Psychopath 2

Psychopath 2
Bab 218 Daniel dan Alex


__ADS_3

12 tahun kemudian


Daniel masuk ke sebuah butik banyak pelayan-pelayan yang menatapnya. Tapi Daniel tidak peduli dia hanya berjalan lurus ke sebuah ruangan paling pojok, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Daniel masuk dan duduk di kursi panjang. Sudah kebiasannya seperti ini.


Sedangkan perempuan yang sedang fokus dengan gambarnya langsung menatap Daniel dan mengendalikan matanya "Bisa tidak kalau masuk itu ketuk pintu dulu, jangan tiba-tiba masuk seperti itu. Kamu ini Daniel kebiasaan banget ya. Untung aja ga aku lempar kotak pensil ini ya "


"Kenapa memangnya ada yang melarangku, tidak ada kan. Lebih baik buatkan aku kopi Vio, aku tadi habis melihat proyek dan rasanya aku haus sekali ingin minum kopi buatanmu. Untung saja dekat sini kan, jadi aku tak perlu jauh-jauh "


Vio menyimpan pensil warnanya dan menatap Daniel "Kamu buat sendiri saja memangnya aku ini pembantumu, enak aja datang-datang langsung suruh aku "


Daniel tersenyum kecil Daniel menghampiri meja Vio dan mensejajarkan kepalanya lalu menatap mata Vio dengan tajam. Vio yang ditatap seperti itu sampai memundurkan kepalanya. Daniel ini sangat menyeramkan sekali kalau seperti. Vio kan jadi ciut tadinya mau menolak tapi malah sudah ketakutan terlebih dahulu.


Vio yang gugup akhirnya bangkit dan menganggukan kepalanya "Baiklah aku akan membuatkan kamu kopi, tunggu saja dulu nanti aku akan datang lagi, tak akan lama "


Vio langsung keluar dari ruangannya. Entah kenapa semenjak Vio datang ke rumahnya Daniel waktu itu saat kerja kelompok bersama Sela, Daniel selalu menguntitnya. Daniel selalu ada di manapun Vio berada. Aneh sekali kan entah kenapa bisa seperti itu. Menakutkan sekali kan.


Pokoknya Vio ada di sana berarti Daniel juga ada di sana, sampai-sampai dia pernah takut dengan kelakuan Daniel ini, tapi lama-kelamaan dia juga terbiasa dengan Daniel yang tiba-tiba ada di hadapannya.


Anggap saja Daniel itu hantu gentayangan, yang selalu ada dan muncul tiba-tiba karena kalau marah pun memang sama seperti hantu menyeramkan sekali.


Daniel yang melihat Vio pergi tersenyum semang, lalu kembali duduk dan melihat foto dirinya, Vio ,Sela, Hans dan juga Tamara. Kenangan mereka berlima. Meskipun kelas mereka tak pernah sama tapi mereka berlima tetap berteman.


Setelah mereka lulus SMP Tamara menghilang begitu saja, entah pergi ke mana Tamara seperti ditelan bumi. Bahkan pamitan pun tidak pada mereka, Tamara sempat menjauhi Daniel dan tidak tahu apa alasannya, tapi tatapan Tamara pada Daniel semenjak itu menjadi sangat tajam dan kadang-kadang seperti orang yang benci.


Daniel pernah bertanya pada Tamara tapi dia tidak pernah mau menjawabnya, malah menangis jadi Daniel serba salah kan. Kalau dipaksa nanti Daniel yang disalahkan oleh orang yang dilihat padahal tak diapa-apakan oleh Daniel.


Tapi Sela pernah bercerita padanya kalau Tamara pernah akan mencelakai Vio. Bahkan pernah juga Tamara menyimpan sebuah lem yang begitu berbahaya di tempat duduk Vio. Untung saja bukan Vio yang duduk orang lain, sampai-sampai anak perempuan itu dibawa ke rumah sakit karena sangat fatal sekali lemnya menempel di pantatnya. Meskipun terhalang rok tetap saja menembus ke dalam sampai-sampai dioperasi.


Lalu pernah juga Sela bercerita, kalau Tamara pernah memasukkan sebuah bubuk ke dalam minumannya Daniel dan bodohnya lagi Sela malah meminumnya, katanya takut Daniel kenapa-napa dasar anak itu. Membahayakan dirinya sendiri hanya untuk melindunginya. Makannya sampai sekarang Daniel tak pernah marah pada Sela, bahkan sekarang saja Sela bekerja bersamanya.


Banyak lagi sebenarnya yang Tamara lakukan semasa mereka sekolah, kebanyakan sih melukai Vio,pernah dia juga melempar sebuah bola ke arah Vio, lalu menghalangi jalan Vio sampai-sampai Vio terjatuh.


Pokoknya banyak lagi kelakuannya kalau kami interogasi Tamara hanya bisa menangis dan menangis, kalau dijauhi dia akan mendekat tapi kelakuannya itu membuat kami kadang geram tapi untungnya sekarang dia sudah pergi.

__ADS_1


Daniel takutnya dia datang lagi dan melukai Vio, tapi Daniel akan terus menjaga Vio tidak akan pernah ada yang bisa mendekati Vio dan melukainya. Awas saja Daniel akan membalasnya dengan lebih menyakitkan lagi.


Daniel begitu menyayangi Vio dan mencintainya, tapi Daniel belum bisa mengungkapkan semuanya. Daniel ingin menjadi orang sukses dulu baru setelah itu mengungkapkan semuanya pada Vio. Mengajaknya langsung menikah tanpa harus pacaran dulu. Itu akan menghabiskan waktu. Daniel juga takut kalau Vio belum punya pacar.


Saat ada yang mendekati Vio Daniel akan menghalanginya. Daniel akan mengancam laki-laki itu dan menyuruhnya untuk menjauhi Vio. Ampuh sih cara itu tapi kadang ada saja laki-laki yang bebal dan tak mau mengikuti apa kata-kata Daniel.


Pintu ruangan itu sudah terbuka kembali, dan datanglah sosok cantik Violetta dan menyimpan kopi itu di hadapan Daniel "Ini kopinya kalau tidak enak kamu buat saja nanti sendiri, aku tak mau ya nanti harus membuatnya ulang"


"Hemm baiklah, aku tak akan memintanya lagi "


Vio kembali fokus pada pekerjaannya. Daniel menopang dagunya menatap Vio yang makin hari makin cantik saja "Kamu itu tidak bosan terus melihatku seperti itu Daniel, aku saja yang melihatnya bosan "


"Aku tidak akan pernah bosan melihatmu Violetta ku"


"Dasar gombal bisanya hanya seperti itu"


"Memang kenyataannya seperti itu. Kamu tidak membosankan saat aku tatap, kamu selalu cantik. Bahkan saat bangun tidur saja kamu begitu cantik sekali sampai-sampai aku tak mau beranjak dari tempatku "


Vio mengangkat kepalanya dan menjulurkan lidahnya pada Daniel, Daniel yang melihat itu hanya tertawa. Entah kenapa lucu sekali untuk Daniel, apapun yang Vio lakukan selalu membuat Daniel tertawa.


"Jangan terlalu memaksakan jika bekerja Vio, kamu itu punya pekerja tapi kamu mengerjakan semuanya sendiri. Bahkan kamu juga punya asisten kan tapi asisten mu sepertinya lebih santai daripada kamu, buatlah mereka bekerja jangan membiarkan mereka untuk diam saja "


Vio menatap Daniel sekilas "Aku ingin sesuatu yang aku buat itu sempurna, jadi aku harus mengandalkan diriku sendiri baru kalau aku tidak bisa aku minta bantuan orang lain. Aku tidak mau mengecewakan pelanganku Daniel. Kamu tahu sendirikan aku begitu susah payah untuk mendapatkan semua ini "


"Baiklah Nona sempurna, aku mengerti "


Daniel kembali fokus menatap Vio yang bekerja. Daniel tak memikirkan tentang pekerjaannya. Sekarang yang Daniel mau lakukan hanya diam bersama Vio saja.


...----------------...


Sedangkan dari sebuah apartemen Alexander sedang menatap perempuan yang meringkuk dengan selimut yang terus ditarik, tidak lupa dengan tangisannya yang menurut Alexander lucu. Alexander menghisap rokoknya dengan kuat dan melemparnya begitu saja ke arah luar. Sudah cukup melihat perempuan ini menangis sekarang saatnya bermain-main dengan perempuan itu.


"Sudah menangisnya, apakah kamu tidak lelah aku saja yang melihatnya begitu lelah dan bosan"

__ADS_1


"Kamu sudah melecehkan aku. Kamu sudah mengambil semuanya, kamu dasar laki-laki tak punya hati"teriak perempuan itu, tidak terima dengan apa yang Alexander lakukan. Tadi malam Alexander memberikan sebuah minuman dan membuatnya tidak berdaya dan akhirnya dia diperkosa oleh laki-laki brengsek itu.


Sungguh kemarin malam adalah malam tersialnya harus bertemu dengan laki-laki seperti Alex. Laki-laki yang gila dengan ***.


"Makanya jangan pernah jual mahal padaku, sekarang perawanmu tak ada kan sekarang kamu tidak punya harga diri. Apalagi yang akan kamu sombong kan padaku, tak ada kan sekarang tak ada yang bisa kamu sombongkan "


Perempuan itu mendudukkan badannya dan menatap Alexander dengan benci "Aku benci padamu. Aku benci padamu, bagaimana kalau Mama mu tahu dia pasti akan sangat marah sekali dengan kelakukan anaknya yang seperti ini, minus sekali padahal kamu adalah anak dari kalangan atas tapi kelakuan mu tak mencerminkan itu " maki perempuan itu, saking kesalnya perempuan itu membawa-bawa keluarga Alex.


"Aku tidak peduli mau kamu sebenci apapun padaku aku tidak akan pernah peduli dan jikalau kamu melapor pada polisi pun sekarang, mereka tidak akan pernah percaya coba sebut saja nama Alexander mereka tidak akan pernah memproses kasus kamu ini. Kamu hanya akan hancur makanya jangan pernah menolakku. Mau kita ulang yang tadi malam, sepertinya akan sangat menyenangkan sekali dan lebih bersemangat lagi. Aku yakin kamu akan lebih hebat lagi dari semalam "


"Tidak sudi aku tidak akan pernah sudi melakukan itu lagi denganmu. Kamu menjijikan sekali laki-laki tidak punya perasaan, laki-laki gila. Aku bersumpah keturunanmu akan ada yang diperlakukan seperti aku nantinya " marah perempuan itu. Alexander yang tersulut emosinya mengambil ikat pinggangnya lalu melilitkan sedikit pada tangannya dan mencambuk perempuan itu tanpa ampun.


"Ampun ampun tolong lepaskan aku, jangan seperti ini ampun tolong lepaskan aku. Aku minta maaf tolong lepaskan aku. Aku tak akan mengatakan hal kotor lagi tolong maafkan aku, aku minta maaf Alex aku akan jaga mulutku ini. Sakit sekali ampun " teriak perempuan itu yang sudah tidak kuat bahkan wajahnya terkena cambukan ikat pinggang Alexander, dengan cepat perempuan itu menghalangi wajahnya agar tidak terkena lagi, tak mau wajahnya sampai rusak.


Alexander yang sudah puas dengan apa yang dia lakukan menyimpan ikat pinggangnya, lalu kembali menyalakan rokoknya dan menghisapnya dengan pelan"Inilah balasan untuk perempuan yang tidak tahu diri dan mulutnya begitu kotor, berani sekali kamu mengucapkan hal itu padaku, apalagi membawa Mama ku, awas saja kamu tak akan lepas dari ku"


Alexander juga menendang kaki perempuan itu, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia hanya bisa menangis mendapatkan perlakuan seperti itu dari Alexander. Ini saja masih sakit, cambukan dari Alex itu begitu menakutkan sekali.


Alexander duduk kembali sambil mengangkat kakinya dan menatap perempuan itu "Kalau awalnya kamu menurut padaku mungkin semuanya tidak akan pernah terjadi. Mungkin aku juga akan bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan, tapi aku sudah tidak berminat aku tidak suka dengan mulutmu yang begitu kasar. Mamaku tidak akan mungkin menerimamu, Mamaku pasti akan langsung mengusirmu "


Perempuan itu tersenyum sambil menatap Alexander, dia tahu perempuan mana saja yang sudah jatuh ke tangan Alexander laki-laki itu tidak mungkin tanggung jawab, dia itu laki-laki brengsek "Kamu itu laki-laki brengsek Alexander, kamu itu tidak mungkin menikahi perempuan yang sudah kamu lecehkan kamu ini laki-laki gila. Kamu itu bukan laki-laki yang bertanggung jawab"


"Hahaha kalau sudah tahu ya sudah jangan marah-marah seperti itu, tahu aku laki-laki brengsek maka tidak usah meminta tanggung jawab pada aku karena aku pun tidak akan pernah bertanggung jawab" jawab Alex dengan santai tanpa beban sedikit pun.


Alex membuka pakainnya dan masuk kedalam kamar mandi, membiarkan perempuan itu sendirian. Perempuan itu yang mempunyai kesempatan segera berjalan kearah pintu, meskipun rasanya sakit sekali tapi demi bisa keluar dari sini dia tahan.


Baru juga akan memegang gagang pintunya sudah ada yang menarik selimutnya. Untung saja masih terpegang erat jadi tak tertarik seutuhnya.


"Mau kemana sayang, aku belum melepaskan mu jangan pergi begitu saja. Kamu ingin aku melukai kamu lagi"


Perempuan itu menundukkan kepalanya, bagaimana ini kabur dari laki-laki ini ternyata sulit sekali. Tangannya tiba-tiba saja ditarik. Perempuan itu sudah meronta-ronta tapi apa hasilnya dirinya kalah.


Tubuhnya yang kecil ini langsung dibanting dan membuat luka-lukanya itu makin mengeluarkan darah karena tertekan "Akhhh kenapa kamu melakukan ini. Sakit sekali tolong jangan sakiti Alex "

__ADS_1


"Karena kamu sudah berani akan kabur maka kamu harus merasakan akibatnya. Aku sudah bilangkan aku tidak suka dengan perempuan yang tak mendengarkan kata-kataku baru saja aku tinggalkan beberapa saat sudah mau pergi saja "


Alex menarik selimut itu dan membuangnya ke sembarang arah, lalu meniduri kembali perempuan itu tak peduli dengan lukanya serta teriakan minta ampun yang terpenting hasratnya terpenuhi.


__ADS_2