
Pagi hari yang dingin dengan hujan yang deras menemani pagi Diandra hari ini. Dinginnya cuaca pagi ini menusuk ke tulang tulang, belum lagi syndrom kehamilan yang membuat wanita itu harus mengalami morning sickness yang cukup parah.
"Huweekkk.... Huweekkk.... Huweeekkk... eghh... uhuk... uhuk..." Diandra muntah muntah di dalam kamar mandi kepalanya terasa pusing dan berat, seminggu terakhir dia mengalami morning sickness yang sangat parah membuatnya tak bisa beraktivitas dengan baik di pagi hari.
"Huweekkk.... Huweekkk..." Untuk kesekian kalinya wanita itu muntah muntah lagi, wajah dan tubuhnya sampai berkeringat, bibir ya kering dan tangannya terasa dingin.
" Kak... David... " lirih wanita itu.
Sementara itu di dalam kamarnya yang tenang, Aiden dan Mikha baru saja terbangun setelah mendapatkan panggilan dari Jerman. Sudah tiga Minggu berlalu sejak pria itu di rawat di Jerman dan belum pernah menghubungi Diandra secara langsung, dia hanya mengirim beberapa pesan teks pada istrinya.
"Halo nak, kamu sidah baikan ? ada apa? kenapa telpon pagi pagi?" tanya Mikha.
"Ma tolong lihat Diandra, David rasa Dian lagi kesulitan Sekarang, tolong bantu dia," ucap David dari seberang sana.
"Hah? Diandra? Kenapa kau tidak pernah menghubungi istrimu? dia sangat menderita disini nak, kau harus cepat sehat, kasihan Diandra, kau tinggalkan dia tiga Minggu dalam kebingungan, dia akan kecewa kalau kau tidak memberitahukan dia yang sebenarnya!" ucap Mikha dengan tegas.
"Aku tau Ma, tapi aku takut Diandra dalam bahaya kalau tau aku tertusuk," ucap David.
"Hufftt.... cepatlah pulang, jangan rahasiakan lebih lama lagi dari istrimu, jika dia sampai tau dari orang lain dia bisa kecewa nak, " nasehat Mikha.
"Baik Ma, dan terimakasih" ucap pria itu sambil mengakhiri panggilannya.
"Ada apa sayang?" tanya Aiden.
"Aku diminta melihat menantu kita Papi, sebentar aku lihat Diandra dulu," ucap Mikha .
"Papi ikut," ucap Aiden langsung bangkit dari tempat tidur.
Keduanya langsung beranjak menuju kamar Diandra dan David, pelan pelan Mikha membuka kamar yang tidak pernah dikunci itu.
Prang...
"Uhuk... uhuk... Huweekkk"
Mereka berdua saling menatap saat mendengar suara benda jatuh, sontak keduanya berlari menuju sumber suara itu.
"Astaga Diandra!" ucap mereka berdua saat melihat kamar mandi berantakan dan Diandra dengan tubuh lemahnya duduk di dekat toilet.
Mikha langsung menopang tubuh Diandra, "Papi Panggilkan Aurel!" teriak Mikha.
Mikha membawa tubuh menantunya ke atas tempat tidur dan mengeringkan wajah Diandra dengan handuk kering.
__ADS_1
"Nak.... kenapa tidak panggil kami sayang?" tanya Mikha dengan mata berkaca-kaca melihat keadaan menantunya.
"Mami... Dian mau kak David... please bawa Dian sama kak David..." Ucap Wanita itu sambil menangis di atas tempat tidur dengan tubuhnya yang lemah.
"Sebentar lagi ya nak, sebentar lagi Mami akan menyeret suamimu ke Indonesia, sabar sayang, Mami akan membawanya pulang," ucap Mikha yang tak bisa lagi melihat keadaan menantunya semenyedihkan itu.
Aurel datang bersama Aiden, dengan cepat dokter itu memeriksa keadaan Diandra.
"Morning sickness yang cukup parah tapi akan membaik dengan istirahat, Aku buatkan makan pagi dulu biar perutnya berisi," ucap Aurel.
"Tolong ya nak," ucap Aiden.
"Iya Papi," jawab Aurel lembut.
"Kapan kak David pulang Ma? Kenapa lama sekali?" lirih Diandra dengan suara bergetar.
"Sebentar lagi nak, Papi akan membawanya pulang, kamu tunggu saja ya nak," ucap Aiden sambil mengeraskan rahangnya .
" Apa lagi yang ditunggu anak bodoh itu!" batin Aiden.
Sementara itu di Jerman, David tidak merasa tenang dalam tidurnya, dia terbangun dini hari karena mengingat istrinya.
Gelisah, takut dan sedih, itu yang dirasakan oleh David saat ini. Sebenarnya dia sudah bisa pulang namun beberapa hal mendesak menahannya di Jerman.
David tak bisa tidur, dia menghubungi pilot pribadinya, dia harus segera pulang ke Indonesia, tak bisa lagi berlama lama, hatinya dan pikirannya gelisah jika tak bertemu dengan istrinya.
David menyiapkan barangnya, ada proyek besar bernilai Triliunan yang sebenarnya menunggunya dan akan cukup berdampak bagi bisnisnya jika dia menerimanya itu menggiurkan memang, namun Diandra tak bisa digantikan dengan uang uang itu.
"Aku akan melepaskan bisnis itu, bisnis lain bisa dicari tetapi kalau sampai terjadi apa apa pada Istri dan anakku, aku mau cari kemana?" batin David.
Dia keluar dari kamarnya, semua orang di rumah itu sudah terlelap. David pergi dari rumahnya menuju bandara pribadi miliknya.
Tanpa membuang waktu dia langsung berangkat ke Indonesia tanpa menunggu persetujuan dari sahabat sahabat nya, dia membawa serta obatnya dan keperluan lainnya.
"Tunggu aku sayang, aku pulang, aku akan cepat sampai," ucap David di dalam hati.
Sepanjang perjalanan dia tak bisa terlelap, dalam pikirannya hanya ada Diandra dan calon bayi mereka.
"Betapa kesepian nya dirimu tanpa kami disana, maafkan aku, aku pasti akan menceritakan semuanya padamu, maaf sayang," ucap David.
Pria itu pun menulis pernyataan mengenai kerja sama bernilai triliunan, dia menyebutkan alasan kenapa dia tidak bisa melanjutkan kerja sama itu, Alasan utamanya adalah istri dan anaknya.
__ADS_1
Dia melakukan perjalanan selama berjam jam menuju Indonesia
"aku bawa apa ya untuk Diandra?" pikir David.
"Mangga muda? kenapa aku terpikir kesana? aku bawa saja, tapi aku harus mencarinya di Indonesia," batin pria itu.
Sementara itu di mansion David terjadi keributan, Otniel yang hendak membangunkan David terbelalak saat mendapati kamar itu kosong dan David hanya meninggalkan sebuah pesan dalam secarik kertas.
..."Aku pulang, Diandra membutuhkan ku, maaf tak bilang pada kalian!"...
...-David-...
"Ck... si kunyuk ini, kangen istri malah ninggalin sahabat sahabatnya begitu saja, dasar si kampret, huh.... tapi keadaan Diandra memang sedikit mengkhawatirkan, " ucap Otniel sambil menghela nafas kasar.
"Baiklah kalau begitu, aku akan melanjutkan kisi menjodohkan Vasko dengan Joy untuk memenuhi permintaan Diandra heheheh..." Otniel tersenyum dengan seringai liciknya, entah apa yang akan dilakukan pria licik ini yang pasti dia akan mengaduk aduk perasaan Vasko dan Joy.
Di Indonesia, Keadaan Diandra mulai membaik, dia makan dengan benar dan cukup gizi meskipun dia harus memaksakan dirinya untuk makan demi anaknya.
Wanita itu duduk sendirian di balkon kamarnya, seharian penuh dia berada di dalam kamar, tak ingin keluar dan melakukan aktivitas apa pun .
"Mangga... haishhh kenapa aku tiba tiba mau mangga ya? seandainya kak David pulang, aku bisa memintanya mencari mangga, sabar ya sayang, Papa masih di Jerman," ucap Diandra sambil mengusap perutnya yang mulai membesar.
"Kamu mau lihat foto Papa ya? kangen ya Sama Papa?" ucap Diandra lagi.
Dia mengeluarkan ponselnya, membuka galeri foto dan melihat foto suaminya untuk mengobati rasa rindu pada sang suami.
Dia duduk disana sampai hari berubah menjadi malam, tubuhnya dia bungkus dengan selimut, dia terlelap setelah memandang langit seharian.
Cuaca tak lagi sedingin tadi pagi, Diandra terlelap dalam dunia mimpinya.
Ceklek...
Pintu kamarnya di buka, langkah kaki seseorang terdengar memasuki ruangan itu.
.
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen 😉😉