Psychopath 2

Psychopath 2
Bab 211 mengingatkan pada seseorang


__ADS_3

"Pak Lucas ada disini"


Lucas hanya menganggukan kepalanya sambil menatap orang itu. Ternyata karyawan sendiri. Lucas kira akan sama-sama pengusaha suami ibu angkuh ini. Kalau tahu karyawannya ini masalah gampang sih.


"Ma ini ada apa, kenapa ada Pak Lucas disini. Kamu udah lakuin apa sama keluarga mereka " tanya laki-laki itu dengan sabar pada istrinya. Sebenarnya tadi sudah tahu ceritanya dari istrinya, tapi dia tidak tahu kalau yang akan dihadapi adalah Lucas bosnya sendiri. Bisa gawat kalau begini.


"Kamu tanya ngapain, ini nih Ayahnya anak yang udah celakain anak kita. Sampai-sampai jidatnya harus dijahit, kamu malah tanya sama aku, aku udah ngelakuin apa sama keluarga mereka, yang ada kamu harus tanya balik sama dia karena anaknya udah lupain anak kita, lihat dia masih ada di rumah sakit sampai sekarang. Pasti anakku itu sangat kesakitan sekali "


"Ayah pelaku ini, malah santai-santai kayak gini aja. Dia ga mau tanggung jawab udah sama kamu aja. aku kesel bicara sama dia ga ngerti-ngerti. Aku bosan bicara dengan orang sepertinya yang angkuh dan tidak tahu diri "


Ibu-ibu itu tidak melihat kalau suaminya sudah berkeringat dingin melihat Lucas. Memang benar-benar tak bisa melihat situasi "Maaf Pak Lucas ada masalah apa ya, mohon maaf jika anak saya punya salah. Saya minta maaf Pak " sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Loh loh loh kok kamu yang minta maaf, dia yang salah anaknya yang salah. Kamu ini gimana sih. Aneh banget aku tuh nyuruh kamu datang ke sini buat lawan laki-laki ini, kalau sama-sama laki-laki kan enak kalau aku perempuan sama laki-laki aku yang kalah " sambil melipat tangannya masih dengan tatapan angkuhnya.


"Tak masalah Dani, saya rasa istrimu bukan yang ini Dani. Saya tahu istrimu yang mana dan Saya pernah bertemu dengannya kan, kurasa istrimu itu tidak seangkuh ini dan tak sopan seperti ini "


"Iya Pak ini istri kedua saya" sambil menundukan kepalanya.


"Pantesan dia ga kenal saya dan ga punya sopan santun juga. Kenapa punya istri dua tapi yang satu ga bisa diatur kayak gini dan ga punya sopan santun sedikitpun. kamu masih betah kerja di kantor saya kan? "


Istrinya Dani langsung menatap Lucas, dia juga menatap suaminya maksudnya apa. Yang ada di hadapannya ini adalah bos suaminya. Tidak mungkin tidak mungkin ini pasti cuma salah paham saja, ini pasti tak benar.


"Bisa diem dulu ga Mah ini tuh bosku. Tolong jangan buat masalah makin runyam. Kamu hanya bisa membuat masalah saja tanpa bisa menyelesaikan semuanya"


Istrinya Dani langsung gelagapan kaget "Maaf Pak kalau misalnya keluarga saya ada yang salah sama Bapak. Saya masih mau kerja sama Bapak tolong jangan keluarkan saya dari kantor Pak. Saya masih butuh pekerjaan itu, tolong beri saya keringanan saya akan melakukan apapun"


"Baik buatlah istrimu bersujud pada istriku, hal yang mudah kan tidak rumit dan tidak menguras uang kalian juga"


"Apa tidak aku tidak mau ya. Aku tidak salah aku sama sekali tidak salah. Kenapa sih masalah kecil seperti ini harus dibesar-besarkan, itu bukan apa-apa"


"Aku akan kirimkan uang ganti rugi karena anakku telah mencelakai anakmu Dani. Aku tunggu sampai malam ini jika sampai istrimu tidak datang ke rumahku maka ya sudah. Mungkin aku akan memecat mu dari kantorku atau menurunkan jabatanmu menjadi staf biasa seperti dulu lagi. Kalau belum mampu mempunyai istri dua maka seharusnya satupun cukup"


Lucas langsung bangkit begitu saja, lalu pergi. Tidak memperdulikan dua orang ini yang sepertinya akan cekcok. Yang terpenting Lucas ingin keadilan untuk istrinya.


Enak saja dia yang salah istrinya yang dimarah-marahi sampai ditunjuk-tunjuk seperti itu. Lucas suka dengan tindakan Alexander tidak masalah anak perempuan itu terlalu. Itu belum seberapa kalau sampai Lucas yang bertindak mungkin nyawa yang akan melayang.


"Kamu ini bagaimana sih dia itu bosku, kalau sampai aku diturunkan jabatan menjadi staff biasa aku ceraikan kamu, aku begitu sulit mendapatkan jabatan itu dan kamu akan menghancurkannya dengan mudah. Kita harus pergi ke rumah tuan Lucas dan meminta maaf pada istrinya. Aku tidak mau ya sampai jabatanku turun, aku tidak mau "


"Ga aku ga mau. Aku ga salah kok perempuan itu yang salah. Aku ga akan pernah mau minta maaf sama siapapun. Harga diri aku ini tinggi banget, jadi aku tidak akan pernah mau melakukan hal itu. Itu adalah hal yang paling aku jauhi meminta maaf pada orang lain. Meskipun aku yang salah aku tidak akan sudi melakukan itu, itu bukan aku sekali"


"Oke kalau kamu ga mau minta maaf sama istrinya Pak Lucas lebih baik kita cerai aja, kita ga usah ada hubungan lagi. Aku udah capek dengan sikap kamu yang seperti ini, aku malu banget mau ditaruh dimana mukaku ini"


"Apa ga aku ga mau ya. Aku ga mau. Cuman karena jabatan kamu mau diturunin kamu mau ceraikan aku, emang lebih penting mana daripada jabatanmu itu, emangnya aku ga penting dalam hidup kamu, seharusnya kamu tuh bela istri kamu pilih istri kamu. Bukannya jabatan kamu itu padahal kamu bisa kerja di tempat yang lain atau buka usaha sendiri "ucap istrinya masih tak terima.


Kepala Sekolah yang ada di sana jadi bingung, ini kenapa malah bertengkar di sini. Maksudnya kan ini masalah rumah tangga kenapa harus bertengkar di sekolah. Bagaimana kalau anak-anak dengar tidak enak kan.


"Maaf Bu Pak bukannya saya mengganggu tapi ini kan sekolah, tidak baik pertengkaran rumah tangga seperti ini dilakukan di sini. Lebih baik diselesaikan dengan kepala dingin dan di rumah saja ya, anak-anak sedang belajar tolong jangan membuat keributan di sini. Sekali lagi saya minta maaf "


"Iya Pak maaf, sekali lagi karena telah membuat keributan di sini. Kami permisi dulu Pak"ucap Dani


Dani langsung melengos pergi begitu saja diikuti oleh istrinya yang terus saja berteriak. tapi Dani tidak memperdulikannya. Dani sangat muak sekali dengan istri keduanya, memang salah memilih istri seperti ini Benar apa kata istri pertamanya kalau istri keduanya ini menyebalkan.


Sekarang sudah terbukti apa kata-kata dari istri pertamanya, awalnya Dani tidak percaya dan malah marah pada istrinya itu. Tapi sekarang sudah terbukti dan terlihat bagaimana sifat dan sikapnya sangat angkuh sekali dan tidak mau kalah. Bahkan hanya memikirkan tentang dirinya saja tidak memikirkan tentang karirnya.


Padahal karirnya itu dia dapatkan dengan susah payah, dari staf biasa sampai bisa menjadi sekarang, menjadi sukses dan dipercaya oleh Pak Lucas sendiri. Itu sangat sulit sekali Dani dapatkan butuh waktu dan tenaga yang banyak sekali.


"Aku ga mau minta maaf ya. Aku benar-benar tak mau merendahkan diriku ini "


"Ya udah keluar dari rumah dan bawa barang-barang kamu. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi jangan pernah kembali lagi ke rumah. Untuk urusan anak tenang saja aku hanya akan mengirimkan uang untuk anakku saja, untuk mu sendiri cari saja sendiri"


"Engga, aku ga mau jangan seperti itu tolong jangan seperti itu. Kamu tega banget ya sama aku "


"Semua keputusan ada pada tangan kamu. Aku akan tetap menceraikan kamu jika kamu tidak meminta maaf pada istrinya Pak Lucas. Ini tentang pekerjaanku tentang masa depanku juga. Aku tidak mungkin melepaskan pekerjaanku ini, sedangkan umurku ini sudah tidak muda lagi aku sudah tua mau cari kerja di mana sampai aku diturunkan menjadi staf biasa aku tidak bisa mencukupi segalanya"


"Tetapi aku tidak salah dalam masalah ini, aku benar-benar tidak salah"


"Mau kamu salah ataupun tidak aku tidak peduli. Yang penting minta maaf pada istrinya Pak Lucas. Jika kamu memang masih ingin bersamaku maka minta maaflah padanya dan jangan keras kepala seperti ini. Jika kamu memang ingin bercerai denganku maka sudah tidak masalah aku juga tidak akan mengajakmu untuk pergi ke sana dan minta maaf. Kamu pertahankan saja harga dirimu itu"


"Baiklah aku akan minta maaf. Aku akan minta maaf pada perempuan itu, tapi aku tidak mau bersujud padanya hanya minta maaf saja "


"Pikir-pikir saja dulu kalau kamu minta maaf ke sana dengan tidak tulus aku tidak mau, nanti yang ada malah makin tambah masalah saja. Bisa-bisa aku bukan hanya diturunkan menjadi staf biasa tapi aku dikeluarkan"

__ADS_1


"Kenapa masalah ini menjadi rumit sekali, padahal semuanya sudah baik-baik saja "


"Karena kamu yang membuatnya, makannya kalau berbicara dan bertingkah itu dijaga jangan sok-sokan"


Dani masuk ke dalam mobil dan tidak membawa istrinya pulang. Dani pulang sendirian, istri keduanya itu melongo melihat suaminya yang pergi meninggalkannya. Setalah itukah dia padannya.


"Aku ditinggalkan seperti ini, aku ditinggalkan sialan perempuan sialan. Kenapa aku harus bertemu dengan perempuan itu, perempuan tak berguna awas saja aku tak akan memaafkannya"


...----------------...


"Daniel ini rumahnya Tamara, kok rumahnya sangat kecil dan_"


Daniel langsung menyela nya tak mau mendengar terusannya, karena Daniel tahu apa yang akan dibicarakan Hans "Sudah jangan banyak bicara, kalau kamu tidak mau masuk ke dalam rumahnya ya sudah tak masalah. Biar aku saja yang menemuinya. Kamu tunggu disini ya "


"Tidak aku akan ikut saja ke rumahnya, aku sudah berjanji kan akan terus menemanimu maka aku akan ikut. Tidak mungkin aku menunggu di sini takut juga rumahnya sepi sekali dan terpencil. Aku ini bukan anak pemberani Daniel "


"Ya sudah ayo, kalau mau ikut "


Mereka berdua berjalan dengan perlahan ke arah rumah Tamara. Memang rumahnya sangat sederhana sekali, tapi Daniel sama sekali tidak ingin mencela ataupun merasa jijik, yang terpenting kan punya rumah.


Tok tok tok


Daniel mengetuk pintunya beberapa kali. Menunggu orang yang di dalam membuka pintu, dari tadi Daniel dan juga Hans menunggu Tamara sampai masuk beberapa menit dulu. Karena mereka tidak mau terlihat mengikuti Tamara.


"Daniel Hans kalian kenapa ada di sini "ucap Tamara dengan kaget, Tamara juga melihat kearah sekitar takut ada teman yang lainnya.


"Kami hanya ingin main. Apakah boleh kami main ke rumahmu Tamara. Kami hanya berdua saja tak membawa siapa-siapa lagi " Lucas yang mengerti langsung saja mengatakannya.


Tamara langsung menutup pintunya "Tapi rumahku tidak sebagus rumah kalian. Aku tidak mau kalian tidak nyaman di sini, lebih baik kalian pulang saja. Bukannya aku tidak sopan tapi rumahku tidak pantas untuk kalian berdua. Kalian ini adalah orang berada dan rumah kalian itu bagus-bagus. Mana mungkin kalian mau masuk ke dalam rumahku yang seperti ini"


Daniel memegang kedua bahu Tamara. Daniel akan meyakinkannya"Aku tidak pernah membedakan orang dari rumahnya. Semuanya sama di mata Allah tidak ada yang berbeda. Aku juga tidak akan mungkin mencela rumahmu. Yang penting punya rumah kan. Boleh aku main ke rumahmu kalau masih tidak boleh ya tidak masalah aku dan Hans akan pulang saja "


Tamara menundukan kepalanya sambil berfikir, tapi Tamara tidak mau kalau mereka berdua sampai pergi, nanti malah Daniel dan juga Hans tidak mau menemaninya lagi, semenjak Tamara dekat dengan Daniel dan juga Hans anak-anak yang selalu membully nya tidak ada, bukannya mau memanfaatkan mereka berdua tapi hidup Tamara menjadi sedikit lebih tenang.


"Baiklah kalian masuk ke dalam rumahku, tapi mohon maaf rumahku ini berantakan sekali"


"Tidak masalah, aku tak akan protes sama sekali "


Tidak lama kemudian datang seorang nenek-nenek sambil membawa teh, tapi tatapannya langsung tertuju pada Daniel. Teh yang dia pegang sampai terjatuh dan gelasnya pecah.


Daniel yang melihat itu menjadi bingung kenapa sampai kaget melihat Daniel. Apakah ada yang salah dengan Daniel.


"Nenek kenapa, apa Nenek sakit. Kalau sakit ya sudah ayo kita kekamar lagi "


Neneknya Tamara masih diam saja, dia masih menatap wajah Daniel dengan sangat lekat. Hans yang melihat itu langsung berbisik pada Daniel "Apa kamu mengenal nenek-nenek itu ? Kenapa dia menatapku seperti itu apa ada yang salah denganmu Daniel"


Daniel hanya menggelengkan kepalanya saja. Ini baru pertama kali Daniel bertemu dengan nenek-nenek ini, tapi sepertinya nenek-nenek ini takut pada Daniel. Memangnya wajah Daniel menyeramkan padahal kata Mamanya Daniel itu tampan tidak menyeramkan, tapi kenapa nenek-nenek ini seperti sangat ketakutan.


Tamara yang sudah membereskan pecahan beling itu mengguncang tangan neneknya "Nek kenapa, ini teman-temanku Daniel juga Hans. Mereka ingin bermain kesini. Nenek kenapa sih aku jadi khawatir sama nenek"


Neneknya langsung tersadar dan menatap cucunya "Ini teman-temanmu, mereka berdua temanmu Tamara? "


"Iya mereka berdua temanku nenek. Apakah Nenek baik-baik saja" Tamara masih khawatir sekali.


"Nenek baik-baik saja, akan nenek siapkan makanan untuk kalian. Nenek akan ke dapur dulu ya "


"Iya nek"


"Ayo kalian duduk di sini dulu ga papa kan duduk di bawah aku bantu nenek dulu ya"


"Iya ga masalah"


Daniel menarik tangan Hans untuk segera duduk, Daniel melihat foto-foto yang terpajang di tembok itu, foto saat Tamara kecil dan juga neneknya tapi tak terlihat wajah Ibu dan juga Ayahnya Tamara, ya maksudnya fotonya mungkin ada kan tapi ini tidak ada sama sekali.


"Kenapa kamu sampai mau datang ke rumah Tamara, ada apa sih sampai harus kesini "


Daniel langsung menatap kearah Hans" Aku hanya ingin membantunya saja, tapi aku ingin melihat dulu keadaannya. Apakah benar-benar keadaannya seperti yang diceritakan Tamara dan kamu. Kamu tahu sendiri kan pakaiannya berbeda dari yang lain. Aku hanya ingin memberikannya sedikit bantuan"


"Baiklah sekarang aku mengerti. Jadi kenapa kamu sampai mau datang ke sini, sebelumnya kamu sudah menjelaskan ini belum ya padaku. Aku sampai lupa tahu "


"Entahlah aku juga tidak memikirkan itu, tak masalah kalaupun sudah aku bicara denganmu "

__ADS_1


Tamara datang kembali bersama neneknya membawa camilan dan juga teh hangat. Daniel langsung meminumnya. Hans awalnya ragu tapi karena melihat Daniel yang baik-baik saja meminum teh itu juga.


Memang Hans ini anaknya sangat pemilih. Tapi setelah berteman dengan Daniel apa yang Daniel makan atau minum pasti Hans akan lakukan. Entah kenapa Hans rasannya ingin mencobanya juga.


"Maaf ya di rumah nenek hanya seadanya tidak ada apa-apa"


"Tidak masalahnya. Apakah Nenek sebelumnya mengenalku atau kita pernah bertemu "tiba-tiba saja Daniel bertanya seperti itu. Masih penasaran saja dengan respon Neneknya Tamara itu.


Nenek itu langsung menggelengkan kepalanya "Tidak hanya saja wajahmu mirip seseorang, ya hanya mirip "


"Seseorang yang membuat nenek takut ya "


"Tidak ada, tidak ada orang yang membuat aku takut. Tapi aku hanya kaget saja sampai menumpahkan teh yang aku bawa "


"Lalu apakah boleh nanti orang tuaku datang kemari"


Wajah nenek itu langsung pucat saat mendengar Daniel akan membawa orang tuanya "Untuk apa kamu membawa orang tuamu. Sepertinya tidak usah "


"Hanya untuk berkunjung saja menjalin silaturahmi. Mungkin kita bisa menjadi akrab nantinya Nenek "


"Jangan bawa orang tuamu kemari, mereka tidak akan suka dengan rumah nenek. Bukannya nenek tidak mau menjalin silaturahmi hanya saja nenek tidak mau sampai mereka tidak suka dengan tempat nenek ini. Rumah nenek ini selalu berantakan "


Daniel hanya diam saja dia tidak menjawab. Hans yang masih bingung dengan apa yang Daniel lakukan juga diam saja. Tidak mau bertanya apa-apa juga nanti saja saat pulang baru Hans akan berbicara pada Daniel.


Sekarang waktunya tak tepat. Masa ada orangnya Hans akan bertanya. Sekarang biarkan saja Daniel untuk mengobrol dengan mereka. Hans kan hanya menemani saja.


...----------------...


"Kamu mengantarkanku pulang Daniel, lalu kamu pulang bagaimana sendiri apa tidak masalah. Apa aku perlu minta sopirku untuk mengantarkan mu. Iya aku minta sopirku saja ya untuk mengantarkan mu pulang. Aku takut terjadi sesuatu dengan kamu nantinya dijalan "


"Tidak usah Hans, aku bisa pulang sendiri. Lebih baik kamu sekarang masuk ke dalam rumah dan jangan pernah panggil sopir kamu untuk mengantarkanku pulang, aku bisa naik taksi dari sini, sudah kamu masuk ke dalam rumahmu itu aku mau pulang dan istirahat"


"Benar ya, nanti kalau ada apa-apa kamu langsung hubungi aku, kalau tidak saat sudah sampai rumah kamu juga hubungi aku ya. Aku akan menunggu kabar dari kamu Daniel. Awas jangan sampai lupa kalau lupa aku akan terus meneror mu "


"Aku ini bukan pacarmu"


"Aku tahu kita ini tidak berpacaran, tapi kita berteman kan. Aku harus tahu kabarmu apa kamu sudah sampai rumah atau tidak, karena aku tidak mau sampai kamu tiba-tiba menghilang dan orang tua kamu nanti mencari. Orang yang terakhir bersama kamu adalah aku pasti aku yang akan ditanya oleh orang tuamu. Jadi kamu harus kabari aku, awas saja kalau tidak ya"


"Baiklah aku akan mengabari mu cerewet "


Daniel langsung memberhentikan sebuah taksi dan masuk, Hans yang sudah melihat Daniel masuk dan juga mobilnya pergi memutuskan untuk masuk ke dalam rumah, mau apa lagi menunggu di luar. Hans berdoa semoga saja Daniel pulang tidak apa-apa dan tidak ada masalah apa-apa juga.


Hans sampai menerka-nerka kenapa Daniel itu sampai berani sekali pulang sendiri, naik taksi seperti itu padahal Hans tidak berani takut. Hans pasti akan meminta sopir untuk menjemputnya. Tapi Daniel dengan beraninya pulang sendiri seperti itu, naik taksi sendiri juga lagi.


Selama perjalanan pulang Daniel hanya diam. Masih memikirkan tentang neneknya Tamara yang melihat wajahnya dan juga raut wajah yang begitu kaget serta takut.


Sebenarnya ada apa, apakah neneknya Tamara pernah ada hubungan dengan Ayahnya. Kenapa Daniel langsung menyangkut pautkan dengan ayahnya karena wajahnya ini, wajahnya sangat mirip dengan ayahnya. Bahkan saat difoto masih kecil juga mereka memang mempunyai wajah yang sama sekali.


"Apakah aku harus bertanya pada ayah, tapi apakah Ayah mau menjawabnya biasanya ayah akan pelit informasi dia itu susah diajak bicara tidak seperti mama yang akan dengan cepat menjawab" gumam Daniel


"Sudah Pak di sini saja. Ini rumahku"


"Baik dek"


Daniel memberikan beberapa lembar uang dan turun dari dalam taksi. Gerbang langsung dibuka. Daniel langsung masuk tanpa menjawab sapaan dari orang yang membuka gerbang rumahnya itu.


"Kakak kenapa jam segini baru pulang, aku jadi tidak ada teman bersepeda. Kamu ini dari mana saja ini sudah sore loh"


Daniel hanya menatap adiknya sekilas "Aku ada pekerjaan. Aku ada PR makanya pulang jam segini aku juga sudah izin pada Mama "


"Hemm, baiklah jutek sekali kayak perempuan deh kakak ini "


Daniel tak menggubris kata-kata dari adiknya. Daniel langsung masuk saja kedalam rumah. Alexander yang melihat kakaknya cuek padanya menghentakkan kakinya, menyebalkan sekali kakaknya ini lagi baik-baik, lagi nyebelin nyebelin sekarang kakaknya lagi mode nyebelin awas aja.


"Awas aja kalau kakak mengajakku bersepeda keluar, aku tidak akan mau. Nyebelin banget deh padahal kan bisa jawab dengan baik-baik sambil senyum"


Alex masuk kedalam rumah juga. Akan mengadukan sikap kakaknya ini pada Mamanya, lihat saja nanti pasti Mamanya akan datang ke kamar kakaknya dan bicara tentang masalah ini.


"Mama, kamu dimana aku ingin bicara Mama "


Alex berlari kesana kemari mencari Mamanya tapi tak ada "Mama kemana sih "

__ADS_1


Alex yang lelah membaringkan tubuhnya dilantai. Ternyata lelah juga mengelilingi rumahnya ini. Mamanya sebenarnya ada diruangan mana sulit sekali mencarinya.


__ADS_2