Psychopath 2

Psychopath 2
Bab 81 Meneror kembali


__ADS_3

Malam harinya saat aku sedang berbaring di kasurku yang empuk tiba-tiba aku mendengar ada yang mengetuk kaca kamarku.


Aku diam. Aku tidak mau melihat ke arah jendela aku malah makin menjauh dari jendela dan masuk ke kolong tempat tidurku. Aku takut itu adalah pembunuh gila jangan sampai dia menangkapku.


Tiba-tiba ada notifikasi dari ponselku tapi ini nomor baru, baru saja aku membacanya aku sudah tahu siapa orang itu.


Lucas :Jangan sembunyi, keluarlah


Aku menyimpan ponselku dan ada seseorang yang terus mondar mandir didepan kamarku. Jendela kamarku memang jendela yang besar dan lebar. Jadi kalau ada orang bisa kelihatan.


Kembali suara ketukan di kaca terdengar, aku membekap mulutku. "Kat keluarlah jangan bersembunyi, apakah kau ingin melihat dulu teman-temanmu mati"


Aku melihat kembali kearah kaca, bayangan itu diam tidak mondar mandir lagi, tapi ditangannya terlihat kalau dia memegang sesuatu. Sepertinya itu kepala.


"Kat keluar kita pulang "


"Tidak aku tidak sudi pulang denganmu. Lebih baik kau pergi saja aku ingin lepas darimu jangan ganggu hidupku lagi"


"Baiklah aku akan menghabisi teman-temanmu dulu. Itu kan yang kau mau"


"Silakan kau habisi teman-temanku, tapi aku pun akan melakukan bunuh diri aku tidak akan segan-segan untuk mengakhiri hidupku. Lihat saja jika kau sekali lagi menghabisi temanku, aku akan bunuh diri di hadapanmu kalau perlu"


Hening tak ada jawaban, kulihat kembali bayangan itu sudah pergi. Aku keluar dari dalam kolong tempat tidur.


Aku keluar dari kamar dan mengecek pintu dan juga jendela. Semua sudah dikunci. Aku berlari ke pintu belakang aman juga.


Aku sangat takut kalau pembunuh gila itu menerobos rumahku. Aku masuk lagi ke kamarku dan mengunci pintunya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Malam ini aku sama sekali tidak tidur, aku takut dia menerobos rumahku tanpa sepengetahuanku. Kalau sudah tidur kan kadang-kadang nyenyak dan tidak bisa bangun lagi.


Tidak akan mendengar apapun yang terjadi nantinya, makanya pagi ini aku mengantuk sekali tapi aku harus pergi bekerja.


Aku sudah siap dengan kemeja dan rok pendek sepanku, aku harus kerja aku sudah cuti satu minggu lamanya. Aku tidak boleh terus-menerus diam di rumah. Meskipun takut aku harus bekerja. Aku takut sekali membuka pintu takut-takut nanti pembunuh gila itu ada disana dan menodongku.


Tapi aku tidak bisa terus begini, dengan memberanikan diriku ini aku membuka pintu tidak ada siapa-siapa. Dengan cepat aku mengunci pintu lagi dan berlari ke arah jalan rumahku.


Aku berjalan dengan tergesa-gesa aku masih saja celingak-celinguk takut-takut dia ada di belakangku atau di balik semak-semak atau dia bersembunyi di balik pohon, tapi aku malah melihat mobil yang tidak asing.


Keluarlah orang itu dia tersenyum padaku dan aku juga balik tersenyum padanya, dia adalah bosku di kantor kenapa dia ada di sini tidak biasanya.


"Selamat pagi Kat "


"Pagi Kak Abraham "


"Ayo kita berangkat sama-sama Kat"


"Kakak turut berduka cita atas meninggalnya Barbara, kakak tidak menyangka kalau Barbara akan menjadi sasaran pembunuh itu. Kenapa dia sudah sampai sini ya Kat apalagi sasarannya adalah para perempuan"


Aku makin merasa bersalah atas kematian Barbara. Ini semua salahku aku ingin cerita semuanya pada Kak Abraham, tapi aku tidak berani aku takut dia menjadi sasarannya nanti.


"Mulai sekarang Kakak akan antar jemput kamu ya. Kamu jangan pergi atau pulang sendiri nanti kalau penjahat itu datang bagaimana. Kakak tidak mau sampai terjadi apa-apa padamu Kat "


"Sepertinya itu akan merepotkan Kakak, apalagi rumah kita sangat jauh tidak usah Kak. Aku berangkat sendiri saja aku tidak akan apa-apa Kak"


"Tidak Kakak akan antar jemputmu saja. Kakak tidak mau sampai kau menjadi korban yang selanjutnya. Pembunuh itu kan mencari perempuan-perempuan muda dia akan membunuh perempuan-perempuan itu dengan sadis dan tanpa tahu siapa itu, bagaimana keadaannya. Aku sangat khawatir denganmu Kat "


"Tapi aku takut, nanti malah Kakak yang jadi sasaran di sini kan daerah pembunuhannya Barbara, takut-takut dia memang tinggal di sini dan sedang bersembunyi Kak "

__ADS_1


"Kamu tidak usah mengkhawatirkan Kakak, Kakak ini kan laki-laki jadi kakak bisa melawan. Kalau kamu kan perempuan lebih baik kamu diantar jemput saja oleh Kakak. Nanti juga Kakak akan menyiapkan bis khusus untuk para karyawati biar diantarkan langsung ke rumahnya masing-masing"


"Ya sudah kalau gitu aku naik bis saja Kak, biar ga ngerepotin Kakak juga kan. Kasihan kakak harus bolak-balik nantinya"


"Udah Kakak bilang ga masalah, itu tuh buat mereka kalau kamu biar kakak aja yang nganter jemput. Bis nya ga akan masuk ke komplek kamu kakak tuh mau kamu tuh dianterin sampai rumah tepat waktu dan selamat"


"Tapi bener ga ngerepotin Kakak kan. Apalagi aku ini baru kerja di kantor Kakak sekitar 1 tahunan, gimana kalau anak-anak lain ngiranya yang aneh-aneh"


"Ga akan, itu ga akan pernah terjadi. Sudah itu urusannya sama kakak kamu hanya perlu ikutin kata-kata Kakak aja ya"


"Iya deh kak makasih ya sebelumnya" Akhirnya aku mengiyakannya juga. Aku takut Kak Abraham malah marah padaku.


"Sama-sama Kat "


Aku sekarang hanya bisa diam, aku tidak bisa menjelaskan semuanya semoga saja kak Abraham tidak menjadi sasaran penjahat gila itu.


Tapi ada sesuatu yang membuat aku aneh, dari senyum Kak Abraham senyumnya itu mengingatkan aku pada seseorang tidak tidak, tidak mungkin.


Tapi laki-laki yang kemarin yang mengenalkan diri padaku itu Arkan dan senyumnya juga sama mengingatkan aku pada seseorang. Apakah aku harus curiga pada dua orang ini, takut-takut pembunuh gila itu menyamar jadi orang terdekatku kan.


"Kat kenapa diam"


"Tidak Kak, aku hanya sedang memikirkan Barbara saja. Aku sebagai sahabat tidak bisa melakukan apa-apa, aku hanya bisa menyusahkannya. Seharusnya saat malam itu kita tidak lembur, seharusnya aku mengantarkan Barbara pulang mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi kan"


"Jangan pernah salahkan dirimu Kat, kita tidak pernah tahu kapan musibah akan datang kepada kita. Sekarang yang perlu kau lakukan adalah berdoa untuk Barbara"


"Iya Kak, aku akan selalu mendoakan Barbara aku masih tidak percaya kalau Barbara akan pergi meninggalkanku secepat ini"


Kak Abraham memegang tanganku dengan refleks aku melepaskannya "Maaf ya kalau kakak tidak sopan"

__ADS_1


"Eh maaf Kak aku tadi refleks "


Aku sekarang malah jadi canggung.


__ADS_2