitu menumpuk dan aku harus mengerjakan semuanya"
"Begitu ya, baiklah aku sebentar lagi akan bersiap-siap datang ke sana. Tunggu aku ya"
"Emm tapi"
Belum juga aku selesai berbicara Darwin sudah mematikan sambungannya, tapi sepertinya ini ide bagus untuk aku bisa jauh dari Pak Lucas. Biarkan saja Pak Lucas bersama Kak Chelsea.
Karena aku tahu diriku tidak cocok dengan Pak Lucas yang begitu tampan dan punya segalanya. Aku bukanlah siapa-siapa dan aku sepertinya tidak berhak untuk dicintai oleh Pak Lucas.
Ya sepertinya aku harus mencobanya untuk bisa jauh dari Pak Lucas. Siapa tahu bisa berhasil kan. Kak Chelsea lebih cantik dariku pasti Pak Lucas akan lebih tertarik pada Chelsea. Apalagi Kak Chelsea juga suka Pak Lucas kan.
Aku segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diriku dulu. Tidak mungkin kan saat Darwin datang kemari keadaanku masih kucel seperti ini. Ya meskipun bukan karena aku menyambut Darwin hanya saja tidak mungkin kan aku berpenampilan seperti ini saat ada tamu yang datang dan ingin menemuiku.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kat keluar loh jangan di dalam kamar terus, tuh ada Darwin yang pengen ketemu sama lo. Ga tau kenapa tiba-tiba teman gue mau ketemu sama perempuan kayak lo"
Aku yang mendengar suara Dimas berteriak di depan pintu segera membuka pintu dan keluar. Aku tidak menjawab kata-kata dari Dimas percuma saja yang ada akan membuat kami bertengkar dan benar Darwin sudah duduk bersama Ayah dan mengobrol-ngobrol.
"Kat sudah ada di sini, silakan kalian mengobrol. Om tinggal dulu ya lagi banyak kerjaan banget nih"
"Iya om"
"Hai Kat"
"Emm Hai "
"Gimana nih sekolah kamu baik-baik saja kan, maksudnya ga ada tugas yang bikin kamu pusing gitu, biar aku coba bantu. Siapa tahu aku bisa bantu kamu"
"Sekarang sih ga ada ya tugas yang bikin aku pusing. Semuanya masih bisa aku kerjakan dengan baik. Kamu jauh-jauh cuman mau temuin aku saja atau ada alasan lain yang buat kamu harus temuin aku "
"Ga kok aku memang pengen ketemu sama kamu saja, ga ada alasan apa-apa yang buat aku untuk ketemu sama kamu. Aku baru sadar ternyata di sekolah kita masih ada perempuan cantik yang tersimpan dengan rapi yaitu kamu"
"Aku bukan buku yang sampai harus tersimpan dengan rapi"
"Iya itu hanya perumpamaan saja. Kapan-kapan kita makan di luar mau ya, ya maksudnya kayak dinner gitu"
"Memang ga terlalu kecepatan ya"
"Kecepatan gimana, kita cuma makan-makan saja kok aku ga akan lakuin apa-apa kok"
"Akan aku pikir-pikir dulu ya"
"Oke pikirin yang baik ya, kita coba mengenal lebih dekat lagi gitu. Siapa tahu cocok"
Aku hanya mengganggukan kepalaku saja. Merasa aneh saja Darwin temannya Dimas tiba-tiba berkata seperti ini padaku. Aneh saja kan aku takutnya Dimas dan Darwin melakukan sebuah permainan dan aku adalah orang yang harus mereka permainkan.
__ADS_1
Aku bukanlah orang bodoh yang bisa ditipu dengan mudah. Aku tahu siapa Darwin dan juga Dimas. Aku tahu bagaimana Dimas membenciku selama ini. Dia ingin menghancurkan hidupku dia ingin membuat aku dan Ayah tidak bersama lagi. Dari sejak kecil sampai sekarang Dimas tak pernah menyukaiku.