
"Hey ngelamun saja "
"Apaan sih Dimas, gimana nih Kat bilang ga sama orang tua kalian "
"Tenang saja, Kat ga akan pernah mungkin bicara sama Ayah ataupun sama Ibu. Dia ga akan mampu bicara, dia akan kalah sama gue udah lo bisa tenang jangan khawatir kayak gitu ah "
"Tapi tetap saja gue merasa bersalah. Sekarang saja gue masih di rumah sakit gara-gara kelakuan Pak Lucas"
"Dasar tuh ya guru abal-abal, gue juga kesel ada dia tahu ga sih, pengen kasih pelajaran deh sama dia "
"Jangan, jangan macam-macam sama dia, lo pasti akan kewalahan sama dia. Ini buktinya gue sampai kayak gini, jangan deh jangan berurusan sama dia "
"Bodo ah yang terpenting gue bisa tonjok dia, gue bener-bener kesel sama dia tahu ga sih "
"Yaudah sih terserah yang terpenting gue udah kasih tahu, jangan pernah berurusan sama dia. Dia itu bukan tandingan kita Dim "
"Baru begini saja udah keok. Udah ah gue mau berangkat sekolah dulu "
__ADS_1
Dimas pergi begitu tanpa mendengarkan nasehat temannya, memang Dimas ini keras kepala sekali.
...----------------...
"Kak Tio "
"Hai Kat, sudah lama kita ga ketemu "
"Iya kita udah lama ga ketemu, Kakak lagi apa di sini"
Aku diam menatap wajah Kak Tio, apa ada pembunuhan, Kak Tio menarik tanganku menjauhi para polisi. Apakah yang dibunuh adalah orang yang mabuk kemarin.
"Kamu pulang saja, hari ini di liburin karena sekolah ini jadi TKP pembunuhan"
"Terus Kak Tio udah tahu siapa pembunuhnya, maksudnya apakah orang itu orang yang sama yang buat patung dari manusia. Terus tusuk orang yang di jalan itu, apa sama orangnya ? "
"Sampai sekarang kita para polisi belum menemukan orang itu. Ini tuh pembunuhannya kayak beda orang, kamu tahu sendiri kan cara membunuhnya saja beda Kat, tapi kamu tenang saja kita lagi cari orang itu."
__ADS_1
"Gitu ya Kak, kirain aku sama orang tapi dia buat seolah-olah ya pembunuhannya beda saja, bisa ga sih Kak seorang pembunuh ngelakuin hal gitu supaya ga ketangkap polisi"
Kak Tio mengangguk-anggukkan kepalanya, seperti sedang memikirkan sesuatu dan mendapatkan ide.
"Terima kasih Kat, kamu telah membuka otak Kakak yang udah mumet cari siapa pembunuhnya, petunjuknya apa saja, thank you sekarang kamu pulang ya. Jangan ada di sini jangan ada di TKP pokoknya kamu diam di rumah dan jangan kemana-mana ingat itu ya, nanti Kak Tio main ke rumah deh. Sudah lama juga kan ga main ke rumah"
Kak Tio mengusap rambutku cukup lama, lalu membelai pipiku, memang aku cukup dekat dengan Kak Tio dan aku menaruh rasa juga padanya.
"Makasih buat apa Kak, memangnya aku udah bantuin kakak apa ? Ya udah deh kalau gitu aku pulang ya Kak Tio, semoga apa yang Kau Tio lakuin semuanya berjalan dengan lancar dan cepat ketemu deh. Aku juga udah resah sama pembunuh itu "
"Pokoknya makasih deh, hati-hati ya Kat "
"Iya Kak "
Aku segera melangkah pergi meninggalkan Kak Tio yang berbalik arah kembali ke TKP. Aku tak sempat menayangkan siapa orang yang telah dibunuh karena terlalu fokus menatap wajah Kak Tio.
Tapi saat mataku berbalik ke arah lain, aku melihat Pak Lucas yang menatapku dengan tajam. Tapi tiba-tiba saja dia pergi begitu saja. Ada apa dengan dia ada yang salah memangnya.
__ADS_1