Rahasia Cinta Pria Impoten

Rahasia Cinta Pria Impoten
564


__ADS_3

Kini Dewi sudah berada di kamar dan sang kakek "Sebenarnya apa yang terjadi kenapa bisa kau berakhir di semak-semak." tanya kakek Dewi, saat Dewi sudah duduk di hadapannya


"Aku juga tidak tahu Kakek saat aku melihat dokter intan sudah tergeletak aku berniat keluar untuk pergi ke kamar yang kakek berikan kuncinya Tapi saat keluar pintu aku tak sadarkan diri seperti ada bayangan yang memukul ku." ucap dewi


Baiklah sebaiknya Ayo kita cek kamar nomor 9 karena aku membawa komandan ke kamar itu ucap kakek Dewi lalu mereka keluar bersama menuju kamar 9 Untung saja kamar Itu tepat di sebelah kamar sang kakek sehingga mereka dengan leluasa menuju kamar tersebut Tapi saat akan membuka pintu ternyata pintu itu terkunci membuat Dewi dan kakeknya saling menatap "bukankah kau bilang kuncinya hilang seharusnya jika kunci itu tak ada Maka pintu ini akan bisa terbuka karena tidak terkunci dan kuncinya hanya yang aku berikan padamu." ucap sang kakek


Dewi terllihat panik mendengar perkataan sang kakek, " jadi kakek apa yang harus kita lakukan, komandan di dalam bersama siapa ." tanya Dewi dengan frustasi


Kakek juga tidak tau tidak mungkin kita memaksa masuk ke dalam kamar tengah malam begini apalagi ini bukan kediaman kita, sebaiknya kita menunggu besok pagi saja." ucap kakek Dewi dia juga bingung harus berbuat apa, Apalagi ini adalah kediaman keluarga huges dia tak bisa seenaknya


"Tidak kakek aku tak mau ke mana-mana aku harus tau apa yang terjadi di dalam kamar aku tak mau komandan di miliki oleh siapapun selain aku." ucap Dewi berniat mengetuk pintu kamar tersebut, tapi kakek Dewi langsung menahannya


Apa kau gila ini kediaman keluarga huges jika kita Membuat keributan kita akan langsung di usir apa kau mau mempermalukan dirimu sendiri, bisa saja di dalam komandan sendiri, siapa tau salah seorang penjaga menemukan kunci itu dan berinisiatif mengunci pintu dan menyerahkan pada kepala pelayan berpikir tak ada orang di dalam kamar." ucap Kakek Dewi berusaha menenangkan Dewi dengan berpikir positif


Dewi sedikit tenang mendengar penjelasan kakeknya tapi kemudian Dia teringat dengan dokter intan "tapi di mana dokter intan seharusnya kan orang akan panik karena dokter indah intan terkena racun tapi di mana saat ini Dokter intan." tanya Dewi


Kakek langsung teringat setelah makan malam berakhir tak ada yang melihat keberadaan dokter intan ataupun yang lain tapi tak ada yang panik atau mencari dokter intan atau menemukan dokter intan di kamar mandi di mana seharusnya dia berada di kamar mandi tergeletak tak berdaya setelah disengat oleh kalajengking beracun yang dia sudah siapakan

__ADS_1


"Apa kau yakin saat di kamar mandi dokter intan sudah disengat oleh kalajengking beracun dan sudah tergeletak tak berdaya." tanya kakek Dewi


"Iya aku yakin kakek karena aku yang melihat sendiri saat dia jatuh tergeletak tak berdaya di lantai kamar mandi setelah aku perlihatkan jatuh aku pun bergegas pergi tanpa memperdulikannya lagi." ucap Dewi


"Terus di mana dokter intan jika memang dia terkena racun dan tergeletak di kamar mandi pasti ada seseorang menemukannya apalagi racun kalajengking akan langsung membunuh seseorang jika tak segera di berikan penawar dalam beberapa menit, dan penawar kalajengking hanya ada padaku tak mungkin ada pada orang lain kecuali dia adalah pencipta penawar racun itu." ucap kakek dewi yang sedikit penasaran dengan keberadaan dokter intan


"Aku pikir kakek yang bener seseorang untuk menyingkirkan mayat dokter intan." ucap Dewi


"Kakek memang menyuruh bawahan kakek untuk mengecek kamar mandi di mana kau berada Tapi tak ada siapapun di sana jadi aku pikir mungkin kau sudah melakukannya sehingga kakek tenang-tenang saja tak pernah berpikir bahwa kau berada di semak-semak di dekat kamar mandi tersebut." ucap Kakek Dewi


"Sudahlah percaya pada kakek sebaiknya kita beristirahat besok pagi kita akan mengetahui apa yang sedang terjadi." ucap kakek Dewi lalu kembali ke kamarnya bersama Dewi, untuk beristirahat


Sementara di dalam kamar tampak dua orang sejoli tidur di bawah satu selimut yang sama dengan tubuh tanpa sehelai benang pun mereka begitu menikmati malam panjang berdua saling berpelukan


Sementara itu di dalam kamar tua dan Kikan nampak kedua pasangan suami itu masih berbincang-bincang setelah tadi putrinya bangun, "sayang dari mana Sayang kau tahu bahwa dokter itu akan diracun." tanya Kikan


"Apa sih yang suamimu ini tidak tahu semuanya juga aku tahu." ucap Stuart menyombongkan diri

__ADS_1


"Sudahlah Ayo kita tidur besok pagi kita harus melakukan sesuatu yang berfaedah untuk kelangsungan kehidupan seseorang." ucap kikan menarik selimutnya lalu tidur


Sementara itu di sebuah ruangan tampak dua orang kakek tua sedang minum di sebuah ruangan "ha ha ha aku tak percaya cucumu begitu cerdas dan sangat sopan ." ucap kakek dokter intan


Aku juga tak menyangka bahwa cucu mu cantik dan cerdas, mengingat kau yang hanya suka dengan ilmu bela diri." ucap kakek komandan, ya ke dua orang tua tersebut sedang minum bersama merayakan pertemuan mereka untuk kesekian kalinya


"Tapi di mana cucumu sejak selesai makan malam sampai saat ini aku belum melihatnya." tanya kakek komandan


"Aku juga tidak tau di mana keberadaannya aku juga mencarinya tapi tak menemukannya aku pikir mereka pergi bersama untuk mencari udara segar karna aku pun tak melihat cucumu setelah acara selesai." ucap kakek dokter intan


"Memang anak muda jaman sekarang kalau ada kesempatan selalu ingin berdua sebaiknya kita akhiri acar malam ini aku harus beristirahat karena besok siang aku harus melakukan operasi pada seseorang." ucap kakek komandan


"Kau benar aku juga butuh istirahat karena sebelum kembali aku harus mengajukan pertanyaan pada pasangan itu agar aku tau apa mereka saling suka atau hanya karena keadaan." ucap kakek intan


"lakukan apapun yang kau inginkan baiklah aku kembali ke kamar ku dulu." ucap kakek komandan lalu pergi meninggalkan kakek dokter intan yang nampak ikut berdiri untuk pergi dari ruangan tersebut.


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya

__ADS_1


__ADS_2