
Sudut pandang Chelsea
Aku yang baru saja sampai dirumah dihubungi Kat, tapi dia tak meneruskan kata-katanya ponselnya langsung mati ada apa ini.
Aku mencoba menghubungi Kat tapi tak aktif ada apa dengannya. Saat aku akan membuka pintu sudah ada Dian dan entah siapa laki-laki.
"Kak Chelsea ada disini, Kat sudah pulang "
"Belum Kat belum pulang ke rumah, dia tadi nelpon tapi tiba-tiba sambungannya mati gitu aja. Kamu liat Kat ga"
"Tadi Kat dibawa sama Pak Lucas, dia ditarik-tarik gitu diseret Kak"
"Apa Lucas "
"Iya Kak "
Wajah Dian begitu khawatir, aku menyuruh mereka berdua untuk masuk terlebih dahulu sedangkan aku menelfon Lucas. Lama sekali.
Panggilan pertama tak diangkat, panggilan yang kedua langsung diangkat. Aku meng loudspeaker agar kedua anak ini bisa mendengarnya.
"Ada apa "
"Dimana Kat "
"Dia bersamaku ada apa"
"Jangan kau sakiti dia, kirimkan alamat rumahmu. Biar aku jemput adikku"
"Tidak usah kau tidak usah repot-repot untuk menjemput Kat, dia baik-baik saja untuk apa aku melukainya"
"Aku ingin bicara dengan adikku "
"Hallo Kak "
"Kat kamu baik-baik saja ?"
Kat tak menjawab, aku melihat ponselku takut sambungannya terputus lagi. "Kat "
"Iya Kak "
"Kau baik-baik saja kan "
"Iya Kak aku baik-baik saja. Maaf tadi ponselku habis baterai Kak makannya langsung mati "
"Pulang sekarang Kat "
__ADS_1
"Aku disini disuruh Abang untuk menemani adiknya yang sakit Kak, aku baik-baik saja Kak, sungguh aku baik-baik saja aku tak kenapa-napa Kak "
"Kau yakin "
"Aku yakin Kak "
"Sudah kan, kau sudah bicara dengan adikmu"yang keluar adalah suara Lucas, dia langsung mematikan sambungannya.
"Ini tuh ga bener Kak, aku yakin Pak Lucas sudah apa-apa ini Katherine, soalnya dia tadi di tarik-tarik gitu kasar banget"
Aku diam mendengar kata-kata Dian, tiba-tiba saja teman Dian yang laki-laki itu bicara.
"Aku Ale Kak, apakah bener Kat pacaran sama guru itu "
"Apa Kat pacaran sama Lucas "
"Iya kata guru itu Kat pacarnya "
Kembali aku diam, kenapa aku tidak tahu mereka berdua pacaran. Kat juga tak pernah berbicara padaku "Mungkin mereka pacaran aku tak tahu "
Ale menghembuskan nafas kasarnya dan menyenderkan tubuhnya dikursi. Kami bertiga diam, tak ada yang bicara lagi.
Aku juga masih khawatir dengan keadaan Kat, bagaimana ini kalau Kat diapa-apakan oleh Lucas. Lebih baik aku telfon Ayah saja. Tak butuh waktu lama langsung diangkat.
"Ayah, Kat dibawa Lucas "
"Ayah tidak khawatir Kat bersama Lucas. Bagaimana kalau Lucas menyakitinya ?"
"Tidak akan, Lucas tidak akan mungkin menyakiti Kat, mereka sudah kenal dari kecil. Lucas juga anaknya Zeline kan tak masalah"
"Tapi Ayah _"
"Apa lagi Chelsea Ayah sedang bekerja, apa yang ingin kau katakan lagi "
"Ya katanya mereka akan pergi"
"Lucas juga sudah izin pada Ayah kalau dia akan pergi bersama Kat. Ayah juga sudah mengizinkannya"
"Semudah itu Ayah "
"Iya lagian ibunya Kat sudah menjodohkan Lucas dan juga Katherine, jadi pasti Lucas akan menjaga Kat dengan baik tidak masalah kan mereka pergi bersama"
Deg tiba-tiba saja aku seperti ditimpa batu besar saat mendengar kata-kata ini. Jadi selama ini Kat dan juga Lucas sudah dijodohkan.
Aku tanpa menjawabnya langsung mematikan sambungan telfon bersama Ayah. Aku menyimpan ponselku dan menutup wajahnya.
__ADS_1
"Kak kau baik-baik saja "
Aku mendongak aku lupa kalau masih ada temen-temanya Kat disini. "Aku baik-baik saja Dian, kata Ayah Lucas sudah izin jadi Kat akan baik-baik saja "
"Apakah yakin Kak "
"Iya yakin "
"Yasudah kami berdua pulang dulu ya Kak "
"Iya "
Aku melihat mereka berjalan keluar dari dalam rumah. Aku tidak mengantarkan mereka ke depan rumah. Aku masih tidak habis pikir dengan apa yang aku dengar tadi.
Benarkah Kat dan Lucas sudah dijodohkan, berarti sejak kecil mereka sudah dijodohkan. Lucas datang kemari hanya untuk menjemput Katherine saja.
Kenapa aku tidak bisa menghilangkan rasa cintanya pada Lucas. Kenapa hatiku harus berlabuh pada Lucas lalu sekarang apa yang harus aku lakukan.
Aku masuk kedalam kamar, kau lemas dan aku tak tahu ahrus bagaimana melupakan Lucas, aku tidak mungkin mencintai laki-laki yang sama dengan adikku.
Aku sudah berjanji kan pada diriku sendiri kalau aku tak akan jahat lagi pada Kat, aku akan menganggapnya seperti adikku sendiri.
"Kenapa Tuhan kau membuatku ada di situasi seperti ini kenapa. Kenapa kau harus menyimpan hatiku pada laki-laki yang akan menikah dengan adikku"
Aku menangis, air mataku tiba-tiba saja mengalir. Hatiku dan juga fikiran ku tak sama. Hatiku mengatakan kalau aku harus mempertahan kan Lucas dan pikiranku mengatakan kalau aku harus melupakannya dan mengalah demi Kat.
"Kenapa kau memberikan pilihan yang begitu berat padaku Tuhan, aku tak mau berubah jahat lagi pada Kat seperti dulu"
Pintu ada yang mengetuk, dengan cepat aku mengusap air mataku. Aku segera membuka pintu depan dan ternyata itu Dimas ,tahu dari mana dia rumah Kat.
"Ada apa kau kemari, Kat tak ada "
"Aku ingin bertemu dengan mu Kak "
"Kenapa ada apa "
"Ibu sakit dan ingin bertemu denganmu "
"Ini hanyalah permainan Ibu, kau jangan percaya , kau jangan mudah dikelabui oleh Ibu, aku tidak akan pernah pulang maupun Ibu melakukan hal nekat. Dia sudah mengusirku maka aku tidak berhak untuk menemuinya lagi. Sudah lebih baik kau pulang saja aku sudah nyaman tinggal di sini"
"Secepat itu kah Kak "
"Iya, kalau kau ada di posisiku juga kau akan melakukan ini Dimas. Kau belum dewasa kau belum tahu siapa ibu yang sebenarnya. Nanti juga kau akan sadar kalau apa yang pernah kau lakukan pada Kat itu sangat salah besar"
"Baiklah. Kau pasti sudah diguna-guna oleh Kat kan, tiba-tiba saja pulang dari kuliahmu itu kau baik padanya sungguh perubahan yang begitu drastis. Apakah kau sedang membuat sebuah rencana Kak. Coba beritahu aku apa itu rencananya biar aku bisa membantumu untuk menghancurkan Kat "
__ADS_1
"Aku tidak punya rencana apa-apa. Lebih baik kau pulang saja jika di sini kau hanya ingin merecoki ku saja"
Aku segera menutup pintu rumah dan menguncinya. Di luar sana Dimas menggedor-gedor pintunya, tapi aku tidak peduli aku tidak akan pernah menemui Ibu lagi. Sudah cukup aku diperalat oleh Ibu untuk selalu membenci Kat, untuk selalu tidak menyukainya tanpa alasan yang pasti.