
Bibi Merry malam-malam mengendap-endap ke arah kamar itu, kamar paling ujung di lantai dua itu, karena dia sangat penasaran sekali dengan apa yang ada di dalam sana. Siapa yang ada di dalam sana siapa tahu saja dirinya bisa menolong orang itu.
Kasian dia selalu saja berteriak-teriak pasti dia sedang kesakitan sekali. Memangnya Tamara ini menyebalkan sekali. Kenapa dia seperti itu mengurung-ngurung orang kasian kan dia.
Bibi Merry juga sudah membawa kunci cadangan, tadi dia membawanya dari kamar Tamara untung saja dia tertidur karena diberi obat tidur biarlah terjadi apa-apa pada anaknya itu kan yang dimau Lucas. Lucas menginginkan semua itu.
Bibi Merry perlahan membuka pintu itu dan masuk mengendap-endap. Kamar ini begitu gelap sangat gelap sekali. Bibi Merry tidak bisa melihat apa-apa, dengan perlahan dia mencari saklar lampu dan ketemu saat dinyalakan alangkah kagetnya saat melihat siapa orang yang ada di sana.
Kenapa bisa Tamara setega ini, apakah dia tak punya belas kasian sama sekali. Lihatlah perempuan tua itu sudah tak berdaya tapi dikurung seperti itu oleh Tamara.
Bibi Merry menghampiri perempuan tua itu dan menggenggam tangan yang sudah sangat kurus sekali, bahkan wajah dari perempuan itu kurus sekali seperti tinggal tulang saja"Nyonya Sera kenapa bisa seperti ini, apa yang terjadi nyonya. Kenapa bisa seperti ini"
"Merry kamu ada di sini. Kenapa kamu bisa masuk bagaimana kalau Tamara tahu, nanti bisa-bisa kamu juga dikurung di sini bersamaku. Jangan gegabah Merry kamu mau mati, jangan hiraukan aku selamatkan nyawa kamu "
"Ya aku tahu konsekuensinya apa yang akan aku terima, Nyonya tenang saja akan ada orang yang membantuku, nyonya tidak usah takut dengan Tamara. Kenapa Nyonya bisa ada di sini, kenapa malah menjadi seperti ini nyonya "
"Ceritanya panjang sekali Merry, rasanya aku ingin segera mati saja aku sudah tidak kuat hidup seperti ini. Lihatlah diriku aku sudah tidak berbentuk seperti ini, aku sudah lelah Merry, aku ingin bahagia hidup dihari tua ku. Tapi malah seperti ini, aku malah diperlakukan buruk oleh anakku sendiri. Aku lelah sekali Merry "
"Kenapa Tamara bisa setega ini padamu Nyonya, kamu ini adalah ibunya. Kenapa bisa setega ini dia padamu. Apa ada sesuatu yang terjadi nyonya diantara kalian sampai-sampai Tamara semarah ini "
"Ini memang kesalahanku, kesalahanku karena mendidik Tamara dengan keras dulu. Makanya dia membalas semuanya dia merebut semua hartaku dan juga suamiku. Bahkan dia tidak memberikan sepeserpun uang pada kami sampai suamiku meninggal. Aku tidak tahu bagaimana membuat Tamara sadar aku sudah lelah hidup tapi dia tidak membiarkan aku untuk mati. Bahkan setiap dia sedang marah besar pasti akan melampiaskannya padaku, seperti saat dulu aku marah melampiaskan kemarahanku pada Tamara. Memang kamu tidak ingat dengan apa yang pernah aku lakukan pada Tamara, itu sangat fatal sampai-sampai membuat mental Tamara terganggu seperti ini"
Sera menangis, mengigat kembali masa-masa dulu. Saat dirinya begitu keras pada anaknya. Bahkan tak punya belas kasih sama sekali. Apapun yang diperintahkan nya harus diikuti Tamara tidak boleh tidak.
Bibi Merry diam, dia mengusap tangan kurus itu, tak menyangka kalau selama ini orang yang dikurung oleh Tamara adalah ibunya sendiri, untuk membalas apa yang pernah dilakukan oleh ibunya.
Memang dulu ibunya ini sangat keterlaluan sekali pada Tamara. Bahkan menyiksanya tanpa ampun tidak peduli sedang dimana ada siapa. Pasti Tamara kecil akan terkena pukulan ibunya. Sedangkan ayahnya hanya bisa diam tanpa melerai atau menasehati istrinya untuk tak seperti itu pada anaknya.
"Tapi kenapa Tamara begitu tega padamu. Apakah harus seperti ini menghukum orang tua yang pernah gagal mendidiknya. Apakah ada yang menghasut Tamara atau mungkin suaminya dulu yang menghasut Tamara untuk melakukan ini padamu nyonya"
"Tidak sama sekali Merry, yang ada suaminya itu sangat baik selalu mengurusku selama suaminya ada dia yang mengurusku. Dia yang membela aku dari Tamara. Tapi dia sekarang sudah tidak ada Tamara yang membunuhnya suaminya, bahkan mayat suaminya masih ada disini bersama perempuan yang selingkuh dengan suaminya. Mereka berdua dibunuh oleh Tamara saat dia sedang mengandung anaknya"
Bibi Merry menutup mulutnya saking kagetnya, dengan apa yang dia dengar kalau suaminya Tamara dibunuh olehnya sendiri. Berarti Tamara tadi berbohong padanya, kalau suaminya pergi dengan pelakor. Tamara Kenapa kamu menjadi gila lagi padahal dulu Tamara sudah mulai sembuh tapi kenapa dia mulai seperti ini lagi.
"Merry sebenarnya Tamara itu tidak berubah. Tamara masih sama, dia tidak ada perubahan sama sekali dia masih Tamara yang dulu, dia hanya bersembunyi dan berpura-pura menjadi Tamara yang sudah sembuh. Padahal nyatanya dia tidak sembuh sama sekali, dia masih sama tak ada perubahan sedikit pun. Malah makin parah "
Merry hanya bisa diam saja mendengar semua cerita dari ibunya Tamara. Kenapa bisa seperti ini Merry mengingat lagi bagaimana dulu Nyonya Sera yang begitu keras pada anaknya Tamara. Sampai-sampai Tamara menjadi seperti itu. Sebenarnya disini siapa yang harus disalahkan.
flashback on
20 tahun yang lalu
Saat itu Merry baru saja masuk ke sebuah rumah besar dan bekerja di sana untuk mengasuh anak perempuan berumur 5 tahun. Dirinya memang sedang butuh pekerjaan dan ada seorang tetangga yang mengatakan kalau ada seseorang yang membutuhkan orang untuk menjaga anaknya.
Saat itulah Merry bersemangat dan mengiyakan tanpa melihat latar belakang bagaimana keluarga itu. Saking sedang butuh pekerjaan ekonominya sedang tidak baik-baik saja dirinya ingin membantu suaminya kasian dia banting tulang sendirian.
Baru saja Merry masuk dia sudah melihat anak kecil berumur 5 tahun sedang disiksa oleh seorang perempuan, dengan gaya yang begitu glamour dan juga begitu modis. Anak perempuan itu dipukuli dengan sapu bahkan ditendang, dicakar, dimaki-maki bahkan sampai didorong.
__ADS_1
Tapi perempuan itu tak berhenti memukul sambil berteriak-teriak tak karuan. Orang-orang yang lain juga acuh mereka hanya menatap sekilas lalu fokus kembali pada pekerjaan mereka. Tak ada yang peduli dengan anak kecil itu.
Merry bingung harus melakukan apa, dia di sini baru. Merry yang memang kasihan mendekati anak itu dan memeluknya dari samping "Maaf Nyonya ada apa kenapa begitu kasar pada anaknya, apakah tidak bisa dibicarakan dengan baik-baik dulu nyonya kasian dia bagaimana kalau sampai pingsan "
"Siapa kamu pengasuh baru itu ya"tanya perempuan itu sambil menatap Merry dari atas sampai bawah. Merry yang dilihat seperti itu langsung menundukan kepalanya.
"Iya Nyonya saya pengasuh baru yang akan bekerja di sini" jawab Merry dengan tegas dan yakin. Merry juga kembali mengangkat kepalanya untuk menatap perempuan itu.
"Baguslah kalau kamu sudah datang, urus anak nakal ini aku tidak mau dia terus membantah dia harus belajar. Dia harus membuat bangga orang tuanya. Apalagi nanti dia akan memimpin perusahaan, kamu saat mengasuhnya jangan terlalu lembek buat dia belajar-belajar dan belajar jangan sampai dia membantah diriku. Aku serahkan semua tanggung jawabku ini padamu, aku harus pergi ke kantor jangan sampai aku telat karena anak perempuan bodoh ini "sambil menoyor kepala anak berumur 5 tahun itu.
Merry mengusap punggung anak kecil itu dan mamangkunya "Namanya siapa sayang, bibi ini adalah pengasuh baru kamu nama kamu siapa cantik "
Anak kecil itu masih menangis sesenggukan, dia belum bisa menjawab. Dia hanya menunjuk sebuah pintu dan Merry melangkah masuk ke arah kamar itu, ternyata ini kamar anak kecil ini. Karena terlihat dari interiornya pun sudah tertebak kalau ini kamarnya.
Merry segera mendudukkan anak kecil itu dan menatapnya dengan lekat "Biar Bibi obati ya di mana kotak obatnya sayang, agar lukanya cepat sembuh "
Lagi-lagi anak perempuan itu hanya menunjuk ke arah lemari yang ada di atas. Merry dengan cekatan mengambil kotak obat itu lalu mengobati luka-luka anak kecil itu, tidak ada teriakan sama sekali dan tidak ada rengekan dia hanya diam dan menggigit bibirnya. Hanya itu yang Merry lihat.
"Kalau misalnya sakit bilang saja jangan dipendam seperti itu, bibi tak akan marah dan bibi juga tak akan memukul kamu. Jadi kamu jangan takut ya. Bicara saja ya "
"Kalau aku jujur mengatakan sakit, yang ada Mama akan marah dan terus menyiksaku seperti tadi" akhirnya anak kecil itu berbicara juga meski dengan suaranya yang parau.
"Tak ada mamamu disini hanya kita berdua, siapa namamu "
"Tamara"
"Nama yang bagus, mau Bibi ambilkan makan sekarang mau makan sekarang nak. Atau mau bibi masakan "
"Maaf Bibi tidak tahu, Bibi tidak suka melihat kamu disakiti seperti itu. Mulai sekarang kamu boleh terbuka pada bibi. Bibi janji tak akan kasar dan berteriak sama kamu "
"Kamu tahu setiap aku melakukan kesalahan kecil ataupun besar aku akan disakiti seperti tadi. Bahkan akan lebih-lebih lagi. Meskipun aku tidak salah pasti aku akan disalahkan, aku ini di sini serba salah. Aku bingung apakah di luaran sana anak seumuran aku juga diperlakukan seperti ini oleh orang tuanya. Aku penasaran sekali dengan itu, dengan hal yang satu itu"
Merry diam cukup lama, baru pertama melihat anak kecil yang disiksa seperti itu oleh orang tuanya dan anak kecil itu berbicara seperti ini padanya. Jelas-jelas dirinya sangat bingung akan menjawab apa.
"Kamu bisa lebih terbuka lagi pada bibi, bibi tidak akan menyakitimu perkenalkan nama Bibi Merry. Bibi akan menemanimu dan bibi akan selalu ada disamping kamu. Bibi akan coba berbicara dengan mamah kamu nanti ya. Agar tidak terlalu keras pada kamu "
"Yakin kamu tidak akan menyakitiku seperti pengasuhku yang lain. Mereka sama saja seperti mama menyakitiku saat aku menangis, merengek mereka akan mencubit ku atau memukulku apa kamu akan berbeda dengan mereka. Satu lagi kamu yakin mau bicara dengan mamah. Memangnya kamu tidak takut untuk dipecat nanti. Mamah itu memukul pada siapa saja. Aku saja anaknya diperlakukan seperti ini apalagi pada orang lain yang tidak punya hubungan darah bersamanya "
"Aku tidak akan melakukan itu. Aku tidak akan menyakitimu aku berjanji padamu. Kamu tidak usah memikirkan aku akan dipecat atau tidak yang terpenting aku sudah berbicara pada mamamu, agar tidak terlalu keras padamu ya "
Tamara melihat Bibi Merry, dia diam dan terus meneliti seluruh tubuh Merry lalu pandangannya kembali ke depan "Aku ini anak kecil kan, kenapa aku dipaksa untuk terus belajar belajar padahal aku ingin main seperti teman-temanku yang lain. Kenapa setiap aku melakukan kesalahan aku harus selalu baca buku yang tebal sekali, lalu aku harus diberi pertanyaan yang banyak oleh ibuku dan aku harus bisa menjawab semua itu kalau tidak aku akan dicambuk dan harus kembali mengulang membaca buku itu"
"Iya Nona Kamu anak kecil. Bibi janji tidak akan melukaimu, bibi akan membantumu nanti ya "
Tamara hanya mengangkat bahunya saja, seperti tidak percaya dengan kata-kata dari Merry. Tamara seperti meragukan setiap kata yang terucap dari mulut Merry. Rasanya binggung sekali apakah benar ucapan itu atau hanya sekedar untuk menenangkannya saja.
"Rasa percaya diriku ini sudah hilang, aku sudah terlalu kecewa oleh banyak orang kamu mau lihat luka-luka di tubuhku ini sangat banyak sekali, sampai-sampai aku tidak tahu ada berapa luka dalam tubuhku ini. Menurutmu di umurku yang 5 tahun ini apa kesalahan terbesarku, sampai-sampai begini"
__ADS_1
"Emm, sepertinya tidak ada anak umur 5 tahun yang memiliki kesalahan yang fatal "
"Tapi kenapa mamah begitu jahat padaku. Kenapa aku harus selalu di siksa. Bahkan aku tidak pernah merengek pada mamaku. Aku hanya ingin sedikit kebebasan. Tapi semua itu tidak pernah aku dapatkan. Setiap aku mengingatkan sesuatu pasti aku akan terkena pukulan dulu, seharusnya orang belajar itu umur berapa aku sampai tidak tahu "
Merry mengusap rambut panjang anak itu. Rasanya dirinya ingin membawa kabur anak ini kasihan dia baru berumur 5 tahun tapi sudah disiksa seperti itu, disiksa seperti orang yang melakukan kesalahan yang besar sekali. Seharusnya anak sekecil ini masih aktif untuk bermain bermanja-manjaan dengan orang tuanya bukannya malah diperlakukan seperti ini.
"Kamu tahu aku selalu dikurung di perpustakaan di sana gelap, aku kedinginan tidak ada yang memelukku sama sekali rasanya aku sendiri bahkan Ayah pun yang melihat tidak pernah membantuku, tidak pernah mengasihani ku Ayah sama acuhnya. Aku selalu mengeluarkan air mataku tapi itu tidak sama sekali merubah pikiran Mamaku, malah Mamaku makin makin menjadi menyiksaku. Kamu punya anak tidak yang seumuran denganku "
"Aku punya anak, tapi tidak seumuran dengan kamu sayang "
"Lalu kamu memperlakukan anak kamu seperti apa, apa kamu juga di rumah seperti ini pada anak kamu menyiksanya, menjambak nya, menyuruhnya untuk belajar, menyuruhnya untuk tidak bermain. Selalu saja diatur tak pernah bebas aku harus selalu mengikuti kemauan mamahku"
"Maaf Nona aku tidak melakukan itu. Aku mengurus mereka dan juga menyayangi mereka, tidak memukulnya. Aku tidak mungkin memukul anakku sendiri"
"Lantas kenapa mamahku seperti itu. Kenapa dia tak menyayangiku. Apakah mamahku tak sayang aku, apakah dia tak menyukai aku " Tamara menatap Merry dengan sendu, Merry memeluk Tamara dengan erat. Tapi saat mendengar suara kesakitan dari Tamara Merry segera melepaskannya dia lupa kalau Tamara sedang terluka.
"Bisakah kamu menjadi mamaku, setidaknya aku punya kasih sayang dari kamu. Aku ingin sekali dipeluk setiap tidur, lalu saat makan disuapi dan diajak makan "
"Tentu kenapa tidak, aku akan menjadi mamamu. Biasanya kamu makan jam berapa. Aku harus tahu kan jam makan kamu agar kamu tidak dihukum oleh mamamu"
"Baiklah dengarkan baik-baik ya, pertama aku makan jam 06.00 pagi, setelah itu aku makan jam 12.00 siang dan aku makan malam jam 07.00 malam tidak boleh lebih ataupun kurang. Meskipun aku kelaparan harus selalu patuh jam makan dan aku juga tidak boleh makan makanan yang aneh, menurut Mamaku aku harus makan buah-buahan, sayur-sayuran dan juga daging yang sudah diolah. Seperti itulah kadang aku bosan sekali makan itu itu saja. Aku pengen makan yang lain "
"Bahkan aku tidak boleh memakan makanan camilan yang selalu ada di televisi. Padahal aku ingin sekali mencobanya. Apakah itu enak apa kamu pernah mencobanya, seperti apa rasannya apakah sangat enak" mata Tamara sudah berbinar-binar membicarakan hal itu.
Lagi-lagi Merry hanya bisa diam, dia begitu kasihan dengan keadaan anak ini kenapa sekeras itu orang tuanya mendidik anaknya. Kenapa harus begini mendidiknya padahal nanti juga sudah besar anak-anak akan mengerti posisinya seperti apa dan akan mengerti dirinya harus belajar, tidak harus dipaksakan dari kecil seperti ini. Kasian sekali kalau begitu jadinya.
Tamara menghela nafasnya, dia melihat tangannya yang sudah diobati "Kamu tahu apa yang aku lakukan sampai mamaku marah. Hanya karena aku menjatuhkan piring mahalnya itu, dia marah sampai-sampai mengamuk padaku. Aku juga ingin dibacakan buku dongeng seperti yang sering aku lihat, tapi aku tidak punya buku dongeng .Aku suka melihat saudara-saudaraku yang selalu dibacakan dongeng oleh orang tuanya, mereka begitu bahagia sekali rasanya aku mau ada di posisi mereka. Aku ingin menjadi mereka sepertinya sangat menyenangkan sekali "
"Mereka semua dimanja bahkan aku melihat mereka boleh memakan makanan apapun yang mereka mau, mereka berlari ke sana kemari bermain ini bermain itu tanpa harus membaca buku ataupun dihukum, lalu harus mengigat apa saja yang ada didalam buku itu. Aku begitu ingin seperti anak-anak yang selalu aku lihat "
"Kalau bisa memilih sih aku tidak mau dilahirkan, kalau tahu hidup ini akan seperti ini selalu disakiti" Tamara menundukan kepalanya dan memainkan kukunya yang pendek.
"Jangan seperti itu Nona "Merry akhirnya menyela juga "Jangan berpikir seperti itu. Kamu harus bertahan dalam keadaan apapun sekarang kan ada bibi, bibi akan selalu ada di samping kamu. Bibi akan selalu memeluk kamu dan selalu menyayangi kamu "
"Yakin Bibi akan ada di sampingku. Lalu apakah bibi bisa membelaku dari mama. Apakah Bibi akan tahan dengan sikap Mama yang seperti itu, apakah Bibi akan senang bekerja di sini sudah banyak karyawan yang keluar dari sini bahkan ada pengasuhku yang sampai dipukuli oleh Mama karena membelaku untuk tidak terus belajar, kasian mereka tapi mau bagaimana lagi "
"Aku janji akan selalu ada di sampingmu nona, aku akan bertahan bersama kamu ya "
Tamara Hanya menyunggingkan senyumnya saja. "Janji untuk selalu melindungiku ya, jangan sampai kamu ingkar padaku ya. Aku tak mau sampai dikhianati lagi "
"Tentu janji, aku akan selalu melindungimu dan selalu ada disampingmu, aku begitu senang ada didekat mu kamu anak yang baik dan penurut seperti ini "
"Kalau aku sudah besar aku akan coba membalas apa yang Mama lakukan. Aku ingin tahu apakah Mama akan kesakitan dengan apa yang aku lakukan, aku juga penasaran bagaimana rasanya menyakiti orang lain apakah sangat menyenangkan sampai-sampai Mama selalu melakukannya padaku. Aku selalu penasaran bagaimana bila aku yang menyakiti orang lain. Apakah kamu mau jadi orang pertama yang aku lukai "
"Jangan berpikir seperti itu, itu tidak baik ya. Kamu harus jadi anak baik. Kamu harus selalu baik pada siapapun meskipun mamah kamu seperti itu. Kamu tak boleh membalasnya "
"Tapi mama sering melakukan itu, berarti baikan. Kita sebagai anak hanya bisa mencontoh bagaimana orang tua kita bersikap kan Bibi, aku pernah diberi tahu oleh seseorang kalah anak akan sama dengan orang tuanya. Berarti aku juga akan sama seperti mamah kan bibi "
__ADS_1
Merry tiba-tiba saja ingat anak asuhnya dulu yaitu Lucas. Apakah Tamara akan sama seperti Lucas, jangan sampai itu terjadi, kalau iya sama sudahlah habis. Tamara akan menjadi perempuan berdarah dingin.
flashback off