Suamiku Si Tampan Buruk Rupa

Suamiku Si Tampan Buruk Rupa
Jalan


__ADS_3

Seperti yang direncanakan oleh Otniel, dia dan anak anak akan jalan jalan hari ini menikmati waktu bersama. Otniel membawa Emily dan Edward begitu mereka pulang dari sekolah.


Para orangtua yang menjemput anak mereka dibuat terpana dengan kehadiran pria tampan berparas campuran itu. Tentu saja yang terpana adalah kaum ibu dan para wanita yang datang menjemput anak anak ke sekolah itu.


Dia sontak menjadi bahan pembicaraan para ibu ibu dan anak gadis yang menjemput keluarga mereka disana.


Otniel berdiri bersama Emily yang sudah pulang sejak satu jam lalu. Jika biasanya Emily akan menunggu di ruang bermain taman Kanak kanak, Otniel beberapa saat lalu langsung menjemput gadis kecil itu dan menunggu kepulangan Edward.


“Itu abang!” seru Emily sambil menunjuk Edward yang berjalan ke arah mereka dengan senyuman sumringah sambil menenteng tas sekolahnya.


“Daddy, Baby Bubu!” seru bocah pemilik netra biru emerald itu.


“Sudah selesai belajarnya nak? Bagaimana tadi di sekolah? Apa yang kalian pelajari?” tanya Otniel seraya mengambil tas sekolah putranya.


“Kami belajar cara menulis cerita Daddy, pelajaran Bahasa Indonesia, kami disuruh buat cerita tentang pengalaman liburan bersama keluarga,” jawab Edward sambil tersenyum dan menggandeng tangan Emily, hal yang selau dia lakukan setiap pulang sekolah.


“apa kamu bisa?”


“Tentu saja bisa, Edward kan punya banyak cerita bareng Daddy, Papa David dan Mama Diandra dan juga Baby Bubu heheh, jadi Edward bisa dong,” ujar anak kecil itu.


“hebat anak Daddy, ya sudah sekarang kita berangkat, kalian mau ngapain? Biar Daddy bawa kesana,” tanya Otniel.


“Nonton film Dysney...” seru mereka berdua sambil melonjak kegirangan, Emily dan Edward memang benar benar kompak dalam banyak hal, mulai dari selera makanan, selera film dan banyak hal lainnya.


“Wahhh baiklah, kita ke bioskop sekarang, tapi ganti pakaian dulu ya anak anak Daddy,” ucap Otniel sambil menggendong si kecil emily dan menggandeng tangan Edward.


“Baik Daddy!"seru mereka berdua.


Otniel dan kedua anak kecil itu menikmati hari mereka, belanja apa yang mereka mau, menonton semua film yang mereka inginkan, apalagi besok adalah hari minggu, kedua bocah itu bisa menikmati waktu mereka.


Saat ini, Otniel Edward dan Emily sedang berada di bioskop, dengan sengaja Otniel menyewa satu baris kursi untuk mereka agar anak anaknya nyaman tanpa harus terganggu dengan orang lain.


Mereka duduk di bagian paling tenang untuk menikmati film itu, dengan popcorn dan snack lain yang disediakan pihak bioskop serta minuman yang aman untuk anak anak, meski Otniel harus membayar lebih untuk mendapatkan ijin.

__ADS_1


Sementara kedua bocah itu menonton film kesukaan mereka dengan sangat serius, Otniel menyempatkan untuk mengecek perkembangan berita yang dia munculkan kemarin malam.


Dia tersenyum mendapatkan hasil yang memuaskan dari apa yang dia lakukan semalam. Namanya pulih dengan begitu cepat. Inilah alasan Otniel tidak datang ke rumah sakit, karena rumah sakit saat ini sedang panas dengan berita kebenaran tentang dokter Otniel, pria itu terlalu malas untuk menerima permintaan maaf dan seolah olah disanjung meski dia menikmati pertunjukan yang membuat malu Richard itu.


Semua berita sudah dia atur untuk muncul dengan sendirinya dan besok adalah puncak berita menggemparkan itu, dia akan menunjukkan pemilik akun misterius yang menjelek jelekkan namanya ke hadapan publik.


Atau dengan kata lain, Otniel akan mempermalukan Richard di hadapan publik .


Pria itu tersenyum puas, tanpa melakukan hal berlebihan dia bisa berhasil memperbaiki namanya.


“Apa yang sedang dilakukan oleh si bodoh itu sekarang?” gumam Otniel sambil membuka CCTV rumah sakit yang sudah dia retas atas seijin Varrel sebab dia menghormati Varrel sebagai pimpinan rumah sakit itu dan tentu saja membutuhkan ijin dari pemiliknya.


Dia menatap layar yang merekam Richard. Di rumah sakit KenRose tampak Richard berjalan dengan cepat namun terlihat dia beberapa kali bersembunyi di balik dinding. Entah apa yang dilakukan pria itu.


Otniel menatapnya dengan tatapan jeli dan tajam,” apa yang sedang kau coba lakukan bodoh,” umpat Otniel.


Sementara Otniel mengawasi Richard dari kamera CCTV, Richard sedang menjalankan aksinya, dia berjalan dengan cepat menuju ruangan dimana pasien anak anak yang akan ditangani oleh Otniel berada.


Pria itu berusaha untuk bertingkah normal, saat orang lain melihat dia tersenyum ramah, terkadang dia bersembunyi. Dia berjalan dengan cepat. Namun tanpa dia ketahui seseorang mengikutinya dari belakang dengan tatapan curiga pada pria itu,


Seseorang mengikutinya dari belakang, dengan perlahan dan penuh kehatihatian agar tidak terlihat oleh pria yang sedang bertingkah aneh itu.


“Apa yang sedang dia lakukan, mau apa dia memasuki ruangan pasien khusus yang ditangani dokter Otniel?” gumam orang yang mengikuti Richard.


Langkah kaki Richard semakin cepat, tak ada yang melewati lorong itu karena merupakan area khusus bagi pasien VVIP dan biasanya mereka adalah pasien yang dikhususkan oleh dokter dan akan segera mendapatkan penanganan.


Richard melihat ke kanan kiri, bersamaan dengan itu, orang yang mengikutinya bersembunyi agar tidak terlihat. Perlahan namun pasti dokter itu masuk ke dalam ruangan itu setelah dia memastikan kalau tak ada penjaga di ruangan itu.


Richard tersenyum licik, dia menatap bocah kecil bernama Bobby yang sebelumnya dipanggil oleh Otniel kembali ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.


Tap... tap... tap..


Langkah kakinya terdengar ringan , memasuki ruangan itu sambil mengeluarkan sebuah alat suntik dengan cairan injeksi yang dia bawa. Anak kecil itu sedang terlelap dan tak tahu kalau ada seseorang yang ingin mencelakainya.

__ADS_1


Richard menatap bocah malang itu, dia adalah seorang dokter anak, tetapi demi tujuan besarnya membuat Otniel kehilangan pekerjaannya bahkan berharap pria itu hancur berkeping keping membuat dirinya tak berpikir dengan jernih.


“Kau sudah tidak pantas untuk hidup,” ucap Richard sambil berpangku tangan menatap Bobby kecil.


“oleh karena itu, kau akan kugunakan sebagai alatku untuk menghancurkan pria yang telah membuatku kehilangan kredibilitasku di rumah sakit ini,” ucapnya sambil memasukkan cairan injeksi itu ke dalam alat suntik yang masih kosong itu.


“Selamat menikmati penderitaanmu nak, jangan salahkan aku, aku hanya membantumu mempercepat kematianmu, dan salahkan saja dokter bodoh yang akan mengoperasimu nanti, hahah...” gumam Richard .


Matanya menatap cairan infus yang terhubung ke tubuh pasien, menyentuh botol infus itu dan sekali lagi melirik anak kecil itu. Padahal tanpa dia ketahui seseorang telah merekam seluruh aksinya dengan meletakkan kamera ponselnya di ventilasi pintu masuk.


Richard akan melancarkan aksinya namun suara seseorang membuatnya terkejut bukan main dan menjatuhkan benda itu ke lantai hingga isinya keluar sedikit.


“ Apa yang kau lakukan Richarddd!!!” teriak seseorang yang membuat Richard syok dan langsung menoleh ke arah orang yang tak lain adalah Chelsea gadis yang dia sukai.


“Chelsea mau apa kau kesini hah??...” ucap Richard dengan nada panik dan ketakutan, dia berjalan mendekati Chelsea, Chelsea berjalan mundur, saat dia akan berlari dia kalah cepat dnegan Richard sehingga tangannya di tangkap oleh dokter gila itu.


“Apa kau melihat semuanya hah? Kenapa harus kau yang melihatnya Chelsea..” suara Richard terdengar berat dan mendominasi, apalagi tatapan matanya menyiratkan kekecewaan karena Chelsea yang melihat secara langsung apa yang dia lakukan.


“Apa yang kau lakukan Richard, kau mau apa tadi hah? dia pasien dokter Niel!!” bentak Chelsea.


“Lepaskan aku,aku akan melaporkanmu bodoh, kenapa kau jadi seperti ini sih?” ucap Chelsea dengan tatapan tak percaya.


“Diam kau kurang ajar..” bentak Richard, dia mencengkram rahang Chelsea dengan kuat membuat gadis itu tak berkutik.


“Lepaskan aku,....” lirih Chelsea.


.


.


.


Like, Vote dan Komen

__ADS_1


Richard yang sudah dikuasai kegelapan menjadi semakin marah, dia mengeluarkan se


__ADS_2