
"Laki-laki yang cukup tampan, tapi sayangnya kau tak beruntung karena aku sudah menangkap mu "
Aku mengambil alat-alatku dan mengasahnya terlebih dahulu. Laki-laki yang aku bawa tadi hanya bisa meronta-ronta saja.
Dia sungguh tak bisa diam, sepertinya harus di beri hadiah agar dia diam. Aku mengambil dua paku besar dan tak lupa membawa palunya juga.
"Agar kau bisa tenang dan diam aku akan memberikan sebuah hadiah untukmu, maka nikmatilah. Ini akan sedikit sakit tapi nanti setelahnya rasanya akan nikmat. Aku akan membantumu untuk mati lebih cepat dan aku juga akan memamerkan mu dulu terlebih dahulu sebelum kau dibakar di neraka nanti"
Aku memegang kaki laki-laki itu yang tidak diam, lalu menancapkan paku itu dan memakunya dengan sangat perlahan. Aku ingin melihat ekspresinya seperti apa.
Tapi, nyatanya tidak seperti apa yang aku inginkan dia malah ketakutan dan kesakitan. Bahkan lakban yang aku gunakan untuk menutupi mulutnya sudah terbuka dan dia berteriak historis.
Dengan cepat aku memakunya lebih dalam lagi agar menyatu dengan tanah ini. Lalu aku lakukan hal yang sama pada kaki sebelahnya. Sangat menyenangkan sekali.
"Sialan kau, apa kau gila hah "
"Tidak, aku tidak gila. Kau terlalu banyak bicara lebih baik sekarang kita belajar menjahit. Sebentar aku ambil dulu alat-alat jahitku. Sudah lama aku tidak menjahit aku tidak punya barang yang sobek atau pakaian sobek atau celana yang sobek pun tidak ada. Tapi, sepertinya bibirmu enak untuk aku jahit"
Aku beralih ke arah etalase yang sudah aku siapkan di sana, banyak sekali barang-barang aku yang sangat banyak. Aku mengambil jarum dan juga benang berwarna emas agar lebih cantik saja. Aku menggusur kursi dan duduk berhadapan dengannya.
"Jangan kau berteriak terus berisik. Aku tidak suka aku ingin sunyi sekali. Diam aku akan membuat karya seni yang sangat bagus. Kau akan sangat bahagia bila nanti dipajang olehku. Kau harus berterima kasih karena sebentar lagi kau akan diliput di mana-mana. Kau akan difoto oleh siapapun tanpa kau harus menjadi artis"
Aku segera menjahit bibirnya, meskipun agak sulit sih tapi aku dengan telaten menjahitnya perlahan demi perlahan. Sampai bibirnya itu tertutup rapat dan dia tidak bisa berbicara lagi, ataupun mencaci-makiku lagi karena aku tidak suka dicaci maki oleh orang lain.
Aku segera bangkit dan melihat karya seniku. Bagus juga dijahit seperti ini. Kakinya sudah bagus dipaku seperti itu. Tangannya juga sudah tidak meronta-ronta lagi. Mulutnya sudah diam. Matanya apa perlu aku jahit, tapi, sepertinya tidak usah karena sayang saja kalau matanya sampai aku jahit.
"Baiklah kita mulai inti dari semua yang akan aku lakukan, seperti biasa aku akan mengupas kulitmu dulu, agar saat aku menjadikan kau karya seni itu akan lebih cantik lagi. Sebentar ya aku ambilkan pisau terbaikku"
Aku segera kembali lagi dan menyayat sedikit demi sedikit kulit dari laki-laki itu, dari leher terlebih dahulu. Aku tidak akan mengupas kulit wajahnya dulu, tapi sekarang aku ingin memulai dari leher sampai bawah kakinya.
__ADS_1
Tiba-tiba saja dia berteriak dengan keras dan membuat jahitan bibirnya terlepas, bibirnya itu berdarah, kasian sekali apakah aku harus mengobatinya ?
"Akhh sialan kau, biadab dasar, lepaskan aku gila, kau sangat gila berarti patung yang waktu itu kau yang melakukannya, kan. Aduh bibirku perih sekali sialan kau"
"Berisik kau "
Aku mengambil palu paling besar dan menghatamkannya ke arah kepalanya, sampai-sampai kepalanya itu berdarah. Darahnya banyak sekali dia tidak bisa bicara apa-apa lagi.
Sebenarnya aku tidak mau merusak karya seni ku ini, tapi karena dia berisik aku jadi merusaknya, tapi tak apa aku kembali mengulitinya. Setelah itu selesai aku mengambil lilin yang sudah aku sediakan dan sudah aku cairkan.
Aku tumpahkan semua lilin itu pada tubuhnya, dia masih hidup dan mungkin saja dia merasakan bagaimana panas lilin ini menyentuh kulitnya yang sudah aku kupas.
"Sudah perfect, nanti kita pajang besok di dekat jembatan yang sering dilalui oleh Katherine, dia akan lihat karya seni ku lagi. Dia pasti akan bangga, waktu pertama aku buat saja dia sudah bilang kalau itu bagus, apalagi yang ini akan lebih bagus lagi "
Tiba-tiba saja ponselku berdering, saat aku melihat ternyata itu dari adikku Daisy, dengan cepat aku mengangkat teleponnya "Ada apa Daisy"
"Engga, Abang ga pulang sekarang kamu kunci saja pintu ya, jangan sampai ada orang yang masuk. Abang kayaknya nginep di sekolah deh ada masalah nih di sekolah. Abang harus urus semuanya kamu ga apa-apa kan ditinggalin sama Abang sendirian"
"Ya udah kalau gitu Abang hati-hati ya, awas di sini lagi ada banyak pembunuhan loh jangan sampai Abang jadi target selanjutnya. Aku ga papa kok di rumah sendirian. Aku juga udah kunci rumah cuman ini aku lagi di ruang tamu tunggu Abang. Katanya mau makan aku udah tunggu Abang buat makan sama-sama. Tapi, Abang ga dateng dateng"
"Ya udah kamu makan saja. Maaf Abang malah jadi buat kamu nunggu habiskan saja. Abang ga mungkin jadi target mereka kamu bisa tenang. Abang bisa jaga diri Abang baik-baik kamu juga ga akan pernah jadi target orang itu"
"Hah maksudnya apa sih Abang "
"Udah udah makan sana. Abang matiin ya, Abang masih banyak kerjaan nih"
"Iya Abang jangan terlalu maksain ya kerjanya"
"Iya bawel"
__ADS_1
Setelah mematikan sambungan telepon dari adik kesayanganku itu, aku kembali menatap karya seni ku. Mungkin ini adalah karya terakhirku, karena ini tidak ada apa-apanya. Aku ingin membuat sebuah permainan yang membuat mereka takut.
Atau mungkin aku akan mulai membunuh mereka dengan brutal, aku juga ingin tahu apakah para polisi bisa mencariku dengan cepat atau mereka akan kesulitan karena aku merubah-rubah pembunuhanku.
...----------------...
Aku yang ke sekolah diantar oleh kak Chelsea melewati sebuah jembatan yang begitu banyak orang, kami yang penasaran segera turun dari dalam mobil. Kami berdua menerobos orang-orang yang berkerumun di sana.
Lagi-lagi aku melihat patung itu, patung lilin yang sepertinya memang manusia, tapi dia tidak telanjang seperti yang pertama ada kain yang menutupi *********** dan tubuhnya sedikit sekali.
Sekarang adalah laki-laki, aku segera menarik tangan Kak Chelsea "Apa itu patung, sejak kapan di sini ada patung Kat, kenapa aku tak tahu ada patung disini "
Kak Chelsea malah bertanya seperti itu, seperti aku yang dulu bertanya pada Abang. Aku menganggap itu patung dan sekarang Kak Chelsea juga menganggap itu patung.
"Itu bukan patung itu manusia Kak. Ayo cepat kita pergi saja aku tidak mau melihat darah-darah itu mengucur lagi dalam tubuhnya, ayo Kak kita harus pergi sebelum terlambat ayo Kak. Aku tak mau melihatnya Kakak "
"Maksudnya apa, darah apa Kat itu patung, dia begitu cantik aku harus mengabadikannya terlebih dahulu"
"Ayo Kak kita pergi dari sini. Aku tidak mau melihatnya lagi, ayo kak jangan buat masalah Kak "
"Memangnya apa yang terjadi, apa yang aku tidak tahu disini Kat "
"Akan aku ceritakan nanti di mobil. Ayo kita sekarang harus pergi kak, aku tak mau lama-lama disini kak "
Baru saja kami melangkah pergi , patung itu mengeluarkan darah. Tapi, ini lebih banyak lagi dia roboh karena hanya disangga oleh satu kayu saja.
Kakakku Chelsea langsung berteriak darah itu berceceran kemana-mana. Bahkan tubuhnya itu sudah kelihatan, dagingnya itu loh merah. Ah aku tidak kuat untuk melihatnya lagi tolong siapa saja tangkaplah pembunuh itu dia sudah membuat kekacauan.
Aku tak suka kekacauan ini, sungguh ini tak manusiawi sekali. Dia begitu kejam sampai-sampai berani melakukan ini pada manusia lagi, apalagi pada hewan mungkin dia akan lebih brutal lagi.
__ADS_1