Suamiku Si Tampan Buruk Rupa

Suamiku Si Tampan Buruk Rupa
Bella pulang


__ADS_3

David menekan perutnya yang terasa sangat nyeri, para dokter spesialis segera menangani David dan memberikan pertolongan untuk pria itu.


Joel panik namun dia tak bisa apa apa, dia hanya berharap dokter dengan cepat menangani sahabatnya.


David kembali di periksa, dan luka jahitannya terbuka membuat dokter mengambil tindakan selanjutnya, beberapa menit melakukan pemeriksaan akhirnya David kembali terlelap setelah Dokter memberinya obat penenang sekaligus pereda nyeri.


“Tuan, maaf sebelumnya, tuan David tidak boleh memaksakan diri untuk banyak berbicara, dia juga belum bisa banyak bergerak, jika begini terus, luka operasinya bisa semakin parah tubuhnya masih dalam penyesuaian dengan ginjal baru, butuh waktu sekitar 3 minggu agar tuan David benar benar pulih.


“Apa selama itu dok? Tak bisa kah dipercepat?” tanya Joel yang malah jadi khawatir dengan keadaan Diandra dan David jika terlalu lama berpisah, dia takut kalau Diandra akan curiga.


“Jika pasien fokus dengan kesehatannya, dalam dua minggu mungkin sudah bisa rawat jalan dan mengonsumsi obat obatan yang kami resepkan, intinya jangan buat dia terlalu banyak stress dan bergerak itu akan berbahaya, lukanya bisa terbuka dan tertutup berulang kali,” ucap dokter.


“Baiklah dok, mohon lakukan yang terbaik untuk David,” ucap Joel yang dijawab dengan anggukan kepala oleh dokter itu.


Setelah David diperiksa, Joel kembali masuk ke dalam kamar rawat David, dia mengambil ponsel David dan membukanya.


“Aku sebaiknya mengirim pesan pada Diandra supaya dia tidak khawatir,” ucap Joel sambil mengirim beberapa pesan seolah olah itu dari David agar Diandra tenang di Indonesia.


“ kau harus cepat pulih bro, anak dan istrimu menunggumu di Indonesia, aku tak suka melihat adikku yang cerewet itu menangisi dirimu,” gumam Joel.


Di Indonesia, Diandra tampak kembali murung setelah menerima pesan dari suaminya yang dia pikir memang itu di kirimkan oleh David.


“Kenapa Dian? Apa ada yang salah?” tanya Otniel.


“Kak David bilang kalau mungkin dua minggu ke depan dia tak bisa menghubungiku, dia harus melakukan beberapa pekerjaan di negara lain dan berpindah pindah tempat, dia akan pulang jika semuanya sudah beres, huh.... kenap berat sekali hiks hiks hiks..” ucap diandra kembali menangis.


Otniel menepuk punggung Diandra dnegan lembut,” Sabar dek, Dia melakukan itu untuk kalian berdua, dia berusaha menyelesaikan semua pekerjaannya di Jerman agar kalian bisa bersama secepatnya, mungkin dia sudah memiliki beberapa agenda yang dia susun untuk kita, kamu jangan sedih ya,” ucap Otniel.


“Ingat kata David tadi, kamu harus kuat, kamu itu adik kakak yang hebat, buktikan kalau kamu bisa kuat tanpa David selama beberapa hari ke depan, kamu harus semangat dan jaga anak kalian dengan baik ya, “ Otniel menguatkan Diandra.


“Lagipula kita masih harus menguatkan bella kakakmu, dia pasti akan syok dengan keadaan William sekarang, jadi kamu harus kuat ya, ingat kami menjaga dan mendukungmu disini,” ucap Otniel.


“Baiklah kak, aku akan kuat, aku pasti bisa, huh... kita kembali ke dalam , “ ucap Diandra yang semangatnya kembali terkumpul.

__ADS_1


“Hmm... baiklah, kalau begitu, harus semangat ya, kamu pasti bisa, Diandra itu hebat,” ucap Otniel.


“Tentu saja hehehe,” ucap Diandra sambil tersenyum.


Mereka berdua masuk ke dalam rumah sakit yang sudah seperti rumah kedua bagi mereka sebab Diandra tak mau meninggalkan William sendirian di rumah sakit selama kakaknya Bella belum kembali.


Diandra dan Otniel masuk ke dalam rumah sakit, mereka berdua berjalan beriringan, seperti biasa Dian akan menggandeng lengan kakaknya Otniel, dia hanay bisa begitu pad Otniel, Joel, Vasko dan tentunya suaminya David.


“Wah istrinya ya pak Dokter cantik sekali,” [uji seorang nenek nenek yang pernah di periksa oleh Otniel .


“Ehh nenek, bukan Nek, ini adik saya, “ ucap Otniel pada si nenek yang duduk di atas kursi roda sambil di temani oleh seorang suster.


“Dian ini nenek Imah, kakak periksa beberapa hari lalu,” ucap Otniel.


“Halo nenek, salam kenal, saya diandra,” sapa Dian sambil menyalam tangan nenek itu.


“Oh Diandra, haduh saya pikir tadi istrinya pak Dokter , tau taunya adiknya, pak Dokter nikah dong heheh udah cocok jadi bapak bapak heheh,” kekeh si nenek.


“Iya iya... dasar, ya sudah nenek kesana dulu ya, sampai jumpa lagi nak Dian, semoga kandungan kamu sehat sehat ya, semua akan baik baik saja, jangan memikirkan yang tidak tidak, kamu akan punya hidup yang bahagia,” ucap si nenek sambil pergi berama suster yang mendampinginya.


“Terimakasih nek, ehhh tapi...” Diandra menatap si nenek yang sudah pergi.


“Kak si nenek tau dari mana kalau Diandra sedang hamil? “ tanya Diandra sambil menatap Otniel.


“Mana saya tau Diandra,” ucap Otniel.


“Aneh,” ucap Diandra sambil mengikuti langkah kaki Otniel.


Tiba tiba langkah mereka berdua terhenti saat suara seorang wanita memanggil nama Diandra.


“Dian...”


Ibu hamil itu menoleh ke sumber suara,”Kak Bellaaaa...” teriak Diandra dengan senyuman bahagia, Bella langsung berlari dan menghamburkan pelukannya pada diandra, wanita yang sia anggap sebagai adiknya.

__ADS_1


“Kak bella akhirnya pulang ... Diandra senang huaaa... kenapa lama sekali ,” ucap Diandra kembali menangis.


“Kakak rindu kamu, maaf lama, ada beberapa hal yang harus kakak bereskan dek, “ ucap bella.


“Kakak baik baik saja kan? Gak ada yang luka kan? Mereka tidak menyakiti kakak kan? Hmmm? Kok kakak kurusan, kakak habis nangis kenapa matanya sembab,” ucap Diandra yang memberondong Bella dengan begitu banyak pertanyaan.


Bella begitu terharu, dia benar benar diterima dengan baik oleh Diandra, dia menarik Dian lagi ke dalam pelukannya, dia menangis tersedu sedu, ada rasa bahagia, rasa sedih, bersalah bercampur di dalam hatinya saat dia melihat sosok Diandra yang menyambutnya dengan baik tidak seperti saat dia diperlakukan oleh helen.


Bella kembali mengingat William yang juga akan menyambutnya dengan cara yang sama jika mereka bertemu.


“Kakak baik baik saja, kakak sehat, semuanya baik baik saja tak ada yang salah,” ucap bella sambil menyembunyikan tangisannya.


“huffttt syukurlah, kalau begitu kakak ikut denganku, ada yang sudah menunggu kakak, kurasa dia benar benar ingin kakak yang membangunkannya,” ucap Diandra sambil menarik lengan Bella menuju lantai dimana dia dan William di rawat.


Otniel menggandeng tangan Papa dan Mamanya, dia tersenyum melihat Diandra setidaknya lebih semangat hari ini.


“Bagaimana keadaan kalian Pa, Ma? “ Tanya Otniel.


“Kami baik sayang, kamu bagaimana hmm? Mama merindukanmu,” ucap Luna sambil menepuk punggung tangan Otniel.


“Papa juga loh,” ucap Gama tak mau kalah.


“Heheheh... aku baik Pa, Ma, ya udah yao masuk kalian pasti lelah, kenap kalian langsung ke rumah sakit? Sebaiknya istirahat dulu,” ucap Otniel.


“Kami sudah istirahat di pesawat nak, bukan apa apa, ayo ke dalam,” ucap Gama.


.


.


.


Like, Vote dan Komen

__ADS_1


__ADS_2