
Aku masih belum berangkat kesekolah, aku takut bertemu dengan Abang, apakah dia akan ada disekolah atau tidak ya. Aku begitu ketakutan dengannya.
Tapi kalau aku ga berangkat sekolah aku udah ketinggalan jauh banget. Baiklah kita berangkat saja. Kita berangkat sekolah saja..
Kat berjalan kearah sekolahnya dengan perlahan. "Kat tunggu "
"Eh Ale "
"Ini kenapa jidat "
"Ga apa-apa kok "
"Dibawa ke mana sih sama guru itu, gila yah dia main bawa-bawa saja. Satu lagi kamu beneran sama dia pacaran "
"Dibawa kerumahnya "
"Mau dinikahi kamu "
"Ga ya aku ga siap, aku masih sekolah dan aku ga mau nikah sama dia "
"Awas saja nanti tiba-tiba ada undangan dateng kamu nikah sama dia "
"Ist nyebelin "
Aku melihat ada Abang bersama guru baru itu, bahkan Abang juga merangkul perempuan itu.
"Gila itu lagi, kemarin-kemarin paksa kamu sekarang dia sama cewe lain ayo kita buat dia panas "
"Kamu mau lakuin apa sih Ale "
"Udah ayo "
Ale merangkul ku juga dan berjalan sejajar dengan Abang dan perempuan itu, aku tak bisa melihat mata Abang aku takut.
Tapi Ale malah nekat seperti ini "Eh Bapak sama ibu pacaran nih ya. Kita juga ini sama pacaran kita cocok ga Bu guru Pak guru "
"Cocok kok, kalian cocok banget " ucap Bu Carolet.
"Tuh sayang apa kataku kan, kita ini cocok makanya kita harus menjadi pasangan yang romantis "
Ale makin mempercepat langkahnya dan membawaku ke kantin, aku juga tak mau melihat kebelakang. Aku takut dan pasti aku akan dapat masalah..
"Kamu ngapain sih kayak gitu Ale "
"Harus kayak gitu sama laki-laki Playboy tuh, biar tahu rasa, memangnya dia saja yang bisa kayak gitu kamu juga harus bales dong jangan diam saja "
"Tapi kamu ga tahu siapa dia "
"Dia orang dan makan nasi, udah sama saja ngapain juga takut sama orang kayak gitu. Dia itu playboy harus di kayak gituin kali-kali. Kamu tuh jangan terlalu takut kalau kamu emang ga nyaman sama dia udah tinggalin saja. Aku juga baru tahu kamu pacaran sama guru kamu juga ga cerita-cerita "
"Panjang banget ceritanya dan aku ga mau ngelibatin kamu "
"Kenapa emang, sudah ayo cerita saja "
Aku mengelengkan kepalaku, aku tak mau sampai Ale bermasalah dengan Abang, aku tak mau dia dilukai. Aku selalu diancam olehnya. Aku tak mau orang-orang terdekatku terluka.
Meskipun aku lelah menghadapinya tapi aku tak mau membuat orang lain merasakan apa yang aku rasakan "Ist kenapa malah jadi ngelamun kayak gini. Udah kali ah jangan ngelamun terus " tegur Ale
"Pokoknya kamu jangan kayak gitu lagi, aku ga mau kamu berurusan sama Pak Lucas "
"Kenapa emangnya, emang dia orang berbahaya ya "
"Bisa jadi, pokoknya kamu jangan berurusan dengannya "
__ADS_1
"Tapi aku ga bisa liat kamu kayak gini "
"Aku baik-baik saja Ale "
"Pokoknya kalau ada apa-apa kamu harus bicara sama aku "
Aku hanya menganggukan kepalaku saja. "Yaudah ke kelas yu "
"Ayo "
Ale malah menggenggam tanganku dan dia malah sengaja lewat ruangan Abang, ini anak emang cari mati ya. Aku mencoba melepaskan pegangan tangan Ale tapi susah malah makin erat saja.
"Eh Pak permisi mana nih pacarnya "
"Masuk ke kelas jangan pacaran terus"
Aku melihat wajah Abang tapi dia biasa-biasanya seperti tak peduli, tapi aku bersyukur dan aku senang. Aku tersenyum pada Ale dan menarik tangannya untuk pergi ke kelas.
"Sampai ketemu dikelas Pak, ini pacar saya pengen cepet-cepet udah ga sabar "
...----------------...
"Jadi kita mau langsung pulang atau mau keliling keliling lagi " tanya Ale padaku
"Emm, pengen keliling dulu deh kenapa coba Dian ga masuk ya, kalau masukan seru "
"Namanya juga ada acara keluarga jadi ya mau gimana lagi. Eh bukannya tadi kamu mau beli ponsel ya "
"Ehh iya ayo, "
"Ponsel mu kemana, perasaan tu ponsel baru beli deh "
"Hehehe biasa rusak "
"Ya gimana lagi, ponselnya udah mau mati juga "
"Hemm, banyak alasan ya " sambil mencubit hidungku.
"Sakit "
"Hehehe habisnya lucu hidungnya "
"Eh ketemu lagi "
Aku dan Ale mengalihkan pandanganku ternyata itu ibu Carolet dan juga Pak Lucas. Seperti biasa dia hanya diam dengan wajah yang dingin.
"Ehh iya kita ketemu lagi, senang ya Bu ketemu lagi. Ibu lagi cari apa nih sama pacar "
Ibu Carolet tersenyum dan mendongakan kepalanya kearah Abang " Ini mau beli sesuatu, Lucas mau kasih aku sesuatu "
"Wah romantis sekali ya Bu, ya sudah saya permisi dulu ya. Mau beliin pacar saya ponsel dadah "
Ale menarik tanganku dan kami berdua berlari "Ale kenapa kau selalu saja bilang aku ini pacarmu "
"Sudah tenang saja, kita lihat apakah guru itu benar-benar suka padamu atau bagaimana. Tapi dilihat dari responya dia hanya memainkan mu saja Kat "
"Ya sudah kuduga "
"Sudah jangan sedih mau beli ponsel yang mana pilih-pilih"
"Menurut kamu yang mana yang bagus "
"Semuanya juga bagus kali Kat kamu mau pake merek apa"
__ADS_1
"Emm, aku binggung "
"Sebentar biar aku lihat "
Aku menganggukan kepalaku dan menunggu Ale memilih, dia membawa beberapa ponsel dan memperlihatkannya padaku "Mau yang mana pilih "
"Aku yang ini saja " pilihan ku jatuh pada ponsel yang hampir sama seperti ponselku yang dirusak Abang.
"Inikan ponsel yang sama, ponsel yang dulu kan. Kenapa tak coba yang lain saja. Bukanya mengunakan yang gini kau cepat rusak ya, yang lain saja "
"Tidak, aku mau yang ini saja. "
"Hemm ya sudahlah kalau kau memaksa "
Aku segera membayar ponsel itu. Tadinya Ale mau membayarkan tapi aku menolaknya. Aku tidak mungkin kan dibelikan ponsel oleh Ale sedangkan aku punya uang sendiri untuk membelinya.
"Selesai beli ponsel ayo makan "
"Ayo "
Kami turun kembali kelantai bawah dan masuk kesebuah restoran penuh sekali. "Le cari tempat yang lain "
"Dimana Kat "
"Yang lain ah, disini penuh "
"Hei anak-anak sini gabung "
Aku dan Ale langsung mencari asal suara ternyata itu ibu Carolet, seperti biasa Ale membawaku kearah meja mereka dan duduk.
"Makasih lo bu udah tawarin kita "
"Iya sama-sama jadi sudah beli ponselnya "
"Udah Bu, ibu gimana sudah dikasih hadiahnya "
Bu Carolet mengangkat tangannya, dia memperlihatkan cincin yang dia pakai.
"Oh jadi kalian mau nikah ya " ucap Ale sambil menatap cincin itu.
"Emm, begitulah bagus tidak "
"Bagus Bu "
Aku menatap kearah Abang, dia pun sama menatapku tapi dengan cepat aku membuang pandanganku. Aku merasa tak rela saat Abang memberikan cincin pada perempuan lain. Kenapa dia kemarin melamar ku kalau pada akhirnya dia mau melamar perempuan lain juga.
"Eh ada kak Tio nelfon "
Aku yang sedang melamun langsung sadar dan melihat kearah Ale "Ada apa sama Kak Tio "
"Sebentar aku angkat dulu "
Ale pergi meninggalkan aku, jadi kami tinggal bertiga aku melihat Bu Carolet menyenderkan kepalanya di bahu Abang, dan Abang mengusap-usap rambutnya.
"Kat kita tak jadi makan "
"Ada apa "
"Ayo kita kerumah Kak Tio, dia ingin kita datang "
"Ada apa memangnya "
"Sudah ayo kita pergi kesana dulu saja "
__ADS_1
Aku segera bangkit dan tanpa pamitan kami berdua langsung pergi berlari.