
Kikan yang membuka mata melihat kearah ayahnya yang berada tepat di hadapannya, "ayah tadi aku bertemu ibu tapi dia tak mau berbicara denganku dia hanya diam sambil melihat ke sebuah cahaya dan menyuruhku untuk berjalan ke sana." ucap Kikan yang belum menyadari di ruang operasi tersebut tak ada siapapun selain ayahnya dan perutnya yang sudah tidak buncit lagi
Profesor Abdullah langsung memeluk putrinya dengan haru "terimakasih sayangku." ucap profesor Abdullah
Kikan yang baru menyadari bahwa perutnya sudah rata langsung terlihat panik "ayah apa yang terjadi di mana anak-anak ku." ucap Kikan
"Tenanglah sayang anak-anak mu baik-baik saja mereka sudah di pindahkan ke kamar kalian di sana banyak yang menjaga." ucap profesor Abdullah
"Ayah di mana suamiku kenapa dia tak ada aku ingin bertemu dengannya." ucap Kikan
__ADS_1
Profesor Abdullah menghembuskan nafasnya kasar tunggu sebentar ayah akan menghubunginya." ucap profesor Abdullah mengalah dari ke keegoisannya
Profesor Abdullah mengeluarkan ponselnya lalu menekan nomor stuart, Sementara itu di ruang kerja tampak luar Sedang berpikir keras tapi saat dia Sedang berpikir tiba-tiba ponselnya berdering dan saat dia melihatnya ternyata itu dari sang ayah mertua itu bergegas mengangkat ponselnya " halo Ayah ada apa." tanya stuart, "kemarilah." ucap singkat profesor Abdullah lalu menutup panggilan telepon
Stuart bergegas keluar menuju ke ruangan operasi di mana kikan dan profesor Abdullah berada, para pengawal tampak memberi hormat pada Stuart yang sudah berada di depan ruangan operasi Stuart langsung masuk ke dalam betapa terkejutnya saat melihat Kikan sudah sadar dan langsung tersenyum ke arahnya membuat dirinya yang tadi sangat gelisah dan banyak pikiran menjadi rileks dan sangat bahagia "sayang kau sudah sadar." ucap Kikan langsung bergegas memeluk tubuh istrinya tanpa menyadari tatapan mata mertuanya yang sedikit kesal padanya
" Iya sayang kenapa kau menangis dan kenapa kau meninggalkanku tadi." tanyakan yang berpikir bahwa stuart meninggalkannya
"Pasti mereka sangat lucu-lucu dan imut aku harap wajah anak perempuan kita akan seperti wajahku." ucap kikan
__ADS_1
Stuart menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena dia tidak sempat melihat wajah anak-anaknya dengan teliti tadi hanya melihat sepintas karena sangat mengkhawatirkan keadaan kikan apalagi tadi asisten datang dan langsung mengatakan ingin berbicara empat mata dengan sehingga dia tak sempat kembali ke kamar, " Tentu saja dia sangat mirip denganmu." ucap stuart penuh percaya diri
"Sayang apakah kau menginginkan sesuatu." tanya profesor Abdullah
"Aku haus ayah." ucap Kikan, dengan gerakan cepat Stuart langsung mengambil air yang terletak di atas meja dekat tempat kikan tidur karena alat-alat operasi yang di gunakan tadi sudah di rapikan dan di pindahkan membuat tersebut menjadi ruangan istirahat untuk pasien , profesor Abdullah semakin kesal pada stuart padahal tangannya juga sudah akan mengambil air tersebut hanya saja stuart lebih cepat sedikit, dengan telaten stuart membantu istrinya minum
"Sayang cepatlah sehat agar kau bisa melihat anak-anak kita mereka sangat mirip denganmu." ucap stuart memberikan semangat pada kikan
"Ayah sebaiknya Ayah beristirahat biar malam ini aku yang akan menjaga Kikan di sini sepertinya Ayah sangat kelelahan kebetulan aku sudah menyiapkan ruangan istirahat khusus untuk ayah di sebelah sehingga ayah akan dengan mudah mengetahui jika terjadi sesuatu pada kikan." ucap ucap stuart berusaha mengambil hati mertuanya
__ADS_1
Tak ada kata yang keluar dari mulut profesor Abdullah dia langsung keluar begitu saja tak ingin membuat matanya tambah sakit melihat ke dua orang yang Sedang kasmaran di hadapannya .
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya