
Setelah memberitahukan seluruh kejadian itu, Sean keluar dan meninggalkan ruangan itu.
Dia berjalan di sepanjang koridor rumah sakit, tangannya merogoh ponsel dan menghubungi seseorang di sana.
“Halo nak, bagaimana keadaan adikmu? Apa dia baik baik saja? Apa kata dokter? Apa sebenarnya yang terjadi?” tanya seorang wanita yang tak lain adalah nyonya Alena, di sana Reva juga mendengarkan percakapan mereka.
“Sudah aman Ma, Diandra baik baik saja, ahhh dan lagi Mama akan mempunyai seorang cucu dari Diandra dan David,” ucap Sean memberikan kabar bahagia pada Nyonya Alena.
“Keponakan baru? Wahhhh.... hahahahah yes aku akan punya keponakan lagi, kak Niki juga sedang mengandung hahahahahah yeyeyeyeyeyeye.....” seru Reva yang langsung heboh jika sudah membicarakan tentang anak kecil.
Sean memutar kedua bola matanya, adiknya itu akan selalu seperti itu jika sudah membahas tentang anak kecil, karena terlalu menyukai anak kecil, rumah Sean dan Niki di Australia dipenuhi dengan berbagai jenis mainan yang dikirim oleh Reva setiap dia mengingat anak kakaknya itu.
“Astaga Reva, jangan sampai kau melakukan hal yang sama pada mereka, kakak mu Niki saja sudah kesal karena rumah dipenuhi dengan mainan, dasar kau ini,” gerutu Sean.
“Hehehh maaf maaf,” kekeh Reva.
Sementara Sean menjelaskan apa yang terjadi pada Diandra, di kamar inap wanita itu tampak mereka semua diam dan terlarut dengan pikiran mereka masing masing.
David duduk di samping brankar istrinya, pria itu belum diberitahu kalau Diandra tengah mengandung buah hati mereka.
Tampak raut wajah khawatir tergambar jelas di wajah David, dia benar benar sedih melihat kondisi istrinya seperti itu.
Otniel dan Joy terlelap, Joy menyandarkan kepalanya di bahu Otniel sedangkan Otniel menyandarkan kepalanya di atas sofa, sudah menjadi kebiasaan dua manusia itu.
Joel tampak larut dalam pikirannya, dia memikirkan siapa yang mengusik ketenangan kelompok mereka, padahal dia sudah bersiap sedia menjaga keamanan Diandra, namun nyatanya mereka masih bisa kecolongan.
Apalagi mendengar kabar kehamilan Diandra membuat Joel semakin merasa bersalah karena tidak peka melihat wajah Dian yangbenar benar pucat saat di rumah.
“Sial... seandainya mereka tidak cepat mungkin janin itu sudah pergi saat ini, akhhh,...... aku benar benar tidak berguna... kau bodoh Joel, melindungi seorang wanita saja kau tidak mampu, akkhhh.... sial.... “’ Joel bertarung dengan dirinya sendiri, dia tampak kacau, beberapa kali pria itu menoleh ke arah Diandra.
“Sialan.... siapa yang melakukan ini...” Joel benar benar frustasi.
Vasko menatap joel, dia tau sahabatnya yang masih menyembunyikan identitas aaslinya itu saat ini sedang merasa bersalah yang teramat besar.
Pria bertato itu mendekati Joel,
Pukk
Joel sedikit terkejut karena Vasko tiba tiba memegang pundaknya.
“Tenanglah, semua akan baik baik saja, Seperti yang diaktakan Sean, William tidak akan pernah melakukan sesuatu yang akan merugikan dirinya dan kelompoknya, bahkan itu sudah jelas kutanamkan dalam diri pria itu,” ucap Vasko sedikit menghibur Joel.
__ADS_1
“Tapi Diandra... ini semua karena aku lengah, tidak seharusnya aku yakin begitu saja, akhhh.... aku memang tidak berguna,” ucap Joel, pria itu mengusap kasar wajahnya, dia menunduk sedih.
“Kalau kau memang benar benar merasa bersalah, temukan orang yang mengincar Diandra, dengan cara itu kau menebus kesalahanmu pada Diandra,” ucap David yang mendengar perkataan mereka.
Vasko menatap David, tampak David benar benar serius dengan ucapannya.
“Maaf karena membuat diandra dalam keadaan seperti ini,” ucap Joel dengan penuh penyesalan meskipun ini bukan salahnya.
“Hmmm.... aku tau kau melakukan yang terbaik Jo, ini bukan salahmu, memang kita akan menghadapi hal seperti ini cepat atau lambat,” ucap David sambil menatap istrinya.
“Oleh karena itu, jika kau memang merasa bersalah pada Diandra, lakukan yang terbaik untuk menemukan pelakunya,” ucap David.
Joel menatap David dan Diandra bergantian, Pria itu menganggukkan kepalanya, dia tak akan mengulangi kesalahan yang sama sakali lagi.
“akan kulakukan!” ucap Joel.
Mereka semua terlarut dengan pikiran mereka, mereka masih menunggu sampai wanita itu bangun.
Jam menunjukkan pukul 6 sore, mereka semua melakukan aktivitas mereka di dalam ruangan itu tanpa beranjak sedikit pun, masih menunggu sampai Diandra bangun dari tidurnya.
David yang lelah dalam perjalan tadi memilih tidur dengan posisi duduk di samping istrinya, dia menggenggam tangan wanita itu dengan erat.
Diandra membuka matanya, dia bangun dari tidurnya, tubuhnya mulai membaik dan perutnya tak lagi sesakit sebelumnya sebab Otniel langsung mengambil alih perawatan wanita itu atas perintah Vasko, mereka bisa melakukan itu karena mereka berada di rumah sakit milik David.
Mata Diandra terbelalak, “Jangan jangan dia penculik.... arrhhkkk.... pergi kau... siapa kau... kenapa tidur disini.... jangan menyentuhkuuu...” Pekik Diandra yang langsung histeris karena tida mengenali eajah suaminya sendiri.
Tentu saja tidak kenal,.wajah itu berbeda dengan wajah David biasanya.
Diandra bangun dan memukul mukul pria itu.
“hah.... ada apa sayang?” tanya David yang terbangun dari tidurnya.
Vasko, Joel, Otniel dan Joy juga sampai terperanjat dari tidur mereka saat mendengar suara teriakan wanita itu.
“Ada apa Dian? Apa ada yang sakit? Kau kenapa dek?” tanya Vasko yang langsung berlari menghampiri Diandra dan David.
“Kau kenapa Sayang?” tanya David yang ikutan panik melihat wajah ketakutan istrinya.
“Kau... sana kau... kau siapa? Kak Vasko... hiks hiks hiks... siapa dia.. huaaa.... kenapa dia pegang pegang Dian huaaa.... mana kak David.... dia dia pegang pegang tangan Dian!!” rengek wanita itu mengadu pada Vasko sambil menunjuk David yang sekarang tengah memasang wajah konyolnya karena tidak di kenali oleh istrinya sendiri.
“Pfftthhh..... hahhahahaha...” Joy, Otniel dan Joel terkikik geli melihat reaksi Diandra saat melihat wajah asli David.
__ADS_1
“Hahahah ini namanya karma instan, dia tidak di kenali istrinya sendiri bwahahahaha...” Otniel tertawa terpingkal pingkal disana.
Vasko bahkan sampai mengulum senyumannya saat melihat wajah David saat ini.
Vasko mendekati Diandra yang tengah menangis,”Hushhh sudah jangan menangis, emm.... apa kau mencari suamimu?” tanya Vasko sambil mengusap air mata Diandra dengan tissu, sedangkan David tak berani mendekat apalagi melihat Diandra ketakutan seperti tadi.
“Mana kak David hiks hiks hiks.... mana suamiku,” ucap Dian mencari cari suaminya sambil menangis.
“Pantas dia semakin hari semakin cengeng, hormon Ibu hamil memang luar biasa,” gumam Otniel yang di dengar oleh Joy dan Joel.
“Apa.. ha...ha...hemphh..”
“Shuttt... jangan bilang dulu, biar David terkejut hahahaha,” ucap Otniel sambil menutup mulut Joy.
“Hemphh.. ealkk.. prrrfhh.... asin ahhkk...” gerutu Joy sambil mengusap mulutnya yang ditutup dengan tangan Otniel.
“Wekk... ishhh tanganmu bau kak,” gerutu Joy.
Otniel terdiam, dia mengingat tadi dia baru saja menggarut punggungnya yang keringatan dan gatal dan sudah tidak mandi selama tiga hari karena tugas malam.
“Mampus,” batin Otniel yang mengalihkan pandangannya dari Joy sebelum ketahuan .
Sedangkan Diandra terus merengek,”Kak mana kak David? Hmm? Kak?” ucap wanita itu padahal jelas jelas suaminya ada di depannya.
“Ummm buat apa kamu cari si cacat itu?” kai ini David berbicara, dia ingin mengerjai istrinya lagi, hadeh tengilnya calon Papa ini memang benar benar luar biasa.
“Apa lagi drama si bodoh ini,” batin joel.
“Ehh jangan sembarangan ngomong ya, dia suamiku ya aku cariin lah, sana kau aku tak mengenalmu, ngapain juga kau pegang pegang tanganku,” ucap Diandra ketus, dia bahkan tidak memandang wajah David.
“Tapi suara ini kan suara kak David? Ahhkkk mungkin kebetulan aja sama,” batin Diandra yang jelas hapal suara suaminya.
“Tapi aroma ini, ini kan aroma kak David,” batin Diandra yang mengendus endus tangan yang dipegang David tadi.
“Kauu.... saipa kau sebenarnya...” ucap Diandra kesal.
.
.
.
__ADS_1
Like, Vote dan komen.