Psychopath 2

Psychopath 2
Bab 217 Membuat curiga saja


__ADS_3

"Kemarilah Tamara nenek ingin memperlihatkan sesuatu "


Tamara dengan langkah yang gontai mendekati neneknya. Neneknya membuka sebuah album usang. Tamara yang penasaran membantu neneknya membersihkannya.


"Lihat ini kamu masih tidak percaya kalau wajah Daniel mirip dengan Lucas. Nenek tidak pernah salah kalau ini adalah orang yang telah membuat ibu kamu meninggal, bahkan menghancurkannya sampai-sampai semua harta ibu kamu disita"


Tamara membuka satu persatu album itu, Tamara masih tak percaya tapi sekarang buktinya ada dihadapannya.


"Seharusnya kamu lebih percaya pada nenek dan seharusnya kamu sekarang adalah membalaskan semua rasa sakit yang pernah ibu kamu rasakan, membalas kematian ibu kamu itu pada Daniel. Kamu harus bisa membalas semuanya "


Tamara menatap neneknya "Apakah harus dibalas nenek "


"Tentu saja harus dibalas, nyawa harus dibalas dengan nyawa juga. Kamu memangnya rela Ibu kamu meninggal seperti ini"


"Kalau nenek jadi kamu, nenek anak membalasnya nenek tak akan membiarkan ini semua terjadi. Nenek tak akan membiarkan orang-orang itu lengah " bibi Merry terus saja mengatakan hal-hal seperti itu agar Tamara mau membalas semuanya. Agar rasa bersalahnya juga pada Tamara hilang.


"Kamu adalah anak satu-satunya Tamara, maka kamu harus membalas semuanya. Kalau saja ibu kamu ada kamu tidak akan seperti ini. Kamu tidak akan mendapatkan sumbangan pakaian dari Daniel dari keluarganya, kamu akan hidup bahagia"


"Ingat, apa yang nenek katakan tidak pernah salah sayang. Jadi jangan pernah memberi maaf pada orang yang telah menyakiti keluarga kamu "


Dalam hati Tamara sekarang terbentuk rasa benci, tapi Tamara tak mau menyakiti Daniel, Daniel adalah teman pertamanya yang mau ada disamping Tamara juga.


"Bisa saja Daniel baik itu karena suruhan Ayahnya kan, bisa saja dia merasa bersalah makanya menyuruh anaknya untuk baik padamu. Dia tidak mungkin tidak tahu dirimu Tamara. Dia itu orang pintar Lucas tahu segalanya "


"Kamu harus membalas kan semua ini dari dalam, jangan sampai mereka tahu kalau kamu lah orang yang akan mencelakai mereka"


"Tapi nenek aku takut " ucap Tamara dengan suara yang pelan.


"Kenapa harus takut, apa yang membuat kamu takut jangan takut ada nenek yang akan terus mendukung kamu. Kamu tak usah takut ya "


Tamara menatap mata neneknya, apakah Tamara harus mengikuti kemauan neneknya. Tapi kalau ketahuan bagaimana, Tamara takut Daniel membencinya. Tamara tak mau sampai Daniel benci padanya dan menjauhinya.


Bibi Merry mengenggam tangan Tamara, seperti memberi semangat "Tenang semuanya akan baik-baik saja, asalkan kamu percaya kalau kamu bisa membalas ini semua. Membalas rasa sakit ibumu. Nenek yakin ibumu akan bangga"


"Satu lagi nenek akan jawab kenapa makam ibumu tidak ada, karena Lucas telah membakar ibumu. Ibumu tidak dikuburkan dengan layak tapi dia dibakar setelah melahirkan kamu, begitu miris kan menjadi ibumu, apakah kamu tidak marah Tamara ? "


Tamara malah menangis mendengar itu semua. Tamara binggung, Tamara tidak mau ada balas dendam balas dendam.

__ADS_1


"Tapi nenek aku takut, aku tidak mau melakukan itu "


Tamara mengelengkan kepalanya dengan kuat. Tapi Bibi Merry mencengkram dengan erat bahu Tamara "Kamu harus bisa, kamu harus mau ingat kamu harus membalas semua rasa sakit itu "


Tamara melepaskan cengkeraman tangan neneknya dan berlari masuk kedalam kamar, Tamara menangis dengan kencang. Fikirannya begitu penuh sekali dan binggung.


...----------------...


Keesokan harinya Tamara mendekati Daniel yang sedang sendirian didalam kelas Tamara duduk disamping Daniel.


Daniel hanya menatap sekilas dan kembali menulis"Aku ingin bertanya pada mu Daniel "


"Apa tanyakan saja, selagi aku bisa menjawab maka aku akan menjawabnya"


"Jika kamu ada di posisiku. Ibuku dihabisi oleh seseorang apakah kamu akan membalas semuanya? "


Daniel menyimpan pensilnya dan menatap Tamara"Tentu aku akan membalaskan semuanya, kenapa aku harus membiarkan orang itu untuk hidup nyaman. Aku tidak akan pernah melepaskannya sampai kapanpun akan aku habisi sampai ke akar-akarnya"


"Benarkah, lalu bagaimana jika orang yang akan kamu habisi itu adalah orang terdekatmu sendiri"


Tamara yang ditatap seperti itu langsung gugup "Ya misalkan, aku kan sedang bertanya kepadamu. Kalau orang terdekat bagaimana apa kamu akan tetap menghabisinya sampai ke akar-akarnya, seperti yang apa kamu bicarakan tadi"


"Tentu aku akan melakukannya. Ada yang ingin kamu tanyakan lagi "


"Tidak ada hanya itu saja, aku sedang binggung makannya aku bertanya ini padamu "


Daniel hanya diam saja, dia masih menatap wajah Tamara dengan curiga. Daniel benar-benar curiga dengan Tamara. Entah kenapa instingnya mengatakan kalau Tamara akan berbahaya untuknya nanti.


"Kenapa kamu terus menatapku seperti itu, tatapanmu itu sangat menakutkan "


Daniel belum bergeming juga, tatapannya masih sama sampai ada yang menepuk bahu Daniel "Daniel kamu kenapa "


Daniel langsung mengalihkan pandanganya pada Sela, lalu menarik tangan Sela keluar dari dalam kelas. Sedangkan Tamara diam dikelas. Apakah dia salah bertanya seperti itu pada Daniel.


Apakah Daniel sudah tahu tentang Ayahnya yang menghabisi ibunya, seperti yang neneknya katakan. Bagaimana ini Tamara jadi takut sekali.


...----------------...

__ADS_1


"Kenapa kamu membawaku kemari " tanya Sela yang kebingungan sampai-sampai Sela meninggalkan Vio.


"Tidak, aku hanya sedang mencurigai Tamara "


"Karena apa kamu curiga dengan Tamara "


"Pertanyaannya, pokoknya membuat aku curiga"


"Sepertinya tidak baik kalau kita berbicara di sini bagaimana kalau dia ada dan mendengarkannya. Kamu juga membuat aku meninggalkan temanku Vio"


"Benarkah mana dia "


Daniel langsung mencari keberadaan Vio ternyata dia baru datang dan mendekati Sela "Sela lari kamu kencang sekali sampai-sampai aku tak bisa mengejarnya"


"Tuh gara-gara Daniel tarik-tarik aku "


"Maaf ya, aku kira kamu ga ikutin Sela " ucap Daniel sambil menatap mata Vio.


"Oh iya ga apa-apa. Jadi Sela kita akan kerja kelompok dimana "


"Ajak aja ke rumah Sela " lagi-lagi Daniel yang menjawab.


Sela malah makin curiga dengan Daniel yang sepertinya memang Daniel tertarik dengan Vio " Baiklah aku akan membawa Vio ke rumah dan kamu bisa sepuasnya menatap matanya"


Vio langsung menundukan kepalanya karena malu mendengar ucapan Sela. Sedangkan Daniel langsung menoyor kepala Sela dan langsung pergi begitu saja.


"Kamu Sela ada-ada saja lihat temen kamu pergi "


Sela langsung mengandeng Vio dan menariknya kearah tempat ramai "Kayaknya emang Daniel itu suka sama kamu terima aja kali"


"Ahh ga mungkin deh, itu cuman perasaan kamu aja "


"Ih beneran, nanti kita buktiin ya. Kalau aku bener kamu harus terakhir aku gimana "


Vio lagi-lagi tersenyum dan menganggukan kepalanya "Baiklah "


"Cie cie "Sela terus saja menggoda temannya itu.

__ADS_1


__ADS_2