Psychopath 2

Psychopath 2
Bab 162 keluh kesah Adiba


__ADS_3

Lucas yang baru sampai dirumah sakit, sudah disuguhkan dengan tatapan mematikan sang istri. Lucas berjalan dengan perlahan dan memeluk istrinya.


"Sayang"


"Kamu itu kemana sih sebenernya, kamu udah ga inget ya punya istri. Atau mungkin kamu udah punya mainan baru gitu iya"


Lucas melepaskan pelukannya dan mengusap kepala istrinya "Tidak sayang, maafkan aku tadi ada sedikit pekerjaan dan baterai ponselku habis maafkan aku"


"Aku sudah melahirkan, tanpa kamu. Katanya saat aku akan melahirkan kamu akan ada untukku tapi mana tidak ada kan "


Lucas menatap perut sang istri, memang sudah tak buncit lagi "Alhamdulillah sayang kamu sudah melahirkan. Maafkan aku, sungguh aku minta maaf kamu ga sakit kan saat melahirkan "


"Tahu ah, aku males sama kamu"


Kat langsung membelakangi suaminya. Memang sangat kesal sekali dirinya ini pada sang suami saat akan melahirkan seperti ini tidak ada, padahal sudah dibilang saat dirinya sebentar melahirkan jangan kemana-mana. Ini malah pergi dan nomor tidak aktif.


"Sayang jangan marah, aku minta maaf "


"Hemm, aku sedang mau istirahat "


Lucas duduk dikursi, dia menatap punggung sang istri. Memang salah dirinya ini. Kalau saja tidak keasikan menonton Tamara mungkin dirinya akan bisa menemani sang istri melahirkan tapi sekarang mana anaknya.


Lucas celingak-celinguk mencari keberadaan anaknya, tapi tak ada dimana ya anaknya ini. Mau tanya sang istri takut malah marah dan makin marah padanya. Pada akhir Lucas diam dan menunggu istrinya tak marah lagi.


...----------------...

__ADS_1


Sedangkan ditempat Liam ayahnya Lucas sedang pusing dengan kelakukan Adiba dan keluarganya. Liam sebagai orang tertua disana menatap Adiba dan ibunya Airin, ada Toni juga.


"Aku mau sudah saja tuan, aku bisa mengurus anak itu sendirian tanpa seorang istri, aku sudah lelah tuan aku lelah sekali mempunyai isteri seperti dia "


Lucas menatap Adiba yang memang acuh, bahkan dia membiarkan bayinya menangis seperti itu. Sungguh tak ada tanggung jawab sedikitpun "Adiba urus anakmu "


Adiba menatap Lucas "Untuk apa aku ngurus anak itu biarkan saja. Bukannya laki-laki itu mau mengurusnya ya. Monggo berhentikan tangisannya aku capek lelah kali dengan permasalahan ini ya padahal tinggal cerai aja apa susahnya sih " jawab Adiba dengan acuh.


"Adiba cepat kamu temui anak kamu "marah Airin sambil mencubit anaknya.


Mau tidak mau Adiba mengambil anaknya dan menimangnya juga. Ibunya ini dasar ya, awas saja dirinya kan sedang nyantai seperti ini.


"Maafkan kata-kata anakku, jangan mengambil keputusan seperti itu Toni, ingat anak kamu masih kecil. Tuan Liam tolong anda kasihani anak saya"


"Dia saja sudah mau cerai bagaimana kamu ini Airin, anak kamu sendiri yang mau bercerai "


"Masih kecil Adiba itu sudah dewasa Airin, dia sudah sangat dewasa dan bisa berfikir dengan jernih. Jangan ingkari janjimu Airin, bukannya kamu sudah berjanji pada Toni jika kamu akan membiarkan Toni untuk menceraikan anakmu. Lalu sekarang kamu terus saja menahannya, kenapa seperti itu hah "


Airin lagi-lagi malah menangis "Iya aku tahu aku mengerti dulu memang aku mengatakan itu tapi sekarang aku tidak bisa, maksudku saat melihat cucu sendiri aku tidak mau dia hidup tanpa ibu ataupun tanpa Ayah"


"Baiklah aku beri waktu 1 bulan apakah Adiba bisa berubah dan mengurus suami serta anaknya dengan benar. Kita lihat kalau sampai dia masih tak becus maka Toni akan tetap menceraikan anakmu itu lagi tanpa ada drama seperti ini. Jangan seperti ibumu Airin, ingat jangan seperti ibumu "


"Baik tuan, aku janji tak akan ingkar lagi "


Lucas langsung saja pergi dari rumah itu, Toni sendiri masih ada disana "Aku permisi dulu Bu, aku harus bekerja dulu "

__ADS_1


"Baik "


Toni bangkit dan pergi tanpa pamitan pada Adiba, dia sama sekali tak peduli dengan Adiba. Sudah lelah dirinya ini menghadapi Adiba yang kelakuannya tak ada habisnya.


"Bu kenapa ibu seperti itu, kenapa ibu terus membiarkan pernikahan ini bertahan "


Airin menatap serius anaknya "Kamu jangan seperti ini terus Adiba, mempermainkan sebuah hubungan apalagi sebuah pernikahan, kamu itu harus benar-benar menjadi seorang istri jangan seperti ini terus. Kamu beruntung mendapatkan Toni tolong jangan egois "


"Ibu mengerti kamu mungkin belum mencintai Toni, tapi lama kelamaan kamu juga akan menyukainya. Kamu juga akan sayang padanya jangan keras kepala seperti ini terus, nanti tidak akan ada yang mau bersamamu. Apalagi sekarang kalian sudah punya anak, pikirkanlah keadaan anakmu nanti jika nanti anakmu hanya diurus oleh Toni ataupun olehmu saja dia akan kekurangan kasih sayang"


"Fikirkan bagaimana nanti kebahagiaan anakmu, makannya ibu terus mempertahankan pernikahan mu ini. Jika nanti kalau kamu sudah dipisahkan dengan anakmu kamu akan merasakan semuanya. Tolong kamu jangan memikirkan diri sendiri Adiba "


Adiba menghembuskan nafas lelahnya "Bu sebenarnya aku ini sirik dengan kehidupan teman-temanku, kenapa kau harus hidup menjadi anak pesuruh kenapa Bu. Aku juga ingin seperti Daisy, seperti yang lainnya aku ingin dimanjakan, aku ingin dilayani. Aku ingin punya rumah yang besar "


"Seharusnya kamu mensyukuri hidup ini, kamu seharusnya jangan egois seperti itu. Kalau kamu mau seperti itu maka kamu wujudkan untuk anak kamu. Kamu berjuang untuknya bersama suami kamu Toni. Jangan menginginkan sesuatu hal yang dimiliki orang lain"


"Tapi aku dari kecil selalu saja iri dengan mereka Bu, aku iri mereka membeli mainan mahal sedangkan aku apa tidak, bahkan kadang aku harus menunggu pemberian dari Daisy dulu baru aku punya "sambil terisak.


"Aku iri dengan kehidupan mereka, sekolah dilingkungan elit dan mereka selalu saja membawa mainan-mainan mahal mereka, sedangkan aku apa hanya melihatnya, bahkan rasanya untuk meminjam pun aku malu Bu. Aku malu makannya aku mau seperti mereka, aku ingin mempunyai segalanya Bu, aku lelah sekali hidup seperti ini "


"Bahkan saat menikah pun aku malah bukan dengan laki-laki yang aku cintai kenapa aku tak beruntung Bu, kenapa bisa. Aku ingin dicintai oleh orang yang aku cintai, aku ingin hidup dengan orang yang aku cintai bukan seperti ini Bu "


Airin diam mendengarkan setiap keluh kesah anaknya, memang dirinya menyadari itu, sewaktu kecil anaknya selalu meminta mainan yang sama dengan teman-temannya tapi ayahnya tak pernah menggubrisnya.


"Maafkan ibu dulu karena tak bisa membujuk ayahmu untuk membelikannya dan malah membiarkan kamu menangis begitu saja, ibu yang salah disini"

__ADS_1


Adiba hanya diam mengusap air matanya dan masuk kedalam kamar, tanpa membawa sang anak. anaknya malah dibiarkan begitu saja.


__ADS_2