Psychopath 2

Psychopath 2
Bab 186 Rencana kabur


__ADS_3

Tamara tidak ditahan, dia sekarang sedang diperjalanan pulang. "Sialan kenapa bisa seperti ini " teriak Tamara dengan kesal. Sampai-sampai supir kaget mendengar teriakan Tamara itu.


Kenapa Tamara tidak ditahan, karena kurangnya bukti dan polisi akan lebih mendalami tentang kasus ini. Bahkan Tamara tadi bisa berkilat kalau dia tidak tahu tentang Lea yang menghilang.


Pintar sekali Tamara dalam hal berkilat, dia begitu lihai mempermainkan semua orang dengan kebohongan-kebohongan itu. Tamara bisa dengan mudah terlepas seperti ini.


Tapi lambat laun polisi akan menggeledah rumahnya, pasti polisi akan mengetahui semuanya, Lea sekarang ada di rumahnya, harus bagaimana menyembunyikan perempuan itu di mana harus dirinya menyembunyikannya.


Pasti gerak-geriknya akan selalu diawasi oleh Polisi. Mereka pasti akan terus mengawasi tingkahnya yang seperti ini mencurigan sekali. Tamara juga kesal dengan orang-orang yang bekerja dengannya selalu saja gagal.


Sebenarnya siapa yang mengagalkan setiap rencananya ini. Kenapa selalu saja gagal gagal dan gagal tak pernah ada yang berhasil.


Tamara keluar dari dalam mobil, dia masuk ke dalam rumah dengan wajah yang sudah kusut, tapi di rumahnya malah ada orang tuanya Lea yang sedang marah-marah pada Bibi Merry. Kenapa juga mereka ada disini. Kenapa sedang pusing ditambah dengan 2 orang ini lagi.


"Ada apa ini, kenapa tiba-tiba berisik sekali di rumahku. Ini bukan pasar ya berisik sekali. Aku tidak suka kebisingan seperti ini "


Ibunya Lea langsung mendekati Tamara dan plak, Tamara ditampar oleh ibunya Lea dengan begitu keras. Sampai-sampai Tamara terdiam cukup lama. Karena masih merasakan sakit di pipinya ini.


Tamara yang tersulit emosi menatap ibunya Lea dengan galak, lalu mendorong tubuh perempuan itu. Tapi untung saja ada suaminya yang menahannya dari belakang. Kalau sampai tidak ada yang menahan sudahlah kepalanya akan membentur meja.


"Berani-beraninya kamu menamparku, sudah membuat ulah di sini dengan berteriak-teriak tidak penting seperti itu, sekarang berani menyakitiku, aku bisa menuntut mu ya "


"Kamu ya " tunjuk ibunya Lea "Kamu sialan ternyata selama ini kamu dalang dari semuanya. Kamu yang telah membunuh anak saya dan kamu juga yang telah menyembunyikannya iya kan mengaku saja. Dimana anak saya sekarang, mana kembalikan anak saat jangan kamu sembunyikan terus, apa kamu menyembunyikannya karena telah bersalah membunuh anak saya. Apa salah anak saya pada kamu, apa kesalahannya sampai-sampai kamu tega Tamara, dia yang selalu ada untuk kamu tapi kamu malah melenyapkannya "


"Mana buktinya, aku ingin bukti yang jelas mana kalau aku adalah pembunuh anakmu itu, dan mana buktinya juga kalau aku yang telah membawa anakmu, menculik anakmu untuk apa aku menculik jenazah untuk apa, apa gunanya untukku tak akan ada gunanya untukku " jawab Tamara dengan ketus tak lupa dengan mata yang melotot kearah ibunya Lea.


"Kamu lihat rekaman ini sendiri, kamu lihat sendiri sialan, kamu memang perempuan gila. Seharusnya aku dari awal melarang Lea untuk berteman dengan kamu. Kamu adalah perempuan tak waras harus selalu minum obat, kalau tidak kamu akan kambuh dan menjadi orang gila" teriak ibunya Lea lagi.


Tamara malah melipat tangannya, Tamara sama sekali tidak merasa bersalah atas kejadian semua ini. Dirinya hanya takut jika sampai ketahuan saja, itu saja tapi sekarang orang tuanya Lea tahu tapi mereka tidak punya buktikan lalu apa yang ditakutkan.


Mereka juga tak akan bisa menuntutnya. Mereka tak akan bisa menuntut dirinya yang punya segalanya. Sedangkan mereka tak punya apa-apa. Bahkan mereka untuk mencari Lea saja meminta bantuannya kan.


"Pergi dari rumahku, sebelum aku panggil security pergi sekarang juga. Aku tak suka ada kalian disini. Kalian hanya menganggu saja pergi dari sini sekarang juga, aku tidak suka kalian " teriak Tamara lagi. Sepertinya Tamara memang tak bisa bicara baik-baik dari tadi dia terus saja berteriak.


"Kamu akan membusuk Tamara di penjara, aku berjanji itu akan memasukkanmu ke dalam penjara. Kamu tidak akan hidup dengan nyaman, kamu tidak akan bisa hidup dengan tenang. Lea akan selalu menganggu kamu dia akan meminta pertanggung jawaban pada kamu "


"Ya ya ya terserah kalian saja, memangnya kamu bisa membalas dengan apa, silahkan kalian mau berkoar-koar pun aku tidak peduli. Aku tidak akan pernah takut dengan kalian. Mau kalian lapor polisi pun aku tidak peduli silahkan saja, aku tidak bersalah atas semua ini"


"Sudah bu, sudah ayo kita pulang belum ada bukti kan ayo bu ayo pulang. Kita akan datang kesini bersama polisi Bu, polisi pasti akan bisa membantu kita dan memberikan keadilan pada putri kita, ayo Bu kita pulang dari sini "


Ibunya Lea dibawa keluar dari dalam rumah Tamara, Tamara masih melipat tangannya dengan angkuh lalu melihat bibi Merry "Pastikan yang melaporkan aku ke kantor polisi kamu, pasti ini kelakuan Bibi kan. Bibi ini kenapa sih"


"Untuk apa aku melakukan itu, memangnya ada gunanya buat aku tidak kan. Mungkin saja musuhmu yang lain, mungkin saja mereka yang ingin melakukan ini padamu. Bisa saja kan "


"Aku tidak mempunyai musuh, siapa yang berani memusuhiku "

__ADS_1


"Ya sudah aku tidak tahu, mau kabur sekarang atau tidak, atau kamu mau tinggal di sini terus-menerus sampai Polisi datang dan membawa mu ke kantor polisi, aku sudah membereskan pakaianmu lebih baik kita mengasingkan diri dulu saja. Kita pergi saja dulu dari rumah ini "


"Kalau seperti itu aku terlihat salahnya. Apa kamu ingin aku dikejar-kejar oleh Polisi, iya itu mau kamu kalau aku sampai jadi buronan mereka wajahku disiarkan dimana-mana apakah itu kemauan kamu"


"Memang pada kenyataannya kan kamu salah dan buronan lalu apa lagi. Mau kabur dulu atau mau disini saja.Pilihan ada ditangan kamu. Semua pilihan ada pada kamu, aku hanya bisa membantu saja. Tak bisa melindungimu jika nanti kamu sampai dibawa oleh polisi"


Tamara diam, dia akan mempertimbangkan tentang ajakan bibi Merry yang akan kabur. Apakah kalau misalnya kabur tidak akan terjadi apa-apa, apakah semuanya akan baik-baik saja.


Takutnya malah makin rumit kalau dirinya kabur, bersembunyi dari polisi. Kalau dihadapi mereka tak akan curiga kan.


"Akan aku fikirkan dulu, nanti aku akan berbicara padamu. Aku harus tenang dulu baru aku bisa memutuskan semuanya. Aku tidak mau gegabah untuk mengambil keputusan "


"Baiklah aku tunggu keputusan mu itu. Kita tak punya banyak waktu jadi jangan menyia-nyiakan waktu. Bisa saja nanti malam polisi datang kemari. Apalagi orang tua Lea sudah kemari, pasti mereka akan meminta bantuan pada siapa saja untuk keadilan ini"


"Hemm, aku fikirkan dulu beri aku waktu jangan terus mendesak aku seperti itu"


Tamara melangkah pergi kearah kamarnya, sedangkan bibi Merry sendiri masuk juga kekamarnya dan menghubungi Lucas.


"Ada apa bibi Merry, apa ada masalah disana "


"Aku sudah membujuk Tamara, tapi dia ingin memikirkan dulu semuanya kalau misalnya sampai aku gagal membujuknya bagaimana. Apa yang harus aku lakukan lagi Lucas "


"Terus saja bujuk, kalau dia di penjara saja itu tidak akan adil. Jadi lebih baik aku saja yang menghukumnya, kamu bawa perempuan itu ya buat semuanya seolah-olah Tamara kabur dari rumahnya. Aku ingin citra Tamara jelek, aku ingin dia hancur dengan perlahan bahkan perusahannya pun aku ingin hancur "


"Baiklah aku akan mencarinya, tapi kamu apakah punya saran untukku atau clue siapa tahu kamu tahu tempat rahasia di sini, yang biasa Tamara pakai. Aku takut dia punya tempat yang berbeda lagi untuk menyiksa tawanannya "


"Ruangan bawah tanah. Kamu tahu kan ruangan itu ruangan yang sering Tamara pakai untuk menyiksa tawanannya, kamu pergi ke arah sana. Aku yakin ada disana. Dia tak punya tempat baru, dia tak akan mungkin membawanya ketempat lain pasti dia akan menyimpannya dirumahnya "


"Baiklah aku akan mengeceknya dulu, aku akan memberikan kabar lagi padamu Lucas "


Bibi Merry dengan cepat mematikan sambungannya. Tak lupa membawa selalu ponselnya jangan sampai Tamara tahu. Jangan sampai Tamara mengecek ponselnya ini.


Bibi Merry mengendap-endap masuk keruangan bawah tanah. Tapi pintunya dikunci. Bibi Merry melihat kearah atas ternyata ada pentilasi.


Bibi Merry mencari bangku yang bisa memudahkannya untuk menatap kearah bawah sana. Semoga saja bisa terlihat dengan jelas.


Bibi Merry menggusur bangku tinggi, dan menaikinya dengan sangat perlahan. Bibi Merry melihat sekitar dulu. Bibi Merry melihat ada sesuatu yang meringkuk.


Apakah itu Lea, ya pasti itu Lea. Kenapa tiba-tiba bibi Merry jadi merinding, dengan cepat bibi Merry turun. Sangat menakutkan sekali. Bagaimana kalau Lea ngentayangan, apakah dirinya tak akan didatangi olehnya.


Bibi Merry berlari menjauh, tak lupa mengeserkan dulu bangku tadi. Jangan sampai Tamara curiga dengan apa yang dirinya lakukan.


Bibi Merry terus saja mengusap tengkuknya, merinding sekali. Tiba-tiba ada yang menepuk bahu bibi Merry.


"Akhh " bibi Merry sampai berteriak dan menutup wajahnya.

__ADS_1


"Bibi Merry kamu kenapa, ada apa "


Bibi Merry berdecak kesal "Kamu ini mengagetkan ku saja "


"Maafkan aku Bibi tadi aku panggil Bibi tapi bibi tidak melihatku, aku ingin bertanya makanan apa yang akan kita masak malam ini"


"Terserah kamu saja bebas mau makanan apa saja, mungkin makanan kesukaan Tamara. Ini aku berikan kunci kamar atas paling ujung beri makan dia terus jangan sampai kamu tidak memberi makan, aku memberikan perintah ini untukmu dan jangan sampai Tamara tahu rawat dia sampai sehat. Aku ingin dia kembali sehat "


Bibi Merry sengaja melakukan itu, kasian sekali nyonya Sera. Dia pasti ingin hidup dengan nyaman. Kasian dia selama ini dikurung didalam ruangan gelap itu makanan pun diberikan seadanya.


"Tapi bukannya Nyonya Tamara tidak membolehkan siapapun masuk ke dalam ruangan paling ujungnya itu. Bagaimana kalau Nyonya Tamara memarahiku. Aku takut terjadi sesuatu nanti padaku "


"Aku yang akan bertanggung jawab, lebih baik sekarang kamu ikuti kata-kataku, masak apa saja yang dia suka. Intinya kamu harus mengurus perempuan yang ada di dalam sana dengan baik dia itu adalah nyonya besar di sini dia itu adalah ibunya Tamara"


"Benarkah bibi Merry dia adalah ibunya nyonya Tamara kenapa dia dikurung seperti itu, apakah dia gangguan jiwa "


"Iya dia ibunya. Dia tidak sakit dia baik-baik saja. Maka layani dia seperti Tamara. Aku mau dia sehat kembali seperti semula ya, aku titip dia padaku aku yakin kamu bisa menjaganya dengan baik"


"Baiklah bibi Merry aku akan mengikuti kata-katamu"


Bibi Merry hanya menganggukan kepalanya saja, dia melangkah pergi untuk mengecek pekerjaan yang lain juga.


Bibi Merry masih merinding kalau mengigat mayat yang meringkuk itu. Sungguh menakutkan sekali. Kenapa harus mengecek yang seperti itu.


Dirinya fikir dirinya akan berani, tapi nyatanya tidak berani sama sekali malah ketakutan seperti itu kan. Menakutkan sekali.


...----------------...


Kat yang masih menunggu suaminya pulang hanya diam merenung diruang tamu, sedangkan anaknya sedang bermain sendirian.


"Kemana sih Lucas kenapa ga pulang-pulang biasanya juga udah pulang. Ditelfon juga ga diangkat"


Kat terus saja mengecek kearah jendela dan mengecek ponselnya tapi hasilnya nihil tak ada suaminya ini kemana coba. Membuatnya khawatir saja.


"Nyonya maaf kuenya sudah dingin"


"Hemm, kamu simpan saja dulu ya "


"Baiklah nyonya "


Kat menatap anaknya yang masih anteng "Nak sebenarnya ayah kamu kemana, kenapa dia sudah sekali dihubungi, bahkan belum pulang juga. Semoga saja tak terjadi apa-apa ya dengan ayahmu "


Kat mengusap kepala anaknya dan mengusapnya dengan sayang. Kat kembali bangkit dan membuka pintu rumahnya. Ingin melihat kearah gerbang siapa tahu suaminya datang kan.


Tapi percuma tak ada, suaminya tak ada. Kat menutup pintu dan membawa anaknya kedalam kamar "Sepertinya ayah kamu sibuk sampai-sampai tak bisa dihubungi nak "

__ADS_1


__ADS_2